


Volume
Avg volume
PT Map Aktif Adiperkasa Tbk didirikan pada 11 Maret 2015. Pada dasarnya, Perusahaan mengelola tiga lini bisnis, yaitu produk terkait sports, leisure, dan kids. Lini bisnis sports Perusahaan mengelola beragam gerai yang menawarkan sepatu atletik, pakaian dan peralatan olahraga dari portofolio merek Perusahaan, termasuk Skechers, New Balance, Reebok dan Converse, serta jaringan pemasaran ritel bagi beragam merek, yaitu Planet Sports dan Sports Station. Lini bisnis leisure Perusahaan didukung oleh penjualan berbagai alas kaki santai, pakaian, dan aksesoris. Lini bisnis ini mengelola merek-merek terkemuka dunia, termasuk Birkenstock... Read More
$MAPA izin share 👌🙏
QStock AI Insight — IDX:MAPA
Download on Google Play
20 Jan 2026 19:44
Disclaimer: Saham adalah instrumen berisiko tinggi. Informasi ini bersifat edukatif dan informatif, bukan rekomendasi jual atau beli. Pengguna wajib melakukan riset mandiri (DYOR).
Catalyst Overview
(Company Condition, Positive Catalysts, and Risks)
MAPA belum terdapat informasi katalis mendukung.
Smart-Money Detection
Smart Money & Retail
(Data diupdate setiap tanggal 10 di bulan berikutnya)
Periode: Desember 2025 (vs November 2025)
Smart Money: 95,51% ↓ (−0,20%)
Retail: 4,49% ↑ (+0,20%)
Attention: Dengan porsi Smart Money sekitar 95,51% dan selisih kepemilikan terhadap retail sekitar 91,0 poin persentase, saham ini berada pada kategori Kendali sangat kuat sehingga alur harga sangat ditentukan satu kubu besar dan ketika tekanan jual muncul, penurunan dapat berlangsung cukup dalam. Perubahan porsi Smart Money bulan ini relatif kecil sehingga pelemahan harga sekitar −11,11% dalam 30 hari terakhir lebih pantas dianggap sebagai normalisasi tanpa manuver besar dari pemain utama.
Quantitative Market Signals
Technical Snapshot
Nama Saham : MAPA
Harga Penutupan : Rp. 640 (19 Jan 2026)
Rata-rata harga 20 hari : Rp. 674
Rata-rata harga 50 hari : Rp. 713
Rata-rata volume 30 hari : 20.0 juta lembar
Status Pasar
Dalam beberapa minggu terakhir harga masih melemah, dan dalam beberapa bulan terakhir arah utamanya juga masih cenderung turun. Tekanan jual masih dominan.
Area Minat Beli
Area Akumulasi : Rp. 615 – Rp. 645
Level Konfirmasi : Rp. 695
Validitas sinyal meningkat apabila disertai volume rata-rata 30 hari.
Attention: Harga berada di Area Minat Beli. Area ini cocok untuk rencana masuk bertahap ketika tekanan jual mulai mereda.
Retest Zone (Area Uji Arah)
Area : Rp. 680 – Rp. 690
Attention: Harga berada di bawah Retest Zone (Area Uji Arah). Area ini sering menjadi hambatan saat harga memantul, sehingga keputusan masuk baru sebaiknya lebih selektif.
Reward Projection
(Reward Projection disusun secara konservatif-moderat untuk menjaga rasio risiko, berdasarkan struktur pasar yang telah terbentuk dan belum mempertimbangkan skenario spekulatif.)
Swing Projection : Rp. 670 – Rp. 725
Extended Projection : Rp. 745
Attention: Dalam pasar jangka menengah yang netral hingga melemah, pendekatan konservatif adalah menunggu harga di area Demand atau Retest. Dari area tersebut, struktur umumnya memberi ruang kenaikan menuju level reward, dengan tetap mengutamakan disiplin risiko.
Target Projection
(Target Projection adalah perkiraan target berdasarkan struktur pergerakan terakhir. Ini bukan reward dan bukan jaminan harga.)
Target Projection I : -
Target Projection II : -
Attention: Struktur impuls belum valid (pola A/B/C belum memenuhi syarat), sehingga Target Projection tidak ditampilkan. Tunggu pivot lebih rapi dan terbentuk pola HL–HH–HL atau LL–LH–LL. Selama itu, area Retest/Demand tetap menjadi acuan untuk keputusan yang lebih terukur.
Invalidation (Risk)
Invalidasi Struktur Menengah : Rp. 595
Attention: Gunakan batas proteksi untuk menghindari kerugian membesar jika kondisi memburuk. Semakin tidak stabil, semakin penting disiplin batas proteksi.
Resume
Melihat tekanan jual jangka menengah masih dominan dan arah harga belum menunjukkan perbaikan, biasanya pelaku pasar tidak mengambil posisi dan memilih menunggu sampai ada tanda perubahan struktur menengah yang lebih jelas. Pada fase ini, reward yang terlihat masih dianggap bersifat potensi, bukan sinyal aktif.
QStock AI on Google Play
"Psikologi Keamanan: Trading Tanpa Rasa Takut"
Ketakutan adalah musuh terbesar bagi setiap trader. Takut rugi, takut salah beli, hingga takut ketinggalan momen. Ketakutan ini biasanya muncul karena satu hal: kurangnya data yang meyakinkan. Saat Anda membeli saham hanya berdasarkan tebakan, setiap penurunan harga kecil akan membuat jantung Anda berdebar kencang. Namun, bayangkan jika Anda memiliki data yang menunjukkan bahwa saat harga turun tersebut, Smart Money justru sedang menambah posisi mereka dalam jumlah besar. Tentu perasaan Anda akan jauh lebih tenang, bukan?
Memahami Clean Money memberikan Anda rasa aman secara psikologis. Anda tahu bahwa Anda tidak sendirian di dalam saham tersebut; ada institusi besar yang memiliki kepentingan yang sama dengan Anda agar harga naik. Jika data aliran dana menunjukkan akumulasi yang konsisten, maka fluktuasi harga harian hanyalah "noise" yang tidak perlu dikhawatirkan. Sebaliknya, jika data menunjukkan Bad Money mulai keluar besar-besaran, Anda memiliki alasan logis untuk keluar, bukan sekadar berdasarkan emosi ketakutan yang tidak berdasar.
Trading dengan data aliran dana mengubah paradigma Anda dari seorang spekulan menjadi seorang investor yang strategis. Anda memiliki keyakinan yang didasari oleh angka nyata, bukan sekadar harapan. Keyakinan inilah yang memungkinkan Anda untuk memegang saham pemenang (winners) lebih lama dan membuang saham pecundang (losers) lebih cepat. Dengan bantuan alat deteksi dana besar, Anda bisa trading dengan kepala dingin, hati yang tenang, dan hasil yang lebih maksimal karena Anda tahu persis siapa yang sedang menggerakkan pasar.
$ELPI $MAPA $RALS
1/2


"Filosofi 'Follow the Giant': Berenang di Balik Paus"
Di lautan bursa saham Indonesia, investor ritel sering diibaratkan sebagai ikan kecil, sedangkan institusi besar adalah paus. Ikan kecil yang mencoba berenang melawan arus paus akan mudah terombang-ambing dan tenggelam. Namun, ikan kecil yang cerdas akan memilih untuk berenang tepat di belakang paus, memanfaatkan arus yang diciptakan oleh raksasa tersebut untuk bergerak maju lebih cepat. Inilah filosofi dasar dari mengikuti Smart Money. Paus tidak bisa bergerak tanpa menciptakan riak besar, dan riak itulah yang kita sebut sebagai lonjakan volume abnormal.
Masalah utamanya adalah paus seringkali bergerak secara diam-diam sebelum mereka melakukan manuver besar. Trigger Smart Money dirancang untuk menangkap getaran di bawah air saat paus tersebut mulai bergerak. Saat volume intraday melonjak 5x lipat, itu adalah tanda bahwa paus sedang beraksi. Dengan memantau Clean Money, kita bisa memastikan apakah paus itu sedang memakan (akumulasi) atau sedang berpindah tempat (distribusi). Mengikuti aliran dana bersih berarti Anda selalu berada di jalur yang aman, mengikuti arah yang sudah ditentukan oleh pemilik modal raksasa.
Berhenti mencoba menjadi pahlawan dengan menebak arah pasar sendirian. Pasar saham terlalu besar untuk ditaklukkan oleh individu. Jauh lebih bijak untuk selalu memposisikan diri searah dengan kekuatan modal terbesar. Dengan alat analisis yang tepat, Anda bisa mendeteksi pergerakan paus tersebut jauh sebelum ritel lain menyadarinya. Jadilah penumpang yang jeli, masuklah saat arus dana masuk mulai terlihat masif, dan nikmati perjalanan profit Anda dengan rasa aman karena Anda tahu ada "tangan kuat" yang sedang menggerakkan harga saham Anda.
$COIN $CPIN $MAPA
1/2


$MAPA update dari https://stockbit.com/post/23581220
DYOR

$MAPA secara struktur kurang bagus karena downtrend, Cmf 1D minus tetapi ada akumulasi, avg bandar jga diatas dari awal Januari. bisa dipantau menurut saya untuk swing mingguan bagus
Putus Lisensi Ace Hardware Ternyata Laba $ACES Tetap Nyungsep vs Royalti Tetap Jalan Tapi Laba $MAPI dan $MAPA Tetap Naik
ACES baru saja memutus lisensi Ace Hardware, lalu publik berharap satu hal yang kelihatannya logis, biaya royalti hilang maka laba harusnya langsung melonjak. Tapi angka 9M 2025 justru bilang kebalikannya, laba ACES turun 16% walau beban royalti jadi nol. Ini contoh klasik kenapa menghapus satu biaya itu belum tentu membuat mesin laba otomatis ngebut, karena kadang biaya itu cuma serpihan kecil dari puzzle yang lebih besar. Yang lebih menentukan biasanya adalah kecepatan penjualan, daya tarik brand di mata konsumen, diskon yang terpaksa diberikan, dan biaya transisi yang tidak kelihatan dari luar. Jadi sebelum menyimpulkan strategi lisensi itu gagal atau sukses, investor wajib bandingkan skala penghematan royalti versus skala penurunan laba, lalu lihat apakah MAPI dan MAPA memang punya struktur bisnis yang membuat royalti terasa ringan walau angkanya besar. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Di Laporan Keuangan Q3 2025, beban royalti ACES menjadi Rp0, padahal di LK Q3 2024 masih ada bayar lisensi Rp35,27 miliar. Penghematan Rp35,27 miliar ini terdengar besar kalau dibaca sendirian, tetapi saat ditempelkan ke kinerja laba, konteksnya berubah. Laba bersih ACES turun dari Rp567,8 miliar menjadi Rp476,7 miliar, turun Rp91,1 miliar. Artinya, penghematan royalti itu secara kasar hanya setara 38,7% dari penurunan laba bersih, dan itu pun masih angka kotor sebelum bicara pajak dan efek biaya transisi lain. Bahkan kalau dibandingkan ke skala pendapatan ACES Rp6,33 triliun, royalti yang hilang itu cuma sekitar 0,56% dari revenue, sementara penurunan laba bersih setara sekitar 1,44% dari revenue. Ini sebab utama kenapa secara statistik reaksi laba ACES tidak otomatis meledak, karena yang dihapus itu memang bukan komponen biaya yang dominan terhadap revenue. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sekarang bandingkan dengan Grup MAP. MAPI di 9M 2025 membayar royalti Rp541,56 miliar dan MAPA membayar Rp524,44 miliar. Angkanya jauh lebih besar dari royalti ACES tahun lalu, tetapi posisi mereka berbeda karena skala revenue mereka jauh lebih besar. Royalti MAPI setara sekitar 1,8% dari revenue Rp30,04 triliun. Royalti MAPA setara sekitar 3,8% dari revenue Rp13,94 triliun. Jadi royalti memang memakan porsi, terutama di MAPA, tetapi selama mesin penjualan berlari, royalti itu bekerja seperti biaya variabel yang ikut tumbuh bersama omzet, bukan seperti beban mati yang menggerus saat sales melemah. Di 9M 2025, revenue MAPI masih tumbuh 8,8% dan laba bersih tumbuh 5,2%. MAPA bahkan revenue tumbuh 12,3% dan laba bersih tumbuh 5,5%. Jadi narasinya jelas, MAPI dan MAPA tetap naik karena volume penjualannya naik, walau sebagian kenaikan itu dimakan oleh biaya yang ikut naik, termasuk royalti.
Kalau investor ingin melihat kekuatan brand dan pricing power lewat angka yang sederhana, lihat tren margin laba bersih. ACES punya revenue yang hanya naik tipis 1,7%, tapi laba turun 16%. Secara matematis, margin laba bersih ACES kira-kira turun dari sekitar 9,12% di 9M 2024 menjadi sekitar 7,53% di 9M 2025, turun sekitar 1,59 poin persentase. Ini sinyal bahwa ada tekanan yang jauh lebih besar daripada sekadar royalti, misalnya tekanan diskon, biaya marketing rebranding, biaya operasional toko, atau tekanan kurs atas barang impor, karena ACES memang sangat bergantung pada impor untuk barang dagangan. Sementara itu, MAPI dan MAPA juga mengalami kompresi margin, tetapi jauh lebih terkendali. Margin laba bersih MAPI kira-kira turun tipis sekitar 0,19 poin persentase, dan MAPA turun sekitar 0,53 poin persentase. Ini pola yang masuk akal, revenue naik kencang tetapi ada biaya yang ikut naik, termasuk royalti, sewa, dan biaya operasional. Bedanya, MAP Group masih bisa menjaga agar kenaikan revenue tetap mengalahkan kenaikan beban total, sehingga laba tetap tumbuh. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bagian yang sering bikin investor salah baca ada di penempatan akuntansi royalti. Di ACES, royalti historisnya muncul di beban penjualan atau beban operasional, jadi ketika lisensi selesai per 31 Desember 2024, garis biaya itu memang hilang. Di MAPI, royalti dicatat dalam beban penjualan, jadi menekan laba operasional. Di MAPA, royalti dicatat langsung di beban pokok, sehingga menekan gross margin dari awal. Ini penting karena kalau investor bandingkan gross margin lintas emiten tanpa sadar ada royalti yang masuk COGS versus masuk SGA, hasilnya bisa menyesatkan. MAPA bisa terlihat gross margin lebih tipis bukan karena lebih tidak efisien, tetapi karena struktur pencatatan biaya lisensinya lebih depan di COGS.
Sekarang masuk ke bagian transaksi pihak berelasi, karena ini sering jadi petunjuk bagaimana ekosistem grup bekerja dan seberapa banyak transaksi internal dipakai untuk mengamankan supply chain, sewa lokasi, atau jasa manajemen. Di ACES, pembelian dari pihak berelasi naik menjadi Rp299,11 miliar atau 8,33% dari total pembelian di 2025, dari Rp271,99 miliar atau 6,75% di 2024. Kenaikan porsi ini memberi dua kemungkinan yang sama-sama realistis. Sisi positifnya, grup bisa mengonsolidasikan pengadaan atau logistik, membuat pasokan lebih stabil saat transisi brand. Sisi yang harus diawasi, porsi transaksi internal yang naik bisa menyembunyikan pergeseran margin antar entitas grup, jadi investor perlu cek apakah pricing transaksi wajar dan apakah ada perubahan term pembayaran yang berdampak ke kas. Penjualan ACES ke pihak berelasi juga naik, tetapi skalanya kecil, kontribusinya sekitar 0,82% dari penjualan di 2025 dari 0,63% di 2024, jadi ini bukan pendorong laba utama. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Di MAPI, eksposur pendapatan bersih dari pihak berelasi sangat kecil, sekitar 0,08% dari total pendapatan. Ini memberi kesan bisnisnya memang digerakkan oleh transaksi eksternal dengan konsumen, bukan permainan transaksi internal. Tetapi Grup MAP punya hubungan internal yang kuat dalam bentuk jasa manajemen. MAPI memberikan dukungan IT, HR, legal, dan lain-lain ke MAPA, lalu menarik biaya manajemen Rp144,61 miliar di 9M 2025, naik dari Rp131,37 miliar di 2024. Angka ini bukan sekadar biaya, ini menggambarkan model holding yang membuat sistem grup lebih seragam, tetapi sekaligus membuat MAPA bergantung pada induk untuk sebagian fungsi kunci. Di MAPA sendiri, penjualan non-eceran turun kontribusinya dari 5,41% atau Rp70,92 miliar di 2024 menjadi 3,92% atau Rp34,63 miliar di 2025. Secara narasi, ini bisa dibaca sebagai fokus yang makin condong ke ritel inti, atau normalisasi kanal non-eceran yang mungkin lebih tidak stabil.
Jadi kenapa ACES yang menghapus royalti malah labanya turun, sementara MAPI dan MAPA yang tetap bayar royalti malah labanya naik? Jawabannya ada di skala bisnus dan momentum penjualan. Royalti itu bukan musuh utama kalau revenue dan traffic toko tumbuh, karena biaya itu biasanya dihitung sebagai persentase penjualan. MAPI dan MAPA hidup dari portofolio brand global yang masih menarik konsumen, sehingga mereka bisa mempertahankan rotasi stok, menjaga harga jual, dan mengubah pertumbuhan revenue menjadi pertumbuhan laba walau tidak secepat revenue. Sebaliknya, ACES sedang masuk fase transisi brand. Saat lisensi diputus, perusahaan harus membangun ulang persepsi merek, menanggung biaya rebranding, promosi, penyesuaian sistem, dan pada periode awal sering muncul efek samping yang tidak terlihat, misalnya konsumen butuh waktu untuk percaya bahwa toko yang sama tetap punya value yang sama. Kalau pada saat yang sama rupiah melemah, sementara porsi impor besar, tekanan biaya bisa datang dari dua arah sekaligus, biaya barang naik dan perusahaan belum tentu bisa langsung menaikkan harga tanpa mengorbankan volume. Hasil akhirnya, penghematan royalti yang kecil secara persentase tadi tenggelam oleh tekanan yang lebih besar. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Untuk ACES, investor perlu ukur apakah pasca pemutusan lisensi, pertumbuhan revenue mulai akselerasi, bukan sekadar revenue growth mini 1,7% seperti sekarang. Lalu lihat apakah margin laba bersih berhenti turun dan mulai stabil, karena itu tanda biaya transisi mulai lewat dan pricing power mulai balik. Untuk MAPI dan MAPA, lihat apakah pertumbuhan royalti tetap sejalan dengan pertumbuhan revenue, karena kalau royalti tumbuh lebih cepat terus-menerus, margin akan makin tertekan. Di 9M 2025, royalti MAPI tumbuh 10,7% sementara revenue 8,8%, dan royalti MAPA tumbuh 14,2% sementara revenue 12,3%, ini masih wajar, tetapi memberi sinyal bahwa mix penjualan bisa bergeser ke brand yang royalti rate-nya lebih tinggi, atau biaya lisensi memang naik mengikuti kontrak. Terakhir, lihat skala kontribusi royalti terhadap laba. Royalti MAPA sekitar 45,6% dari laba bersih Rp1,15 triliun, sedangkan royalti MAPI sekitar 31,9% dari laba bersih Rp1,70 triliun. Ini bukan angka kecil, jadi kalau ada shock penjualan, royalti akan langsung terasa, tetapi selama growth bertahan, biaya itu justru menjadi bukti bahwa brand engine mereka masih bekerja.
Jadi kasus ACES bukan anomali, ini statistik yang konsisten dengan fase transisi. Menghapus royalti memang mengurangi satu pos biaya, tetapi nilai penghematannya relatif kecil terhadap revenue dan bahkan tidak cukup untuk menutup penurunan laba yang terjadi. Sementara itu MAPI dan MAPA seperti mesin yang sudah matang, mereka membayar royalti besar karena mereka memang menjual brand besar, dan selama revenue tumbuh, royalti itu hanya biaya variabel yang ikut bergerak. Jadi kontrasnya bukan soal siapa yang lebih pintar memilih lisensi, tetapi soal siapa yang sedang berada di fase stabil dengan momentum penjualan kuat, versus siapa yang sedang membangun ulang mesin brand dan harus membuktikan bahwa tanpa lisensi pun traffic, margin, dan laba bisa kembali naik. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🏛️ Struktur kontrol
👑 ACES PT Kawan Lama Sejahtera 60,00%
🧩 MAPI PT Satya Mulia Gema Gemilang 51,00%
🧬 MAPA anak MAPI 68,83%
🔗 Transaksi pihak-berelasi
🏠 ACES pembelian Rp299,11B 8,33% naik dari Rp271,99B 6,75%
🛒 ACES penjualan Rp53,99B 0,82% naik dari 0,63%
🏃 MAPA penjualan non-eceran 3,92% Rp34,63B turun dari 5,41% Rp70,92B
🧾 MAPA pembelian 0,12%
🧊 MAPI kontribusi 0,08%
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
📜 Lisensi royalti biaya manajemen
🧯 ACES lisensi AHC berakhir 31 Des 2024 royalti 9M 2025 Rp0 vs Rp35,27B
🏷️ MAPI royalti Rp541,56B 1,8% masuk SGA
🧷 MAPA royalti Rp524,44B 3,8% masuk COGS
🎛️ MAPI fee manajemen ke MAPA Rp144,61B naik dari Rp131,37B
🧮 Dampak ke laba
⚠️ MAPA royalti kira-kira 45% dari laba bersih Rp1,15T
✅ ACES hemat royalti tapi laba tetap -16%
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
📈 Trend ringkas
🐘 ACES revenue +1,7% laba -16%
🦍 MAPI revenue +8,8% laba +5,2%
🐆 MAPA revenue +12,3% laba +5,5%
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/7







Dampak Melemahnya Rupiah Pada $ACES vs $MAPI vs $MAPA
Rupiah melemah itu bukan cuma isu makro yang lewat di timeline, buat ritel justru itu seperti pajak tambahan yang tidak kelihatan tapi terasa di laporan laba rugi. ACES, MAPI, dan MAPA menjual barang yang kelihatannya sangat domestik, tapi dapurnya banyak bergantung ke barang impor, lisensi merek global, dan biaya-biaya yang ikut gerak valas. Jadi ketika kurs bergerak tidak bersahabat, pertanyaan paling penting itu bukan siapa yang paling besar, tapi siapa yang paling bisa meneruskan kenaikan biaya ke konsumen tanpa merusak demand. Di saat yang sama, investor sering keliru menilai risiko valas hanya dari angka rugi selisih kurs, padahal akar masalahnya ada di struktur biaya, kecepatan putar stok, dan seberapa berat beban sewa. Kalau Rupiah terus melemah, pemenangnya biasanya bukan yang paling ramai gerai, tapi yang paling disiplin mengelola margin, stok, dan kontrak valas. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Kalau disusun seperti keluarga besar, MAPI itu ibu yang punya ekosistem paling gemuk, MAPA itu anak yang spesialis sports dan justru sering terlihat lebih lincah, sementara ACES itu tetangga yang bisnisnya beda dunia tapi sama-sama hidup dari impor barang dagangan. Dari sisi ketergantungan impor, ACES terang-terangan menyebut 87,03% pembelian berasal dari impor. Ini penting karena artinya COGS dan persediaan ACES sangat sensitif terhadap pelemahan Rupiah. MAPI dan MAPA juga sangat import reliant secara model bisnis karena banyak brand global dan barang dagangan impor, bedanya mereka punya tambahan mesin penyeimbang berupa pendapatan luar negeri. MAPI mencatat kontribusi internasional besar dari Filipina Rp2,05 triliun dan Vietnam Rp1,14 triliun, total Rp3,19 triliun atau sekitar 10,62% dari revenue 9M 2025 sebesar Rp30,04 triliun. MAPA malah terlihat lebih terasa natural hedge karena Filipina Rp1,66 triliun dan Thailand Rp683,9 miliar, total Rp2,34 triliun atau sekitar 16,82% dari revenue Rp13,94 triliun. Maknanya sederhana, kalau Rupiah melemah, sebagian top line MAPI dan MAPA justru datang dari negara dengan mata uang lokal mereka, jadi ada bantalan alami walau tidak otomatis menutup semua risiko impor. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sekarang lihat skala dan struktur biaya, karena di ritel, kurs biasanya masuk lewat dua pintu utama, COGS dan opex. MAPI mencetak revenue Rp30,04 triliun, MAPA Rp13,94 triliun, ACES Rp6,33 triliun. Ini bukan sekadar beda ukuran, tapi beda cara bertahan saat kurs jelek. Dari revenue itu, COGS MAPI Rp17,38 triliun, MAPA Rp7,43 triliun, ACES Rp3,30 triliun. Angka COGS ini menggambarkan biaya barang yang dijual, dan ini yang paling cepat tertekan saat Rupiah melemah kalau barang impor dominan. Lalu SGA atau biaya operasional, MAPI Rp10,17 triliun, MAPA Rp4,83 triliun, ACES Rp2,59 triliun. SGA ini biasanya berisi gaji, sewa, utilitas, promosi, dan overhead toko. Saat kurs melemah, demand bisa melambat, tapi SGA banyak yang tidak ikut turun cepat, inilah yang membuat margin ritel gampang terjepit.
Kalau investor ingin cepat menangkap efisiensi, margin itu alat bantu yang paling gampang. Gross margin kira-kira menunjukkan seberapa kuat pricing power dan mix produk sebelum biaya toko, dan hasilnya cukup menarik. Dengan angka revenue dan COGS tadi, gross margin MAPI kira-kira 42,14%, MAPA 46,70%, ACES 47,87%. Ini memberi sinyal, ACES dan MAPA punya ruang kotor yang lebih tebal, sementara MAPI lebih berat di cost of goods secara proporsi karena mix bisnisnya sangat beragam. Tapi gross margin tidak cukup, karena ritel itu hidup-mati di biaya toko. Ketika SGA ikut dimasukkan, operating margin kira-kira menjadi 8,29% di MAPI, 12,05% di MAPA, dan 6,95% di ACES. Artinya MAPA terlihat paling efisien mengubah omzet menjadi laba operasional, sedangkan ACES meski gross margin tebal, biaya operasionalnya juga berat. Ini masuk akal karena format ACES cenderung toko besar dan operasionalnya padat aktivitas. Net profit juga memperjelas hasil akhirnya. MAPI mencatat laba bersih Rp1,70 triliun, MAPA Rp1,15 triliun, ACES Rp476,7 miliar. Kalau dihitung kasar net margin, MAPI sekitar 5,66%, MAPA 8,25%, ACES 7,53%. Jadi dari sisi efisiensi laba bersih terhadap omzet, MAPA menonjol, ACES masih oke, MAPI menang di nominal karena skala. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Skala juga bisa dilihat dari aset dan tenaga kerja, karena ini menggambarkan betapa besar kapal yang harus diputar saat arus kurs dan demand berubah. Total aset MAPI Rp30,84 triliun, MAPA Rp13,21 triliun, ACES Rp8,15 triliun. Karyawan MAPI 31.971 orang, MAPA 15.066 orang, ACES 14.226 orang. Yang menarik, ACES dan MAPA jumlah karyawannya mirip, tapi omzetnya beda jauh, ini memberi petunjuk soal produktivitas. Revenue per karyawan kira-kira MAPI Rp939,6 juta, MAPA Rp925,3 juta, ACES Rp445,0 juta. Laba bersih per karyawan kira-kira MAPI Rp53,2 juta, MAPA Rp76,3 juta, ACES Rp33,5 juta. Investor biasanya memakai metrik ini untuk mengukur disiplin operasi, karena ritel itu perang efisiensi, bukan hanya perang ekspansi gerai. Dari sini, MAPA tampak paling produktif per kepala, lalu MAPI, lalu ACES. Namun ACES punya format toko yang berbeda, jadi angka ini tidak otomatis berarti ACES lebih buruk, tapi berarti modelnya lebih berat operasional.
Masuk ke inti kekhawatiran investor soal Rupiah, yaitu eksposur moneter valas. Foreign monetary assets itu aset dalam mata uang asing yang sifatnya moneter, misalnya kas valas, piutang valas, deposito valas. Foreign monetary liabilities itu kewajiban valas seperti utang usaha valas, utang bank valas, atau liabilitas lain yang dibayar dalam valas. Selisihnya adalah net exposure. ACES punya foreign monetary assets Rp287,0 miliar dan liabilities Rp4,5 miliar, jadi net exposure positif Rp282,5 miliar. Secara logika, ini posisi net long, Rupiah melemah harusnya memberi keuntungan translasi atau setidaknya bantalan. Tapi faktanya ACES masih mencatat net forex loss Rp10,10 miliar. Ini pelajaran penting buat investor, posisi akhir periode bisa terlihat aman, tapi selama periode berjalan bisa terjadi mismatch timing, misalnya pembayaran impor terjadi di saat kurs lebih buruk, atau keuntungan dari posisi aset valas belum terealisasi, atau ada komponen yang bukan monetary seperti persediaan impor yang efek kursnya masuk lewat COGS, bukan lewat akun selisih kurs. Jadi jangan hanya melihat net exposure akhir periode lalu merasa aman. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
MAPI dan MAPA berbeda karakter. MAPI punya foreign monetary assets Rp952,6 miliar dan liabilities Rp1.531,5 miliar sehingga net exposure negatif Rp578,9 miliar. MAPA assets Rp69,4 miliar dan liabilities Rp643,8 miliar sehingga net exposure negatif Rp574,4 miliar. Keduanya posisi net short, artinya secara teori, Rupiah melemah cenderung menekan laba karena kewajiban valas lebih besar dari aset valas. Ini selaras dengan adanya rugi selisih kurs, MAPI net forex loss Rp9,47 miliar, MAPA Rp21,69 miliar. Investor perlu menangkap maknanya, MAPA rugi selisih kurs lebih besar daripada MAPI padahal skala revenue MAPA lebih kecil, jadi sensitivitasnya relatif lebih terasa ke margin. Karena itu MAPI dan MAPA menggunakan lindung nilai berupa forward, MAPI sebesar Rp920 miliar dan MAPA Rp295 miliar. Forward ini bisa dibaca sebagai rem, bukan airbag. Rem mengurangi volatilitas, tapi tetap ada biaya, dan tidak selalu menghapus rugi, apalagi kalau underlying exposure datang dari impor persediaan yang perputarannya cepat dan kontraknya bertahap.
Ada lagi penekan yang sering diremehkan investor saat kurs melemah, yaitu liabilitas sewa. MAPI memiliki lease liabilities Rp4,82 triliun dan MAPA Rp1,92 triliun. Angka ini penting karena sewa adalah biaya yang sulit ditawar dalam jangka pendek, dan ketika demand melemah atau biaya impor naik, ruang bernapas menyempit. Secara proporsi, lease liabilities MAPI sekitar 15,63% dari total aset, MAPA sekitar 14,53%. Ini cukup besar untuk bisnis yang banyak bergantung pada gerai. Sederhananya, MAPI dan MAPA punya mesin besar yang harus tetap berputar, sementara kurs dan daya beli tidak selalu mendukung. Di sisi lain, ACES tidak ditunjukkan angka lease liabilities dalam data ini, tapi ACES jelas punya struktur biaya toko sendiri, hanya bentuknya berbeda.
Dari sisi tren strategi, MAP Group kelihatan jelas sedang membangun diversifikasi regional untuk mengurangi ketergantungan domestik, MAPI bahkan membentuk entitas baru di India dan Filipina pada 2025, sementara MAPA menunjukkan kontribusi Filipina dan Thailand yang sudah besar. Ini bisa menjadi pelindung jangka panjang terhadap siklus ekonomi Indonesia, tapi tetap tidak menghilangkan risiko Rupiah pada sisi impor barang dagangan. ACES malah menunjukkan tren konsolidasi tenaga kerja dari 14.597 orang pada 2024 menjadi 14.226 orang pada 2025, turun 2,54%. Ini bisa dibaca sebagai fokus efisiensi, atau sinyal kehati-hatian menghadapi demand dan tekanan biaya. Dan jangan lupa ACES laba bersih 9M 2025 turun sekitar 16% dibanding 9M 2024, ini menguatkan narasi bahwa tekanan kurs dan impor itu bukan teori. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dalam rezim Rupiah yang melemah karena omon-omon, ACES itu kelihatannya paling aman dari sisi net exposure valas karena net long Rp282,5 miliar, tapi tetap rentan dari sisi ekonomi nyata karena 87,03% pembeliannya impor, jadi efek kurs banyak masuk lewat COGS dan pricing ke konsumen. MAPI itu raksasa skala, revenue Rp30,04 triliun, aset Rp30,84 triliun, gerai lebih dari 3.000, tapi justru karena raksasa, beban tetap seperti SGA Rp10,17 triliun dan lease liabilities Rp4,82 triliun membuatnya paling sensitif terhadap kombinasi kurs buruk dan demand melemah. MAPA itu anak yang paling efisien dalam angka, net margin kira-kira 8,25% dan operating margin sekitar 12,05%, serta punya natural hedge regional lebih terasa sekitar 16,82% revenue dari Filipina dan Thailand, tetapi posisi valas net short dan rugi selisih kurs Rp21,69 miliar menunjukkan ada titik rawan yang harus dijaga. Kalau investor mencari siapa yang paling tahan banting saat Rupiah melemah, fokusnya bukan cuma siapa yang punya hedging, tapi siapa yang bisa mempertahankan margin tanpa mengorbankan volume, siapa yang bisa mengelola stok impor dengan putaran cepat, dan siapa yang beban sewanya tidak membuat perusahaan kaku saat pasar berubah.
Dampak Melemahnya Rupiah Pada ACES vs MAPI vs MAPA
📦 Impor ekspor laba
🚢 ACES impor 87,03% pembelian
🌏 MAPI revenue luar negeri Filipina Rp2,05T Vietnam Rp1,14T
🌏 MAPA Filipina Rp1,66T Thailand Rp683,9B
💰 Laba bersih MAPI Rp1,70T MAPA Rp1,15T ACES Rp476,7B
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🧾 Revenue COGS SGA
🏢 MAPI Rp30,04T Rp17,38T Rp10,17T
🏃 MAPA Rp13,94T Rp7,43T Rp4,83T
🏠 ACES Rp6,33T Rp3,30T Rp2,59T
⚖️ Penekan pendukung growth
🧲 Penekan MAPI sewa Rp4,82T MAPA sewa Rp1,92T ACES laba turun 16%
🛍️ Pendukung brand kuat MAP Group ACES kas Rp1,82T
🚀 Growth MAPI tambah entitas India dan Filipina ACES rebranding
📏 Skala jaringan
🦍 MAPI aset Rp30,84T karyawan 31.971 gerai >3.000
🐆 MAPA aset Rp13,21T karyawan 15.066 gerai >1.000
🐘 ACES aset Rp8,15T karyawan 14.226 gerai 257
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
💱 Risiko valas dan mitigasi
🟢 ACES net exposure +Rp282,5B rugi valas Rp10,10B
🔴 MAPI net exposure -Rp578,9M rugi Rp9,47B forward Rp920B
🔴 MAPA net exposure -Rp574,4M rugi Rp21,69B forward Rp295B
🧱 Komoditas tidak material fokus risiko bunga dan valas
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/5





$MAPI vs $MAPA vs $ACES: Kisah Ibu, Anak, dan Tetangga
MAPI dan MAPA itu memang ibu dan anak, tapi ini bukan sekadar hubungan kepemilikan 68,83% lalu selesai. Di laporan keuangan, hubungan ibu-anak itu kelihatan dari arus transaksi internal, fee, sampai piutang-utangnya yang kadang tampak kecil tapi maknanya besar. ACES itu tetangga yang kelihatan mirip dari luar sama-sama ritel, sama-sama impor barang, sama-sama hidup dari jaringan toko, tapi ekosistemnya beda dunia karena dia main di Kawan Lama Group. Jadi kalau investor baca angka tanpa konteks, gampang salah tafsir, dikira semua ritel itu sama, padahal model uangnya beda, risikonya beda, dan kualitas labanya juga beda. Kuncinya, investor harus lihat trend, skala, lalu cek angka-angka yang kelihatannya receh seperti piutang pihak berelasi, karena sering justru di situ cerita sebenarnya. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Dari sisi skala, MAPI itu raksasa ekosistem. Total asetnya Rp30,83 triliun dan jaringan tokonya lebih dari 3.000 outlet, jadi wajar kalau kompleksitasnya juga tinggi, karena bisnisnya bukan hanya jual barang tapi mengelola portofolio lisensi merek global, F&B, department store, dan banyak format toko. MAPA itu anak yang fokus sports dan active lifestyle, tokonya lebih dari 1.000, dan laba bersihnya Rp1,148 triliun. ACES lebih spesifik home improvement dan lifestyle home, tokonya 257, dan laba bersih 9M 2025 Rp476,7 miliar, turun 16% dari Rp567,8 miliar di 9M 2024. Trend ini penting, karena untuk ACES kita punya pembanding tahunannya, jadi investor bisa langsung baca bahwa demand atau margin sedang tertekan dibanding tahun lalu, walaupun perusahaannya tetap sehat secara struktur. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau investor bagi laba bersih dengan jumlah karyawan, hasilnya jadi indikator produktivitas paling sederhana, karena ritel itu pada akhirnya perang efisiensi orang dan toko. MAPI dengan laba bersih Rp1,702 triliun dan 31.971 karyawan menghasilkan laba sekitar Rp53,2 juta per karyawan selama 9 bulan. MAPA dengan laba Rp1,148 triliun dan 15.066 karyawan menghasilkan sekitar Rp76,2 juta per karyawan, ini tinggi, artinya MAPA lebih tajam dalam mengubah operasi toko menjadi laba bersih. ACES dengan laba Rp476,7 miliar dan 14.226 karyawan menghasilkan sekitar Rp33,5 juta per karyawan, lebih rendah, dan itu nyambung dengan karakter bisnisnya yang cenderung big box, banyak staf per toko, dan transaksi yang lebih berat di logistik serta inventory. Bahkan kalau investor lihat karyawan per toko, ACES kira-kira 55 orang per outlet, sedangkan MAPI dan MAPA secara kasar berada di belasan atau bahkan lebih rendah karena formatnya campuran banyak toko kecil di mal. Ini menjelaskan kenapa membandingkan margin dan produktivitas lintas ritel itu wajib pakai konteks format toko.
Lalu coba baca data toko dan laba per toko untuk rasa skala. ACES laba Rp476,7 miliar dibagi 257 gerai itu sekitar Rp1,85 miliar per gerai untuk 9 bulan. MAPA laba Rp1,148 triliun dibagi lebih dari 1.000 gerai itu kira-kira di atas Rp1 miliar per gerai, tapi ingat karena jumlah gerainya lebih dari 1.000, angka per gerai aslinya sedikit lebih rendah dari pembagian kasar ini. MAPI laba Rp1,702 triliun dibagi lebih dari 3.000 gerai itu di bawah Rp1 miliar per gerai, dan itu tidak otomatis jelek, karena MAPI punya banyak format yang secara ekonomi memang lebih tipis per outlet, tapi menang di volume dan ekosistem. Jadi makna angka per gerai itu bukan untuk menentukan siapa paling hebat, tapi untuk memahami model, ACES menang di big store economics, MAPA menang di specialty retail sports yang margin dan perputaran bisa tinggi, MAPI menang di jaringan dan diversifikasi. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sekarang bagian yang sering bikin investor salah paham, transaksi pihak berelasi. Angka piutang dan utang pihak berelasi itu bisa jadi tanda sinergi yang sehat, atau tanda ketergantungan internal yang kalau salah kelola bisa jadi bom waktu. Untuk ACES, piutang usaha pihak berelasi Rp98,8 miliar dan utang usaha pihak berelasi Rp36,3 miliar. Kalau investor bandingkan dengan laba ACES Rp476,7 miliar, piutang pihak berelasi itu sekitar 20,73% dari laba 9 bulan, bukan kecil-kecil amat. Tapi ACES juga punya kas Rp1,81 triliun, jadi piutang pihak berelasi itu hanya sekitar 5,46% dari kas, artinya secara likuiditas, ini tidak menakutkan. Ini contoh cara baca yang benar, bandingkan ke laba untuk melihat materialitas terhadap performa, bandingkan ke kas untuk melihat risiko likuiditas. Untuk MAPI, piutang pihak berelasi Rp10 juta, ini secara skala praktis nol, sementara utang pihak berelasi Rp9,4 miliar, dibanding laba Rp1,702 triliun itu sekitar 0,55%. Untuk MAPA, piutang pihak berelasi Rp2,8 miliar dan utang pihak berelasi Rp573 juta, dibanding laba Rp1,148 triliun itu sekitar 0,24% dan 0,05%. Maknanya sederhana, di angka trade receivables dan trade payables, MAPI dan MAPA tidak terlihat seperti memarkir besar-besaran piutang dagang ke pihak berelasi, sedangkan ACES lebih banyak berinteraksi dalam ekosistem Kawan Lama, wajar karena ada transaksi sewa, supply chain, dan layanan antar entitas grup.
Masuk ke kualitas neraca dan risiko, di sinilah perbedaan ibu, anak, dan tetangga makin kelihatan. ACES punya posisi likuiditas yang terlihat paling nyaman, kas Rp1,81 triliun dan rasio CFO terhadap utang 0,98. Artinya, hampir seluruh utang bisa ditutup oleh arus kas operasi, ini sinyal perusahaan yang operasionalnya benar-benar menghasilkan uang tunai dan tidak ketergantungan pada refinancing untuk bernapas. Tapi ACES punya kerentanan besar yang sifatnya struktural, yaitu 87,03% pembelian barang dagangan berasal dari impor, jadi pelemahan Rupiah langsung bisa menggerus margin, dan ini bukan risiko kecil-kecilan, ini risiko inti model bisnisnya. Jadi ketika laba ACES turun 16% YoY, investor seharusnya langsung refleks bertanya, apakah ada tekanan kurs, apakah ada perubahan pricing power, apakah inventory aging meningkat, karena di bisnis impor, kesalahan kecil di timing kurs dan stok bisa terasa di laba. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
MAPI punya kekuatan di diversifikasi dan ekosistem merek, tapi kelemahannya juga khas perusahaan ekosistem, beban tetap dan kewajiban yang besar. Total liabilitas Rp14,63 triliun dibanding aset Rp30,83 triliun itu sekitar 47,45%, jadi leverage-nya nyata, dan investor harus paham bahwa ritel besar itu sering hidup dengan kombinasi utang dan liabilitas sewa. Tambahan lagi, ada biaya royalti dan technical assistance Rp541,5 miliar dalam 9 bulan. Kalau investor bandingkan kasar terhadap laba bersih Rp1,702 triliun, biaya ini setara sekitar 31,82% dari laba bersih, dan ini menjelaskan satu hal, MAPI itu bukan cuma jualan, tapi juga bayar tiket lisensi untuk bisa jualan merek global. Selama demand kuat, biaya itu wajar, tapi kalau demand melemah, biaya lisensi dan biaya sewa itu bisa terasa menekan. Jadi investor yang pegang MAPI harus lebih disiplin membaca trend penjualan same store sales, margin, dan beban sewa, karena ini emiten yang sensitif terhadap siklus konsumsi.
MAPA posisinya menarik, karena dia anak yang justru terlihat sangat produktif di laba per karyawan, dan laba bersihnya Rp1,148 triliun membuatnya terlihat seperti mesin laba di segmen sports. Tapi kelemahan yang harus diingat, MAPA ini memang hidup di dunia mal dan lokasi premium, jadi beban sewanya besar, liabilitas sewa jangka panjang Rp1,06 triliun. Kalau investor bandingkan dengan laba Rp1,148 triliun, skala liabilitas sewa itu sekitar 92,33% dari laba 9 bulan, artinya MAPA punya komitmen fixed cost yang signifikan. Ini bukan berarti berbahaya otomatis, tapi artinya MAPA sangat bergantung pada traffic ritel modern, efektivitas lokasi, dan kemampuan menjaga throughput penjualan per meter persegi. Selain itu, karena dia anak, ada ketergantungan sistem ke MAPI untuk layanan manajemen, TI, dan ekosistem voucher, jadi investor harus paham bahwa sebagian efisiensi MAPA itu memang hasil mesin grup, bukan berdiri sendiri sepenuhnya. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Trend laba bisa memberi tahu apakah mesin uangnya sedang menguat atau melemah, di sini ACES terlihat melemah di laba YoY 16% dan itu wajib diinvestigasi dengan kacamata kurs dan impor. Skala bisnis bisa memberi tahu kita mengenai daya tahan dan daya tawar, MAPI menang telak di aset Rp30,83 triliun dan jaringan lebih dari 3.000 toko, tapi skala juga berarti kompleksitas dan beban tetap. Keunggulan MAPA ada di produktivitas, laba per karyawan sekitar Rp76,2 juta, dan laba Rp1,148 triliun dengan fokus yang jelas, tapi risikonya ada di sewa dan ketergantungan ekosistem grup. Data pihak berelasi membantu investor membedakan sinergi yang wajar versus potensi ketergantungan internal, di sini ACES memang lebih terkoneksi dalam grup Kawan Lama lewat piutang Rp98,8 miliar dan utang Rp36,3 miliar, sementara MAPI dan MAPA terlihat jauh lebih kecil pada pos dagang pihak berelasi, sehingga cerita sinerginya lebih banyak muncul lewat layanan manajemen, voucher, dan kesamaan ekosistem operasional, bukan lewat piutang dagang yang besar.
ACES itu tetangga yang terlihat paling mandiri secara neraca, kas tebal Rp1,81 triliun dan kemampuan bayar utang dari CFO yang sangat kuat, tapi dia paling sensitif ke kurs karena impor 87,03% dan itu bisa menjelaskan kenapa laba bisa turun walau bisnis tampak stabil dari luar. MAPI itu ibu yang mengendalikan ekosistem terbesar, daya tahannya datang dari diversifikasi merek dan skala, tapi investor harus siap dengan beban tetap, liabilitas besar, dan biaya lisensi yang nyata Rp541,5 miliar yang akan selalu ikut makan kue laba. MAPA itu anak yang tampak paling tajam dari sisi efisiensi laba, tapi karena hidup di lokasi premium dan sewa, investor harus rajin memantau apakah mesin penjualannya tetap kencang saat siklus konsumsi melemah, karena di bisnis sewa, penurunan traffic itu efeknya berantai ke margin dan laba. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🏬 Kesamaan
🤝 Sama-sama ritel lifestyle dengan jaringan gerai besar
🗺️ Sama-sama dominan kota besar Indonesia
📘 Sama-sama SAK dan Rupiah
🌍 Sama-sama sensitif valas impor dan likuiditas piutang
🧩 Beda karakter bisnis
🏠 ACES fokus home improvement dan toys 257 gerai
👗☕ MAPI raksasa multi segmen termasuk apparel dan F&B aset Rp30,83T gerai >3.000
🏃 MAPA spesialis sports kids gerai >1.000 anak MAPI 68,83%
✈️ MAPI MAPA ekspansi regional ACES dominan domestik
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🔗 Transaksi pihak berelasi
🧠 MAPI→MAPA jasa manajemen IT HR legal finance
🎟️ MAPA terima gift voucher grup timbul piutang utang intra grup
👥 Ada pengurus silang di grup
🧳 Pihak terkait eksternal MAPI MAPA Samsonite Burger King UFM
🏢 ACES ekosistem Kawan Lama sewa dan transaksi dengan Home Center Toys Games plus advance internal
💪 Power per emiten
🛡️ ACES kas Rp1,81T CFO utang 0,98 ekuitas Rp6,44T
🏗️ MAPI skala merek dan jaringan terbesar aset Rp30,83T
🥇 MAPA laba Rp1,14T margin kuat pemimpin sports kids
⚠️ Weakness kunci
📉 ACES laba turun 16% impor 87,03%
🧱 MAPI liabilitas Rp14,63T royalty technical Rp541,5B
🧷 MAPA tergantung induk liabilitas sewa Rp1,06T
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🧑🤝🧑 Kontribusi
👷 ACES 14.226 karyawan dividen Rp579,8B
👨👩👧👦 MAPI 31.971 karyawan pajak Rp506,9B
⚙️ MAPA 15.066 karyawan laba tinggi per tenaga kerja
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/6






"Fase Re-Accumulation: Menangkap Momentum Kedua"
Seringkali sebuah saham yang sudah naik tinggi kemudian mengalami fase konsolidasi atau istirahat. Di fase ini, banyak trader ritel yang tidak sabar kemudian menjual sahamnya, berpikir bahwa tren naik sudah berakhir. Namun, bagi Smart Money, fase ini seringkali digunakan untuk melakukan re-accumulation atau pengumpulan ulang barang sebelum melanjutkan kenaikan ke level yang lebih tinggi lagi. Inilah momentum kedua yang seringkali lebih dahsyat daripada kenaikan pertamanya, namun hanya bisa dideteksi oleh mereka yang jeli melihat volume.
Selama fase konsolidasi, Trigger Smart Money akan memantau apakah aliran Clean Money masih tetap positif atau tidak. Jika harga bergerak mendatar namun volume intraday menunjukkan tanda-tanda belanja besar yang tersembunyi, itu adalah sinyal bahwa "tangan kuat" belum selesai. Mereka sedang menyerap sisa-sisa penjualan dari arus Bad Money (ritel yang tidak sabar). Dengan mendeteksi fenomena ini, Anda tidak akan mudah goyah untuk melakukan sell terlalu dini. Sebaliknya, Anda bisa menambah posisi saat data mengonfirmasi bahwa akumulasi ulang sedang terjadi.
Mengetahui perbedaan antara fase distribusi dan re-akumulasi adalah kunci untuk meraih profit maksimal. Jangan biarkan fluktuasi harga jangka pendek menipu Anda. Selalu kembalilah pada data aliran dana untuk melihat gambaran besarnya. Jika dana bersih terus mengalir masuk meskipun harga terlihat tenang, itu adalah persiapan untuk ledakan berikutnya. Dengan sistem deteksi dana besar, Anda memiliki kesabaran yang didasari oleh data, yang memungkinkan Anda untuk tetap berada di saham-saham pemenang hingga target profit yang paling optimal tercapai.
$PSAB $MAPA $MEDC
1/3



$MAPI $MAPA pernah split = fakta sejarah
$MAPB bakal split = itu keputusan RUPS & strategi perusahaan
Yang nunggu rumor aja? Nanti cuma kebagian debunya 😎 demi mempertimbangkan likuiditas
#anomali
#tidakdisarankanjualbeli
"Mendeteksi Kekuatan Trend Lewat 'Price-Volume Divergence'"
Salah satu tanda paling akurat bahwa sebuah tren kenaikan harga akan segera berakhir adalah adanya ketidaksinkronan antara harga dan volume, atau yang dikenal dengan istilah divergensi. Bayangkan sebuah mobil yang mendaki tanjakan namun bensinnya mulai habis; ia masih bergerak naik karena momentum, tapi mesinnya sudah kehilangan tenaga. Begitu juga dengan saham; saat harga terus mencetak puncak baru namun volumenya justru mengecil, itu adalah tanda bahwa Smart Money sudah tidak lagi menambah posisi dan membiarkan arus Bad Money yang sisa untuk mendorong harga naik sendirian.
Trigger Smart Money membantu Anda menangkap sinyal bahaya ini sebelum kejatuhan harga benar-benar terjadi. Jika radar menunjukkan bahwa lonjakan volume 5x lipat tidak lagi terjadi saat harga naik, dan indikator Clean Money justru mulai berbalik negatif, maka itu adalah konfirmasi distribusi. Pemain besar sedang melakukan aksi jual secara perlahan (soft-selling) saat ritel masih dalam kondisi euforia. Mengetahui fakta ini akan menyelamatkan profit Anda dari risiko pembalikan arah yang tajam yang seringkali terjadi secara tiba-tiba tanpa peringatan berita.
Jangan biarkan diri Anda terlena oleh grafik yang terlihat terus menanjak hijau. Selalu periksa "bensin" di balik kenaikan tersebut. Kenaikan harga yang sehat harus selalu dibarengi dengan dukungan akumulasi dana bersih yang masif. Dengan menggunakan radar pemburu dana besar, Anda memiliki sistem peringatan dini yang akan memberitahu Anda kapan tren sudah tidak lagi layak diikuti. Kedisiplinan untuk keluar saat dana besar sudah mulai menarik diri adalah kunci utama untuk menjaga pertumbuhan portofolio Anda secara berkelanjutan di Bursa Efek Indonesia.
$FWCT $JARR $MAPA
1/2

