


Volume
Avg volume
PT. Lippo Karawaci Tbk (LPKR) adalah pengembang perkotaan residensial dan komersial di Indonesia. Kegiatan utama perusahaan meliputi pembangunan perkotaan, pembangunan terpadu skala besar, mal ritel, layanan kesehatan, rumah sakit dan infrastruktur serta pengelolaan properti dan portofolio. Ini adalah proyek pembangunan perkotaan termasuk Lippo Village, Lippo Cikarang, Tanjung Bunga, Royal Serpong Village, dan San Diego Hills Memorial Park. Perusahaan adalah anggota Grup Lippo.
$KPIG antara dua, tanos kehabisan karung atau sudah bosan pakai karung? . kalau kehabisan karung bisa minta ke $LPKR, itu disana pabrik karung, dari generasi ke generasi malahan. atau jangan jangan tanos ganti pakai pukat harimau. hahahaha...ampun om tanos,
$NIRO Mall Play
Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Saham NIRO sudah naik sekitar 150% dalam setahun terakhir padahal laporan 9M-2025 masih rugi. Di sisi lain $PWON dan $LPKR justru nyungsep, seolah-olah pasar sedang menghukum yang punya mesin kas dan memuja yang sedang berdarah. Kenaikan NIRO juga belum segila MPRO, tapi polanya mirip, rugi jalan terus, harga saham tetap bisa melayang. Kalau ini dibaca sebagai kompetisi fundamental, hasilnya ngawur, karena kualitas kas kalah oleh cerita. Kalau dibaca sebagai kompetisi pergerakan saham, baru nyambung, likuiditas dan ekspektasi bisa mengangkat harga lebih cepat dari kinerja. Indonesia punya kebiasaan aneh, kadang saham makin rugi justru makin ramai, karena orang mengejar momentum bukan kualitas. Jadi uji paling adil bukan siapa yang paling heboh, tapi siapa yang bisa mengubah revenue jadi kas, lalu kas itu cukup untuk menahan utang. Di angka 9M-2025, NIRO, LPKR, PWON, dan MPRO memperlihatkan beda kelas antara pabrik sewa yang sehat, developer yang berat napas, dan emiten kecil yang harganya sudah lari duluan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Mulai dari identitas bisnisnya dulu biar investor tidak ketukar. NIRO itu mall heavy, sekitar 93% revenue datang dari segmen pusat perbelanjaan, jadi ini memang operator mall yang mengandalkan sewa, service charge, utilitas, parkir. PWON juga pabrik sewa, bahkan tulang punggungnya jelas, segmen mall, kantor, apartemen servis menyumbang sekitar 62% revenue, jadi mesin utamanya recurring. LPKR beda spesies, mall memang ada dan tumbuh, tapi kontribusi langsung baris pusat belanja cuma sekitar 2% dari revenue, sehingga LPKR lebih terasa sebagai developer kota mandiri yang hidup dari jual-beli unit dan putaran persediaan. MPRO lebih ekstrem lagi, tidak punya mall sebagai penyangga, revenue-nya kecil sekali dan masih bertumpu pada penjualan apartemen dan pengelolaan gedung skala mini.
Sekarang skala, karena skala itu menentukan daya tahan. Revenue 9M-2025 NIRO sekitar Rp1,11 triliun, PWON Rp5,12 triliun, LPKR Rp6,51 triliun, MPRO Rp2,52 miliar. Maknanya NIRO itu kira-kira 5 sampai 6 kali lebih kecil dari PWON dan LPKR dalam omzet, tapi masih ratusan kali lebih besar dari MPRO. Skala besar biasanya membuat biaya tetap lebih mudah ditutup, akses pendanaan lebih gampang, dan volatilitas operasional lebih bisa diserap, sedangkan skala mini seperti MPRO membuat satu komponen biaya saja bisa langsung menghabisi laba. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sejarahnya juga memberi konteks kematangan. NIRO berdiri 18 Desember 2003 dan IPO 13 September 2012, jadi per September 2025 umurnya sekitar 22 tahun dan sudah 13 tahun jadi emiten. LPKR berdiri 15 Oktober 1990 dan IPO 28 Juni 1996, jadi sekitar 35 tahun dan 29 tahun melantai. PWON lebih senior, berdiri 20 September 1982 dan IPO 9 Oktober 1989, jadi sekitar 43 tahun dan 36 tahun melantai. MPRO berdiri 5 Maret 2004 dan IPO 28 September 2018, jadi sekitar 21 tahun dan 7 tahun melantai. Maknanya PWON dan LPKR itu pemain lama dengan aset besar dan sistem operasi yang sudah teruji, sementara NIRO generasi setelahnya dengan ekspansi ke banyak kota, dan MPRO relatif baru sebagai emiten.
Masuk ke isi mall NIRO supaya jelas kenapa revenue-nya terasa nyata. Portofolio NIRO mencakup Pejaten Village dan Kalibata City Square di Jakarta, Cimanggis Square di Depok, CSB di Cirebon, lalu Citimall di berbagai kota Sumatra seperti Prabumulih, Baturaja, Lahat, ditambah Binjai Super Mall, lalu di Sulawesi ada Citimall Gorontalo dan Palu Grand Mall, serta proyek Tuban yang progresnya sekitar 67%. Operasinya tersebar sampai 42 lokasi, jadi NIRO bukan mall premium Jakarta saja, tapi jaringan mall kota-kota yang menempel pada konsumsi daerah. Komposisi pendapatan mall 9M-2025 kira-kira sewa Rp581 miliar, service charge Rp208 miliar, utilitas Rp167 miliar, parkir Rp60 miliar, lainnya Rp12 miliar, total mall Rp1,03 triliun dari total Rp1,11 triliun. Maknanya mesin NIRO benar-benar sewa harian, bukan sekadar jual tanah.
Pertumbuhan NIRO juga terlihat, pendapatan segmen mall naik sekitar 20,45% dari Rp855 miliar ke Rp1,03 triliun. Ini penting, karena di bisnis sewa, pertumbuhan seperti ini biasanya datang dari kombinasi okupansi, kenaikan sewa, perbaikan traffic, atau bertambahnya aset yang beroperasi. Jadi dari sisi top line, NIRO sedang jalan. Tapi problemnya ada di bawah, yaitu bunga. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Di laporan 9M-2025, NIRO revenue Rp1,11 triliun tumbuh, margin kotor atau GPM 49,3% juga tebal. GPM itu ukuran sederhana, dari setiap Rp1 revenue, berapa sisa setelah beban langsung, jadi 49,3% berarti sisa sekitar Rp0,49 sebelum biaya kantor dan bunga. NIRO bahkan masih punya OPM 22,6%, OPM itu laba operasi dibagi revenue, artinya mesin inti sebelum bunga masih menghasilkan sekitar Rp0,23 dari setiap Rp1 revenue. Masalahnya, NPM NIRO -10,1%, NPM itu laba bersih dibagi revenue, jadi setelah bunga dan pajak, tiap Rp1 revenue malah berubah jadi rugi sekitar Rp0,10. Penyebabnya kebaca jelas, beban keuangan NIRO sekitar Rp535 miliar, ini lebih dari 2 kali laba usaha sekitar Rp250 miliar, jadi bunga melindas laba operasional.
Bandingkan dengan PWON, ini contoh pabrik sewa yang tidak keteteran bunga. PWON punya GPM 55,4%, OPM 42,3%, NPM 41,5%. Artinya dari Rp1 revenue, laba bersihnya masih sekitar Rp0,42, sangat tebal. Beban keuangan PWON sekitar Rp269 miliar, sementara laba operasinya kalau dikira-kira dari OPM berada di kisaran Rp2,17 triliun, jadi bunga cuma sekitar 12% dari tenaga operasional, ini sehat. Di LPKR, marginnya lebih tipis, GPM 33,7%, OPM 7,1%, NPM 5,6%. Beban keuangan LPKR sekitar Rp452 miliar, sementara laba operasinya kira-kira Rp463 miliar, jadi bunga hampir setara dengan tenaga operasionalnya, napasnya pendek. Di MPRO, margin operasinya sudah negatif, jadi cerita utamanya bukan bunga doang, tapi bisnis inti yang belum bisa membiayai dirinya sendiri.
ROA dan ROE itu alat untuk menilai produktivitas aset dan modal. ROA NIRO sekitar -2,9% dan ROE sekitar -6,3%, artinya aset besar belum menghasilkan laba bersih, dan modal pemegang saham sedang tergerus rugi. Bandingkan PWON, ROA sekitar 7,85% dan ROE sekitar 10,8%, ini tanda aset dan ekuitas bekerja menghasilkan laba. LPKR ROA sekitar 1,21% dan ROE sekitar 1,63%, artinya output laba kecil sekali dibanding aset dan ekuitas yang besar. MPRO ROA -4,36% dan ROE -6,15%, artinya belum produktif dan masih bocor. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bagian yang paling sering menjebak investor adalah kas. CFO itu arus kas operasi, ini jawaban paling jujur apakah laba benar jadi uang. NIRO punya revenue Rp1,11 triliun dan kas dari pelanggan Rp1,16 triliun, ini bagus karena uangnya masuk. Tapi CFO NIRO cuma sekitar Rp162 juta, praktis nol, karena kas hasil operasi habis untuk bayar bunga sekitar Rp465 miliar. Jadi revenue memang tunai, tapi tidak tinggal jadi kas bersih. FCF NIRO negatif sekitar Rp335 miliar, FCF itu CFO dikurangi belanja modal, artinya setelah investasi pun NIRO masih defisit kas. Bandingkan PWON, kas dari operasi Rp2,06 triliun dan FCF Rp1,72 triliun, ini mesin kas nyata. Bandingkan LPKR, CFO minus Rp1,21 triliun dan FCF minus Rp1,34 triliun, artinya laba di laporan tidak ditopang kas, operasionalnya menyedot uang. Bandingkan MPRO, CFO minus Rp24 miliar dan FCF minus Rp24 miliar, sementara revenue cuma Rp2,52 miliar, jadi secara kas itu benar-benar megap-megap.
Rasio operasional seperti DSO, DI, DPO itu membantu baca siklus uang. DSO NIRO sekitar 37 hari, ini rata-rata waktu tagih piutang, makin kecil makin cepat uang masuk. DI NIRO sekitar 30 hari, ini rata-rata persediaan berputar, rendah karena persediaannya bukan land bank besar seperti developer. DPO NIRO sekitar 29 hari, ini rata-rata waktu bayar vendor, makin besar makin lama bayarnya. Bandingkan MPRO, DI-nya sampai puluhan ribu hari, itu sinyal aset nyangkut di persediaan dan tidak laku-laku, makanya revenue mini. Bandingkan PWON, DI ratusan hari itu wajar karena ada karakter properti, tapi tertutup oleh kas yang kuat dan recurring yang stabil.
Utang dan sensitivitas bunga adalah bom waktu NIRO. Utang jangka panjang NIRO sekitar Rp6,78 triliun, jauh lebih besar dari revenue tahun berjalan, jadi struktur modalnya agresif. Risiko paling tajamnya suku bunga mengambang, kenaikan bunga 1% diperkirakan menggerus laba sekitar Rp54 miliar, dan saat laba bersih sudah negatif, tambahan beban ini makin menyulitkan. LPKR juga punya utang berbunga sekitar Rp4,93 triliun dan masih berurusan dengan CFO negatif, jadi risikonya eksekusi dan likuiditas. PWON punya utang obligasi sekitar Rp5,54 triliun, tapi kasnya sekitar Rp7,01 triliun dan FCF kuat, jadi utang itu lebih terasa sebagai leverage terukur, bukan jerat. MPRO utang bank sekitar Rp250 miliar, tapi problemnya bukan sekadar nominal utang, melainkan mesin revenue dan kas yang terlalu kecil. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Valuasi membuat kontrasnya makin tajam. PBV itu harga dibanding nilai buku, makin tinggi berarti pasar memberi premi besar atas ekuitas, makin rendah berarti pasar memberi diskon. NIRO PBV sekitar 4,14 kali pada harga 336, artinya pasar menghargai 4 kali nilai bukunya padahal masih rugi dan bunga tinggi, ini definisi mahal secara fundamental kecuali ada perbaikan besar di struktur utang atau lonjakan laba. PWON PBV sekitar 0,75 kali pada harga 342, artinya diskon terhadap nilai buku padahal laba dan kas sangat kuat, jadi ini terlihat murah secara fundamental. LPKR PBV sekitar 0,20 kali pada harga 85, diskonnya ekstrem, tapi pasar sedang menghukum CFO negatif dan risiko eksekusi. MPRO PBV sekitar 95 kali, ini sudah masuk wilayah harga yang berjalan sendiri, bukan refleksi laporan keuangan.
Terakhir, karakter pergerakan saham juga dipengaruhi jumlah saham beredar dan free float. NIRO punya sekitar 22,20 miliar saham dan free float 24,75%, PWON 48,15 miliar dan free float 31,30%, LPKR 70,87 miliar dan free float 42,62%, MPRO 9,94 miliar dan free float 19,03%. Maknanya MPRO paling mudah liar karena basis saham dan porsi publiknya paling sempit, NIRO juga relatif lebih mudah digerakkan dibanding raksasa seperti LPKR dan PWON, sementara LPKR dan PWON butuh arus dana jauh lebih besar untuk mengubah tren harga secara konsisten.
Jadi PWON adalah standar emas pabrik sewa karena margin tebal dan kas masuk nyata. NIRO adalah operator mall yang revenue-nya tumbuh dan komposisinya recurring, tapi bunga dan utangnya membuat laba bersih jeblok dan kas bersih nyaris tidak tersisa. LPKR adalah raksasa ekosistem yang skala besar, tetapi kualitas kas 9M-2025 sedang jelek karena CFO negatif, jadi diskon PBV ada alasannya. MPRO adalah anomali, skala mini dan fundamental lemah, tapi harga bisa terbang karena bandar saham lebih dominan daripada mesin bisnis.
ποΈ Skala omzet. Daya tahan beda kelas
π LPKR Rp6,51 triliun. Raksasa ekosistem
π PWON Rp5,12 triliun. Raksasa sewa
π NIRO Rp1,11 triliun. Menengah, fokus mall
π MPRO Rp2,52 miliar. Mini, ruang napas tipis
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
π’ Mesin recurring income. Siapa benar-benar mall heavy
π’ NIRO 93% dari mall. Sewa, service charge, utilitas, parkir
π§Ύ Sewa Rp581 miliar. Service charge Rp208 miliar. Utilitas Rp167 miliar. Parkir Rp60 miliar
π Revenue mall naik 20,45%
π PWON 62% dari mall, kantor, apartemen servis. Pabrik sewa
π‘ LPKR mall langsung cuma 2,17%. Lebih developer kota mandiri
π΄ MPRO tidak punya mall. Tidak ada penyangga recurring
π₯ Laba vs bunga. Kenapa rugi bisa tetap naik
β οΈ NIRO laba usaha Rp250 miliar kalah oleh bunga Rp535 miliar. NPM -10,1%
β
PWON margin tebal. GPM 55,4%. OPM 42,3%. NPM 41,5%
π LPKR margin tipis. GPM 33,7%. OPM 7,1%. NPM 5,6%
β MPRO rugi dalam. OPM -1.601%. NPM -2.182%
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
π§ Kas. Ini pembeda utama
π’ PWON CFO Rp2,06 triliun. FCF Rp1,72 triliun
π‘ NIRO kas pelanggan Rp1,16 triliun tapi CFO Rp0,16 miliar karena bunga Rp465 miliar. FCF -Rp335 miliar
π΄ LPKR CFO -Rp1,21 triliun. FCF -Rp1,34 triliun
π₯ MPRO CFO -Rp24 miliar. FCF -Rp24 miliar
π¦ Utang dan valuasi. Premium vs diskon
β‘ NIRO utang Rp6,78 triliun. PBV 4,14 kali. Mahal walau rugi
π§² PWON PBV 0,75 kali. Diskon dengan kas kuat
π§ LPKR PBV 0,20 kali. Diskon karena kas jelek
π¨ MPRO PBV 95,3 kali. Harga jalan sendiri
𧬠Sejarah. Kematangan operasi
π
NIRO berdiri 2003. IPO 2012
π
LPKR berdiri 1990. IPO 1996
π
PWON berdiri 1982. IPO 1989
π
MPRO berdiri 2004. IPO 2018
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










$LPKR vs $MPRO: Properti Mertua vs Menantu
Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
LPKR adalah saham milik Lippo, identik sebagai pelopor mall di Indonesia. Pemilik LPKR itu punya menantu yakni Tahir, yang memiliki saham MPRO. Tapi pasar sering salah kaprah, dikira karena sama-sama konglomerasi maka kualitas bisnisnya otomatis sama. Padahal PWON adalah definisi pabrik sewa, sedangkan LPKR lebih mirip kota mandiri yang hidup dari jual-beli unit dan putaran persediaan. MPRO malah ekstrem, harga sahamnya bisa terbang jauh sebelum bisnisnya menunjukkan tenaga. Jadi kalau investor cuma terpukau label Lippo atau Tahir, investor sedang menukar analisis dengan fan-fiction. Uji paling adil itu dua, seberapa besar mesin recurring income, dan seberapa cepat laba berubah jadi kas. Di angka 9M-2025, tiga emiten ini kasih pelajaran, mall boleh jadi ikon, tapi kas yang menentukan siapa yang benar-benar menang. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau mulai dari skala dulu supaya kebayang, LPKR dan PWON itu sama-sama raksasa revenue, MPRO itu mini. Revenue 9M-2025 LPKR Rp6,51 triliun, PWON Rp5,12 triliun, MPRO Rp2,52 miliar. Maknanya sederhana, PWON dan LPKR punya kapasitas menutup biaya tetap dan menyerap guncangan siklus jauh lebih kuat, sedangkan MPRO tidak punya ruang bernapas karena pendapatannya bahkan tidak cukup untuk menutup beban kantor dan beban bunga. Skala organisasi menguatkan cerita itu juga, LPKR punya 1.775 karyawan, PWON 3.274 karyawan, MPRO 14 karyawan. Bukan soal gaya-gayaan, tapi soal kemampuan eksekusi proyek, manajemen aset sewa, dan ketahanan operasional.
Sekarang masuk ke mall, karena di sini mitos LPKR sering mengalahkan faktanya. LPKR memang punya aset mall yang tersebar, contoh yang disebut spesifik Lippo Mall Puri dan Lippo Plaza Puri di Jakarta, Lippo Plaza Buton, Lippo Plaza Jambi, Bellanova Country Mall di Bogor atau Sentul, dan Cyberpark di Tangerang, dan pengelolaannya lewat PT Lippo Malls Indonesia. Bahkan ada eksposur ke LMIR Trust di Singapura, jadi struktur mall-nya lebih berlapis. Tapi saat investor lihat kontribusi ke uang, pendapatan baris pusat belanja LPKR cuma Rp141,50 miliar dari total Rp6,51 triliun, sekitar 2,17%. Ini maknanya penting, mall di LPKR lebih terasa sebagai bagian ekosistem, bukan mesin utama pendapatan. Memang mall LPKR tumbuh 23,28% YoY dari Rp114,78 miliar ke Rp141,50 miliar, dan ada pendapatan jasa pengelolaan pusat belanja Rp196,50 miliar, tapi porsi inti tetap kecil dibanding bisnis pengembangan real estat.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bandingkan dengan PWON, di PWON mall itu bukan sekadar ikon, tapi tulang punggung. Pendapatan segmen mall, kantor, apartemen servis PWON Rp3,19 triliun dari total Rp5,12 triliun, sekitar 62,28%. Maknanya, lebih dari separuh omzet PWON datang dari recurring income yang biasanya lebih stabil, lebih mudah diprediksi, dan lebih cepat jadi kas karena tenant bayar rutin. Sementara MPRO tidak punya mall, jadi tidak ada pabrik sewa yang bisa menambal saat penjualan unit seret. MPRO hidup dari penjualan apartemen dan pengelolaan gedung skala kecil, yang angkanya bahkan masih di level miliar kecil.
Sekarang rasio margin, karena margin itu cara cepat melihat siapa yang pegang kendali biaya. Gross Profit Margin (GPM) itu laba kotor dibagi revenue, maknanya dari setiap Rp1 penjualan, berapa yang tersisa setelah beban pokok. PWON GPM 55,4% berarti tiap Rp1 revenue menyisakan sekitar Rp0,55 sebelum biaya kantor, ini tipikal bisnis sewa premium. LPKR GPM 33,7% berarti sisanya sekitar Rp0,34, lebih tipis karena karakter developer yang beban konstruksinya besar. MPRO GPM 21,0% terlihat paling tipis, dan karena revenue-nya kecil sekali, margin tipis itu langsung terasa sebagai sesak napas.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Operating Profit Margin (OPM) itu laba operasi dibagi revenue, maknanya seberapa kuat mesin inti setelah beban penjualan, umum, administrasi. PWON OPM 42,3% artinya mesin intinya sangat kuat, bahkan sebelum bicara bunga dan pajak. LPKR OPM 7,1% artinya mesin intinya hidup tapi tipis, gampang kepotong kalau penjualan melambat atau bunga naik. MPRO OPM -1.601% artinya beban operasionalnya melindas pendapatan, jadi bisnis intinya belum membiayai dirinya sendiri.
Net Profit Margin (NPM) itu laba bersih dibagi revenue, maknanya berapa yang benar-benar jadi laba setelah semua biaya termasuk bunga dan pajak. PWON NPM 41,5% itu level pabrik uang. LPKR NPM 5,6% itu kecil untuk skala sebesar itu, dan artinya ruang salah langkah tidak besar. MPRO NPM -2.182% artinya tiap Rp1 revenue justru menghasilkan rugi besar, jadi kenaikan harga saham tidak bisa dijelaskan dari kualitas laba.
Masuk ke ROA dan ROE, ini mengukur produktivitas, bukan sekadar besar-besaran. Return on Assets (ROA) itu laba dibanding total aset, maknanya seberapa produktif aset menghasilkan laba. PWON ROA sekitar 7,85% artinya asetnya bekerja. LPKR ROA sekitar 1,21% artinya aset besar, tapi output laba kecil, ini sering terjadi saat aset terkunci di persediaan dan monetisasinya lambat. MPRO ROA -4,36% artinya asetnya belum jadi mesin laba, malah jadi beban. Return on Equity (ROE) itu laba dibanding ekuitas, maknanya seberapa efektif modal pemegang saham menghasilkan laba. PWON ROE sekitar 10,8% itu sehat. LPKR ROE sekitar 1,63% itu lemah. MPRO ROE -6,15% artinya ekuitas tergerus oleh rugi.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bagian yang paling tidak bisa dibohongi adalah arus kas. Cash Flow from Operations (CFO) itu kas bersih dari operasi, maknanya laba itu benar jadi uang atau cuma angka. PWON CFO Rp2,06 triliun dan Free Cash Flow (FCF) Rp1,72 triliun, maknanya setelah investasi pun masih ada kas besar tersisa, ini yang bikin PWON terasa seperti mesin. LPKR laba ada, tapi CFO minus Rp1,21 triliun dan FCF minus Rp1,34 triliun, maknanya operasional masih membakar kas, jadi investor yang cuma lihat laba bisa kejebak. MPRO lebih jelas lagi, rugi Rp54,90 miliar, CFO minus Rp24,05 miliar, FCF minus Rp24,2 miliar, maknanya bukan cuma rugi di laporan, tapi juga rugi di kas.
Rasio revenue dibanding kas dari pelanggan itu tes kualitas pendapatan. Maknanya sederhana, seberapa dekat penjualan yang diakui dengan uang yang benar-benar masuk. PWON Rp5,05 triliun dibanding Rp5,12 triliun sekitar 0,99, jadi hampir tunai. LPKR Rp3,64 triliun dibanding Rp6,51 triliun sekitar 0,56, jadi banyak yang belum jadi uang masuk, biasanya karena skema cicilan, progres pembangunan, atau timing serah-terima. MPRO Rp3,49 miliar dibanding Rp2,52 miliar sekitar 1,39, ini terlihat bagus, tapi sering berarti penagihan piutang lama, bukan pertumbuhan organik yang sehat.
Valuasi menutup cerita ini dengan kontras yang tajam. Price to Book Value (PBV) itu harga dibanding nilai buku ekuitas, maknanya pasar memberi diskon atau premi terhadap aset bersih. LPKR di harga Rp85 punya PBV sekitar 0,20 kali, artinya pasar menilai hanya 20% dari ekuitas, murah sekali, tapi diskon itu adalah kompensasi untuk CFO negatif dan risiko eksekusi. PWON di harga Rp342 PBV sekitar 0,75 kali, artinya diskon ada, tapi bisnisnya sudah jadi mesin kas. MPRO PBV 95,3 kali, artinya pasar memberi premi gila-gilaan atas ekuitas perusahaan yang sedang rugi, jadi kenaikan harga 465% lebih cocok dibaca sebagai cerita pergerakan likuiditas, bukan cerita fundamental.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Terakhir, jumlah saham beredar dan free float menentukan karakter gerak harga, bukan menentukan bagus-jeleknya bisnis, tapi menentukan seberapa mudah saham dibuat liar. LPKR punya 70,87 miliar lembar dan free float 42,62%, $PWON 48,15 miliar lembar dan free float 31,30%, MPRO 9,9425 miliar lembar dan free float 19,03%. Maknanya, LPKR dan PWON butuh arus dana jauh lebih besar untuk digerakkan lama karena basis sahamnya besar, sedangkan MPRO lebih mudah volatil karena basis saham dan porsi publiknya lebih sempit. Jadi kalau investor melihat MPRO terbang, jangan otomatis menyimpulkan fundamental ikut terbang, sering kali yang terbang itu mekanik perdagangannya.
ποΈ Skala dan Pendapatan
β’ LPKR Rp6,51T, PWON Rp5,12T, MPRO Rp2,52M.
β’ PWON dan LPKR raksasa pendapatan, MPRO mini.
β’ LPKR 1.775 karyawan, PWON 3.274, MPRO 14.
β’ Skala besar = daya tahan & efisiensi lebih kuat.
π’ Mall dan Bisnis Inti
β’ LPKR punya Lippo Mall Puri, Jambi, Buton, Bellanova, Cyberpark.
β’ Pendapatan mall Rp141,50M (2,17% total Rp6,51T).
β’ PWON mall & kantor Rp3,19T (62,28% total).
β’ MPRO tanpa mall, pendapatan hanya apartemen & gedung kecil.
π° Margin & Efisiensi
β’ PWON GPM 55,4%, OPM 42,3%, NPM 41,5%.
β’ LPKR GPM 33,7%, OPM 7,1%, NPM 5,6%.
β’ MPRO GPM 21%, OPM -1.601%, NPM -2.182%.
β’ Margin = ukuran kontrol biaya & daya tahan bisnis.
π ROA dan ROE
β’ PWON ROA 7,85%, ROE 10,8% β aset produktif.
β’ LPKR ROA 1,21%, ROE 1,63% β aset besar tapi lambat.
β’ MPRO ROA -4,36%, ROE -6,15% β aset membebani laba.
π΅ Arus Kas dan Kualitas Pendapatan
β’ PWON CFO Rp2,06T, FCF Rp1,72T β kas kuat.
β’ LPKR CFO -Rp1,21T, FCF -Rp1,34T β bakar kas.
β’ MPRO CFO -Rp24M β rugi di laba & kas.
β’ Revenue vs Kas: PWON 0,99, LPKR 0,56, MPRO 1,39 (penagihan lama).
π Valuasi dan Struktur Saham
β’ LPKR PBV 0,20x β undervalued tapi risiko tinggi.
β’ PWON PBV 0,75x β diskon wajar, mesin kas solid.
β’ MPRO PBV 95,3x β harga jauh dari realitas.
β’ LPKR 70,8Mrd saham (free float 42,6%), PWON 48,1Mrd (31,3%), MPRO 9,9Mrd (19%).
β’ Basis kecil & free float sempit = volatil tinggi.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










Analisis Saham tanggal 30 Desember 2025
$ANTM: https://www.tiktok.com/@primbonsaham/video/7590240766539156744
$JSMR: https://www.tiktok.com/@primbonsaham/video/7590213059252112648
$LPKR: https://www.tiktok.com/@primbonsaham/video/7590204754148527378
BBRI: https://www.tiktok.com/@primbonsaham/video/7590197307602242834
AMRT: https://www.tiktok.com/@primbonsaham/video/7590181312506481938
Semoga bermanfaat juragan
Di pasar saham, emosi sering mengalahkan logika.
π Panik saat harga turun.
π Serakah saat harga naik.
π₯ Ikut-ikutan beli karena FOMO.
π§ Takut rugi, tapi juga takut ketinggalan.
Memahami psikologi pasar adalah kunci untuk:
1. Menghindari keputusan impulsif
2. Mengelola risiko dengan tenang
3. Menjadi investor yang disiplin dan konsisten
Kira-kira, saat ini kamu ada di posisi yang mana?
βΆοΈIngin ilmu GRATIS?? Follow & Cek postingan lainnya di profile saya.
Random tag $DADA $LPKR $BBCA

mata mu sangkut.
kalaupun aku sangkut aku ga butuh uang mu, tinggal ku calling om om ku yg kaya raya itu lah cokkπ€£
bikin males ngasih clue saham.
RT $SMKM $NASI $LPKR

πΊοΈ Pencarian Harta Karun: Volume Sebagai Peta Lokasi Akumulasi Terbaik
Pasar saham adalah ladang pencarian harta karun, dan harta karun terbesar adalah saham yang sedang diakumulasi secara masif oleh Smart Money. Namun, harta karun ini tersembunyi. Untuk menemukannya, Anda membutuhkan peta yang akurat, dan peta terbaik adalah yang digambar oleh data volume transaksi.
Trigger Smart Money adalah pemandu dan peta pencarian harta karun Anda. Kami mengubah volume transaksi BEI menjadi peta yang menunjukkan lokasi tepat harta karun akumulasi tersembunyi ini.
Peta kami berfokus pada Identifikasi Volume Anomali sebagai Tanda X Lokasi Harta Karun. Kami mencari lonjakan volume yang sangat tiba-tiba (misalnya, 6x hingga 9x lipat dari rata-rata intraday). Lonjakan ini adalah tanda X bahwa harta karun Smart Money ada di sana. Tanda X ini divalidasi dengan Analisis Arus Dana Bersih, memastikan bahwa lokasi tersebut benar-benar harta karun net buying. Hanya lokasi yang terverifikasi ini yang akan di-alert kepada Anda. Dengan Trigger Smart Money, Anda mendapatkan peta lokasi harta karun akumulasi yang paling akurat.
$POWR $KETR $LPKR
1/2


$LPKR
sudah bisa masuk gak ya?
ato nunggu di 70an bang?
karena pasti saham ini akan mantul balik ke atas
π€€πππ
Transaksi material sebesar 1.25T yang terjadi di MLPT mengindikasikan satu restrukturisasi internal Lippo yang membuka jalan lebar menuju bisnis data center dan dalam hal ini, $KBLV yang tentunya akan menjadi pemilik bisnis seperti yang sudah kita kupas sebelumnya. JGAsia Capital Group sebagai entitas pemegang saham MLPT jelas dan penerima dana adalah grup sendiri karena pembelian MLPT di harga 61.000 ini adalah super premium jadi ini adalah strategi menyiapkan war chest dan cukup jelas juga melihat alasan kenapa MLPT di-markdown dari 250.000 ke 60.000 agar terjadi crossing di harga yang sudah disiapkan. Best scenario untuk MLPT adalah harga tersebut akan menjadi fondasi sehingga kita bisa juga menghitung bottom dari book value KBLV ada di kisaran 2500 (BV 6400 merepresent harga MLPT di 150.000)
Tahun 2026 sepertinya akan menjadi penancapan tiang pancang bisnis data center Lippo dan berbekal uang 1.25T, manuver untuk akuisisi aset akan lebih gampang. Sangat menarik untuk kita tunggu langkah berikutnya dan sembari menunggu, akumulasi santai di saham mereka lainnya yang masih di bawah dan punya hubungan erat seperti $MLPL dan $LPKR bisa dilanjutkan. Satu hal yang bisa terjadi adalah rencana right issue atau private placement di KBLV dengan JGAsia Capital sebagai standby buyer.