


Volume
Avg volume
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (Japfa) merupakan salah satu pemain utama di industri peternakan terintegrasi di Indonesia. Didirikan awalnya sebagai PT Java Pelletizing Factory Ltd yang memproduksi pelet kopra, perusahaan merambah bisnis pakan ternak pada tahun 1975 dan mengembangkan pembibitan ayam pada tahun 1982, dengan hak eksklusif mendistribusikan bibit ayam Indian River dari Aviagen untuk ayam pedaging melalui merek MB202. Pertumbuhan pesat tercermin dari pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia tahun 1989, akuisisi lima unit pabrik pakan ternak dan udang pada tahun 1990, serta perubahan nama menjadi PT Japfa Comfeed Indo... Read More
SAHAM : $JPFA
HARGA SAAT INI : 420
1️⃣ TREN & STRUKTUR HARGA (Swing View)
- Tren Utama : Sideways – fase base (bawah)
- Timeframe Acuan : Daily (Swing Trader)
- Catatan : Harga bergerak di area bawah, potensi technical rebound selama support kunci bertahan
2️⃣ SUPPORT & RESISTANCE
- Support Minor : 400 – 405
- Support Kunci : 380
- Resistance 1 : 445
- Resistance 2 : 480 – 500
3️⃣ KONDISI VOLUME & BANDAR
- Volume mulai muncul di area bawah → indikasi akumulasi spekulatif
- Kenaikan masih bertahap, belum distribusi
- Selama harga di atas 380 → peluang rebound masih terjaga
4️⃣ RISK / REWARD (WAJIB UNTUK SWING)
- Entry Acuan : 420
- Stop Loss : 380 (±9,5%)
- Target Swing : 490 (±16,7%)
- Risk : Reward : 1 : 1,8 → CUKUP LAYAK
5️⃣ FUNDAMENTAL SINGKAT
- Emiten pakan ternak & unggas terintegrasi
- Sensitif terhadap harga jagung, DOC, dan margin protein
- Cocok untuk swing spekulatif (rebound) hingga mid-term dengan disiplin stop loss
📌 KESIMPULAN SWING TRADER
JPFA menarik untuk **swing rebound spekulatif** selama bertahan di atas support kunci 380.
Peluang kenaikan ke area 445–490 masih terbuka dengan risiko terukur.
Analisa ini panduan ya Boss, eksekusi tetap kembali ke gaya trading Boss.
Ketik nama sahamnya Boss, contohnya $PURI $EKAD.
Pattern pergerakan saham yg sangat berbahaya dan mengerikan kalau sampai terjebak di atas.
Hati2 kalau ketemu di saham2 yang berpotensi membuat pattern seperti ini ya gaes.
Random tag : $TNCA $JPFA $INET

📊 Update Signal
$JPFA
Haka 2900++? DYOR
Buy 1: 2840
Buy 2: 2760
CL <: 2700
TP 1: 3000
TP 2: 3200
Arah Trend: 💹 Uptrend
Validasi Teknis : 🚀 Breakout
Rec: ✅ Hold / 👁️ WNS
$ARCI
Haka 1645++? DYOR
Buy 1: 1630
Buy 2: 1600
CL <: 1545
TP 1: 1665
TP 2: 1780
Arah Trend: 💹 Uptrend
Validasi Teknis : 🛸 Pasca Breakout
Rec: ✅ Hold
$TMAS
Haka 164++? DYOR
Buy 1: 154
Buy 2: 149
CL <: 145
TP 1: 170
TP 2: 183
Arah Trend: 💹 Uptrend
Validasi Teknis : 💥 Volume Spike
Rec: ✅ Hold / 👁️ WNS
Ini hanya membantu yang sudah pegang posisi dan ingin BEP / tidak CL dalam / TP tipis.
Disarankan ambil TP1 untuk yang punya barang di bawah, guna amankan modal.
Bukan ajakan jual/beli. DYOR sesuai profil risiko masing-masing.
CMIIW
$JPFA Meskipun beli dipucuk, tapi thesis saya selama ada proyek MBG blue chip ini akan always rally to the moon 😁.

Aalah satu tulisan daging saat pandemi yang mana saat itu porto saya ludes minus sekitar 40-50 persen terkena pandemi
Alhamdulillah bangkit dan bertahan karena stay di saham sederhana
Fundamental bagus dan ber dividen
Saat itu beli $ADRO harga 1600 nyungsep ke 600
Berani BB di 800 an
Beli $HEXA di 3500 an dibawa meyelam ke 1900
Beli $JPFA di 1200 an nyungsep ke 600
Mencekaaam pandemi
$SKLT #3 - Tentang Segmen Kerupuk
Kalau sambal dan saus berbicara soal rasa, maka kerupuk berbicara soal kebiasaan. Ia tidak pernah jadi menu utama, tapi hampir selalu ada.
Dari warung kecil, nasi kotak acara, katering aqiqah, sampai meja makan rumah tangga, kerupuk hadir sebagai bagian dr ritual makan itu sendiri. Poin inilah yg menjadikan segmen kerupuk SKLT menarik utk dibedah lebih dalam.
Bagian:
#1 - https://stockbit.com/post/25513717
#2 - https://stockbit.com/post/25622289
Dalam dua bagian sebelumnya, kita melihat bagaimana SKLT membangun bisnis sambal dan saus secara konsisten. Tidak ada loncatan produk yg aneh, tidak ada diversifikasi ke luar lingkaran kompetensi mereka. Menurut sy kerupuk berada di jalur yg sama. Ia dikonsumsi bersamaan, dibeli berulang, dan jarang dipertanyakan mereknya selama rasanya konsisten.
Sejak awal berdiri, SKLT sebenarnya tidak pernah keluar dr satu ruang besar, yaitu pelengkap makanan. Bahkan dr sisi sejarah usaha, SKLT lahir bukan dr sambal atau saus, melainkan dr pengolahan hasil laut dan pertanian sejak 1966, ketika fokus utamanya adalah bagaimana limbah hasil laut seperti cangkang udang bisa diolah menjadi bahan pangan, diawetkan, dan didistribusikan secara efisien.
Kerupuk secara natural muncul sebagai turunan paling logis dr ekosistem tersebut. Produk ini memanfaatkan bahan baku laut, proses pengeringan, pengolahan massal, serta karakter distribusi kering yg stabil dan tahan lama. Semua elemen ini sudah menjadi bagian dr kompetensi teknis SKLT sejak awal.
Karena itu, kehadiran kerupuk bukanlah ekspansi oportunistik yg lahir belakangan. Ia justru mencerminkan fase paling awal dr bisnis SKLT, yaitu ketika perusahaan membangun fondasi kemampuan produksi dan distribusi sebelum akhirnya masuk lebih jauh ke produk berbasis rasa seperti sambal dan saos.
Kerupuk sendiri adalah bisnis volume. Marginnya mungkin tidak setinggi produk premium, tapi perputarannya cepat dan stabil. Dalam laporan keuangan, segmen ini menunjukkan karakter yg khas. Coba perhatikan data pendapatan segmen kerupuk SKLT dr tahun ke tahun:
2019 Rp292 miliar
2020 Rp293 miliar
2021 Rp304 miliar
2022 Rp298 miliar
2023 Rp362 miliar
2024 Rp441 miliar
Dari data tersebut, CAGR segmen ini sekitar 8,6%. Tidak tinggi, tapi stabil dan konsisten mengikuti pola konsumsi harian masyarakat. Penjualannya tidak melonjak drastis seperti produk viral, tapi jg tidak mudah anjlok.
Yang menarik, kerupuk SKLT tidak hanya bermain di pasar konsumen ritel. Justru jejaknya terlihat jelas di kanal B2B. Dari pengamatan lapangan, kerupuk Finna muncul berulang kali di berbagai model katering.
Silakan lihat gambar terlampir, mulai dari paket aqiqah tradisional, nasi kotak modern, sampai tumpeng mini ekonomis, kerupuk yg sama terus muncul. Dan menurut nyubi seperti sy, ini rasanya bukan kebetulan belaka.
Bagi pelaku katering, kerupuk matang yg sudah dikemas rapi bukan sekadar pelengkap. Ia adalah solusi efisiensi. Coba catat:
- Mereka jd tidak perlu menggoreng,
- Mereka jd tidak perlu menjaga kualitas minyak,
- Mereka jg jd tidak perlu risiko kerupuk melempem.
Tinggal beli, simpan, dan sajikan. 🍌
Penghematan proses jauh lebih bernilai dibanding selisih harga per bungkus bagi bisnis katering yg volumenya padat dan waktunya sempit.
Nah, pd titik inilah muncul MOAT berupa switching cost yg sering luput dr perhatian. Bukan switching cost dalam bentuk kontrak, tapi dalam bentuk "kerepotan". 😅
Begitu katering menemukan pemasok kerupuk yg konsisten rasa dan kualitasnya, insentif utk pindah hampir tidak ada. Kerupuk bukan item yg ingin diuji coba tiap minggu. Ia harus “aman”, dan aman artinya dikenal.
Polanya serupa dengan sambal dan saus SKLT di kanal HOREKA. Sambal dalam cup kecil atau plastik polos sering tidak bermerek. Tapi justru di sanalah kekuatannya. Produk itu hadir sebagai fungsi, bukan sebagai identitas saja.
Maka, sangat masuk akal jika sambal tersebut dipasok dalam bentuk bulk atau jerigen besar oleh SKLT, lalu dikemas ulang oleh katering. Perhatikan kembali gambar terlampir, apakah mereka membuat sambalnya sendiri? Bagi sudut pandang dapur produksi, membeli sambal jd jauh lebih efisien daripada mengulek sendiri setiap hari.
Kerupuk dan sambal, dalam konteks ini, bekerja sebagai satu paket efisiensi. Keduanya menghemat waktu, tenaga, dan konsistensi rasa. Dan SKLT berada di posisi yg tepat utk mengisi kebutuhan itu lewat merek dan kapasitas produksinya.
Jika kita geser ke sisi B2C, ceritanya tidak kalah menarik. Pasar kerupuk mentah dan matang di Indonesia memang sangat terfragmentasi. Banyak produsen lokal, banyak merek daerah. Tapi justru karena fragmentasi itu, merek nasional yg konsisten menjadi patokan.
Dari berbagai ulasan konsumen dan peringkat produk, Finna kerap muncul sebagai referensi kerupuk udang standar. Ini penting, karena konsumen kerupuk jarang bereksperimen sejauh konsumen snack modern. Begitu menemukan rasa yg cocok, mereka cenderung bertahan. Dan konsistensi lebih bernilai daripada inovasi rasa yg agresif di pasar seperti ini. SKLT tampaknya memahami ini sejak lama.
Persaingan di segmen kerupuk tentu ada. Tekanan harga, bahan baku, dan UMKM lokal selalu menjadi faktor. Tapi justru di sinilah skala bekerja. Luasnya distribusi, besarnya kapasitas produksi, serta penetrasi pd jaringan ritel membuat pemain seperti SKLT mampu bertahan tanpa harus berperang harga setiap hari.
Teman-teman @stockbit jg bisa melakukan pengecekan sederhana misalnya dgn melihat langsung ke berbagai pasar tradisional, toko sayur, atau kios bahan makanan. Merek kerupuk yg tersedia dan berulang muncul biasanya menunjukkan permintaan yg stabil dan perputaran barang yg cepat. Produk yg bertahan di kanal ini umumnya adalah produk yg jarang bermasalah dan sudah diterima konsumen.
Dari sudut pandang kebanyakan orang, kerupuk mungkin terdengar terlalu membosankan. Tapi justru di situlah nilainya. Produk sederhana, permintaan stabil, dan kebutuhan berulang adalah fondasi bisnis yg tahan lama.
Lihat saja bagaimana dapur katering berproduksi tiap hari, atau coba hitung saja berapa banyak yg mengadakan acara seperti aqiqah, syukuran, atau hanya "rapat kantor" tiap harinya. Hitung jg berapa banyak dr rumah makan dan rumah tangga yg tiap makan terdengar bunyi "kriuukk" yg renyah tersebut.
Jadi, bagi sy tidak semua bisnis harus tumbuh dua digit setiap tahun utk menjadi berharga bagi pemiliknya. Bahkan mungkin kalau dr sudut pandang Peter Lynch, ini adalah tipe bisnis yg sering diabaikan pasar. Tidak glamor, tidak banyak story, tapi angka penjualannya jalan terus. Investor sering terlambat menyadari bahwa bisnis seperti ini sudah bekerja jauh sebelum mereka meliriknya.
Pada akhirnya, segmen kerupuk memperlihatkan satu hal penting tentang SKLT, bahwa perusahaan ini tidak mengejar cerita besar. Mereka mengejar kehadiran konsisten di titik-titik konsumsi harian. Sambal memberi rasa, saus memberi variasi, kerupuk memberi tekstur. Semuanya hadir bersama.
Kemudian, jika SKLT sudah sedekat ini dengan dapur, katering, warung, dan ritel, maka siapa sebenarnya yg mengatur aliran barangnya?
Bagaimana produk-produk ini sampai ke tangan konsumen?
Di sinilah story SKLT belum selesai.
Ternyata, ada satu segmen lainnya yg mungkin jarang dibahas tapi kontribusinya pd pendapatan justru lebih besar. Bukan tentang rasa, tapi tentang distribusi.
Disclaimer: Catatan ini adalah refleksi pengetahuan penulis tentang dunia perkerupukan di Indonesia. Dan catatan ini jg bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Segala kerugian sebagai akibat penggunaan informasi pada tulisan ini bukan menjadi tanggung jawab penulis. Do your own research.
Random Tag:
$AISA
$JPFA
1/5





UPDATE WL SAHAM BREAKOUT ✍️
ENTRY >> $JPFA $NELY
OUT >> $MTEL TCPI
Untuk SL/TS nya analisis mandiri saja, tempat kan SL di titik dimana Breakout nya gagal/invalid 🙏

berangkat? $JPFA 🛫
https://stockbit.com/post/25166460
Postingan 1 Desember 2025, keluarlah saham pilihan $JPFA dari hasil riset Follow Big Money.
Project nya belum saya lanjutin karena lagi fokus nyelesain Project Trade AI yang sekarang udah 50x trade.
JPFA terpantau sekarang sudah Breakout dan mengalami kenaikan +18.85%
Kondisi market bullish, memang Setup apapun bisa jadi to the moon 🚀
$AYAM $CPIN

Dari tahun 2023 berita nyaa sama wkwkwk . Saya akui money is power, but for bullshit people !! 😁$WMPP $PGEO $JPFA