


Volume
Avg volume
PT. Indah Prakasa Sentosa Tbk (INPS) bergerak di bidang grosir, penyedia layanan distribusi dan logistik bahan bakar, pelumas, dan LPG. Perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 6 April 2008.
$INPS Perusahaan Swasta Rasa BUMN
Request member External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
INPS ini memang bukan BUMN tapi kalau lihat gelagatnya malah lebih BUMN dari BUMN. Bukan karena kepemilikannya, tapi karena darah yang mengalir di bisnisnya itu darah BUMN, sumber barangnya BUMN, aliran uangnya lewat BUMN, dan kalau salah langkah ada bayangan risiko hukum yang nuansanya beda dibanding bisnis swasta biasa. Banyak emiten swasta bisa ganti pemasok, ganti bank, ganti kontrak, lalu hidup lagi. INPS tidak punya kemewahan itu, karena model bisnisnya seperti bergantung pada satu jantung, dan jantung itu namanya Pertamina. Jadi kalau investor menilai INPS pakai kacamata emiten logistik biasa, investor bakal salah fokus, karena INPS ini lebih mirip operator yang harus menjaga hubungan dengan negara seperti menjaga izin hidup. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari data yang ada, ekosistem bisnis INPS memang berwarna BUMN. INPS mengakui principal tunggal untuk BBM, elpiji, dan pelumasnya adalah Pertamina, dan ketergantungannya disebut mencapai 60% sampai 70% dari total pendapatan. Jadi kalau hubungan itu terganggu, operasional bisa berhenti, bukan sekadar turun margin.
Di sisi perbankan, Bank Mandiri $BMRI berperan sebagai banker utama, penyimpan kas utama, sekaligus pemberi fasilitas kredit modal kerja terbesar, bahkan operasional perbankan grup disebut hampir seluruhnya melalui rekening cabang Bank Mandiri. Polanya jadi terasa seperti perusahaan swasta yang hidup di jalur pipa BUMN, satu sisi pipa suplai energi, sisi lain pipa transaksi dan kredit, sehingga prioritas utama manajemen secara naluriah adalah menjaga pipa itu tetap lancar.
Bagian yang bikin cerita ini terasa seperti skenario yang sangat rasional, bahkan kalau terdengar sinis, adalah episode takeover tahun 2016. Di sana terlihat bagaimana risiko bisa dipindahkan dari BUMN ke swasta dengan cara yang rapi. $BBCA Syariah sebagai bank swasta memberikan fasilitas pembiayaan yang secara spesifik ditujukan untuk mengambil alih sisa utang angsuran di Bank Mandiri. Dampaknya jelas, Bank Mandiri menerima pelunasan penuh saat itu juga, posisi Bank Mandiri aman, sedangkan risiko gagal bayar masa depan pindah ke BCA Syariah. Lalu pada 2023, yang akhirnya mengikhlaskan utang adalah BCA Syariah, pokok Rp16,64 miliar dan bunga atau margin Rp27,90 miliar, total Rp44,54 miliar. Secara angka, ini terlihat seperti pengorbanan kreditur swasta, tapi secara struktur, ini juga terlihat seperti upaya mengunci supaya ekosistem BUMN tidak menjadi pihak yang menanggung luka paling dalam. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Di titik ini, argumen tentang risiko merugikan negara menjadi terasa logis kalau investor melihat syarat formal di Anggaran Dasar INPS. Di dalam Anggaran Dasar, ada ketentuan bahwa seseorang dilarang menjadi Direktur atau Komisaris jika dalam 5 tahun sebelumnya pernah dihukum karena tindak pidana yang merugikan keuangan negara. Ketentuan seperti ini membuat manajemen secara rasional akan sangat alergi pada skenario yang bisa ditafsirkan sebagai merugikan BUMN, karena BUMN bisa membawa konsekuensi sosial, administratif, dan hukum yang lebih berat daripada sekadar sengketa perdata biasa.
Di dalam logika ini, gagal bayar ke Bank Mandiri berpotensi memunculkan framing merugikan keuangan negara, sedangkan restrukturisasi atau penghapusan utang dengan bank swasta lebih mudah diposisikan sebagai risiko bisnis dan negosiasi perdata. Ini bukan soal baik atau buruk, ini soal insentif. Investor yang paham insentif biasanya lebih cepat mengerti kenapa sebuah perusahaan memilih menyelamatkan jalur tertentu terlebih dahulu. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Yang menarik, saat kondisi perusahaan memburuk, pola bantuan yang muncul lagi-lagi bernuansa BUMN. Ketika INPS sudah berada pada titik defisiensi modal Rp29,87 miliar dan defisit akumulasi Rp212,45 miliar, ada restrukturisasi dari PT Perusahaan Pengelola Aset atau PPA, yang juga entitas BUMN, termasuk skema Tranche II atas utang denda yang bisa dihapus jika perusahaan patuh membayar pokok utang sesuai ketentuan. Secara psikologis, ini menguatkan kesan bahwa ketika perusahaan berada di tepi jurang, jalur yang dicari untuk menahan jatuhnya justru jalur institusional, bukan sekadar cari kreditur swasta baru. Ini membuat INPS terlihat seperti perusahaan yang hidup di orbit negara, walaupun bukan milik negara.
Jadi jelas ada ketergantungan pendapatan 60% sampai 70% ke Pertamina. Ada Bank Mandiri sebagai pusat kas dan kredit modal kerja. Ada takeover yang mengalihkan eksposur dari Mandiri ke BCA Syariah, lalu terjadi penghapusan utang total Rp44,54 miliar pada 2023 yang membuat kreditur swasta menjadi pihak yang menelan pil pahit. Ada pula kondisi neraca yang berat, defisiensi modal Rp29,87 miliar dan defisit Rp212,45 miliar, yang membuat kebutuhan restrukturisasi bukan pilihan, tapi kebutuhan. Dalam situasi seperti ini, manajemen biasanya berpikir seperti operator utilitas, bukan seperti pedagang biasa. Prioritasnya adalah menjaga aliran, menjaga lisensi sosial, menjaga hubungan institusional, baru setelah itu bicara ekspansi. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Jadi ketika dikatakan bahwa INPS lebih BUMN dari BUMN, itu sebenarnya komentar tentang struktur ketergantungan dan struktur risiko, bukan komentar tentang status kepemilikan. Perusahaan ini seperti bisnis swasta yang menjalankan tugas vital di lapangan, tapi berada di koridor yang membuat ruang manuvernya diatur oleh dua hal yang sangat BUMN, sumber energi dan sumber kredit. Dalam koridor seperti ini, keputusan paling rasional adalah melindungi pihak yang kalau sampai rugi bisa membawa dampak jauh lebih berat, dan jika harus ada pihak yang berkorban, biasanya yang dipilih adalah pihak swasta yang konsekuensi hukumnya lebih masuk ranah perdata. Investor boleh tidak suka, tapi sebagai analisis insentif, polanya nyambung dan konsisten dengan data yang investor pegang.
Pertanyaan utamanya adalah kok bisa BUMN bahu membahu mencoba menyelamatkan INPS? π€
Ada apa di INPS sehingga BUMN seperti Pertamina, Bank Mandiri hingga PPA coba membantu INPS? π€
Apakah ada bakwan di balik udang? π
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










$INPS Perusahaan yang Pernah Bikin Anak $BBCA Minta Ampun
Request member External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
INPS adalah salah satu perusahaan yang berhasil membuat anak BBCA minta ampun. Banyak emiten kelihatan dekat dengan negara, dekat dengan energi, dekat dengan rantai pasok besar, tapi kalau neracanya rapuh, kedekatan itu berubah jadi ujian harian. Di atas kertas, bisnis distribusi BBM, LPG, pelumas, plus logistik itu harusnya jadi mesin duit yang stabil karena barangnya selalu dibutuhkan, tapi kenyataannya mesin seperti ini sangat boros modal kerja dan sangat sensitif ke bunga. Investor sering terjebak menilai dari cerita operasional, padahal yang menentukan hidup-matinya justru angka kas, utang jangka pendek, dan beban yang menumpuk diam-diam di beban akrual. Jadi cara paling jujur menilai INPS adalah membandingkan era pra-IPO 2017 dengan kondisi per September 2025, karena di situlah pola naik-turun dan luka lama kelihatan telanjang tanpa perlu drama. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Total aset INPS turun dari Rp434,16 miliar pada 2017 menjadi Rp254,09 miliar pada September 2025, turun 41,5%. Total liabilitas memang ikut turun, dari Rp314,47 miliar menjadi Rp283,96 miliar, turun 9,7%. Masalahnya, penurunan liabilitas itu tidak cukup untuk menyelamatkan ekuitas, karena ekuitas yang dulu masih positif Rp119,69 miliar berubah jadi negatif minus Rp29,87 miliar. Ini bukan sekadar angka jelek, ini status, defisiensi modal artinya kerugian akumulatif sudah memakan modal sampai habis, sehingga setiap hari bisnis berjalan seperti orang yang napasnya ditopang kredit.
Pada 2017, aset tetap bersih masih Rp371,02 miliar, lalu pada 2025 tinggal Rp106,94 miliar, turun sekitar 71,2%. Itu menggambarkan armada dan infrastruktur yang dulu jadi tulang punggung terlihat menyusut besar, entah karena depresiasi, pelepasan aset, atau restrukturisasi yang menyisakan skala operasi lebih kecil. Di saat yang sama, muncul angka yang terasa ganjil buat bisnis distribusi energi yang idealnya cepat-putar, yaitu piutang lain-lain pihak berelasi Rp98,50 miliar, sekitar 38,7% dari total aset Rp254,09 miliar. Buat investor, ini alarm psikologis, karena aset besar berubah bentuk dari alat kerja menjadi tagihan ke pihak berelasi, sementara tagihan seperti ini sering tidak secepat kas untuk membayar kewajiban yang jatuh tempo tiap bulan.
Dari sisi liabilitas, perubahan strukturnya seperti memindahkan masalah dari satu kantong ke kantong lain. Utang bank jangka pendek turun dari Rp80,87 miliar di 2017 menjadi Rp67,99 miliar pada 2025, kelihatannya ada perbaikan. Tapi di 2025 muncul beban akrual Rp108,27 miliar yang besar sekali, dan ini bukan beban operasional biasa. Komposisinya didominasi denda bank Rp49,00 miliar sekitar 45,3% dari beban akrual, lalu bunga Rp46,27 miliar sekitar 42,7%, sisanya lain-lain Rp12,48 miliar sekitar 11,5%, ditambah gaji dan asuransi yang kecil. Buat investor, ini bahasa tubuh neraca yang jelas, beban masa lalu belum selesai, bunga dan denda menumpuk karena pembayaran tidak mulus, sehingga walaupun utang pokok terlihat turun, ekornya masih menggigit. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Tekanan paling nyata terlihat di likuiditas. Pada era IPO, rasio lancar 0,28x saja sudah masuk kategori napas pendek. Pada 2025, aset lancar Rp44,60 miliar harus menghadapi liabilitas jangka pendek Rp249,86 miliar, jadi rasio lancarnya sekitar 0,18x. Ini level yang membuat manajemen wajar menuliskan adanya keraguan signifikan atas kemampuan mempertahankan kelangsungan usaha tanpa dukungan pemegang saham. Investor tidak perlu debat panjang untuk mengerti artinya, perusahaan sedang hidup dari pengaturan ulang tempo pembayaran, dukungan pemilik, dan kemampuan menjaga hubungan kreditur, bukan semata dari keunggulan margin.
Di sisi performa operasi, INPS menunjukkan dua wajah yang bertabrakan. Pendapatan 9M-2025 Rp185,65 miliar turun 15,2% dari Rp218,92 miliar di 9M-2024, jadi top line sedang mengecil. Tetapi laba tahun berjalan 9M-2025 berbalik jadi positif Rp2,83 miliar dari rugi Rp6,85 miliar di periode pembanding, ini sinyal turnaround secara laba-rugi. Masalahnya, arus kas operasi 9M-2025 Rp11,26 miliar justru sedikit turun dari Rp13,99 miliar, jadi perbaikan laba belum otomatis menjadi lonjakan kas. Untuk bisnis energi-logistik yang makan modal kerja besar, kas adalah oksigen, jadi investor harus melihat turnaround ini sebagai langkah awal, bukan garis finish. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sumber pendapatan INPS sendiri memperlihatkan ketergantungan yang sekaligus jadi kekuatan dan risiko. Segmen keagenan BBM, gas, pelumas menyumbang Rp120,22 miliar, segmen transportasi dan logistik Rp58,74 miliar, dan SPPBE Rp6,67 miliar. Di atas itu, ada konsentrasi ke PT Pertamina Patra Niaga, sebagai pelanggan utama sekitar Rp40,26 miliar dan sekaligus pemasok utama dengan pembelian sekitar Rp86,19 miliar. Artinya INPS ini seperti pipa di antara sumber dan pengguna, volume bisa stabil, tapi posisi tawar dan margin sangat dipengaruhi kontrak, kuota, dan disiplin modal kerja. Bahkan contoh sederhana pembelian persediaan Rp105,88 miliar pada awal 2025 menggambarkan betapa bisnis ini harus punya uang besar dulu baru bisa jalan, sehingga utang jangka pendek Rp67,99 miliar dan pinjaman lembaga keuangan lain Rp18,71 miliar terasa seperti kebutuhan struktural, bukan sekadar pilihan.
Masuk ke sisi historis IPO, investor bisa melihat niat awal perusahaan sebenarnya cukup jelas. Saat IPO 6 April 2018, emisi kotor Rp41,40 miliar, dana bersih Rp38,43 miliar, lalu dipakai untuk akuisisi 99% PT Jono Gas Pejagalan Rp19,73 miliar dan modal kerja Rp18,70 miliar. Secara desain, ini logis, beli kaki tambahan di LPG, dan isi bensin kerja untuk penebusan BBM. Tapi kalau 7 tahun kemudian ekuitas berubah negatif dan defisit akumulasi membengkak, berarti masalah utamanya bukan di ide, melainkan di eksekusi arus kas, struktur utang, dan disiplin pembayaran. Defisit akumulasi rugi yang dulu Rp58,44 miliar pada 2017 membengkak menjadi Rp212,45 miliar pada 2025, naik sekitar 263,5%, ini bukti kerugian bertahun-tahun lebih kencang daripada upaya pemulihan.
Anak BBCA pernah minta ampun sama INPS saking susahnya ditagih utang, akhirnya BCA Syariah ikhlas. INPS pernah membukukan penghapusan utang pokok dan bunga dari Bank BCA Syariah pada 2023, pokok Rp16,64 miliar dan bunga Rp27,90 miliar, total Rp44,54 miliar. Ini bukan prestasi operasional, ini prestasi negosiasi dan restrukturisasi, tapi tetap penting karena langsung menyentuh neraca dan beban masa depan. Ditambah ada skema restrukturisasi lain seperti peluang penghapusan Tranche II sekitar Rp5,65 miliar jika pokok Tranche I dilunasi tepat waktu, maka permainan INPS jelas, memperbaiki neraca bukan hanya lewat jualan, tetapi lewat memotong beban lama yang menempel seperti karat. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau investor mau mencari sisi optimistis tanpa mengkhayal, beberapa titik memang ada. INPS punya niche logistik B3 dengan izin dan armada spesialis seperti iso tank, lorry tank, skid tank, ini barrier to entry yang tidak gampang ditiru pemain baru. Ada juga aset tanah dan bangunan di titik industri seperti kawasan Jababeka dengan lahan 12.028 m2 untuk gudang, kantor, mess, plus aset di Semper, Bandung, Serang, yang nilainya berpotensi menjaga marwah aset saat inflasi berjalan. Bahkan ada cerita menarik dari anak usaha, PT Elpindo Reksa menyetujui dividen Rp9,90 miliar dengan porsi untuk INPS Rp9,80 miliar, ini contoh bagaimana kadang anak usaha bisa jadi mesin oksigen untuk induk yang sedang sesak. Tapi investor tetap harus menempatkan semua itu sebagai pendukung, bukan penyelamat otomatis, karena tantangan utama masih ada di depan mata, likuiditas sempit, liabilitas jangka pendek besar, dan beban akrual Rp108,27 miliar yang menunjukkan bunga dan denda belum sepenuhnya jinak.
Jadi INPS memiliki bisnis yang secara fungsi publik penting, dekat dengan ekosistem Pertamina, dan punya kemampuan bertahan melalui restrukturisasi sampai bisa membalik rugi jadi laba di 2025. Namun secara kualitas neraca, INPS masih berada di fase pemulihan yang rawan, karena rasio lancar sekitar 0,18x dan ekuitas negatif minus Rp29,87 miliar membuat ruang geraknya sempit, sementara piutang pihak berelasi Rp98,50 miliar membuat investor wajar bertanya seberapa cepat aset itu bisa jadi kas. Kalau investor suka tipe saham turnaround yang menangnya bukan karena pertumbuhan top line, tapi karena operasi makin rapih dan utang lama dipangkas, INPS punya bahan cerita. Kalau investor butuh emiten yang neracanya kuat dari awal dan bisa tidur tenang tanpa terganggu jatuh tempo utang, INPS masih harus membuktikan dulu lewat konsistensi kas, bukan lewat narasi.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/9









KABARBURSA.COM β Perbincangan investor ritel belakangan sering berhenti di saham-saham besar dan nama yang itu-itu saja. Padahal, di lapisan bawah pasar, ada emiten-emiten yang jarang disorot, namun menyimpan cerita bisnis yang jauh lebih kompleks daripada sekadar naik-turun harga saham. Salah sat...

www.kabarbursa.com

$INPS Tujuan IPO
Request member External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
INPS ini IPO di 2018. Masalahnya, banyak investor mengira IPO itu titik mulai pertumbuhan, padahal seringnya IPO justru cuma momen ganti bensin agar mesin yang sudah lama berjalan tidak mogok di tengah jalan. Di kasus INPS, uang IPO-nya tidak dipakai buat gaya-gayaan ekspansi yang abstrak, tetapi langsung ditempelkan ke dua urat nadi bisnis distribusi energi, yaitu membeli satu entitas yang menambah portofolio gas dan menambah modal kerja untuk penebusan BBM. Kedengarannya sederhana, tetapi model begini biasanya punya konsekuensi, omzet bisa besar, margin tipis, dan napas bisnis ditentukan oleh ritme modal kerja serta hubungan dengan principal. Jadi, cara menilai bonafid atau tidaknya INPS bukan dengan satu angka laba, melainkan dengan membandingkan janji IPO 2018, realisasi pemakaian dana, dan kualitas pemulihan kinerja di 2025 yang masih dibayangi defisit akumulasi. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kita mulai dari angka IPO yang benar-benar konkret. Pada 6 April 2018, INPS menawarkan 150.000.000 saham baru dengan harga Rp276 per saham, sehingga nilai emisi kotor Rp41,40 miliar. Setelah biaya emisi Rp2.974.091.152, dana bersih yang masuk Rp38,43 miliar, lebih tepatnya Rp38.425.908.848. Nah, yang menarik, rencana pemakaian dananya dari awal sudah menunjukkan karakter bisnisnya, bukan perusahaan yang mencari dana untuk membangun proyek panjang bertahun-tahun, melainkan perusahaan yang butuh dua hal cepat, akuisisi dan modal kerja. Porsi rencananya tegas, 47,64% untuk mengambil alih 99% PT Jono Gas Pejagalan (JGP) dari pihak afiliasi, dan 45,12% untuk tambahan modal kerja terutama penebusan BBM.
Lalu realisasinya juga tidak pakai drama. Dana IPO itu pada dasarnya habis sesuai rencana dan cepat, Rp19.725.869.000 dipakai untuk akuisisi 99% JGP, dan Rp18.700.039.848 dipakai untuk modal kerja operasional, totalnya pas Rp38.425.908.848. Secara timing, ini memberi sinyal kuat bahwa IPO INPS lebih mirip restrukturisasi mesin operasional ketimbang sekadar momen pencitraan pasar modal, karena akuisisi JGP dilakukan 5 April 2018 dan setelah itu JGP dikonsolidasikan sebagai entitas anak. Di satu sisi, ini efisien dan fokus. Di sisi lain, karena objek akuisisinya pihak afiliasi, investor wajar lebih sensitif, bukan soal boleh atau tidak, tetapi soal kualitas tata-kelola dan apakah transaksi itu benar-benar menghasilkan perbaikan ekonomi yang bisa dibuktikan lewat tren beberapa tahun setelahnya.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sekarang loncat ke 2025 untuk melihat jejak hasilnya, sambil tetap membandingkan dengan arah yang dijanjikan saat IPO. Di 9M-2025, pendapatan tercatat Rp185,65 miliar, turun 15,20% dari 9M-2024 yang Rp218,92 miliar. Kalau investor berhenti di sini, narasinya tampak mengecil. Tetapi justru bagian paling pentingnya ada di bawah, laba tahun berjalan 9M-2025 menjadi Rp2,83 miliar, berbalik dari rugi Rp6,85 miliar pada 9M-2024. Ini turnaround yang secara arah sudah benar, karena perubahan dari rugi ke laba biasanya butuh kombinasi dua hal, pengendalian biaya dan disiplin eksekusi operasional, apalagi di bisnis distribusi energi dan logistik yang margin tipis.
Supaya terasa perbandingannya, kita pecah mesin omzet 2025 menjadi komposisi yang bisa dibandingkan dari tahun ke tahun. Segmen keagenan yang isinya BBM, gas, pelumas menghasilkan Rp120,22 miliar, segmen transportasi dan logistik Rp58,74 miliar, dan segmen SPPBE Rp6,67 miliar. Kalau dijadikan proporsi dari total Rp185,65 miliar, maka keagenan sekitar 64,75%, transportasi dan logistik sekitar 31,64%, dan SPPBE sekitar 3,59%. Ini selaras dengan logika IPO 2018, akuisisi JGP itu memperkuat kaki gas di ekosistem keagenan, sementara modal kerja dipakai untuk menjaga ritme penebusan BBM. Bahkan dari sisi laba, segmen keagenan disebut menjadi pendorong utama, kontribusi laba tahun berjalan sekitar Rp1,83 miliar dari total laba Rp2,83 miliar. Artinya, core yang diperkuat lewat strategi IPO memang tetap menjadi pusat gravitasi perusahaan.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Namun investor yang serius biasanya tidak puas hanya dengan laba, karena di bisnis perputaran seperti ini, laba bisa terlihat bagus sementara kasnya seret, atau sebaliknya. Di 9M-2025, arus kas operasi atau cash flow from operations (CFO) tercatat positif Rp11,26 miliar, tetapi turun dari Rp13,99 miliar pada 9M-2024. Jadi ada pola yang menarik, laba membaik tajam, tetapi CFO justru sedikit menurun. Ini tidak otomatis jelek, karena bisnis energi dan logistik sering menyedot modal kerja saat volume bergerak atau saat ada perubahan tempo pembayaran, tetapi ini memberi pesan yang jelas, turnaround laba belum otomatis berarti kualitas kas sudah makin kuat. Investor biasanya ingin melihat CFO ikut naik seiring laba, supaya pemulihan terasa lebih sehat dan tidak cuma hasil pengetatan sementara.
Di titik ini, perbandingan historis yang paling menentukan adalah kondisi permodalan. Meskipun sudah laba dan CFO positif, INPS masih membawa defisit akumulasi Rp212,45 miliar per September 2025, bahkan ada catatan defisiensi modal Rp29,87 miliar. Ini menjelaskan kenapa masih ada kebutuhan dukungan pemegang saham, karena perusahaan seperti sedang berlari dengan beban ransel dari masa lalu. Kabar baiknya, mesin sudah menyala lagi. Kabar yang menuntut kehati-hatian, bebannya masih berat, sehingga ruang salah langkah kecil, terutama jika biaya pendanaan naik, atau jika terjadi gangguan kontrak, izin, atau operasional armada.
Kalau disambungkan ke cara kerja bisnisnya, struktur risiko INPS itu sangat khas. Mereka bergantung pada hubungan dengan PT Pertamina Patra Niaga, bukan cuma sebagai pelanggan besar, tetapi juga sebagai pemasok utama, sehingga stabilitas kontrak dan mekanisme penyaluran menjadi kunci. Bahkan ada gambaran risiko yang lugas, jika hubungan ini terganggu, perusahaan bisa kehilangan sekitar 60% sampai 70% pendapatan. Di sisi likuiditas, bisnis ini memang perlu dana penebusan dan persediaan, sehingga wajar ada ketergantungan pada pembiayaan jangka pendek. Pada September 2025, pinjaman bank jangka pendek Rp67,99 miliar ditambah pinjaman dari lembaga keuangan lain Rp18,71 miliar, total Rp86,70 miliar. Dibandingkan pendapatan 9M-2025 Rp185,65 miliar, angka utang jangka pendek ini setara sekitar 46,70% dari pendapatan 9 bulan, jadi model bisnisnya benar-benar hidup dari putaran modal kerja, bukan dari menimbun kas besar.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau investor ingin menilai apakah strategi IPO 2018 berhasil, cara paling jujur adalah menilai tiga lapis sekaligus. Lapis pertama, eksekusi dana, ini jelas sukses karena dana terserap penuh, sesuai rencana, dan cepat, akuisisi JGP berjalan, modal kerja dipakai. Lapis kedua, dampak ke mesin bisnis, ini juga terlihat masuk akal karena segmen keagenan dan logistik menjadi kontributor utama 2025, dan laba berbalik positif dengan kontribusi utama dari core. Lapis ketiga, kualitas kesehatan jangka panjang, di sini jawabannya masih kerja rumah, karena defisit akumulasi masih besar, CFO belum menunjukkan akselerasi, dan bisnis sangat sensitif terhadap pendanaan serta hubungan dengan principal. Jadi, IPO INPS bisa dibilang berhasil membuat mobilnya kembali bisa jalan dan giginya kembali nyangkut, tetapi mobilnya masih membawa beban lama di bagasi, sehingga perlu beberapa periode pembuktian agar investor bisa bilang ini bukan cuma pemulihan sesaat.
Terakhir, kalau kita bicara konteks kompetisi, ini penting untuk membaca tren historis ke depan. Di perdagangan energi, INPS berhadapan dengan pemain yang lebih besar dan lebih mapan seperti AKR Corporindo, juga jaringan agen besar lain, plus kompetisi ritel energi yang agresif. Di logistik, tekanan datang dari dua arah sekaligus, pemain global seperti DHL, CEVA, Nippon Express, Sinotrans, DSV, dan pemain domestik seperti Puninar, Cardig, Dunex, Siba Surya, ditambah substitusi moda seperti kereta logistik dan solusi logistik berbasis platform. Di tengah kompetisi seperti ini, strategi INPS yang paling rasional bukan mengejar pertumbuhan omzet membabi-buta, tetapi menjaga kontrak, menjaga utilisasi armada, menjaga disiplin biaya, dan yang paling krusial, menata permodalan supaya ketergantungan pada dukungan pemegang saham dan kreditor makin menurun dari tahun ke tahun. Kalau investor melihat pola ini mulai terjadi secara konsisten, misalnya laba stabil, CFO stabil atau naik, defisit akumulasi mengecil, dan utang jangka pendek lebih terkendali, barulah cerita IPO 2018 terlihat lengkap sebagai langkah yang benar, bukan hanya sebagai tambalan sementara.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/8








$INPS Perusahaan Keluarga yang Berhubungan Erat dengan Pertamina
Request member External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
INPS adalah perusahaan yang terdengar asing bagi banyak investor. Justru itu yang bikin menarik sekaligus bikin rawan disalahpahami, karena bisnis distribusi energi dan logistik itu kelihatan membosankan, padahal di lapangan ia seperti nadi yang tidak boleh berhenti. Kalau investor cuma lihat omzet, 9M-2025 turun dari Rp218,92 miliar jadi Rp185,65 miliar atau -15,20%, kesannya cerita sedang mengecil. Kalau investor cuma lihat laba, justru ada comeback yang nyata dari rugi Rp6,85 miliar di 9M-2024 menjadi laba Rp2,83 miliar di 9M-2025, jadi perusahaannya seperti baru dapat napas. Tapi kalau investor lihat neraca dan struktur pembiayaan, ada sinyal yang menuntut disiplin ekstra, karena defisit akumulasi masih Rp212,45 miliar dan model bisnisnya memang butuh modal kerja besar, jadi ruang salah langkahnya tipis. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
INPS atau yang lebih dikenal sebagai INPRASE ini adalah jaringan distribusi dan transportasi energi. Mereka main di perdagangan besar dan distribusi BBM, LPG, pelumas, plus jasa logistik terintegrasi. Secara sejarah, ini bukan startup musiman, berdiri 15 Januari 1988 dan IPO 6 April 2018, jadi ini perusahaan lama yang baru masuk bursa belakangan. Fase pentingnya ada di 2017 saat restrukturisasi dan konsolidasi grup lewat akuisisi entitas anak sehingga ceritanya bergeser dari sekadar mitra distribusi menjadi pemain logistik yang lebih terintegrasi. Investor biasanya suka model begini karena demand energi itu cenderung ada terus, tetapi jebakannya juga klasik, margin tipis, modal kerja tebal, dan ketergantungan ke principal itu besar.
Sekarang masuk ke statistik mesin omzetnya. Di 9M-2025 total pendapatan Rp185,65 miliar itu pada dasarnya ditopang dua kaki utama. Segmen keagenan, yang berisi BBM, pelumas, dan gas, menyumbang Rp120,22 miliar atau 64,75% dari total. Segmen transportasi dan logistik menyumbang Rp58,74 miliar atau 31,64%. Sisanya SPPBE pengisian LPG curah Rp6,67 miliar atau 3,59%. Komposisi ini penting karena menjelaskan karakter bisnisnya, keagenan itu biasanya volume besar tapi margin tipis, logistik itu margin bisa lebih enak tapi sangat bergantung utilisasi armada, dan SPPBE biasanya jadi pelengkap yang nilainya kecil tapi bisa stabil. Di sisi laba, comeback 9M-2025 banyak disetir segmen keagenan yang disebut menyumbang sekitar Rp1,83 miliar dari laba bersih Rp2,83 miliar, artinya 64,66% laba bersih datang dari segmen yang juga paling dominan di omzet, ini sinyal bahwa perbaikan bukan kebetulan satu transaksi, tetapi ada perbaikan disiplin biaya di core. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Namun, tren yang paling menentukan bukan cuma komposisi segmen, melainkan pola ketergantungan ke satu ekosistem yang sama. PT Pertamina Patra Niaga muncul sebagai pelanggan utama yang nilainya Rp40,26 miliar, itu setara 21,68% dari pendapatan 9M-2025. Di saat yang sama, Pertamina Patra Niaga juga jadi pemasok utama dengan nilai pembelian Rp86,19 miliar. Kalau investor baca ini seperti membaca satu pipa besar yang mengalir dua arah, memang aman karena sumber barangnya jelas dan demandnya real, tapi konsentrasinya tinggi sehingga negosiasi harga, kuota, skema penebusan, sampai tempo pembayaran, semuanya bisa mengubah nasib laba. Di bisnis seperti ini, perubahan kecil pada spread bisa membalikkan rugi jadi laba, dan itu tampak dari net profit margin yang sekarang 1,52% di 9M-2025, padahal tahun lalu -3,13%. Jadi, comeback-nya nyata, tapi masih berada di zona margin tipis yang sensitif.
Sensitivitas itu makin terasa saat masuk ke modal kerja dan utang. Perdagangan BBM dan LPG itu bukan jualan barang ringan, perlu dana untuk penebusan dan persediaan, sehingga wajar kalau pembelian persediaan di awal 2025 saja disebut Rp105,88 miliar, besarnya 57,03% dari pendapatan 9M-2025. Lalu ada pembiayaan jangka pendek yang menempel, pinjaman bank jangka pendek Rp67,99 miliar dan pinjaman lembaga keuangan lain Rp18,71 miliar, total Rp86,70 miliar atau 46,70% dari pendapatan 9M-2025. Ini bukan angka untuk ditakuti, ini angka untuk dipahami. Artinya, INPRASE itu lebih mirip bisnis perputaran, bukan bisnis yang bisa santai menunggu tagihan, dan ritme perbankan ikut menentukan ritme operasional. Ketika ritme ini lancar, perusahaan terlihat normal. Ketika ritme ini seret, laba yang kecil bisa langsung hilang tertutup biaya bunga, denda, atau biaya logistik yang tidak terserap.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bagian yang bikin investor harus lebih teliti adalah kondisi ekuitas dan sinyal keberlanjutan usaha. Walau 9M-2025 sudah laba Rp2,83 miliar dan laba per saham dasar membaik jadi Rp5,80 dari rugi Rp14,06, perusahaan masih membawa defisit akumulasi Rp212,45 miliar. Itu sebabnya muncul kebutuhan dukungan dari pemegang saham pengendali dalam bentuk surat dukungan keuangan. Secara praktis, ini berarti bisnis masih bertumpu pada dua kaki sekaligus, kaki operasional yang mulai membaik, dan kaki dukungan pemilik serta kreditor supaya siklus modal kerjanya tidak putus. Investor boleh optimistis dengan turnaround, tetapi optimistis yang sehat itu harus menuntut bukti lanjutannya, misalnya laba yang konsisten beberapa kuartal, perbaikan ekuitas bertahap, dan penurunan ketergantungan pada pembiayaan jangka pendek yang mahal.
Di titik ini, struktur kepemilikan dan kualitas pengawasan jadi relevan. INPRASE ini bisnis keluarga yang dikendalikan keluarga Winata melalui entitas pemegang saham utama, dengan hubungan saudara kandung yang langsung terlihat di pucuk manajemen. Model begini bisa sangat efektif untuk eksekusi, karena keputusan cepat dan jaringan relasi biasanya kuat, terutama di bisnis distribusi yang mengandalkan kepercayaan dan reliabilitas armada. Tetapi model ini juga menuntut governance yang rapi supaya transaksi afiliasi, pengadaan aset, dan pengelolaan risiko tidak berubah jadi titik lemah. Di dokumen perusahaan, ada Komite Audit serta Komite Nominasi dan Remunerasi yang dipimpin komisaris independen, ini setidaknya memberi struktur pengaman agar keputusan besar tidak sepenuhnya satu jalur tanpa rem. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi top line, 9M-2025 memang turun -15,20%, jadi perusahaan belum kembali ke mode ekspansi omzet. Dari sisi bottom line, ada perbaikan yang jelas dan cukup dramatis karena rugi berubah jadi laba, sehingga manajemen tampaknya berhasil mengencangkan biaya dan menata ulang operasi. Dari sisi kualitas model bisnis, mesin utamanya tetap keagenan energi dengan kontribusi 64,75% pendapatan, tetapi risikonya melekat karena konsentrasi tinggi ke Pertamina Patra Niaga, baik sebagai pelanggan maupun pemasok. Dari sisi neraca, ini yang paling menentukan valuasi dan psikologi pasar, karena defisit akumulasi Rp212,45 miliar plus utang jangka pendek yang material membuat perusahaan harus menjaga napas modal kerja tanpa putus. Jadi, INPS bukan cerita saham yang menang karena satu inovasi besar, melainkan cerita disiplin eksekusi dan manajemen risiko, dan investor yang nyaman dengan karakter seperti ini biasanya investor yang suka bisnis riil, tetapi juga rela membaca detail kecil seperti tempo pembayaran, sumber pembiayaan, dan konsistensi margin, karena di bisnis margin tipis, detail kecil itu yang menentukan hidup-matinya laba.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/8








STOCKWATCH.ID (JAKARTA) β PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencabut penghentian sementara perdagangan (suspensi) tujuh saham emiten. Langkah ini mulai berlaku pada pembukaan sesi I perdagangan hari Jumat (9/1/2026).
Saham-saham yang kembali bisa ditransaksikan meliputi PT Bakrie Sumatera Plantations ...

stockwatch.id
$INPS $TIRT $GLOB
apa itu papan pemantauan khusus (fca 5) dan beberapa strategi penyelesaiannya.
semoga bermanfaatπ

OPEN SUSPEND
Jumat, Tgl 09 Januari 2026
$BIPI (180)
$INPS (370
$GRPM (122)
UNSP (436)
BBSS (730)
RMKO (464)
SIPD (1330)
Tinggalkan Jempol ye ππ»
New ATH IHSG 9000+ π₯³π₯³π₯³π₯³
JUMAT Keramat.......
Jangan Lihat Bioku.....
#HanyaTuhanYangTahu #OpenSuspend
$LPGI
β‘ SCALPING PLAN: LPGI
π’ Entry
Buy on pullback: 710 β 750 (Area akumulasi di dekat batas bawah konsolidasi).
Buy breakout (agresif): > 810 (Valid jika harga mampu menembus resisten dinamis dengan peningkatan volume transaksi yang jelas).
π― Take Profit
TP 1: 820 β 850 β jual 50% (Area resisten psikologis dan batas atas rentang konsolidasi saat ini).
TP 2: 900+ β jual sisa (Target menguji kembali level tertinggi tahunan jika momentum kembali menguat).
π΄ Stop Loss
SL agresif: 690.
Daily close < 700 β CUT LOSS mutlak (Menghindari risiko kejatuhan berlanjut menuju level 600).
β οΈ Catatan Cepat
Karakter Saham: LPGI cenderung memiliki pergerakan yang sporadis dengan spread yang kadang lebar; gunakan antrean limit order alih-alih melakukan HAKA (Hajar Kanan) secara agresif.
Momentum Alert: Pantau histogram MACD; jika histogram kembali melebar ke arah negatif, batalkan rencana pembelian sementara waktu.
Sabar: Mengingat kondisi konsolidasi, scalping pada saham ini mungkin memerlukan waktu tunggu yang sedikit lebih lama dibandingkan saham dengan volatilitas tinggi seperti HUMI-W atau ZATA.
Jangan Lupa Follow!
Random Tag :
$TGKA $INPS