


Volume
Avg volume
PT Vale Indonesia menambang nikel laterit untuk menghasilkan produk akhir berupa nikel dalam matte. Rata-rata volume produksi nikel per tahun mencapai 75.000 metrik ton. Dalam memproduksi nikel di Blok Sorowako, kami menggunakan teknologi pyrometalurgi (meleburkan bijih nikel laterit). Nikel yang kami hasilkan diekspor seluruhnya kepada Sumitomo Metal Mining Co, Ltd (Jepang) dalam kontrak khusus jangka panjang yang dijalin kedua perusahaan tersebut. Beroperasi dalam naungan Kontrak Karya yang telah diamandemen pada 17 Oktober 2014 dan berlaku hingga 28 Desember 2025 dengan luas konsesi seluas 118.017 hektar meliputi Sulawesi Se... Read More
$INCO Bisa lah hari senin ARA 🏀🚀🏀🚀
$BNBR Masuk sebelum susah dapat barang lagi diskon
$PBRX Tekstil Yang mau jadi TITAN
Saham Nikel yang Terbukti Sedang Ekspansi Untuk Meningkatkan Laba Masa Depan
Request member bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Untuk tahu sebuah perusahaan sedang ekspansi maka 2 hal yang perlu dilihat yaitu berapa banyak karyawannya dan berapa banyak belanja asetnya. Perusahaan yang lagi sibuk PHK karyawan dan sibuk jual aset, tentu mustahil dikatakan sedang ekspansi. Di sektor nikel, dua indikator ini sering lebih jujur daripada narasi komoditas, karena harga bisa naik turun tapi keputusan rekrutmen dan capex itu komitmen uang yang nyata. Masalahnya, investor sering ketipu oleh ilusi, revenue naik tipis dikira ekspansi, padahal cuma kebetulan harga jual atau volume sesaat. Jadi yang perlu dibaca bukan cuma tumbuh atau tidak, tapi sinkron atau tidak antara orang, uang belanja aset, arus kas, dan laba. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi jumlah karyawan 2024 ke 2025, gambarnya jelas terbagi. NCKL naik dari 10.742 jadi 11.090 atau +3,24%, dan ini sejalan dengan pendapatan +9,93% serta laba bersih +33,26%, ini tipe ekspansi yang rapi karena mesin bisnisnya membesar dan profit ikut mengembang. $NICL juga naik dari 347 jadi 365 atau +5,19%, tetapi pendapatannya +64,81% dan labanya +131,28%, artinya produktivitas per karyawan melonjak dan ini biasanya terjadi saat perusahaan menemukan pasar yang lagi kencang atau disiplin biaya makin rapat. $DKFT naik dari 386 jadi 424 atau +9,84% dengan pendapatan +29,52% dan laba +54,75%, pola ini mirip, tenaga kerja bertambah dan hasilnya lebih dari proporsional. Kebalikannya ada di HRUM yang karyawannya naik +13,18% dan pendapatan +5,53% tapi laba bersih jeblok -55,35%, sedangkan MBMA dan $INCO justru cenderung datar, MBMA -0,42% dan INCO -0,59% yang biasanya menandakan fase operasi matang atau sedang menahan napas. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau investor pindah ke indikator kedua yaitu belanja aset, baru kelihatan siapa yang benar-benar lagi bangun masa depan dan siapa yang sekadar mengoptimalkan yang ada. HRUM capex +191,6% dan INCO capex +64,9%, ini sinyal ekspansi fisik yang agresif, tetapi sifatnya capex intensif dan sering belum langsung jadi revenue atau laba karena proyek butuh waktu untuk menghasilkan. NCKL capex -29,5% justru turun, ini tidak otomatis berarti mundur, sering kali artinya 2024 adalah puncak konstruksi dan 2025 masuk fase panen serta optimasi. Dari sisi arus kas operasi, NICL CFO +230% dan penerimaan kas pelanggan naik 108% itu sinkron, ekspansi dan kasnya ikut menguat. HRUM CFO -125% itu alarm besar, karena artinya perusahaan bisa saja sedang membangun besar-besaran, tetapi kas operasinya ketarik turun akibat pembayaran vendor, royalti, atau biaya proyek yang melampaui kas masuk.
Biaya juga memberi sidik jari tentang kualitas ekspansi. Hampir semua perusahaan nikel yang saya cek ini mengalami kenaikan COGS yang mengikuti volume, tetapi SGA cenderung terkendali dan yang paling menonjol NCKL mampu menurunkan SGA 10,28% di saat pendapatan naik, ini indikasi operating leverage yang sehat dan manajemen biaya yang ketat. MBMA itu kasus menarik, pendapatan turun -32,24% tapi laba masih naik +4,57%, ini biasanya terjadi kalau COGS turun lebih dalam daripada penurunan revenue, jadi perusahaan sedang menekan biaya produksi atau mengubah mix produk agar margin bertahan. INCO hampir datar, pendapatan -0,45% dan laba +2,62% dengan karyawan turun tipis, ini tipe perusahaan mature yang fokus menjaga efisiensi, bukan memperbesar jumlah orang. HRUM jadi contoh mismatch, pendapatan naik tipis, karyawan naik besar, capex meledak, tapi laba jatuh, dan di data disebut biaya keuangan naik +86,1% sehingga profit tertekan walau skala aktivitas membesar. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Jadi kalau investor pakai kacamata dua indikator tadi ditambah arus kas, yang paling bisa disebut ekspansi berkualitas adalah NCKL, NICL, dan DKFT, karena penambahan karyawan sinkron dengan lonjakan revenue dan laba, dan setidaknya pada NICL arus kas operasi juga ikut menguat. HRUM lebih tepat disebut ekspansi proyek yang belum matang, capex besar dan headcount naik, tetapi laba dan CFO tidak mengikut, ini sering terjadi saat perusahaan membangun aset masa depan sambil menanggung beban bunga dan biaya proyek, jadi secara ekonomi sedang berat walau secara fisik sedang membangun.
MBMA dan INCO lebih terlihat sebagai fase stabilisasi dan efisiensi, bukan ekspansi tenaga kerja, sehingga kalau ada perbaikan laba, sumbernya lebih banyak dari disiplin biaya dan struktur kontrak dibanding rekrutmen besar-besaran. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Keunikan sektor nikel adalah ekspansi tidak selalu butuh banyak karyawan, tetapi selalu butuh capex dan selalu akan terlihat di arus kas, jadi ketika narasi ekspansi muncul, bukti paling kerasnya tetap pada capex yang konsisten dan CFO yang tidak ambruk. Kalau dua hal itu tidak nyambung, biasanya yang terjadi bukan ekspansi, melainkan perusahaan sedang menahan guncangan dan memindahkan beban ke neraca sambil berharap siklus komoditas membaik.
👥 Peringkat jumlah karyawan 9M 2025
• 🥇 NCKL 11.090 orang
• 🥈 HRUM 4.267 orang
• 🥉 MBMA 3.774 orang
• 🧱 INCO 3.020 orang
• 🏗️ DKFT 424 orang
• 🪨 NICL 365 orang
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
📊 Kelompok skala tenaga kerja
• 🦖 Sangat besar NCKL
• 🏭 Besar HRUM MBMA INCO
• 🧪 Kecil DKFT NICL
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










Tidak Semua Saham Nikel Itu Bisa Jual Nikel Lewat Ekspor
Request member bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Tidak semua perusahaan nikel di Indonesia melakukan ekspor, dan itu mengubah cara investor membaca cerita harga nikel dunia anjlok di 2025. Kalau perusahaan jualannya dominan domestik, dampaknya sering tidak sebrutal emiten yang harga jualnya nempel ketat ke benchmark global. Di sisi lain, jual domestik bukan berarti kebal, karena harga domestik tetap hidup di ekosistem global, hanya jalurnya lebih berlapis dan sering ada buffer kontrak. Itulah kenapa ada saham nikel yang kelihatan baik-baik saja labanya ketika headline harga nikel dunia turun, sementara yang lain langsung kelihatan lemas di revenue. Kuncinya bukan cuma komoditasnya, tapi kombinasi pasar penjualan, cara pricing, dan siapa pembelinya. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau dilihat dari peta pasar, ada dua kubu yang kontras. Kubu ekspor itu jelas, $INCO yang sekitar 94% menjual nickel matte ke luar, $HRUM yang ekspor nikel dan juga punya ekspor batubara ke Asia Timur, serta NCKL yang pasarnya besar ke Tiongkok dan Swiss.
Kubu domestik juga tegas, MBMA yang pada 9M 2025 penjualannya 100% domestik ke ekosistem smelter Morowali, lalu NICL dan $DKFT yang 100% jual domestik. Ini langsung menciptakan perbedaan karakter laba saat harga global jatuh. Ekspor dengan formula indexing biasanya merasakan penurunan harga realisasi lebih cepat dan lebih transparan. Domestik sering terasa lebih stabil di permukaan, tetapi sebenarnya tetap mengikuti siklus global lewat negosiasi, kualitas, timing delivery, dan struktur pihak pembeli.
Sekarang lihat konsentrasi pelanggan, karena ini salah satu risiko terbesar yang sering disepelekan. Hampir semua emiten ini hidup dari 2 sampai 3 pembeli besar yang menyerap lebih dari 50% pendapatan. Di NCKL, satu nama saja Lygend Resources menyerap sekitar Rp10,8 T atau 48,24% dari pendapatan 9M 2025, lalu Glencore sekitar Rp3,51 T atau 15,70% dan ini naik dari sekitar Rp2,76 T. Artinya lebih dari 60% revenue NCKL ditopang dua counterparty, tetapi dari sisi skala bisnis NCKL memang raksasa, total revenue 9M 2025 sekitar Rp22,4 T dan laba periode berjalan sekitar Rp8 T, jadi ketika pasar nikel melemah, NCKL punya bantalan profitabilitas yang tebal dan mesin operasional yang sudah matang. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
HRUM juga ekstrem konsentrasinya, Hong Kong Rui Pu sekitar US$412,2 Juta atau 40,2% dan melonjak dari US$149,8 Juta, lalu PT CNGR Ding Xing sekitar US$129,9 Juta atau 12,7% sebagai pelanggan baru yang signifikan. Kalau investor konversi pakai kurs Rp16.680 per US$ agar skala kebaca, pembeli utama HRUM itu setara sekitar Rp6,88 T, dan pelanggan baru CNGR itu sekitar Rp2,17 T. Ini menggambarkan dua hal sekaligus, HRUM punya leverage ekspor yang besar, tetapi juga punya risiko konsentrasi dan siklus demand Asia Timur. Bedanya dibanding emiten ekspor murni, HRUM punya diversifikasi batubara yang bisa jadi peredam ketika satu komoditas sedang jelek, jadi respons laba HRUM terhadap nikel dunia tidak selalu segaris lurus.
MBMA punya cerita yang unik dan sering bikin investor salah baca. Secara pasar penjualan, MBMA tercatat 100% domestik di 9M 2025, tetapi pembelinya adalah pemain smelter besar yang hidup dari rantai nilai global. Pelanggan utama MBMA PT Indonesia Tsingshan menyerap US$548,8 Juta atau 58,7%, kira-kira Rp9,15 T, dan ini stabil. Pelanggan kedua PT CNGR Ding Xing menyerap US$143,9 Juta atau 15,4% atau sekitar Rp2,40 T, tetapi turun tajam dari US$339 Juta. Jadi walau domestik, MBMA tetap sensitif pada kesehatan rantai industri global, hanya bentuknya bukan lewat pelabuhan ekspor, melainkan lewat perubahan serapan pabrik domestik yang orientasi akhirnya mengikuti pasar dunia. Karena pricing MBMA bersifat market based dan negotiated, efek harga global bisa lebih berlapis, kadang tertahan oleh kontrak dan timing, kadang justru terasa tiba-tiba ketika pembeli menekan term.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
INCO adalah contoh paling bersih untuk melihat efek harga global. Sekitar 74,1% penjualan INCO ke Vale Canada Limited senilai US$522,5 Juta atau kira-kira Rp8,72 T, dan sekitar 19,7% ke Sumitomo Metal Mining senilai US$139,3 Juta atau sekitar Rp2,32 T. Dua pembeli ini sudah menyerap hampir seluruh pendapatan INCO, dan karena pricing INCO berbasis formula yang mengacu pada benchmark global seperti LME dan Fastmarkets, ketika harga nikel dunia tertekan, penurunan harga realisasi biasanya cepat tercermin. Itu sebabnya INCO terlihat stagnan atau turun tipis pada periode ketika harga global melemah, bukan karena operasinya tiba-tiba rusak, tapi karena mekanisme harga memang dibuat menempel ke benchmark.
NICL dan DKFT justru menarik untuk membuktikan bahwa tidak semua emiten nikel harus ikut panik saat harga dunia anjlok. NICL 100% domestik dengan dua pelanggan baru yang langsung dominan, PT Marin Mitra Nusantara sekitar Rp732,3 B atau 54,1% dan PT Xingda Trading Indonesia sekitar Rp222,4 B atau 16,4%. Total pendapatan NICL 9M 2025 sekitar Rp1,35 T, dan growth-nya disebut fantastis sekitar 65% karena perombakan total customer base. NICL juga punya mekanisme penetapan harga yang dikunci pada saat pengiriman, jadi risiko selisih harga antara kontrak dan delivery diperkecil. DKFT juga 100% domestik, PT Sino Indo Nickel sekitar Rp417,3 B atau 34% naik dari Rp290,8 B, lalu PT Megah Surya Pertiwi sekitar Rp311,5 B atau 25% naik dari Rp205,9 B. Ini memberi sinyal bahwa ketika demand domestik untuk ore masih jalan, emiten ore domestik bisa tetap bertahan, meski harga global sedang turun, karena mereka bermain pada realisasi transaksi yang lebih dekat ke kebutuhan smelter dalam negeri. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Emiten ekspor dengan formula indexing paling tinggi korelasinya terhadap harga dunia, INCO paling jelas, HRUM juga tinggi walau ada diversifikasi. Emitem domestik dengan pricing at delivery seperti NICL cenderung punya volatilitas yang lebih terkendali pada laporan keuangan karena harga ditetapkan lebih dekat ke serah-terima. MBMA berada di tengah, secara akuntansi domestik, tetapi secara ekonomi tetap ikut gelombang global lewat pelanggan smelter besar, sehingga ketika terjadi penurunan serapan dari satu pembeli seperti CNGR, dampaknya bisa lebih dominan daripada sekadar perubahan harga nikel harian. NCKL unik karena selain menjual ke pasar luar, grup juga punya buffer lewat integrasi dan penjualan ore ke pihak berelasi untuk diproses lebih lanjut, sehingga guncangan harga ore global tidak selalu menghantam langsung di titik yang sama pada rantai nilainya.
Lalu kenapa banyak saham nikel terlihat baik-baik saja labanya saat harga nikel dunia turun di 2025, jawabannya bukan karena mereka kebal komoditas. Jawabannya karena sebagian emiten tidak menjual langsung ke pasar ekspor dengan formula benchmark ketat, melainkan menjual domestik, memakai negosiasi, memakai harga pada saat delivery, atau memakai buffer integrasi grup. Di saat yang sama, struktur pelanggan yang sangat terkonsentrasi membuat narasi harga komoditas sering kalah penting dibanding narasi satu pembeli besar menaikkan atau menurunkan serapan. Jadi untuk membaca tren 2025, investor sebaiknya berhenti melihat nikel sebagai satu angka, lalu mulai lihat jalur uangnya, siapa yang bayar, mata uang dan formula apa yang dipakai, dan seberapa besar ketergantungan pada 1 sampai 2 pelanggan yang bisa mengubah laporan keuangan hanya dengan menggeser volume pembelian. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🧑🤝🧑 Konsentrasi pelanggan 9M 2025
• ⚠️ Umumnya 2 sampai 3 pelanggan serap >50% revenue
• 🏭 NCKL Lygend 48,24% plus Glencore 15,70%
• 🚢 INCO VCL 74,1% plus SMM 19,7%
• 🧱 MBMA ITSS 58,7% plus CNGR 15,4%
• 🔥 HRUM Rui Pu 40,2% plus CNGR 12,7%
• 🧭 NICL Marin 54,1% plus Xingda 16,4%
• 🪨 DKFT Sino Indo 34,0% plus MSP 25,0%
🌍 Pasar
• 🚢 Ekspor dominan INCO, HRUM, NCKL
• 🇮🇩 Domestik dominan MBMA, NICL, DKFT
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
💸 Pricing
• 📊 LME plus Fastmarkets INCO, HRUM
• 🤝 Market based MBMA
• 📦 Harga saat delivery NICL
• 🧩 Buffer grup NCKL ore ke pihak berelasi dulu
🏁 Skala aset
• 🐘 MBMA, NCKL, HRUM, INCO besar
• 🐭 DKFT, NICL kecil
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










Akhir Era Baterai Nikel, Ketika inovasi lebih cepat dari konstruksi.
Smelter HPAL INCO dan HRUM belum jadi, Dongeng Baterai Nikel sudah selesai 🤣
Meanwhile, ternary NMC battery declined 10.9% to 55.4 GWh. This continues the trend from H2 2024, when NMC battery installations declined for the first time in history year-over-year, by 1.9.%. Apparently, the era of NMC is over, and the age of LFP has begun. NMC will most likely remain on some upper-market vehicles; however, even there, their position is not secure, as, for example, the 90,000 USD Yangwang U7 with 960 kW (1287 hp) and 720 km range features an LFP battery from BYD.
In H1 2025, the LFP had an 81.4% share while NMC declined to 18.5% on China-made vehicles.
$NCKL $INCO $HRUM
https://cutt.ly/7tltlLCX

Harga komoditas Zinc sekarang di $3000/ton. ATH Zinc di 2007 $4400. Berarti harga Zinc sekarang berada di - 31,8% dari ATH 2007.
Harga nickel Harusnya di -31,8% dari ATH 2007 $54000 yaitu $36990. Harga nickel sekarang terlampau murah karena massive oversupply.
Katanya tahun ini di cut, semoga serious, jgn ada lobby2 lagi.
$PACK 🌀 $ANTM 🌀 $INCO
Saham Nikel Mana yang Sangat Sensitif pada Harga Nikel Dunia
Request member bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Hari ini ada member Pintar Saham yang tanya soal pengaruh naiknya harga nikel dunia ke MBMA. Logikanya terlihat sederhana, harga nikel naik maka MBMA ikut terbang dan laba meledak. Tapi di sektor nikel, harga komoditas itu bukan tombol on off yang langsung memindahkan laba dari layar ke rekening. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Tolong bedakan harga saham dengan kenaikan laba karena laba naik belum tentu harga saham naik dan begitu juga sebaliknya karena banyak saham rugi di IHSG yang tetap meroket karena bandarnya strong. Jadi yang dibahas di sini adalah potensi laba, bukan potensi harga saham.
Yang menentukan besar kecilnya laba itu selalu kombinasi antara jenis produk, cara penetapan harga jual, struktur biaya energi dan reduktan, serta seberapa panjang rantai prosesnya. Jadi benar, kenaikan harga nikel bisa mengangkat kinerja, tetapi besar kecilnya efek di $MBMA tidak akan setegas yang orang bayangkan jika yang dipakai patokan cuma satu angka, harga nikel dunia. Investor yang cuma memegang narasi tanpa membedah mesin uangnya, biasanya kaget ketika realisasi margin ternyata berbeda jauh dari ekspektasi.
Mulai dari yang paling mendasar dulu, MBMA itu bukan produsen satu produk nikel saja. MBMA main di Nickel Pig Iron atau NPI, nickel matte, dan bijih nikel limonit. Ini beda karakter dengan $INCO yang fokus di nickel in matte dan bijih nikel, atau NICL yang lebih pure sebagai penambang bijih nikel. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
$NCKL atau TBP juga beda lagi, karena menambang sekaligus mengolah ke produk yang lebih refined seperti feronikel, tetapi punya strategi internal group transfer yang membuat dampak volatilitas harga bijih nikel tidak menghantam langsung ke laporan laba rugi di level penjualan bijihnya.
DKFT bahkan lebih ekstrem, dominan di bijih nikel dan perdagangan, sementara proyek feronikel sempat berhenti sejak 2021 karena biaya kokas yang melonjak. Dari sini saja sudah kelihatan kenapa pertanyaan harga nikel naik itu harus dibalas dengan pertanyaan balik, nikel yang mana, produk yang mana, dan kontraknya seperti apa.
Perbedaan paling penting kedua ada di cara penetapan harga jual. INCO memakai formula yang eksplisit mengacu ke benchmark global seperti LME cash price dan Fastmarkets, jadi hubungan harga jual dan harga acuan dunia itu lebih ketat, lebih langsung, dan lebih cepat terasa ke pendapatan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
HRUM juga tinggi eksposurnya karena pricing dan proyeksi arus kasnya merujuk data LME, ditambah penjualan ke pasar Asia Timur yang sensitif demand supply global.
MBMA posisinya moderat, bukan karena tidak terpengaruh, tetapi karena MBMA banyak bermain pada produk antara seperti NPI dan matte yang di lapangan sering bergerak mengikuti dinamika pasar ekspor utama, terutama China, dan spread industri seperti stainless cycle untuk NPI atau kebutuhan feed untuk rantai baterai pada matte. NICL lebih rendah eksposurnya karena mekanisme harga ditentukan pada saat pengiriman, sehingga risiko selisih harga antara tanggal kontrak dan serah-terima lebih terkunci. NCKL paling terlindungi secara langsung di level bijih karena menjual ore ke pihak berelasi untuk diproses dulu sebelum produk akhir dijual ke pihak ketiga, sehingga grup punya buffer internal dan bisa mengatur value capture di dalam ekosistemnya.
Sekarang masuk ke sisi yang disukai investor, perbandingan skala. Dalam 9M 2025, MBMA berada di kasta big player secara aset. Total aset MBMA kira-kira Rp60 T, dekat sekali dengan NCKL sekitar Rp58,5 T, lalu HRUM sekitar Rp54,6 T, dan INCO sekitar Rp54 T. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi revenue 9M 2025, NCKL memimpin sekitar Rp22,4 T, HRUM sekitar Rp17,1 T, MBMA sekitar Rp15,6 T, dan INCO sekitar Rp11,7 T. Dari sisi laba periode berjalan 9M 2025, NCKL sekitar Rp8 T itu level yang membuat emiten lain terlihat kecil, sementara MBMA sekitar Rp1,04 T, INCO sekitar Rp874 B, HRUM sekitar Rp703 B. Di kelompok lebih kecil, DKFT revenue sekitar Rp1,24 T dengan laba sekitar Rp442 B, dan NICL revenue sekitar Rp1,35 T dengan laba sekitar Rp401 B, yang secara margin terlihat tebal, tetapi investor perlu ingat skala operasi dan komposisi pendapatan bisa membuat margin tampak sangat tinggi pada periode tertentu.
Kalau investor ubah semua itu jadi rasio sederhana, keunikan MBMA makin jelas. Net margin MBMA kira-kira 6,7%, lebih tebal daripada HRUM yang sekitar 4,1%, tetapi sedikit di bawah INCO yang sekitar 7,5%. Ini sinyal bahwa MBMA punya mesin yang sudah menghasilkan laba, tetapi belum masuk fase profit pool seperti NCKL yang net margin-nya sekitar 35,7% pada 9M 2025. Dalam bahasa yang lebih tajam, kenaikan harga nikel dunia belum tentu membuat MBMA jadi monster laba, karena posisi MBMA sekarang lebih mirip mesin volume besar dengan margin menengah. Laba bisa besar jika spread-nya melebar, bukan cuma karena harga acuan naik. Tapi perlu diingat bahwa laba MBMA itu adalah laba tahun berjalan, bukan laba yang diatribusikan ke entitas Induk. Kalau pakai laba yang diatribusikan ke entitas Induk maka MBMA sebenarnya lagi tidak sampai 1 Triliun.
Di sinilah jawaban untuk pertanyaan member Pintar Saham jadi lebih presisi. Kenaikan harga nikel dunia akan mengangkat MBMA paling kuat ketika kenaikan itu memukul langsung harga realisasi produk yang MBMA jual, dan pada saat yang sama biaya utama tidak naik setara. Untuk NPI, variabel kuncinya bukan hanya harga nikel acuan, tapi juga demand stainless di China, harga coke dan energi, serta negosiasi harga jual berbasis market practice di pasar tujuan. NPI bisa terasa sangat sensitif ke siklus China, kadang bergerak seirama dengan nikel global, kadang lebih dipengaruhi oleh kondisi industri stainless dan kebijakan produksi. Untuk nickel matte, korelasinya ke nikel global bisa lebih terasa, apalagi jika matte diposisikan sebagai feed untuk rantai nilai yang lebih dekat ke baterai, tetapi tetap ada faktor diskon kualitas, biaya konversi, dan struktur kontrak. Untuk limonit, ceritanya berbeda lagi, karena ini lebih dekat ke bahan baku, sehingga bisa jadi lebih defensif atau lebih tertekan tergantung integrasi pembeli dan mekanisme penjualan domestik ke entitas asosiasi. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Ada juga alasan kenapa MBMA disebut moderat eksposurnya dibanding INCO. INCO pricing-nya lebih formulaik ke benchmark global, jadi beta ke harga nikel dunia cenderung lebih tinggi dan lebih transparan. MBMA lebih banyak memakai market-based analysis dan sales agreement yang sifatnya negotiated, sehingga ada jeda, ada buffer, dan ada unsur manajemen harga, terutama ketika pasar sedang volatile. Ini bukan berarti lebih aman, ini berarti investor harus lebih rajin membaca catatan pricing, konsentrasi pelanggan, dan perubahan term kontrak, karena sebagian besar risiko berubah bentuk dari risiko harga acuan menjadi risiko spread dan risiko eksekusi.
Keunikan lain MBMA adalah positioning narasi baterai dan integrasi vertikal menuju rantai nilai bahan baku baterai kendaraan listrik. Ini membuat driver fundamental MBMA tidak melulu harga nikel, tetapi juga keberhasilan ekspansi kapasitas, ramp-up pabrik, konsistensi volume, serta kemampuan mengubah ore menjadi produk bernilai lebih tinggi. Di sektor ini, sering terjadi pola begini, harga komoditas naik, ekspektasi pasar terbang, tetapi laba tidak ikut setinggi ekspektasi karena volume belum maksimal atau biaya commissioning dan depresiasi belum stabil. Jadi investor yang berharap MBMA cetak laba gede hanya karena nikel naik, sebenarnya sedang bertaruh pada dua hal sekaligus, harga dan eksekusi. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Jadi MBMA bisa diuntungkan oleh kenaikan harga nikel dunia, tetapi MBMA bukan emiten paling sensitif secara langsung terhadap benchmark global. INCO lebih sensitif karena formula pricing yang menempel pada LME. HRUM juga tinggi eksposurnya karena referensi LME dan orientasi ekspor. MBMA akan sangat diuntungkan jika kenaikan harga nikel dibarengi penguatan demand China untuk produk antara seperti NPI dan matte, serta biaya input tidak naik secepat harga jual. Dan MBMA akan terlihat biasa saja jika yang naik hanya headline price, sementara biaya energi dan reduktan ikut naik, atau spread industri menyempit.
Jadi, apakah MBMA bisa cetak laba gede kalau harga nikel dunia naik, jawabannya bukan ya atau tidak. Jawabannya adalah bisa, tetapi dengan syarat. Investor harus melihat produk mana yang dominan di revenue, kontrak pricing-nya seperti apa, dan apakah kenaikan harga itu memperlebar spread atau justru hanya menggeser angka jual sambil biaya ikut mengejar. Di sektor nikel, laba besar biasanya lahir bukan dari harga naik saja, tetapi dari kombinasi volume besar, biaya terkendali, dan pricing yang memberi pass-through lebih cepat daripada kenaikan biaya. MBMA punya skala untuk bermain di level besar, tetapi pembuktian laba besar yang konsisten akan ditentukan oleh konsistensi operasi dan kemampuan mengunci value capture di rantai prosesnya, bukan sekadar berharap nikel dunia naik.
🧱 Produk nikel
• INCO ⚙️ nickel matte, bijih nikel
• MBMA 🔋 NPI (Nickel Pig Iron), nickel matte, limonit ore
• HRUM 🧪 nickel matte, ferronickel, ore
• NCKL ⛏️ ore plus ferronickel terintegrasi
• DKFT 🪨 dominan ore, smelter FeNi suspend sejak 2021
• NICL 🧾 pure ore miner
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
💰 Harga Nikel
• INCO 📊 formula ikut LME (London Metal Exchange) dan Fastmarkets
• HRUM 📈 referensi harga pasar plus penyesuaian kualitas kuantitas
• MBMA 🧮 market based, sensitif spot ekspor
• NICL 📦 harga ditentukan saat delivery, redam volatilitas
• NCKL 🧩 jual ore ke pihak berelasi dulu, buffer harga ore global
• DKFT 🛑 lebih ke ore trading domestik, FeNi tidak jalan
🌪️ Sensitivitas harga global
• 1 INCO ❌ paling nempel LME
• 2 HRUM ❌ tinggi, ekspor Asia Timur
• 3 MBMA ⚠️ sedang
• 4 NICL ✅ lebih rendah, lock saat delivery
• 5 NCKL ✅ paling teredam, integrasi grup
🧭 Pasar
• Domestik 🇮🇩 DKFT, NICL, NCKL kuat lokal
• Ekspor 🌏 INCO ke Kanada Jepang, HRUM Asia, MBMA dan NCKL dominan China
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🏗️ Skala 9M 2025
• Aset 🏢 big players NCKL, MBMA, HRUM, INCO sekitar Rp54-60 T
• Revenue 💸 tertinggi NCKL Rp22,4 T lalu HRUM Rp17,1 T, MBMA Rp15,6 T
• Laba 🏆 NCKL Rp8,0 T paling besar
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










@Mantares
Koq masih Research sih?
Paham ga kenapa gw ambil contoh Baterai Drone?
Karena selama ini Baterai Nikel diiklankan paling tinggi Densitas nya sehingga cocok buat aplikasi drone yang butuh baterai yang ringan..
Tapi Data memperlihatkan Drone mayoritas sudah pakai Baterai Lithium...
Terus apa lagi gunanya pakai Baterai Nikel? Cost Kalah, Densitas Kalah, Safety Kalah, Siklus Hidup Kalah..
$NCKL $INCO HRUM $ANTM

RKAB 2026 Telah Disetujui!!! Gimana Potensi Dampaknya Bagi INCO?
INCO mengumumkan kalau Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk tahun 2026 sudah memperoleh persetujuan resmi dari Kementerian ESDM.
Adanya persetujuan tersebut menunjukkan kepastian operasional dan kelanjutan investasi jangka panjang INCO dalam bagian ekosistem nikel Indonesia dan rantai pasok global. Setelah sebelumnya INCO mengumumkan jika RKAB 2026 belum disetujui.
Diperolehnya persetujuan RKAB tersebut membuat INCO saat ini berfokus dalam mengembalikan seluruh kegiatan operasional dan konstruksi yang ada di Sorowako, Pomalaa, dan Bahodopi. Hal ini dilakukan untuk mengejar ketertinggalan karena penghentian sementara yang dilakukan sebelumnya.
Kondisi ini pastinya sangat positif bagi INCO, karena sebelumnya ada rencana pemangkasan produksi bijih nikel nasional dari Pemerintah Indonesia dari target produksi tahun 2025 sebesar 379 juta ton menjadi 250 - 260 juta ton untuk tahun 2026.
Adanya rencana pemangkasan berpotensi membuat pasokan global berpotensi turun karena Indonesia merupakan produsen nikel terbesar dunia, yang hal ini bisa mendorong kenaikan harga nikel global.
Ini terbukti juga dengan harga nikel global yang melambung tinggi kenaikannya, bahkan saat ini harganya mencapai USD 18.595 per ton, atau ada kenaikan sebesar 11% sepanjang tahun 2026 ini.
Dengan harga nikel yang naik, dilain sisi rencana produksi nikel INCO tetap sesuai dengan targetnya mereka, maka ini akan berpotensi bagus bagi kinerja pendapatan dan laba bersih tahun 2026.
Kinerja INCO sendiri sepanjang sembilan bulan tahun 2025 mencatatkan penurunan pendapatan yang tipis 0,4% secara yoy menjadi USD 705,3 juta. Laba kotornya turun 8% menjadi USD 73,4 juta. Sedangkan laba bersihnya naik 3% menjadi USD 52,4 juta, karena terdorong dari keuntungan atas pengakuan nilai wajar aset derivatif, dari sebelumnya yang merugi.
Pendapatan dan laba kotor yang turun tersebut disebabkan oleh turunnya harga realisasi rata-rata nikel matte sebesar 8,7% menjadi USD 12.106 per ton dari sebelumnya USD 13.262 per ton.
Gimana menurutmu, apakah pendapatan dan laba bersih INCO tahun 2026 bisa growth?
👉 Join ke channel Telegram buat dapetin insight lainnya! Klik link di bio.
Disclaimer: Konten ini dibuat dengan tujuan informasi dan edukasi, bukan merupakan rekomendasi untuk jual, beli, atau hold suatu saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.
$INCO $HRUM $ANTM
1/4




IDXChannel - Arus dana asing deras mengalir ke Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam sepekan terakhir, dengan saham-saham tambang logam, terutama nikel, menjadi sasaran utama.
Data menunjukkan, investor asing secara keseluruhan membukukan beli bersih (net buy) Rp3,16 triliun sepekan, seiring Indeks Harga...

www.idxchannel.com

@TomMartabak
Tekhnologi tidak diam.. terus berkembang.
Satu Satunya kelebihan baterai Nikel soal densitas sudah dikejar oleh Lithium..
Smelter $HRUM $INCO produksi saja belum, dunia sudah dapat 3 pengganti lebih baik dari Baterai basis Nikel: Lithium, Sodium, Graphene....

@benggo46
Sudah Bagger di $DKFT, average 400..
ya kali Nickel Bull Run 2026 pegang emiten Smelter HPAL: $NCKL $INCO HRUM
pegang Emiten Tambang Murni donk > DKFT, NICL, NICE, IFSH
@Skdewantoro iya bang, nanti kalau proyek terintegrasi itu sudah start produksi, lu beli baterainya buat Jam Dinding di rumah lu..
karena EV seluruh dunia bahkan ketika harga Nikel rendah di 15k saja sudah beralih ke Baterai Lithium, Sodium, dan sebentar lagi Graphene...
Keunggulan Densitas energi yang selama ini digaungkan sebagai keunggulan baterai nikel juga sudah dikejar oleh Lithium...
Drone di China saja pakai baterai Lithium... WTF!
$NCKL $INCO $HRUM

SAHAM : $LIVE
HARGA SAAT INI : 348
1️⃣ TREN & STRUKTUR HARGA (Swing View)
- Tren Utama : Spekulatif rebound
- Timeframe Acuan : Daily (Swing Trader)
- Catatan : Harga bergerak di area bawah setelah tekanan, struktur belum solid dan rawan false rebound
2️⃣ SUPPORT & RESISTANCE
- Support Minor : 335
- Support Kunci : 320
- Resistance 1 : 365
- Resistance 2 : 390
3️⃣ KONDISI VOLUME & BANDAR
- Volume fluktuatif dan cenderung tipis
- Indikasi spekulasi jangka pendek, akumulasi belum rapi
- Selama harga di atas 320 → masih dijaga spekulan
4️⃣ RISK / REWARD (WAJIB)
- Entry Acuan : 348
- Stop Loss : < 310
- Target Swing : 365 – 390
- Risk : Reward : ±1 : 1,4 (SPEKULATIF)
5️⃣ FUNDAMENTAL SINGKAT
- Emiten small cap sektor media/digital dengan fundamental terbatas
- Cocok untuk spekulatif rebound swing cepat, bukan untuk mid-term aman
AYO REQUEST SAHAM https://bit.ly/m/gabunggrup
📌 KESIMPULAN SWING TRADER
- Selama bertahan di atas support kunci 320, peluang technical rebound ke 365–390 masih terbuka
- Risiko tinggi jika breakdown 320 karena potensi pelemahan lanjutan
Analisa ini panduan ya Boss, eksekusi tetap kembali ke gaya trading Boss.
Ayo REQUEST SAHAM di kolom komentar seperti
$INCO $BCIP
,DM “mau” jika ingin dianalisa sahamnya
Support like agar terus update!!!
Follow untuk ikuti flowchart keputusan saham trend
Kalau postingan ini bermanfaat, boleh banget kasih tip lewat tombol bergambar 💲 di bawah ya. Terima kasih banyak 🙏
@BungFaris24 3hari jadi menu bsjp di $INCO mayan buat holiday😂 barang hold masih ada avg 5100, semoga akhir bulan $NICKEL jebol di 20ribuan biar INCO swing 7-8ribuan🤲🚀
@heruekosusanto
$NCKL Glencore > Eropa
$INCO Vale > Kanada
Apa Barat juga kena gocek China buat investasi di Smelter H(oax)PAL ? 🤣
Berita baterai masih aja merajalela di stream Emiten Nikel.. padahal narasi baterai di nikel itu semakin tidak relevan...
time will tell... 🤭
@FCapital itu trader staff di kantor AK BK, ZP pada ketawa-tawa pas trade $INCO wkwk dah kayak main game, saling gocek karena mereka saling paham kalo belum waktunya dinaikin.
@Khairulshaleh
1. NCKL adalah pemilik Smelter HPAL dengan kapasitas terbesar di Indonesia
2. Investasi membangun Smelter HPAL jauh lebih besar dari Smelter RKEF
3. Smelter HPAL $NCKL selalu menjadi iklan utama perusahaan dalam beberapa tahun terakhir > pionir dalam memproduksi bahan baku baterai kendaraan listrik (EV)
MHP (bahan dasar baterai) yang merupakan produk Smelter HPAL akan bertambah supplynya dengan operasionalnya Smelter HPAL $HRUM dan $INCO tahun ini....
Saat dunia sudah berlari menemukan subtitusi Baterai Nikel yang lebih baik dari sisi performa dan biaya > Baterai berbasis Lithium, Sodium, Graphene, Indonesia malah baru selesai bangun Smelter HPAL > buat apa?

$INCO
$INCO: Vale Indonesia mengumumkan bahwa rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) perseroan untuk 2026 telah mendapatkan persetujuan dari Kementerian ESDM pada Kamis (15/1), meski tidak merincinya lebih lanjut. Dengan persetujuan tersebut, perseroan dapat kembali melakukan seluruh kegiatan operasional dan konstruksi di Sorowako, Pomalaa, dan Bahodopi.
https://snips.stockbit.com/snips-terbaru/-bank-dunia-upgrade-proyeksi-pertumbuhan-ekonomi-ri?source=research

Terima besi tua dan jasa bongkar Smelter HPAL $NCKL $INCO $HRUM
Dongeng Baterai Nikel sudah selesai...

Apaa aapaa an broksum harini di $INCO mm saling guyur, apalagi asing saling hadang🤣🤣 NI barangnya banyak juga yaa😂
$INCO..$INDY.$ANTM
Pemerintah Indo hebat,dgn memiliki tambang nikel terbesar didunia membuat system bagus dari hulu ke hilir..sehingga harga nikel dunia awal 2026 ini naik & naik terus..
Hasilnya perusahaan2 nikel di Indo profitnya naik..saham2 Nikel Indo naik n diminati orang2 asing n domestik..kita juga jadi PROFITOR

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Dibuka menguat di level 9.072,296, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan saham, Kamis (15/1/2026) kembali mengukir rekor tertinggi baru dalam sejarah pasar modal atau all time hight (ATH), ditutup menguat 42,822 poin atau naik 0,47% ke 9.075,406 dari penut...

stockwatch.id
Dana asing kembali membanjiri pasar saham Indonesia sejak awal 2026 di tengah ketidakpastian global. Selain itu rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Financial Times Stock Exchange (FTSE) yang akan berlangsung Februari mendatang turut menjadi katalis.
Selama 2–14 Janu...

katadata.co.id