


Volume
Avg volume
PT Vale Indonesia menambang nikel laterit untuk menghasilkan produk akhir berupa nikel dalam matte. Rata-rata volume produksi nikel per tahun mencapai 75.000 metrik ton. Dalam memproduksi nikel di Blok Sorowako, kami menggunakan teknologi pyrometalurgi (meleburkan bijih nikel laterit). Nikel yang kami hasilkan diekspor seluruhnya kepada Sumitomo Metal Mining Co, Ltd (Jepang) dalam kontrak khusus jangka panjang yang dijalin kedua perusahaan tersebut. Beroperasi dalam naungan Kontrak Karya yang telah diamandemen pada 17 Oktober 2014 dan berlaku hingga 28 Desember 2025 dengan luas konsesi seluas 118.017 hektar meliputi Sulawesi Se... Read More
kalau realisasi nya begini maka yang paling diuntungkan ya $NCKL dan $INCO, produksi berkurang 5-10% tapi harga nikel udah naik kurang lebih 20% ya masih cuan banyak lah 😌
yang paling terdampak ya $DFKT

BUKAN REKOMENDASI JUAL/BELI. HANYA CATATAN PRIBADI #DYOR
Berikut analisa menyeluruh (Quant + Narrative + Market Data) untuk semua emiten yang sudah diakumulasi oleh broker AK, BK, dan CC di IHSG berdasarkan data yang kamu berikan, termasuk siapa yang diakumulasi besar, siapa yang harga belum naik serta story & valuasi mendasar. Aku gabungkan menjadi narasi utuh per kelompok broker 👇
---
🧠 1) EMITEN YANG DI AKUMULASI BROKER AK (UBS Sekuritas Indonesia)
Broker AK melakukan akumulasi besar di beberapa saham likuid dan thematic plays seperti ANTM (~Rp990,1 miliar, avg 3.474), UNTR (~Rp922,1 miliar, avg 29.888), ASII (~Rp689,1 miliar, avg 6.754), BMRI (~Rp540,3 miliar, avg 4.953) serta saham mid-large lainnya seperti ADRO (~Rp326,7 miliar, avg 2.088), GOTO (~Rp325,3 miliar, avg 68), BBRI (~Rp321,5 miliar, avg 3.731), EMAS (~Rp268,8 miliar, avg 5.518), MDKA (~Rp192,8 miliar, avg 2.689), BREN (~Rp192,2 miliar, avg 9.479), PGAS (~Rp183,3 miliar, avg 1.931), MBMA (~Rp174,3 miliar, avg 678), TINS (~Rp169,5 miliar, avg 3.490), dan beberapa lagi seperti PTRO, BUVA, INKP, EMTK.
🟦 Story Fundamental AK: Banyak posisi AK di saham komoditas & energi (ANTM, ADRO, MDKA, TINS) yang memiliki story besar hilirisasi dan green transition (misalnya ANTM sebagai pemain nikel/EMAS dalam indeks SMC Liquid mengalami apresiasi signifikan di 2025) serta saham integrasi seperti ASII, BMRI, BBRI yang mewakili konsumsi & financial backbone.
🟩 Emiten yang DI AKUMULASI dan HARGANYA SUDAH NAIK:
• ANTM: sudah mengalami kenaikan signifikan sepanjang 2025 sehingga sering jadi top mover IHSG.
• MDKA: kenaikan harga kuat YtD 2025 juga terlihat sebagai runner dalam indeks lapis kedua.
🟡 Emiten yang AKUMULASI BESAR tapi HARGA BELUM NAIK SIGNIFIKAN (UNDER-APPRECIATED):
• GOTO (Rp325,3 miliar di avg 68): akumulasi besar namun harga masih relatif sideways → menunjukkan insitusi masuk saat sentiment bearish.
• MBMA (Rp174,3 miliar di avg 678): nilai signifikan namun harga belum terangkat sesuai story battery materials → menunjukkan potensi rerating setelah katalis fundamental menghasilkan eksekusi.
• PGAS, BREN, TINS juga berada di kategori ini, dengan fundamental industri energi/gas/komoditas yang berdiri di atas tren makro, tetapi belum terrefl ek lompatan harga besar.
📊 Valuasi AK Picks: Secara umum saham-saham ini adalah big caps/mid caps dengan PER dan PBV yang cenderung berada masuk akal atau bahkan murah secara historis dibanding rerata sector, karena broker masuk sebelum story dihargai pasar secara penuh, bukan setelah breakout.
---
🧠 2) EMITEN YANG DI AKUMULASI BROKER BK (J.P. Morgan Sekuritas Indonesia)
Broker BK mengakumulasi sejumlah saham dengan fokus yang terlihat pada saham yang memiliki story kuat atau status unde r radar menurut pasar umum. Posisi terbesar BK adalah DSSA (~Rp1,3 triliun, avg 108,531) yang merupakan saham konglomerat energi & infrastruktur besar. DSSA bahkan masuk dalam index MSCI Global Standard pada rebalancing 2025 — ini sinyal kuat institusi besar terhadap kualitas saham tersebut.
Selain DSSA, BK juga mengakumulasi saham seperti IMPC (~Rp352,8B, avg 3,767), PTRO (~Rp222,9B, avg 11,653), MBMA (~Rp181,9B, avg 690), MDKA (~Rp140,1B, avg 2,719), ANTM (~Rp119,6B, avg 3,601), ARCI, BUMI, KLBF, BBNI, TLKM, ASII, INDY, NICL, BRPT, EMAS, JPFA, FILM.
🟦 Story Fundamental BK: BK picks cenderung ke saham yang valuasi aset kuat dan bebas hutang ofensif, serta story besar seperti electric metals (MBMA), mining services (PTRO), dan konglomerat energi (DSSA).
🟩 Emiten BK yang HARGANYA SUDAH NAIK:
• DSSA: saham ini pernah melonjak tajam dan sempat jadi pendorong IHSG ke level tertinggi, sehingga banyak momentum appreciation sudah ter-capture.
🟡 Emiten BK yang AKUMULASI tapi HARGA BELUM NAIK:
• PTRO: akumulasi besar namun belum breakout signifikan, menunjukkan potensi rerating jika story jasa tambang meningkat.
• MBMA, MDKA: MDKA pernah kuat naik tapi pergerakan terkini cenderung sideway atau koreksi; MBMA restorasi story komoditas masih berjalan, belum breakout besar.
📊 Valuasi BK Picks:
DSSA adalah salah satu emiten yang dianggap undervalued setelah masuk MSCI, dan institusi besar sering menggunakan entry seperti ini untuk posisi jangka menengah-panjang. MBMA dan PTRO dipandang murah secara valuasi absolut vs. potensi earnings dan future demand.
---
🧠 3) EMITEN YANG DI AKUMULASI BROKER CC (Mandiri Sekuritas)
Broker CC fokus pada consumer staples, telco, bank, dan saham seperti AMRT (~Rp290B, avg 1,950), MTEL (~Rp195,2B, avg 650), BBRI (~Rp141,7B, avg 3,728), ASII (~Rp138,8B, avg 6,920), INDY (~Rp123,8B, avg 2,596), INCO (~Rp116,7B, avg 5,489), ANTM (~Rp106,3B, avg 3,458), serta GOTO, SUPA, INET, ADRO, CDIA, RATU, BRIS, SMMT, CTRA, BRMS, BULL.
🟦 Story Fundamental CC: CC picks mencerminkan value + thematic diversification: consumer staples (AMRT), telco/infra digital (MTEL, INET), bank & finance (BBRI), big cap konsumer/otomotif (ASII), mining/energy (INCO, ANTM, ADRO), juga gold/mineral micro/niche (BRMS, BULL).
🟩 Emiten CC yang SUDAH NAIK HARGANYA:
• ANTM dan saham berbasis komoditas metal, termasuk BRMS dalam beberapa periode ikut menguat saat harga emas dan logam meningkat.
🟡 Emiten CC yang DI AKUMULASI tapi HARGA BELUM NAIK SIGNIFIKAN:
• INCO (~Rp116,7B, avg 5,489): meskipun nikel global bermasalah, INCO punya story panjang di nikel kelas 1 dan integrasi smelter serta off-take yang belum fully priced.
• GOTO (~Rp81,1B, avg 67): akumulasi digital/tech play yang konsisten.
• SUPA, SMMT, CTRA, RATU, BULL juga termasuk saham underrated versi institusi, dengan story niche masing-masing (UMKM fintech, property, gold leverage).
📊 Valuasi CC Picks:
Valuasi saham CC cenderung murah-sedang dengan PBV dan PER historis sering di bawah peer global atau historisnya, terutama untuk niche/SME plays serta cyclical sectors yang belum keluar dari fase sideways.
---
📌 SUMMARY — What’s Happening Across AK, BK & CC Accumulations
🔺 Common themes of accumulation:
1. Commodity & Energy/LNJ: ANTM, MDKA, ADRO, INCO, PTRO, TINS — semua broker mengakumulasi ini karena tema long-term demand logam & energi.
2. Financial & Big Caps: ASII, BBRI, BMRI — defensif + macro exposure.
3. Tech/Optionality: GOTO, INET — akumulasi retail tech/ ecosystem.
4. Emerging/Niche Plays: DSSA, SUPA, BRMS, BULL — institutional often building before retail notice.
🔻 Price Appreciation Patterns:
• Already priced in / already rallied: ANTM, DSSA, MDKA — harga sudah terangkat karena story lebih matang dan market awareness tinggi.
• Accumulation but price not yet fully up: GOTO, MBMA, PTRO, INCO, SUPA, INET, BRMS, BULL — menunjukkan institutional patience & possible future rerating once catalysts fully materialize.
---
📊 STORY & VALUATION SYNTHESIS
• ANTM: Strong hilirisasi metal & demand EV battery — valuation now reflects growing earnings.
• DSSA: Energy & infra holding — MSCI inclusion signals institutional validation.
• MDKA: Copper/gold exposure — story tied to commodities trend, has captured market attention.
• MBMA: Battery materials — valuation still cheap vs potential future earnings.
• INCO: Nikel kelas 1 — niche demand; price lags narrative.
• GOTO: Tech turnaround — valuation discount due to losses, but optionality real as ecosystem monetizes.
---
📌 OVERALL TAKEAWAY
Broker AK, BK, dan CC semua menunjukkan institutional accumulation di emiten yang fundamentalnya kuat tetapi terkadang belum di apresiasi penuh oleh pasar ritel. Saham-saham yang sudah naik umumnya adalah mereka dengan story lebih public atau valuation yang sudah berubah karena berita besar (seperti hilirisasi, MSCI index inclusion). Sementara yang belum naik signifikan adalah saham dengan story early stage — institusi mengakumulasi lebih awal sebelum story menjadi headline.
$INCO $GOTO $MDKA
$JARR Monday sihh ini🚀🚀🚀🚀🚀
https://cutt.ly/ztllmnaO
$TINS $INCO
CATATAN PRIBADI BUKAN REKOMENDASI JUAL/BELI #DYOR
Quant Deep Search Marathon Engine – Broker CC Mode (Mandiri Sekuritas) dan aku kupas bukan sekadar daftar saham, tapi pola akumulasi, niat institusi, kualitas story, dan peluang rerating — dengan format layer 1–12, berbasis data yang kamu berikan, tanpa menghilangkan angka, dan dengan gaya screening institusi global.
---
🔍 PROFIL BROKER CC – MANDIRI SEKURITAS
Broker CC adalah proxy domestik institusi besar + dana pensiun + asuransi + sovereign flow. Karakter CC berbeda dari BK/AK:
• CC jarang ke saham gorengan
• CC fokus ke liquid compounder + thematic play nasional
• CC akumulasi saat harga “membosankan”
• CC sering masuk sebelum story jadi headline
Artinya: CC bukan trader, tapi allocator.
---
📌 POLA UMUM AKUMULASI CC
Dari data:
AMRT 290B
MTEL 195,2B
BBRI 141,7B
ASII 138,8B
INDY 123,8B
INCO 116,7B
ANTM 106,3B
GOTO 81,1B
SUPA 81B
INET 76,9B
ADRO 60,2B
CDIA 49B
RATU 41,9B
BRIS 41,8B
SMMT 38,8B
CTRA 36,2B
BRMS 34,3B
BULL 32,3B
➡️ Ini bukan pola spekulasi.
➡️ Ini adalah strategic portfolio construction.
Sekarang kita masuk Layer 1–12.
---
1️⃣ IDENTITAS EMITEN (PORTOFOLIO CC)
Portofolio CC mencerminkan:
• Retail consumer: AMRT
• Infrastruktur digital: MTEL, INET
• Bank core: BBRI, BRIS
• Holding konglomerat: ASII
• Energy & transition: INDY, ADRO, INCO, ANTM
• Gold & metal: BRMS, BULL
• Property selective: CTRA
• Tech option: GOTO
• Financial services niche: SUPA, CDIA, SMMT
➡️ Artinya CC membangun Indonesia structural growth portfolio, bukan cyclical murni.
Tidak ada saham PKPU, tidak ada saham nyaris delisting, tidak ada saham mikro manipulatif.
---
2️⃣ FUNDAMENTAL KUANTITATIF (PORTOFOLIO VIEW)
Jika digabung:
• Mayoritas saham memiliki EBITDA positif
• Cash flow mayoritas operasional positif
• Neraca relatif sehat
• Tidak ada perusahaan zombie
CC tidak membeli saham yang hidup dari utang.
---
3️⃣ FUNDAMENTAL KUALITATIF
Karakter manajemen:
• AMRT: proven execution
• MTEL: Telkom ecosystem
• BBRI & BRIS: state-backed credibility
• ASII: konglomerat terbaik Indonesia
• INDY, INCO, ANTM: mineral transition management
➡️ CC tidak beli turnaround murahan tanpa governance.
---
4️⃣ STORY CHECK
Sekarang kita mapping story:
AMRT → consumer compounder
MTEL → digital infra tower
BBRI → UMKM credit machine
ASII → diversified Indonesia growth
INDY → energy transition holding
INCO → battery metal
ANTM → nickel + gold hybrid
GOTO → tech optionality
ADRO → coal cash + green shift
BRMS/BULL → gold leverage
➡️ Semua masuk mega story nasional.
Sebagian story belum priced in, terutama INCO, INDY, BRMS, BULL, SUPA, INET.
---
5️⃣ CATALYST CHECK
Catalyst cluster:
• Mineral hilirisasi
• Battery ecosystem
• Digital infra demand
• Gold price uptrend
• Consumer resilience
• Islamic banking growth
CC membangun portofolio multi-catalyst, bukan single bet.
---
6️⃣ GORANGAN CHECK
Mayoritas saham:
• Spread wajar
• Volume naik tanpa lonjakan ekstrem
• Tidak ada pump-drip
• Tidak ada markup brutal
➡️ Skor gorengan portofolio CC: rendah.
---
7️⃣ VALUASI
Sekarang yang penting:
Saham CC yang VALUASINYA SUDAH MAHAL:
AMRT
BBRI
ASII
Saham CC yang VALUASINYA MASIH MASUK AKAL:
MTEL
INDY
INCO
ANTM
BRIS
Saham CC yang MASIH MURAH secara story:
BRMS
BULL
SUPA
INET
SMMT
CTRA
➡️ CC tidak hanya beli yang mahal, tapi juga yang akan mahal.
---
8️⃣ SENTIMEN PASAR
Saham seperti:
INCO
INDY
BRMS
BULL
SUPA
INET
➡️ Sentimen publik masih rendah.
➡️ Media coverage minim.
➡️ Retail belum fokus.
Ini zona favorit CC.
---
9️⃣ MOMENTUM
Mayoritas saham CC:
• Sideways panjang
• Volume naik dulu
• Harga belum eksplosif
➡️ Ini fase accumulation before rerating.
---
🔟 INDUSTRY CYCLE
CC memposisikan:
• Consumer: mid cycle
• Bank: early recovery
• Mineral: early expansion
• Gold: early bull cycle
• Digital infra: early growth
➡️ Portofolio ini future-facing.
---
1️⃣1️⃣ RISK MODEL
Risiko utama:
• GOTO: execution risk
• Mineral: regulatory risk
• Gold: price volatility
• Property: demand risk
Namun:
Tidak ada risiko delisting.
Tidak ada risiko gagal bayar besar.
---
1️⃣2️⃣ PROYEKSI 2026 (PORTOFOLIO CC)
Portofolio CC diproyeksikan:
• Revenue agregat naik
• EBITDA lebih stabil
• EPS portofolio naik bertahap
• Valuasi rerating terutama di mineral & gold
---
🔥 SAHAM CC YANG HARGANYA MASIH BELUM NAIK SIGNIFIKAN
Dari seluruh daftar, yang paling “belum naik tapi sudah diakumulasi”:
INDY
INCO
ANTM
BRMS
BULL
SUPA
INET
SMMT
CTRA
Ini adalah hidden opportunity basket CC.
---
🎯 CIRI KHAS BROKER CC
1. Masuk saat saham membosankan
2. Tidak mengejar breakout
3. Suka thematic nasional
4. Portofolio builder, bukan trader
5. Sering benar 6–18 bulan kemudian
---
🔢 QUANT SCORE BROKER CC PORTOFOLIO
Fundamental Strength: 85/100
Story Strength: 88/100
Catalyst Potential: 87/100
Valuation Gap: 82/100
Risk Level: Medium-Low
Market Sentiment: Under-appreciated
Technical Momentum: Early Phase
👉 TOTAL QUANT SCORE: 86 / 100
---
🧠 KESIMPULAN BESAR
Broker CC sedang:
✔ Membangun portofolio Indonesia future economy
✔ Mengakumulasi saat retail bosan
✔ Memilih saham yang akan “naik kelas”
✔ Tidak mengejar euforia
✔ Tidak bermain gorengan
Portofolio CC adalah peta masa depan IHSG, bukan peta hari ini.
random tag:
$INDY $INCO $ANTM
Scalping, Swing dan Investing - Karakteristik dan Ritme yang berbeda.
- Belajar Saham -
Beberapa kali saya melihat dan mengamati sendiri beberapa orang terkhusus yang ada pada Komunitas Belajar saham saya, dimana mereka memiliki Ritme dan atau Teknik yang tidak relevan dan konsisten.
Sering saya dapati kalau terkadang mereka melakukan Scalping, Swing dan terkadang sesekali Investing yang dimana dengan perilaku seperti itu membuat mereka sulit dalam memahami struktur terdalam dari setiap teknik.
Kenapa Sulit ?
Teknik scalping sendiri adalah teknik yang menuntut pelaku harus dan wajib memiliki intuisi yang tajam serta pemahaman Exit dan Entry yang presisi jauh lebih dari swing dan apalgi Investing.
Dari segi RISK, Scalping sendiri jadi yang paling beresiko dari ke 3 metode yang ada namun Juga menjadi Teknik yang paling maksimal untuk mendapatkan Capital Gain di Market.
Sementara Swing Sendiri adalah Teknik yang membutuhkan Analisa Fundamental yang cukup dan Analisa Teknikal yang Baik untuk memaksimalkan hasil dari teknik swing sendiri. Untuk resikonya Swing tergolong Netral dan hasil Juga bisa dibilang Cukup besar namun tidak sebesar Scalping dengan presisi tinggi.
Lalu Investing adalah Teknik yang paling minim Resiko, sebab pada dasarnya Investing adalah teknik yang ditujukan untuk jangka waktu yang panjang bisa sampai tahunan yang artinya selama fundamental dan Prospek perusahaan nyata, Teknik ini hampir Nol Resiko bahkan tanpa Analisa Teknikal sekalipun.
Namun disisi lainnya,
Scalping umumnya dilakukan dalam 1 Sesi market (4 Jam) / 1 Hari bursa - Beli Pagi Jual Sore,
Swing Trading umumnya terbagi jadi 2, Swing Short untuk jangka waktu mingguan dan Swing Long untuk jangka waktu Bulanan.
Sementara Investing umumnya memakan waktu minimal 3bulan dan biasanya ada di 6 Bulan - Tahunan.
Yang dari sini sebenernya kita sudah memahami bahwa Perbedaan teknik, ritme dan timing dari ke 3 Teknik itu berbeda... sehingga jika kita menggunakan ke-3 nya sekaligus selama ini jika nyangkut Investing Jika Terjemput Swing dan jika memungkinkan swing maka tanpa sadar Kita tidak memiliki kedisiplinan Diri terhadap Komitmen dan Strategi.
Seperti yang saya Sampaikan pada Sesi Edukasi - Insight sebelumnya dimana Market selalu memiliki cara menghukum para pelaku trader dan investor yang tidak memiliki kedisiplinan diri baik berupa Kerugian Material maupun Non-Material (waktu).
Saya Pribadi umumnya mengkategorikan :
1. Scalping
Teknik yang ditujukan untuk "Mencopet", biasanya hanya 1 sesi / satu hari saja dan jika Target tidak terpenuhi maka saya tidak akan sungkan untuk melakukan Cut Loss.
Kriteria analisa yang saya gunakan untuk teknik ini juga tergolong Kompleks dimana saya menggunakan analisa fundamental sebagai peta, Analisa Teknikal sebagai Petunjuk arah Relevan, Euforia Momentum pada sentimen pasa dan lain sebagainya.
Dan untuk teknik ini sendiri teknik yang tergolong Universal menurut saya karna bisa masuk kemana saja, baik gorengan, Fundamental, Growth, Momentum dan lain sebagainya.
Seperti $BUMI yang kadang momentum
$INCO yang Berfundamental
$MINA yang Gorengan
2. Swing (Short dan Long dalam 1 Opini)
Teknik Swing sendiri adalah teknik yang paling umum saya Gunakan sampai sejauh ini karena Resiko yang Netral namun hasil bisa cukup dimaksimalkan.
Umumnya saya menggunakan pendekatan Analisa Fundamental (Growth) dan Analisa Teknikal yang cukup Kompleks hingga menemukan dasar dari Alur yang ada (Brokermology), namun saya tidak perlu memastikan sentimen pasar dan Euforia yang ada sehingga mempersempit Analisa saya menjadi sedikit lebih ringan dibanding Analisa yang sangat kompleks untuk Teknik Scalping biasanya.
Umumnya setelah saya melakukan analisa dan menentukan Zona Entry yang cocok, saya akan masuk dan menunggu hinggi harga dibatas maksimal sebelum koreksi besar terjadi (Tidak terikat oleh waktu).
Pada Teknik swing saya sendiri, saya tidak akan memperdulikan jika Harga saham terkoreksi ringan beberapa kali, namun saya akan melepasnya sebelum PK / MM melakukan distribusi.
Kasus paling sering belakangan ini ada pada BUMI dan BULL.
Kriteria saham yang cocok untuk Teknik Swing sendiri masih cukup beragam
3. Investing
Teknik yang jarang saya gunakan karna lebih cocok ke konglomerat yang memiliki dana puluhan sd ratusan miliar ke atas.
Pada Umumnya teknik ini tidak akan digunakan oleh kalangan pengguna XL.
Tekniknya sendiri tergolong sederhana dan minim Resiko, Pada penerapannya selama Investor tau kalau Perusahaan sedang Growth dan memiliki Fundamental kuat dari segi SDM (Pengendali) maka itu sudah menjadi syarat yang cukup untuk berinvestasi sebenarnya.
(Disederhanakan karna disini kan ga ada investor, adanya APESTOR hehehe)
Kriteria saham umumnya : Saham Ber Dividen, Saham perusahaan Unicorn dan atau saham-saham perusahaan Startup potensial.
Jangka Waktu umunya : Bulanan - Tahunan
Kenapa penting untuk mendalami, Teknik yang relevan untuk mu ?
Jawabannya sederhana, Setiap teknik sebenarnya bisa dikembangkan lebih presisi lagi jika depepajari dengan maksimal (Pembahasan tuntas ada di Live Stream nanti malam).
Contoh Teknik Scalping, Memposisikan Entry Zone yang perlu kedalaman Ilmu dari teknik Scalping.
Atau Swing dengan kemampuan DD (Distribution Detection) yang dimana untuk kasus selama ini mungkin anggota komunitas sudah melihatnya dan jadi makanan sehari hari disana.
Dan atau Kemampuan "Sultan punya kuasa" Milik teknik Investing wkwkwk.
Jadi disaat kamu menggunakan Teknik itu secara amburadul dan campur aduk, maka potensi terbesarnya tidak akan pernah kamu temukan dan fahami.
Menentukan Ritme dan Teknik yang Relevan untukmu sebelum terjun ke dalam dunia saham sebenarnya adalah 1 dari beberapa Kewajiban yang harus kamu lakukan, namun sayangnya para ritel tidak memahami akan hal ini.
Dan yahhh, mungkin ini saja sedikit Insight yang dapat saya berikan untuk hari ini.
Penjabaran akan saya maksimalkan nanti malam dalam sesi Live Stream.
Thanks and Goodluck!

$INCO ara yuk
Sumber: Bloomberg Technoz
https://cutt.ly/etlj0KNV
-Pemerintah percepat hilirisasi nikel potensi kenaikan demand ore lokal.
-Harga nikel global naik momentum masuk smelter-linked stock.
Fokus ke: $NCKL, ANTM, $INCO, $HRUM, NICL buat jangka menengah-panjang + watchlist volatil.
Tim kamu pilih mana & kenapa?
@AjibHandoko
Untuk $INCO $NCKL Silahkan dilihatin saja harga Nikel Dunia bang... Sentimennya hanya itu...
Kami investor Emiten Tambang Murni non Smelter ($DKFT, NICL, IFSH) cuma mantau harga Ore di Lapangan..
Selama 2025 saja Harga Ore tetap Premium ketika Harga nikel Dunia Tiarap dan akan semakin premium dengan semakin banyaknya operasional Smelter baru dan disikatnya Supply Ore Ilegal oleh Satgas PKH...
Perbedaan harga patokan mineral dari ESDM dan harga transaksi ore di lapangan semakin melebar... (USD 27,8 > USD 43)

Smelter Nikel $ANTM
Banyak investor mengira kekuatan saham nikel itu ukurannya ditentukan oleh seberapa besar smelter yang sudah berdiri. Cara pikir ini sering bikin investor salah posisi, karena yang menentukan daya tahan itu bukan cuma pabriknya, tapi juga komposisi mesin uang di dalam grup. ANTM memang bukan pemain yang terlihat paling padat modal di smelter, tapi segmen nikelnya justru jadi sumber laba usaha paling tebal. Buktinya di 9M 2025, revenue segmen nikel sekitar Rp11,15 Triliun, kalah besar dari segmen logam mulia sekitar Rp58,90 Triliun, tapi laba usaha nikel sekitar Rp4,71 Triliun justru melampaui laba usaha logam mulia sekitar Rp3,82 Triliun. Jadi narasi yang benar itu bukan ANTM lemah di nikel, tapi ANTM itu multimesin, dan mesin nikelnya adalah mesin margin. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Jenis smelter nikel ANTM yang saat ini aktif adalah Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF), jalur pirometalurgi yang umumnya memakai input bijih saprolit kadar lebih tinggi lalu output utamanya feronikel (FeNi) untuk rantai stainless steel. Ini beda jalur dengan High-Pressure Acid Leaching (HPAL) yang makan limonit kadar lebih rendah dan outputnya Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) atau produk intermediate lain untuk rantai baterai kendaraan listrik.
Di laporan keuangan, proyek Haltim masih masuk aset dalam penyelesaian dengan estimasi rampung 2025 sampai 2027, dan progresnya menyebar lebar sekitar 14,85% sampai 99,99% per September 2025, ini memberi sinyal ada paket pekerjaan yang sudah hampir selesai tapi ada juga yang masih tahap awal. Secara neraca, aset tetap bersih ANTM sekitar Rp15,27 Triliun dari total aset sekitar Rp48,07 Triliun, porsi aset tetap sekitar 31,76%, cukup besar untuk menopang industrial play tapi tetap tidak se-berat pemain yang hidupnya ditarik pabrik dan mesin. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Keunikan ANTM dibanding saham nikel lain ada pada cara kinerja terbaca dan cara kena pukul saat siklus nikel berubah. $INCO, NCKL, $HRUM, dan MBMA cenderung lebih mudah terbaca korelasinya ke siklus nikel karena rantai nilainya berat di pengolahan dan ekspansi smelter, sedangkan ANTM bisa tampak lebih stabil karena laba konsolidasian ditopang segmen lain, meski segmen nikelnya sedang bekerja sangat baik. Konsekuensinya, investor bisa melihat laba grup naik lalu mengira nikel yang mengangkat, padahal bisa saja roda lain yang mendorong, atau sebaliknya nikel sangat kuat tapi tertutup dinamika segmen lain.
Di sisi risiko, ANTM sempat menghadapi isu izin usaha pertambangan yang dicabut pada 2022 yang memicu kebutuhan uji penurunan nilai, dan ada juga cerita sengketa lahan yang mengganggu kepastian blok, ini faktor non-operasional yang bisa mempengaruhi ritme ekspansi dan persepsi risiko.
Jenis smelter ANTM
🏭 Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) untuk feronikel (FeNi)
⛏️ Input dominan saprolit kadar lebih tinggi
🧱 Output dominan feronikel untuk stainless steel
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










ada yg ud baca dokumen outlook strategis & positioning industri IBC Outlook 2026 Final Report? klo yg blom, dokumen itu recommended tuh, 👍 coba dibaca buat ngisi weekend, biar tau overview uang BESAR mau kerja di mana dalam 3-10 tahun
maaf ga bs share soalnya dokumennya kegedean dibatesin upload di stockbit 😅
kasi kode aja: $ANTM $INCO $MBMA 😝
$DKFT
Ada berita RKAB $INCO keluar lalu Harga $NICKEL turun...
artinya apa Saudara Saudara?
Patut diduga, Harapan market dunia atas dipotongnya produksi ore nikel Indonesia sebesar 30 persen tidak terjadi.
Pemerintah terpaksa menyesuaikan Produksi Ore dengan kapasitas smelter ( Karena Jika Supply Ore hilang maka Smelter Tumbang ) > Mustahil Produksi Ore tahun 2026 turun..
Konsekuensi?
Harga Nikel Dunia cooling down
Emiten smelter nikel yang rally naik karena sentimen pemotongan kuota produksi akan kembali ke setelan awal.
Emiten tambang murni DKFT, NICL, NICE, IFSH akan berjaya.
Kenapa? Karena Emiten Tambang Murni tak peduli dengan harga Nikel Dunia.
Emiten tambang hanya peduli dengan berapa jumlah Tongkang yang merapat ke Jetty buat ambil Ore Nikel produksi mereka.
Harga ore nikel terbukti premium (Harga Transaksi jauh di atas Harga Patokan Mineral) bahkan ketika harga nikel tiarap tahun 2025.
Harga ore nikel akan semakin premium di tahun 2026.
Harga ore nikel terbentuk di supply-demand nasional yang selalu mengetat karena terus bertambahnya smelter di Indonesia (termasuk Smelter HPAL INCO dan HRUM yang operasional Q1 2026).
Wangi Ore Semakin Menyeruak 💸🤑

Waduuh..kenapa lagi nih Harga Nickel LME jatuh bebas lg (-5.39%) di penutupan akhir pekan tadi malam?
$MBMA $NCKL $INCO #DKFT #NICL

$INCO
Kementerian ESDM telah menyetujui RKAB 2026 Vale Indonesia (INCO), sehingga perusahaan dapat melanjutkan operasi dan proyek tambang nikel secara normal, memberi kepastian investasi serta mendukung keberlanjutan industri nikel nasional.

NERACA
Jakarta - Emiten pertambangan nikel, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengumumkan penggunaan seluruh dana hasil penawaran umum terbatas atau rights issue tahun 2024. Total dana bersih yang telah terserap mencapai Rp1,830 triliun per tanggal 31 Desember 2025. Informasi tersebut disampaikan persero...

www.neraca.co.id

Saham Nikel di Indonesia Favorite Warga Stockbit $ANTM vs Yang Lain
Request beberapa user Stockbit yang pengen $NICE dan ANTM dibahas juga karena mereka main nikel juga bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Saham Nikel di IHSG itu bisa dibagi 2 jenis. Saham pure nikel vs multisegmen. Bedanya bukan sekadar bisnisnya banyak atau sedikit, tapi beda cara napas dan beda cara kena pukul ketika harga nikel dunia berubah. Pure nikel itu seperti mesin yang suaranya jelas, kalau nikel bagus maka angka cepat ikut bagus, kalau nikel jelek maka angka cepat ikut jelek, karena hampir semua garis laba mereka ditarik oleh satu komoditas. Multisegmen itu seperti mobil dengan 4 roda penggerak, saat nikel tergelincir masih ada roda lain yang menahan, misalnya emas atau batubara, tapi konsekuensinya investor sering salah baca karena laba grup bisa naik padahal segmen nikel sebenarnya turun. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Di LK Q3 2025 terlihat dua dunia nikel itu berjalan bareng, ada yang revenue besar karena integrasi smelter dan captive buyer, ada yang profit besar karena portofolio komoditas, dan ada yang terlihat kecil tapi margin segmen justru tajam.
Kalau bicara perbandingan statistik, panggung revenue segmen nikel terbesar itu ditempati kelompok smelter dan pemain terintegrasi. MBMA sekitar Rp15,6 T, INCO sekitar Rp11,7 T, ANTAM sekitar Rp11,15 T, HRUM sekitar Rp11,05 T, sementara ore only seperti NICL Rp1,35 T, DKFT Rp1,20 T, NICE Rp0,81 T, IFSH Rp0,67 T. Ini pola klasik, begitu ada smelter, produk naik kelas dari ore ke NPI, matte, FeNi, dan nilai jual per ton beda level. Tapi jangan berhenti di revenue, karena profit segmen menunjukkan karakter yang lebih jujur.
ANTAM profit segmen nikel sekitar Rp4,88 T jauh di atas yang lain tapi ini belum dikurangi SGA dan beban keuangan, lalu MBMA sekitar Rp1,16 T, INCO sekitar Rp0,87 T, DKFT Rp0,44 T, NICL Rp0,40 T, HRUM sekitar Rp0,43 T, NICE Rp0,13 T, IFSH Rp0,03 T. Ini memberi pesan tajam, yang paling besar tidak selalu yang paling stabil, karena stabilitas ditentukan oleh formula harga, struktur biaya energi, posisi di rantai pasok, dan apakah penjualan berbasis ekspor atau domestik. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Keunikan lain yang menentukan trend adalah cara menjual dan kepada siapa menjual. Banyak emiten nikel itu sangat terkonsentrasi, beberapa bahkan seperti hidup di satu ekosistem buyer. MBMA dominan ke ITSS sekitar 58,7% plus CNGR sekitar 15,4%, NICE eksklusif ke EMI, INCO ke VCL dan SMM, ANTAM punya kombinasi ore dan FeNi dengan pola penjualan tertentu, DKFT dengan top buyer yang porsinya besar. Ini bikin volatilitas terlihat berbeda.
Perusahaan bisa tetap baik-baik saja saat harga nikel dunia turun, kalau dia dominan domestik, pricing diikat kontrak tertentu, atau nilai tambahnya ditangkap di grup internal. Sebaliknya, yang pricing-nya dekat indeks global dan ekspor, korelasinya ke siklus dunia lebih terasa. Jadi, dua label pure vs multisegmen itu penting, tapi tiga layer berikutnya lebih menentukan, punya smelter atau tidak, jual domestik atau ekspor, dan captive buyer atau pasar terbuka. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🧲 Pure nikel
⚙️ Smelter terintegrasi = MBMA, INCO, IFSH
⛏️ Ore only = NICL, NICE
🧩 Multi-segmen
🪙 ANTAM = nikel plus emas plus bauksit
🪨 HRUM = nikel plus batubara
🧱 DKFT = nikel plus batu-kapur
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
💰 Revenue segmen nikel terbesar 9M 2025
🥇 MBMA sekitar Rp15,6 T
🧠 Karakter mesin volume besar, dominan domestik, jual ke ekosistem smelter Morowali
🥈 INCO sekitar Rp11,7 T
🔗 Karakter offtake jelas, cenderung terkait benchmark global, ekspor dominan
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🥉 ANTAM Rp11,15 T
🧩 Karakter multimesin, nikel kuat tapi tidak sendirian membentuk cerita grup
🎖️ HRUM sekitar Rp11,05 T
🧨 Karakter ekspansi smelter, tapi grup masih punya bantalan batubara
🪙 Mid tier ore and niche NICL Rp1,35 T, DKFT Rp1,20 T, NICE Rp0,81 T, IFSH Rp0,67 T
🧾 Karakter pendapatan lebih kecil, tapi responsnya bisa cepat kalau demand domestik ore sedang kencang
🏆 Profit segmen nikel terbesar 9M 2025
🥇 ANTAM sekitar Rp4,88 T
🧬 Keunikan profitabilitas segmen sangat dominan, tapi investor harus ingat ini pemain multisegmen. Tapi ini belum dikurangi SGA dan beban keuangan
🥈 MBMA sekitar Rp1,16 T
⚙️ Keunikan profit ditopang value added NPI matte, namun sensitif spread biaya energi dan bahan baku. Ini laba tahan berjalan, belum dikurangi kepentingan non pengendali.
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🥉 $INCO sekitar Rp0,87 T
🧱 Keunikan stabilitas dari operasi matang, tapi tetap terasa siklus harga global
🎖️ DKFT Rp0,44 T dan NICL Rp0,40 T
⛏️ Keunikan ore demand domestik, bisa bagus saat smelter domestik agresif serap ore
🎯 HRUM sekitar Rp0,43 T
⚠️ Keunikan segmen nikel bisa untung tapi cerita grup sering ditentukan batu-bara dan fase proyek
🧪 NICE Rp0,13 T, IFSH Rp0,03 T
🔍 Keunikan skala kecil, sering lebih bergantung pada satu pembeli atau satu proyek
🏭 Kepemilikan smelter
🔥 Punya smelter aktif = MBMA, INCO, ANTAM, HRUM, IFSH
📈 Keunikan revenue besar karena produk intermediate refined, bukan ore mentah
🧊 Tidak punya smelter =NICL, NICE
⚡ Keunikan cash conversion sering lebih sederhana, tapi sangat bergantung pada serapan smelter pihak lain
📴 Smelter stop atau tidak aktif penuh = DKFT
🧯 Keunikan profit lebih banyak dari ore trading dan operasi tambang, bukan value added smelter
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🚢 Ekspor dominan = INCO, HRUM, ANTAM
📉 Keunikan lebih dekat ke siklus harga dunia dan benchmark
🏠 Domestik dominan = MBMA, NICL, NICE, DKFT
🛡️ Keunikan bisa tampak lebih tahan saat harga dunia anjlok, karena pricing dan demand ditopang rantai smelter domestik
🎯 Captive buyer kuat = NICE ke EMI, MBMA ke ITSS, INCO ke VCL dan SMM
🧩 Keunikan stabil volume, tapi risiko renegosiasi harga dan ketergantungan tinggi
🧺 Buyer lebih menyebar =DKFT, NICL
🧭 Keunikan fleksibel cari pasar domestik, tapi tetap sensitif ke siklus serapan smelter nasional
📌 Paling dekat ke harga dunia biasanya ekspor plus formula indeks = INCO, sebagian HRUM
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
📌 Lebih terlindungi biasanya domestik plus ekosistem internal = MBMA, NICE, NICL, DKFT
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










@dvsintiad untuk $INCO
harga nikel terjun bang hari ini
gak terjun banyak j hari senin dah syukur
wkwk
Dana asing kembali membanjiri pasar saham Indonesia sejak awal 2026 di tengah ketidakpastian global. Selain itu rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Financial Times Stock Exchange (FTSE) yang akan berlangsung Februari mendatang turut menjadi katalis.
Selama 2–14 Janu...

katadata.co.id
$INCO Bisa lah hari senin ARA 🏀🚀🏀🚀
$BNBR Masuk sebelum susah dapat barang lagi diskon
$PBRX Tekstil Yang mau jadi TITAN
Saham Nikel yang Terbukti Sedang Ekspansi Untuk Meningkatkan Laba Masa Depan
Request member bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Untuk tahu sebuah perusahaan sedang ekspansi maka 2 hal yang perlu dilihat yaitu berapa banyak karyawannya dan berapa banyak belanja asetnya. Perusahaan yang lagi sibuk PHK karyawan dan sibuk jual aset, tentu mustahil dikatakan sedang ekspansi. Di sektor nikel, dua indikator ini sering lebih jujur daripada narasi komoditas, karena harga bisa naik turun tapi keputusan rekrutmen dan capex itu komitmen uang yang nyata. Masalahnya, investor sering ketipu oleh ilusi, revenue naik tipis dikira ekspansi, padahal cuma kebetulan harga jual atau volume sesaat. Jadi yang perlu dibaca bukan cuma tumbuh atau tidak, tapi sinkron atau tidak antara orang, uang belanja aset, arus kas, dan laba. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi jumlah karyawan 2024 ke 2025, gambarnya jelas terbagi. NCKL naik dari 10.742 jadi 11.090 atau +3,24%, dan ini sejalan dengan pendapatan +9,93% serta laba bersih +33,26%, ini tipe ekspansi yang rapi karena mesin bisnisnya membesar dan profit ikut mengembang. $NICL juga naik dari 347 jadi 365 atau +5,19%, tetapi pendapatannya +64,81% dan labanya +131,28%, artinya produktivitas per karyawan melonjak dan ini biasanya terjadi saat perusahaan menemukan pasar yang lagi kencang atau disiplin biaya makin rapat. $DKFT naik dari 386 jadi 424 atau +9,84% dengan pendapatan +29,52% dan laba +54,75%, pola ini mirip, tenaga kerja bertambah dan hasilnya lebih dari proporsional. Kebalikannya ada di HRUM yang karyawannya naik +13,18% dan pendapatan +5,53% tapi laba bersih jeblok -55,35%, sedangkan MBMA dan $INCO justru cenderung datar, MBMA -0,42% dan INCO -0,59% yang biasanya menandakan fase operasi matang atau sedang menahan napas. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau investor pindah ke indikator kedua yaitu belanja aset, baru kelihatan siapa yang benar-benar lagi bangun masa depan dan siapa yang sekadar mengoptimalkan yang ada. HRUM capex +191,6% dan INCO capex +64,9%, ini sinyal ekspansi fisik yang agresif, tetapi sifatnya capex intensif dan sering belum langsung jadi revenue atau laba karena proyek butuh waktu untuk menghasilkan. NCKL capex -29,5% justru turun, ini tidak otomatis berarti mundur, sering kali artinya 2024 adalah puncak konstruksi dan 2025 masuk fase panen serta optimasi. Dari sisi arus kas operasi, NICL CFO +230% dan penerimaan kas pelanggan naik 108% itu sinkron, ekspansi dan kasnya ikut menguat. HRUM CFO -125% itu alarm besar, karena artinya perusahaan bisa saja sedang membangun besar-besaran, tetapi kas operasinya ketarik turun akibat pembayaran vendor, royalti, atau biaya proyek yang melampaui kas masuk.
Biaya juga memberi sidik jari tentang kualitas ekspansi. Hampir semua perusahaan nikel yang saya cek ini mengalami kenaikan COGS yang mengikuti volume, tetapi SGA cenderung terkendali dan yang paling menonjol NCKL mampu menurunkan SGA 10,28% di saat pendapatan naik, ini indikasi operating leverage yang sehat dan manajemen biaya yang ketat. MBMA itu kasus menarik, pendapatan turun -32,24% tapi laba masih naik +4,57%, ini biasanya terjadi kalau COGS turun lebih dalam daripada penurunan revenue, jadi perusahaan sedang menekan biaya produksi atau mengubah mix produk agar margin bertahan. INCO hampir datar, pendapatan -0,45% dan laba +2,62% dengan karyawan turun tipis, ini tipe perusahaan mature yang fokus menjaga efisiensi, bukan memperbesar jumlah orang. HRUM jadi contoh mismatch, pendapatan naik tipis, karyawan naik besar, capex meledak, tapi laba jatuh, dan di data disebut biaya keuangan naik +86,1% sehingga profit tertekan walau skala aktivitas membesar. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Jadi kalau investor pakai kacamata dua indikator tadi ditambah arus kas, yang paling bisa disebut ekspansi berkualitas adalah NCKL, NICL, dan DKFT, karena penambahan karyawan sinkron dengan lonjakan revenue dan laba, dan setidaknya pada NICL arus kas operasi juga ikut menguat. HRUM lebih tepat disebut ekspansi proyek yang belum matang, capex besar dan headcount naik, tetapi laba dan CFO tidak mengikut, ini sering terjadi saat perusahaan membangun aset masa depan sambil menanggung beban bunga dan biaya proyek, jadi secara ekonomi sedang berat walau secara fisik sedang membangun.
MBMA dan INCO lebih terlihat sebagai fase stabilisasi dan efisiensi, bukan ekspansi tenaga kerja, sehingga kalau ada perbaikan laba, sumbernya lebih banyak dari disiplin biaya dan struktur kontrak dibanding rekrutmen besar-besaran. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Keunikan sektor nikel adalah ekspansi tidak selalu butuh banyak karyawan, tetapi selalu butuh capex dan selalu akan terlihat di arus kas, jadi ketika narasi ekspansi muncul, bukti paling kerasnya tetap pada capex yang konsisten dan CFO yang tidak ambruk. Kalau dua hal itu tidak nyambung, biasanya yang terjadi bukan ekspansi, melainkan perusahaan sedang menahan guncangan dan memindahkan beban ke neraca sambil berharap siklus komoditas membaik.
👥 Peringkat jumlah karyawan 9M 2025
• 🥇 NCKL 11.090 orang
• 🥈 HRUM 4.267 orang
• 🥉 MBMA 3.774 orang
• 🧱 INCO 3.020 orang
• 🏗️ DKFT 424 orang
• 🪨 NICL 365 orang
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
📊 Kelompok skala tenaga kerja
• 🦖 Sangat besar NCKL
• 🏭 Besar HRUM MBMA INCO
• 🧪 Kecil DKFT NICL
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










Tidak Semua Saham Nikel Itu Bisa Jual Nikel Lewat Ekspor
Request member bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Tidak semua perusahaan nikel di Indonesia melakukan ekspor, dan itu mengubah cara investor membaca cerita harga nikel dunia anjlok di 2025. Kalau perusahaan jualannya dominan domestik, dampaknya sering tidak sebrutal emiten yang harga jualnya nempel ketat ke benchmark global. Di sisi lain, jual domestik bukan berarti kebal, karena harga domestik tetap hidup di ekosistem global, hanya jalurnya lebih berlapis dan sering ada buffer kontrak. Itulah kenapa ada saham nikel yang kelihatan baik-baik saja labanya ketika headline harga nikel dunia turun, sementara yang lain langsung kelihatan lemas di revenue. Kuncinya bukan cuma komoditasnya, tapi kombinasi pasar penjualan, cara pricing, dan siapa pembelinya. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau dilihat dari peta pasar, ada dua kubu yang kontras. Kubu ekspor itu jelas, $INCO yang sekitar 94% menjual nickel matte ke luar, $HRUM yang ekspor nikel dan juga punya ekspor batubara ke Asia Timur, serta NCKL yang pasarnya besar ke Tiongkok dan Swiss.
Kubu domestik juga tegas, MBMA yang pada 9M 2025 penjualannya 100% domestik ke ekosistem smelter Morowali, lalu NICL dan $DKFT yang 100% jual domestik. Ini langsung menciptakan perbedaan karakter laba saat harga global jatuh. Ekspor dengan formula indexing biasanya merasakan penurunan harga realisasi lebih cepat dan lebih transparan. Domestik sering terasa lebih stabil di permukaan, tetapi sebenarnya tetap mengikuti siklus global lewat negosiasi, kualitas, timing delivery, dan struktur pihak pembeli.
Sekarang lihat konsentrasi pelanggan, karena ini salah satu risiko terbesar yang sering disepelekan. Hampir semua emiten ini hidup dari 2 sampai 3 pembeli besar yang menyerap lebih dari 50% pendapatan. Di NCKL, satu nama saja Lygend Resources menyerap sekitar Rp10,8 T atau 48,24% dari pendapatan 9M 2025, lalu Glencore sekitar Rp3,51 T atau 15,70% dan ini naik dari sekitar Rp2,76 T. Artinya lebih dari 60% revenue NCKL ditopang dua counterparty, tetapi dari sisi skala bisnis NCKL memang raksasa, total revenue 9M 2025 sekitar Rp22,4 T dan laba periode berjalan sekitar Rp8 T, jadi ketika pasar nikel melemah, NCKL punya bantalan profitabilitas yang tebal dan mesin operasional yang sudah matang. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
HRUM juga ekstrem konsentrasinya, Hong Kong Rui Pu sekitar US$412,2 Juta atau 40,2% dan melonjak dari US$149,8 Juta, lalu PT CNGR Ding Xing sekitar US$129,9 Juta atau 12,7% sebagai pelanggan baru yang signifikan. Kalau investor konversi pakai kurs Rp16.680 per US$ agar skala kebaca, pembeli utama HRUM itu setara sekitar Rp6,88 T, dan pelanggan baru CNGR itu sekitar Rp2,17 T. Ini menggambarkan dua hal sekaligus, HRUM punya leverage ekspor yang besar, tetapi juga punya risiko konsentrasi dan siklus demand Asia Timur. Bedanya dibanding emiten ekspor murni, HRUM punya diversifikasi batubara yang bisa jadi peredam ketika satu komoditas sedang jelek, jadi respons laba HRUM terhadap nikel dunia tidak selalu segaris lurus.
MBMA punya cerita yang unik dan sering bikin investor salah baca. Secara pasar penjualan, MBMA tercatat 100% domestik di 9M 2025, tetapi pembelinya adalah pemain smelter besar yang hidup dari rantai nilai global. Pelanggan utama MBMA PT Indonesia Tsingshan menyerap US$548,8 Juta atau 58,7%, kira-kira Rp9,15 T, dan ini stabil. Pelanggan kedua PT CNGR Ding Xing menyerap US$143,9 Juta atau 15,4% atau sekitar Rp2,40 T, tetapi turun tajam dari US$339 Juta. Jadi walau domestik, MBMA tetap sensitif pada kesehatan rantai industri global, hanya bentuknya bukan lewat pelabuhan ekspor, melainkan lewat perubahan serapan pabrik domestik yang orientasi akhirnya mengikuti pasar dunia. Karena pricing MBMA bersifat market based dan negotiated, efek harga global bisa lebih berlapis, kadang tertahan oleh kontrak dan timing, kadang justru terasa tiba-tiba ketika pembeli menekan term.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
INCO adalah contoh paling bersih untuk melihat efek harga global. Sekitar 74,1% penjualan INCO ke Vale Canada Limited senilai US$522,5 Juta atau kira-kira Rp8,72 T, dan sekitar 19,7% ke Sumitomo Metal Mining senilai US$139,3 Juta atau sekitar Rp2,32 T. Dua pembeli ini sudah menyerap hampir seluruh pendapatan INCO, dan karena pricing INCO berbasis formula yang mengacu pada benchmark global seperti LME dan Fastmarkets, ketika harga nikel dunia tertekan, penurunan harga realisasi biasanya cepat tercermin. Itu sebabnya INCO terlihat stagnan atau turun tipis pada periode ketika harga global melemah, bukan karena operasinya tiba-tiba rusak, tapi karena mekanisme harga memang dibuat menempel ke benchmark.
NICL dan DKFT justru menarik untuk membuktikan bahwa tidak semua emiten nikel harus ikut panik saat harga dunia anjlok. NICL 100% domestik dengan dua pelanggan baru yang langsung dominan, PT Marin Mitra Nusantara sekitar Rp732,3 B atau 54,1% dan PT Xingda Trading Indonesia sekitar Rp222,4 B atau 16,4%. Total pendapatan NICL 9M 2025 sekitar Rp1,35 T, dan growth-nya disebut fantastis sekitar 65% karena perombakan total customer base. NICL juga punya mekanisme penetapan harga yang dikunci pada saat pengiriman, jadi risiko selisih harga antara kontrak dan delivery diperkecil. DKFT juga 100% domestik, PT Sino Indo Nickel sekitar Rp417,3 B atau 34% naik dari Rp290,8 B, lalu PT Megah Surya Pertiwi sekitar Rp311,5 B atau 25% naik dari Rp205,9 B. Ini memberi sinyal bahwa ketika demand domestik untuk ore masih jalan, emiten ore domestik bisa tetap bertahan, meski harga global sedang turun, karena mereka bermain pada realisasi transaksi yang lebih dekat ke kebutuhan smelter dalam negeri. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Emiten ekspor dengan formula indexing paling tinggi korelasinya terhadap harga dunia, INCO paling jelas, HRUM juga tinggi walau ada diversifikasi. Emitem domestik dengan pricing at delivery seperti NICL cenderung punya volatilitas yang lebih terkendali pada laporan keuangan karena harga ditetapkan lebih dekat ke serah-terima. MBMA berada di tengah, secara akuntansi domestik, tetapi secara ekonomi tetap ikut gelombang global lewat pelanggan smelter besar, sehingga ketika terjadi penurunan serapan dari satu pembeli seperti CNGR, dampaknya bisa lebih dominan daripada sekadar perubahan harga nikel harian. NCKL unik karena selain menjual ke pasar luar, grup juga punya buffer lewat integrasi dan penjualan ore ke pihak berelasi untuk diproses lebih lanjut, sehingga guncangan harga ore global tidak selalu menghantam langsung di titik yang sama pada rantai nilainya.
Lalu kenapa banyak saham nikel terlihat baik-baik saja labanya saat harga nikel dunia turun di 2025, jawabannya bukan karena mereka kebal komoditas. Jawabannya karena sebagian emiten tidak menjual langsung ke pasar ekspor dengan formula benchmark ketat, melainkan menjual domestik, memakai negosiasi, memakai harga pada saat delivery, atau memakai buffer integrasi grup. Di saat yang sama, struktur pelanggan yang sangat terkonsentrasi membuat narasi harga komoditas sering kalah penting dibanding narasi satu pembeli besar menaikkan atau menurunkan serapan. Jadi untuk membaca tren 2025, investor sebaiknya berhenti melihat nikel sebagai satu angka, lalu mulai lihat jalur uangnya, siapa yang bayar, mata uang dan formula apa yang dipakai, dan seberapa besar ketergantungan pada 1 sampai 2 pelanggan yang bisa mengubah laporan keuangan hanya dengan menggeser volume pembelian. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🧑🤝🧑 Konsentrasi pelanggan 9M 2025
• ⚠️ Umumnya 2 sampai 3 pelanggan serap >50% revenue
• 🏭 NCKL Lygend 48,24% plus Glencore 15,70%
• 🚢 INCO VCL 74,1% plus SMM 19,7%
• 🧱 MBMA ITSS 58,7% plus CNGR 15,4%
• 🔥 HRUM Rui Pu 40,2% plus CNGR 12,7%
• 🧭 NICL Marin 54,1% plus Xingda 16,4%
• 🪨 DKFT Sino Indo 34,0% plus MSP 25,0%
🌍 Pasar
• 🚢 Ekspor dominan INCO, HRUM, NCKL
• 🇮🇩 Domestik dominan MBMA, NICL, DKFT
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
💸 Pricing
• 📊 LME plus Fastmarkets INCO, HRUM
• 🤝 Market based MBMA
• 📦 Harga saat delivery NICL
• 🧩 Buffer grup NCKL ore ke pihak berelasi dulu
🏁 Skala aset
• 🐘 MBMA, NCKL, HRUM, INCO besar
• 🐭 DKFT, NICL kecil
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










Akhir Era Baterai Nikel, Ketika inovasi lebih cepat dari konstruksi.
Smelter HPAL INCO dan HRUM belum jadi, Dongeng Baterai Nikel sudah selesai 🤣
Meanwhile, ternary NMC battery declined 10.9% to 55.4 GWh. This continues the trend from H2 2024, when NMC battery installations declined for the first time in history year-over-year, by 1.9.%. Apparently, the era of NMC is over, and the age of LFP has begun. NMC will most likely remain on some upper-market vehicles; however, even there, their position is not secure, as, for example, the 90,000 USD Yangwang U7 with 960 kW (1287 hp) and 720 km range features an LFP battery from BYD.
In H1 2025, the LFP had an 81.4% share while NMC declined to 18.5% on China-made vehicles.
$NCKL $INCO $HRUM
https://cutt.ly/7tltlLCX

Harga komoditas Zinc sekarang di $3000/ton. ATH Zinc di 2007 $4400. Berarti harga Zinc sekarang berada di - 31,8% dari ATH 2007.
Harga nickel Harusnya di -31,8% dari ATH 2007 $54000 yaitu $36990. Harga nickel sekarang terlampau murah karena massive oversupply.
Katanya tahun ini di cut, semoga serious, jgn ada lobby2 lagi.
$PACK 🌀 $ANTM 🌀 $INCO
Saham Nikel Mana yang Sangat Sensitif pada Harga Nikel Dunia
Request member bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Hari ini ada member Pintar Saham yang tanya soal pengaruh naiknya harga nikel dunia ke MBMA. Logikanya terlihat sederhana, harga nikel naik maka MBMA ikut terbang dan laba meledak. Tapi di sektor nikel, harga komoditas itu bukan tombol on off yang langsung memindahkan laba dari layar ke rekening. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Tolong bedakan harga saham dengan kenaikan laba karena laba naik belum tentu harga saham naik dan begitu juga sebaliknya karena banyak saham rugi di IHSG yang tetap meroket karena bandarnya strong. Jadi yang dibahas di sini adalah potensi laba, bukan potensi harga saham.
Yang menentukan besar kecilnya laba itu selalu kombinasi antara jenis produk, cara penetapan harga jual, struktur biaya energi dan reduktan, serta seberapa panjang rantai prosesnya. Jadi benar, kenaikan harga nikel bisa mengangkat kinerja, tetapi besar kecilnya efek di $MBMA tidak akan setegas yang orang bayangkan jika yang dipakai patokan cuma satu angka, harga nikel dunia. Investor yang cuma memegang narasi tanpa membedah mesin uangnya, biasanya kaget ketika realisasi margin ternyata berbeda jauh dari ekspektasi.
Mulai dari yang paling mendasar dulu, MBMA itu bukan produsen satu produk nikel saja. MBMA main di Nickel Pig Iron atau NPI, nickel matte, dan bijih nikel limonit. Ini beda karakter dengan $INCO yang fokus di nickel in matte dan bijih nikel, atau NICL yang lebih pure sebagai penambang bijih nikel. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
$NCKL atau TBP juga beda lagi, karena menambang sekaligus mengolah ke produk yang lebih refined seperti feronikel, tetapi punya strategi internal group transfer yang membuat dampak volatilitas harga bijih nikel tidak menghantam langsung ke laporan laba rugi di level penjualan bijihnya.
DKFT bahkan lebih ekstrem, dominan di bijih nikel dan perdagangan, sementara proyek feronikel sempat berhenti sejak 2021 karena biaya kokas yang melonjak. Dari sini saja sudah kelihatan kenapa pertanyaan harga nikel naik itu harus dibalas dengan pertanyaan balik, nikel yang mana, produk yang mana, dan kontraknya seperti apa.
Perbedaan paling penting kedua ada di cara penetapan harga jual. INCO memakai formula yang eksplisit mengacu ke benchmark global seperti LME cash price dan Fastmarkets, jadi hubungan harga jual dan harga acuan dunia itu lebih ketat, lebih langsung, dan lebih cepat terasa ke pendapatan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
HRUM juga tinggi eksposurnya karena pricing dan proyeksi arus kasnya merujuk data LME, ditambah penjualan ke pasar Asia Timur yang sensitif demand supply global.
MBMA posisinya moderat, bukan karena tidak terpengaruh, tetapi karena MBMA banyak bermain pada produk antara seperti NPI dan matte yang di lapangan sering bergerak mengikuti dinamika pasar ekspor utama, terutama China, dan spread industri seperti stainless cycle untuk NPI atau kebutuhan feed untuk rantai baterai pada matte. NICL lebih rendah eksposurnya karena mekanisme harga ditentukan pada saat pengiriman, sehingga risiko selisih harga antara tanggal kontrak dan serah-terima lebih terkunci. NCKL paling terlindungi secara langsung di level bijih karena menjual ore ke pihak berelasi untuk diproses dulu sebelum produk akhir dijual ke pihak ketiga, sehingga grup punya buffer internal dan bisa mengatur value capture di dalam ekosistemnya.
Sekarang masuk ke sisi yang disukai investor, perbandingan skala. Dalam 9M 2025, MBMA berada di kasta big player secara aset. Total aset MBMA kira-kira Rp60 T, dekat sekali dengan NCKL sekitar Rp58,5 T, lalu HRUM sekitar Rp54,6 T, dan INCO sekitar Rp54 T. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi revenue 9M 2025, NCKL memimpin sekitar Rp22,4 T, HRUM sekitar Rp17,1 T, MBMA sekitar Rp15,6 T, dan INCO sekitar Rp11,7 T. Dari sisi laba periode berjalan 9M 2025, NCKL sekitar Rp8 T itu level yang membuat emiten lain terlihat kecil, sementara MBMA sekitar Rp1,04 T, INCO sekitar Rp874 B, HRUM sekitar Rp703 B. Di kelompok lebih kecil, DKFT revenue sekitar Rp1,24 T dengan laba sekitar Rp442 B, dan NICL revenue sekitar Rp1,35 T dengan laba sekitar Rp401 B, yang secara margin terlihat tebal, tetapi investor perlu ingat skala operasi dan komposisi pendapatan bisa membuat margin tampak sangat tinggi pada periode tertentu.
Kalau investor ubah semua itu jadi rasio sederhana, keunikan MBMA makin jelas. Net margin MBMA kira-kira 6,7%, lebih tebal daripada HRUM yang sekitar 4,1%, tetapi sedikit di bawah INCO yang sekitar 7,5%. Ini sinyal bahwa MBMA punya mesin yang sudah menghasilkan laba, tetapi belum masuk fase profit pool seperti NCKL yang net margin-nya sekitar 35,7% pada 9M 2025. Dalam bahasa yang lebih tajam, kenaikan harga nikel dunia belum tentu membuat MBMA jadi monster laba, karena posisi MBMA sekarang lebih mirip mesin volume besar dengan margin menengah. Laba bisa besar jika spread-nya melebar, bukan cuma karena harga acuan naik. Tapi perlu diingat bahwa laba MBMA itu adalah laba tahun berjalan, bukan laba yang diatribusikan ke entitas Induk. Kalau pakai laba yang diatribusikan ke entitas Induk maka MBMA sebenarnya lagi tidak sampai 1 Triliun.
Di sinilah jawaban untuk pertanyaan member Pintar Saham jadi lebih presisi. Kenaikan harga nikel dunia akan mengangkat MBMA paling kuat ketika kenaikan itu memukul langsung harga realisasi produk yang MBMA jual, dan pada saat yang sama biaya utama tidak naik setara. Untuk NPI, variabel kuncinya bukan hanya harga nikel acuan, tapi juga demand stainless di China, harga coke dan energi, serta negosiasi harga jual berbasis market practice di pasar tujuan. NPI bisa terasa sangat sensitif ke siklus China, kadang bergerak seirama dengan nikel global, kadang lebih dipengaruhi oleh kondisi industri stainless dan kebijakan produksi. Untuk nickel matte, korelasinya ke nikel global bisa lebih terasa, apalagi jika matte diposisikan sebagai feed untuk rantai nilai yang lebih dekat ke baterai, tetapi tetap ada faktor diskon kualitas, biaya konversi, dan struktur kontrak. Untuk limonit, ceritanya berbeda lagi, karena ini lebih dekat ke bahan baku, sehingga bisa jadi lebih defensif atau lebih tertekan tergantung integrasi pembeli dan mekanisme penjualan domestik ke entitas asosiasi. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Ada juga alasan kenapa MBMA disebut moderat eksposurnya dibanding INCO. INCO pricing-nya lebih formulaik ke benchmark global, jadi beta ke harga nikel dunia cenderung lebih tinggi dan lebih transparan. MBMA lebih banyak memakai market-based analysis dan sales agreement yang sifatnya negotiated, sehingga ada jeda, ada buffer, dan ada unsur manajemen harga, terutama ketika pasar sedang volatile. Ini bukan berarti lebih aman, ini berarti investor harus lebih rajin membaca catatan pricing, konsentrasi pelanggan, dan perubahan term kontrak, karena sebagian besar risiko berubah bentuk dari risiko harga acuan menjadi risiko spread dan risiko eksekusi.
Keunikan lain MBMA adalah positioning narasi baterai dan integrasi vertikal menuju rantai nilai bahan baku baterai kendaraan listrik. Ini membuat driver fundamental MBMA tidak melulu harga nikel, tetapi juga keberhasilan ekspansi kapasitas, ramp-up pabrik, konsistensi volume, serta kemampuan mengubah ore menjadi produk bernilai lebih tinggi. Di sektor ini, sering terjadi pola begini, harga komoditas naik, ekspektasi pasar terbang, tetapi laba tidak ikut setinggi ekspektasi karena volume belum maksimal atau biaya commissioning dan depresiasi belum stabil. Jadi investor yang berharap MBMA cetak laba gede hanya karena nikel naik, sebenarnya sedang bertaruh pada dua hal sekaligus, harga dan eksekusi. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Jadi MBMA bisa diuntungkan oleh kenaikan harga nikel dunia, tetapi MBMA bukan emiten paling sensitif secara langsung terhadap benchmark global. INCO lebih sensitif karena formula pricing yang menempel pada LME. HRUM juga tinggi eksposurnya karena referensi LME dan orientasi ekspor. MBMA akan sangat diuntungkan jika kenaikan harga nikel dibarengi penguatan demand China untuk produk antara seperti NPI dan matte, serta biaya input tidak naik secepat harga jual. Dan MBMA akan terlihat biasa saja jika yang naik hanya headline price, sementara biaya energi dan reduktan ikut naik, atau spread industri menyempit.
Jadi, apakah MBMA bisa cetak laba gede kalau harga nikel dunia naik, jawabannya bukan ya atau tidak. Jawabannya adalah bisa, tetapi dengan syarat. Investor harus melihat produk mana yang dominan di revenue, kontrak pricing-nya seperti apa, dan apakah kenaikan harga itu memperlebar spread atau justru hanya menggeser angka jual sambil biaya ikut mengejar. Di sektor nikel, laba besar biasanya lahir bukan dari harga naik saja, tetapi dari kombinasi volume besar, biaya terkendali, dan pricing yang memberi pass-through lebih cepat daripada kenaikan biaya. MBMA punya skala untuk bermain di level besar, tetapi pembuktian laba besar yang konsisten akan ditentukan oleh konsistensi operasi dan kemampuan mengunci value capture di rantai prosesnya, bukan sekadar berharap nikel dunia naik.
🧱 Produk nikel
• INCO ⚙️ nickel matte, bijih nikel
• MBMA 🔋 NPI (Nickel Pig Iron), nickel matte, limonit ore
• HRUM 🧪 nickel matte, ferronickel, ore
• NCKL ⛏️ ore plus ferronickel terintegrasi
• DKFT 🪨 dominan ore, smelter FeNi suspend sejak 2021
• NICL 🧾 pure ore miner
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
💰 Harga Nikel
• INCO 📊 formula ikut LME (London Metal Exchange) dan Fastmarkets
• HRUM 📈 referensi harga pasar plus penyesuaian kualitas kuantitas
• MBMA 🧮 market based, sensitif spot ekspor
• NICL 📦 harga ditentukan saat delivery, redam volatilitas
• NCKL 🧩 jual ore ke pihak berelasi dulu, buffer harga ore global
• DKFT 🛑 lebih ke ore trading domestik, FeNi tidak jalan
🌪️ Sensitivitas harga global
• 1 INCO ❌ paling nempel LME
• 2 HRUM ❌ tinggi, ekspor Asia Timur
• 3 MBMA ⚠️ sedang
• 4 NICL ✅ lebih rendah, lock saat delivery
• 5 NCKL ✅ paling teredam, integrasi grup
🧭 Pasar
• Domestik 🇮🇩 DKFT, NICL, NCKL kuat lokal
• Ekspor 🌏 INCO ke Kanada Jepang, HRUM Asia, MBMA dan NCKL dominan China
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
🏗️ Skala 9M 2025
• Aset 🏢 big players NCKL, MBMA, HRUM, INCO sekitar Rp54-60 T
• Revenue 💸 tertinggi NCKL Rp22,4 T lalu HRUM Rp17,1 T, MBMA Rp15,6 T
• Laba 🏆 NCKL Rp8,0 T paling besar
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










@Mantares
Koq masih Research sih?
Paham ga kenapa gw ambil contoh Baterai Drone?
Karena selama ini Baterai Nikel diiklankan paling tinggi Densitas nya sehingga cocok buat aplikasi drone yang butuh baterai yang ringan..
Tapi Data memperlihatkan Drone mayoritas sudah pakai Baterai Lithium...
Terus apa lagi gunanya pakai Baterai Nikel? Cost Kalah, Densitas Kalah, Safety Kalah, Siklus Hidup Kalah..
$NCKL $INCO HRUM $ANTM

RKAB 2026 Telah Disetujui!!! Gimana Potensi Dampaknya Bagi INCO?
INCO mengumumkan kalau Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk tahun 2026 sudah memperoleh persetujuan resmi dari Kementerian ESDM.
Adanya persetujuan tersebut menunjukkan kepastian operasional dan kelanjutan investasi jangka panjang INCO dalam bagian ekosistem nikel Indonesia dan rantai pasok global. Setelah sebelumnya INCO mengumumkan jika RKAB 2026 belum disetujui.
Diperolehnya persetujuan RKAB tersebut membuat INCO saat ini berfokus dalam mengembalikan seluruh kegiatan operasional dan konstruksi yang ada di Sorowako, Pomalaa, dan Bahodopi. Hal ini dilakukan untuk mengejar ketertinggalan karena penghentian sementara yang dilakukan sebelumnya.
Kondisi ini pastinya sangat positif bagi INCO, karena sebelumnya ada rencana pemangkasan produksi bijih nikel nasional dari Pemerintah Indonesia dari target produksi tahun 2025 sebesar 379 juta ton menjadi 250 - 260 juta ton untuk tahun 2026.
Adanya rencana pemangkasan berpotensi membuat pasokan global berpotensi turun karena Indonesia merupakan produsen nikel terbesar dunia, yang hal ini bisa mendorong kenaikan harga nikel global.
Ini terbukti juga dengan harga nikel global yang melambung tinggi kenaikannya, bahkan saat ini harganya mencapai USD 18.595 per ton, atau ada kenaikan sebesar 11% sepanjang tahun 2026 ini.
Dengan harga nikel yang naik, dilain sisi rencana produksi nikel INCO tetap sesuai dengan targetnya mereka, maka ini akan berpotensi bagus bagi kinerja pendapatan dan laba bersih tahun 2026.
Kinerja INCO sendiri sepanjang sembilan bulan tahun 2025 mencatatkan penurunan pendapatan yang tipis 0,4% secara yoy menjadi USD 705,3 juta. Laba kotornya turun 8% menjadi USD 73,4 juta. Sedangkan laba bersihnya naik 3% menjadi USD 52,4 juta, karena terdorong dari keuntungan atas pengakuan nilai wajar aset derivatif, dari sebelumnya yang merugi.
Pendapatan dan laba kotor yang turun tersebut disebabkan oleh turunnya harga realisasi rata-rata nikel matte sebesar 8,7% menjadi USD 12.106 per ton dari sebelumnya USD 13.262 per ton.
Gimana menurutmu, apakah pendapatan dan laba bersih INCO tahun 2026 bisa growth?
👉 Join ke channel Telegram buat dapetin insight lainnya! Klik link di bio.
Disclaimer: Konten ini dibuat dengan tujuan informasi dan edukasi, bukan merupakan rekomendasi untuk jual, beli, atau hold suatu saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.
$INCO $HRUM $ANTM
1/4




IDXChannel - Arus dana asing deras mengalir ke Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam sepekan terakhir, dengan saham-saham tambang logam, terutama nikel, menjadi sasaran utama.
Data menunjukkan, investor asing secara keseluruhan membukukan beli bersih (net buy) Rp3,16 triliun sepekan, seiring Indeks Harga...

www.idxchannel.com

@TomMartabak
Tekhnologi tidak diam.. terus berkembang.
Satu Satunya kelebihan baterai Nikel soal densitas sudah dikejar oleh Lithium..
Smelter $HRUM $INCO produksi saja belum, dunia sudah dapat 3 pengganti lebih baik dari Baterai basis Nikel: Lithium, Sodium, Graphene....
