130

-3

(-2.26%)

Today

7.35 M

Volume

7.95 M

Avg volume

Company Background

PT Wijaya Cahaya Timber Tbk didirikan pada 8 Maret 2017 di Jakarta, Indonesia. Perseroan bergerak di bidang Industri Kayu Lapis/Plywood, dengan 4 Pabrik Utama yang dioperasikan sendiri yang berlokasi di 2 kota yaitu Malang dan Jember. Perseroan mendirikan pabrik pertama di Malang pada tahun 2017 dengan kapasitas awal 48.000m3 per tahun dan memulai produksinya pertama kali pada Maret 2018. Pada kuartal keempat tahun yang sama, Perseroan menambah kapasitas produksinya dengan mendirikan pabrik kedua di Malang dengan kapasitas tambahan 48.000m3 per tahun. Pada tahun yang sama juga Perseroan telah melakukan penjualan ekspor untuk ... Read More

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$FWCT turun mpe 50 dooong ๐Ÿ˜„

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$FWCT lunas sudah gap di 136 ditutup

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$FWCT giliran kayak gini uangku habis wkwkw ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$FWCT โ˜•โ˜•โ˜•

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$FWCT sisir biar rapi

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$FWCT $ERTX pantau

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$FWCT sewaktu Komisaris minta naik gaji 10 persen dgn posisi kas dan tagihan ke pelanggan jumlahnya di bawah hutang lancar, sebaiknya masuk ketika harga dapat diskon tambahan 10 persen.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$FWCT banyak fawcot kau ๐Ÿ—ฟ๐Ÿคฏ

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

SCALPING $KIOS (141)

RENCANA ENTRY & EXIT

Entry Buy (138 โ€“ 145)
Take Profit 1 (TP1) 145
Take Profit 2 (TP2) 149
Zona Stoploss (< 134)

RISK : REWARD (DETAIL)

Asumsi Entry Ideal (141)

Risiko (Risk)
Entry 141 โ†’ Stoploss 134
Risiko = 7 poin

Reward TP1
145 โ€“ 141 = 4 poin
Risk : Reward TP1 = 1 : 0.6

Reward TP2
149 โ€“ 141 = 8 poin
Risk : Reward TP2 = 1 : 1.1

Catatan Risk : Reward
- Minimal ambil TP1, jangan serakah
- TP2 hanya jika volume & momentum mendukung
- Jika TP1 tercapai, stoploss digeser ke BEP

Catatan Tambahan
- Scalping berhasil dari disiplin, bukan nekat
- Stoploss wajib dan tidak boleh digeser turun
- Tidak ada sinyal โ†’ tidak entry
- Fokus konsistensi, bukan sekali besar

Analisa saya boleh bantu, tapi keputusan tetap milik Boss.

Ayo REQUEST SAHAM di kolom komentar seperti
$KLBF $FWCT
,DM โ€œmauโ€ jika ingin dianalisa sahamnya

Support like agar terus update!!!

Follow untuk ikuti flowchart keputusan saham trend

Kalau postingan ini bermanfaat, boleh banget kasih tip lewat tombol bergambar ๐Ÿ’ฒ di bawah ya. Terima kasih banyak ๐Ÿ™

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

target $FWCT brp ya pak ?
maaf msh awam cara tentuin harga jual ๐Ÿ™๐Ÿป

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

@Pepithea
$FWCT biar turun sedikit dulu, mendekati 142

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

@Pepithea
screener itu untuk mencari saham yg trend nya turun, tp berpotensi akan naik. Jadi bukan untuk trading senin besok. Saya lihat $ERAA dan $FWCT dulu ya

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$FWCT efisiensi? Menurut sy enggak. Apalagi bill of lading Q4 2025 hanya ยผ quartal sebelumnya.

1/3

testestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

@luisasfihani $FWCT lebih tepatnya efisiensi kali karena mesin banyak upgrade dan secara sistem lebih solid, bisnis yang bertahan di masa mendatang bukan bisnis yang bisa produksi sebanyak-banyaknya tanpa efisiensi. Tapi bisnis yang melakukan efisiensi untuk memproduksi sebanyak banyaknya.

Ingat bisnis yang tidak mau efisiensi atau adapt ke teknologi terbarukan akan mati cepat atau lambat

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Memberdayakan Karyawan

Tidak semua saham memberdayakan karyawannya secara maksimal. Angka laba besar bisa saja datang dari mesin dan skala, bukan dari kualitas pekerjaan. Sebaliknya, bisnis yang banyak menyerap tenaga kerja sering terlihat kurang efisien, padahal justru di situ terjadi transfer nilai ke rumah tangga lewat gaji. Jadi ukuran yang adil bukan cuma total karyawan, tetapi juga berapa nilai yang diciptakan per orang, lalu berapa porsi nilai itu yang benar-benar kembali ke tenaga kerja. Data finanSIAL Q3 2025 ini menunjukkan empat model yang beda banget, retail padat SDM, makanan kemasan semi padat SDM, agribisnis skala raksasa, dan kayu yang banyak mengandalkan borongan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Dari sisi jumlah orang, $ACES paling besar 14.226 karyawan dan justru turun 371 orang dari 2024 atau minus 2,54%, sinyal efisiensi atau pengetatan biaya. GOOD 9.237 naik 14 orang atau plus 0,15%, ยขCPIN 9.799 naik 218 orang atau plus 2,28% yang biasanya selaras ekspansi volume. FWCT cuma 136 karyawan tetap tapi naik 11 orang atau plus 8,8%, kecil basisnya jadi persentasenya terlihat besar. Kalau lihat estimasi gaji rata-rata per karyawan per bulan, ACES sekitar Rp8,73 juta, GOOD Rp15,03 juta, CPIN Rp18,60 juta, sedangkan $FWCT Rp134,71 juta itu tidak wajar untuk karyawan tetap karena biaya tenaga kerja-nya kebawa kompensasi borongan dan non-tetap.

CPIN kelihatan paling produktif secara angka karena revenue 9M 2025 Rp50,60 triliun dengan 9.799 karyawan, jadi sekitar Rp5,16 miliar revenue per orang, dan laba Rp3,37 triliun jadi sekitar Rp343,7 juta laba per orang. Ini bisa bagus karena artinya ekosistem CPIN yang terintegrasi membuat output per orang tinggi, dan ruang bayar gaji Rp18,60 juta per bulan terlihat lebih aman. Sisi kurang bagusnya, porsi gaji yang tercatat di COGS plus SGA sekitar Rp1,64 triliun hanya sekitar 3,24% dari revenue, jadi kenaikan kesejahteraan karyawan tidak otomatis mengikuti lonjakan sales karena struktur biaya CPIN memang berat di bahan baku dan siklus komoditas.

GOOD lebih seimbang, revenue Rp9,44 triliun berarti sekitar Rp1,02 miliar per orang, laba Rp534,83 miliar berarti sekitar Rp57,9 juta per orang, dan gaji COGS plus SGA Rp1,25 triliun sekitar 13,24% dari revenue, ini cenderung memberi sinyal bisnis yang tetap efisien tapi lebih terasa padat tenaga kerja dibanding CPIN. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

ACES beda dunia karena retail fisik. Revenue Rp6,33 triliun dengan 14.226 orang berarti sekitar Rp445 juta per orang, laba Rp476,74 miliar berarti sekitar Rp33,5 juta per orang, wajar lebih rendah karena butuh banyak staf toko. Ini bisa bagus kalau strategi ACES memang service driven, pengalaman toko, dan eksekusi operasional, karena orang adalah mesin penjualannya. Namun sisi kurang bagusnya, beban gaji yang tercatat di SGA saja sudah Rp1,117 triliun atau sekitar 17,64% dari revenue, dan ini belum termasuk kalau ada komponen tenaga kerja di COGS yang tidak dirinci, jadi tekanan margin memang struktural. Supaya ini jadi positif, syaratnya sales per toko dan produktivitas per jam kerja harus naik, kalau tidak, penurunan karyawan berisiko dibaca pasar sebagai cost cutting defensif.

FWCT paling mudah mengecoh karena skalanya kecil tapi angka per orangnya meledak. Revenue Rp1,14 triliun dengan 136 orang berarti sekitar Rp8,42 miliar per orang, laba sekitar Rp337,9 juta per orang, tapi ini tidak bisa dipakai menilai pemberdayaan karyawan karena banyak pekerjaan dibayar lewat borongan yang tidak masuk hitungan 136 orang. Yang bisa diambil sebagai sinyal hanya ini, FWCT tumbuh revenue 26,3% dan kayu lapis menyumbang 91,2% pendapatan, artinya demand lagi kuat, tapi profit margin-nya sekitar 4,01% dan porsi tenaga kerja tercatat sekitar 14,40% dari revenue, jadi bisnisnya sensitif ke harga jual, kurs, dan biaya bahan baku. Kalau investor mau benar-benar menilai apakah perusahaan memberdayakan karyawan, buktinya harus dicari di data tambahan seperti komposisi karyawan tetap vs borongan, kenaikan upah rata-rata YoY, benefit, training, turnover, serta apakah laba naik diikuti kenaikan produktivitas tanpa menekan kualitas layanan dan keselamatan kerja.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/10

testestestestestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Cara Saham Kayu Mengatasi Piutang Macet

Saham kayu di IHSG itu perlu melakukan manajemen piutang dengan baik. Ekspor kelihatan gagah karena terima USD, tetapi yang menentukan umur panjang perusahaan itu bukan invoice, melainkan kas yang benar-benar masuk. Banyak emiten kayu jatuh bukan karena tidak bisa produksi, tapi karena terlalu percaya buyer lalu modal kerja terkunci di piutang dan persediaan. Begitu buyer telat bayar, efeknya berantai, mulai dari cicilan bank, pembelian log, sampai produksi yang tersendat. Jadi piutang itu bukan detail akuntansi, itu tombol hidup-mati, apalagi di bisnis siklikal seperti kayu. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau dibandingkan antar emiten, pola yang paling jelas ada di konsentrasi pelanggan dan sikap perusahaan terhadap cadangan kerugian piutang. $WOOD punya buyer besar yang dominan, Novo Building 27,39%, Starbright Forever 20,50%, dan US Lumber 14,15%, lalu mencatat cadangan expected credit loss Rp6,999 miliar per September 2025. Ini bisa dibaca dua arah. Bagus karena ada transparansi mengakui risiko dan memberi bantalan laba jika ada gagal bayar. Buruk jika cadangan itu muncul karena kualitas tagihan memang mulai menurun atau eksposur ke beberapa buyer besar terlalu tebal sehingga satu gangguan langsung terasa. Potensi baiknya muncul kalau konsentrasi ini ditopang kontrak, histori bayar yang terbukti, dan disiplin termin yang ketat, bukan sekadar relasi dagang yang nyaman.

$FWCT dan $IFII sama-sama sangat bergantung pada sedikit nama, tetapi kualitas ceritanya berbeda dari sisi perlindungan. FWCT ditopang Far East American Inc dan Concannon Lumber Co dengan penjualan gabungan Rp457,7 miliar, dan manajemen menyebut seluruh piutang belum jatuh tempo serta tidak perlu cadangan kerugian karena dianggap fully collectible. Ini bisa sangat bagus kalau memang termin pendek, buyer repeat order, dan kontrol kreditnya ketat, karena berarti arus kas bisa lebih mulus dan laba tidak tergerus pencadangan. Namun ini juga bisa buruk kalau penilaiannya terlalu optimistis, karena di industri ekspor, satu perubahan siklus bisa mengubah buyer yang tadinya lancar menjadi lambat bayar, dan saat itu tidak ada bantalan.

IFII lebih ekstrem di konsentrasi, S.A. Shahab 52,10%, SMB Kenzai 20,33%, House of Wood 12,38%, dengan cadangan kerugian piutang Rp1,479 miliar. Bagusnya, cadangannya ada walau kecil, lalu fokus produk MDF dan pasar Timur Tengah sekitar 64% penjualan bersih memberi skala ekspor yang jelas. Buruknya, konsentrasi segede itu membuat risiko permintaan dan risiko kredit lebih tajam, jadi syarat sehatnya adalah buyer yang benar-benar bankable, asuransi kredit atau mitigasi kontraktual, serta manajemen inventory yang disiplin agar tidak dobel terkunci di barang dan piutang.

SOFA dan TIRT lebih unik karena wajah risikonya tidak sama dengan eksportir kayu massal. SOFA melaporkan tidak ada pelanggan tunggal di atas 10% penjualan dan punya cadangan spesifik Rp5,19 juta untuk satu debitur. Ini bagus karena risiko kredit tersebar dan satu debitur bermasalah tidak langsung mengganggu keseluruhan. Tetapi bisa buruk kalau penyebaran pelanggan ternyata berarti daya tawar rendah, penjualan tidak stabil, atau kualitas debitur bervariasi sehingga problemnya bukan satu besar, melainkan banyak kecil yang merepotkan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

TIRT bahkan mencatat saldo piutang usaha pihak ketiga 0 per 30 September 2025, dengan pelanggan utama individu Agus Riyadi dan Rusiyanto, lalu perusahaan sedang transformasi total dari plywood ke transportasi laut yang disetujui September 2025 dan menyiapkan pendanaan untuk 20 tugboats dan barges. Nol piutang bisa bagus karena tidak ada risiko tagihan macet di fase transisi, tetapi juga bisa buruk karena mengindikasikan aktivitas bisnis lama sudah sangat kecil, sementara tantangan barunya justru pindah ke risiko eksekusi proyek kapal, pembiayaan, dan cashflow operasional di bisnis pelayaran.

Di belakang semua itu, pendekatan manajemen risiko mereka memberi petunjuk kualitas tata kelola. WOOD dan IFII memakai provision matrix untuk expected credit loss berbasis histori default dan faktor ekonomi ke depan, ini biasanya lebih sehat karena sistematis, walau konsekuensinya laba terlihat lebih konservatif. FWCT dan SOFA lebih menekankan seleksi reputasi debitur dan jejak pembayaran sebelum memberi kredit, ini efektif kalau disiplin dan tidak longgar ketika siklus sedang bagus. Hampir semuanya mengandalkan natural hedging dari ekspor valas, itu bagus untuk meredam kurs, tetapi tidak menyelamatkan jika piutang macet, karena kurs tidak bisa menutup kas yang tidak masuk. Jadi syarat agar sisi bagusnya menang adalah kombinasi sederhana, buyer terkonsentrasi harus disertai kontrol kontrak dan termin yang ketat, pencadangan harus selaras dengan data, dan inventory harus dijaga agar tidak ikut membengkak ketika penagihan melambat.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/10

testestestestestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Saham Kayu yang Melakukan Ekspor Akan Sangat Seksi Jika Dollar Meroket ke 20.000 Rupiah

Lanjutan diskusi perusahaan kayu di External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Bisnis kayu di Indonesia memang kelihatan seksi karena banyak emiten bisa jual ekspor dapat USD, sementara gaji dan banyak biaya pabrik dibayar pakai rupiah. Tapi justru di situ jebakannya, karena pasar sering mengira setiap kenaikan USD otomatis jadi margin, padahal realitanya ditentukan oleh seberapa cepat barang muter, seberapa besar stok numpuk, dan seberapa kuat perusahaan tahan jeda penagihan. Kalau stok keburu membengkak atau kontrak ekspor melemah, laba bisa tetap ada, tapi kas seret dan utang jadi penggembok gerak. Di sisi lain, emiten yang terlihat kecil kadang lebih sehat karena tidak perlu menggendong persediaan segede gudang pelabuhan. Jadi yang perlu dilihat bukan cuma siapa yang paling besar, tapi siapa yang paling rapi mengubah penjualan menjadi kas. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Dari sisi skala penjualan kayu per September 2025, $WOOD paling dominan dengan revenue segmen kayu sekitar Rp2,16 triliun, di atas $FWCT Rp1,14 triliun, $IFII Rp1,02 triliun, lalu DSNG Rp948,7 miliar untuk segmen produk kayu. Jaraknya makin ekstrem saat melihat SOFA yang cuma sekitar Rp23,0 miliar, sementara TIRT praktis nol dengan revenue sekitar Rp33 juta karena bisnis kayu lapisnya sudah berhenti sejak 2020. Bedanya WOOD dan DSNG ada pada struktur grup, WOOD memang berbasis kayu dan furnitur sebagai napas utama, sedangkan DSNG itu konglomerasi yang dikonsolidasikan kelapa sawit, jadi angka laba bersih total Rp1,31 triliun dan arus kas operasi Rp2,04 triliun tidak bisa dibaca sebagai cerminan murni bisnis kayunya. Karena itu, membandingkan DSNG dengan WOOD atau IFII harus dibaca sebagai perbandingan model bisnis, bukan sekadar adu margin segmen kayu.

Kalau fokus ke efisiensi laba terhadap revenue kayu, IFII terlihat paling tebal. IFII mencetak laba bersih total Rp154,5 miliar dari revenue kayu Rp1,02 triliun, kira-kira setara margin bersih 15,2%, jauh di atas WOOD yang laba bersihnya Rp109,5 miliar dari Rp2,16 triliun, sekitar 5,1%, dan FWCT Rp45,9 miliar dari Rp1,14 triliun, sekitar 4,0%. SOFA memang masih laba Rp0,56 miliar dari Rp23,0 miliar, kira-kira 2,4%, tapi ini rapuh karena arus kas operasi malah minus Rp3,1 miliar, artinya keuntungan akuntansi tidak berhasil jadi uang tunai. TIRT lebih ekstrem, rugi bersih Rp33,1 miliar dengan arus kas operasi minus Rp8,3 miliar, jadi di sini ceritanya bukan siklus normal industri, tapi fase bertahan hidup dan transformasi. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

WOOD memegang piutang sekitar Rp349,3 miliar, tapi persediaannya tembus Rp3,19 triliun, jadi struktur modal kerjanya berat di stok, bukan di tagihan. Ini membuat WOOD sensitif pada perlambatan order ekspor, karena uang keburu berubah jadi barang. Kebalikannya FWCT, piutang Rp39,1 miliar dan persediaan Rp78,9 miliar, jadi stoknya relatif ramping dibanding penjualan, dan ini nyambung dengan arus kas operasi positif Rp74,9 miliar. IFII juga relatif rapi, piutang Rp116,2 miliar dan persediaan Rp250,1 miliar, lalu arus kas operasi Rp310,9 miliar, ini setara sekitar 30,6% dari revenue kayu, angka yang biasanya cuma muncul kalau penagihan kuat dan perputaran barang disiplin. SOFA justru terlihat berat di persediaan Rp30,7 miliar dengan revenue cuma Rp23,0 miliar, jadi secara statistik stoknya lebih besar dari penjualannya, wajar kalau kasnya tertekan. Untuk DSNG, piutang Rp364,2 miliar dan persediaan Rp1,35 triliun menunjukkan modal kerja besar, tetapi lagi-lagi ini bercampur dengan sawit, jadi pembacaannya harus hati-hati.

Soal struktur permodalan, yang paling aman secara rasio terlihat di IFII karena IFII punya total utang Rp359,9 miliar dengan total aset Rp1,72 triliun, jadi utang terhadap aset sekitar 21,0%, dan utang terhadap ekuitas sekitar 0,27 kali. WOOD lebih berat, total utang Rp3,14 triliun dibanding aset Rp7,73 triliun, utang terhadap aset sekitar 40,7%, dan utang terhadap ekuitas sekitar 0,69 kali, masih wajar untuk skala besar, tapi jelas lebih sensitif kalau kas operasi melemah karena stok kebanyakan. FWCT paling ketat di antara yang masih sehat, total utang Rp363,7 miliar dibanding aset Rp746,2 miliar, utang terhadap aset sekitar 48,7%, dan utang terhadap ekuitas sekitar 0,95 kali, jadi ruang napasnya lebih sempit bila terjadi gangguan permintaan atau kenaikan biaya bahan baku. SOFA masih moderat, utang terhadap aset sekitar 24,9% dan utang terhadap ekuitas sekitar 0,33 kali, tetapi masalahnya ada di kas operasi yang negatif. TIRT sudah masuk zona bahaya, total utang Rp1,07 triliun sementara aset Rp361,6 miliar dan ekuitas negatif Rp708,8 miliar, jadi leverage-nya tidak lagi bicara efisiensi, tapi risiko struktur neraca. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Karakter ekspor juga membuat profil risiko tiap emiten beda. WOOD sangat bergantung pada ekspor, ekspor Rp2,13 triliun dibanding lokal Rp18,3 miliar, berarti sekitar 99,15% penjualan kayu datang dari luar negeri, dan konsentrasi pelanggannya tinggi karena tiga pelanggan besar menyumbang sekitar 62,04% penjualan. FWCT juga kuat di ekspor dengan Far East American Inc sekitar 24% dan Concannon Lumber Co sekitar 16%, total 40% hanya dari dua nama, jadi risiko konsentrasi tetap ada meski tidak setinggi WOOD. IFII bahkan lebih tajam, pelanggan terbesar S A Shahab And Company Pte Ltd sekitar 52,10% dan SMB Kenzai Co Ltd sekitar 20,33%, total 72,43% dari dua pelanggan, jadi keunggulan volume datang dengan konsekuensi ketergantungan. DSNG untuk segmen kayu juga dominan ekspor, Rp865,4 miliar dibanding lokal Rp83,3 miliar, sekitar 91,2% ekspor, tetapi penyerap risiko utamanya ada di diversifikasi grup, bukan di kayu itu sendiri. SOFA bermain di furnitur high-end dengan merek Blackwood dan pola ritel-proyek, sehingga skalanya kecil tapi volatilitasnya bisa tinggi. TIRT saat ini hanya melayani pelanggan lokal kecil sambil bergeser ke bisnis pelayaran, jadi membandingkannya dengan eksportir aktif akan menghasilkan kesimpulan yang menyesatkan. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Intinya, tema besar kayu ekspor dapat USD tapi bayar banyak biaya pakai rupiah memang nyata, namun yang membedakan pemenang dan korban biasanya ada di tiga statistik ini. Seberapa berat persediaan dibanding penjualan, seberapa kuat arus kas operasi dibanding laba, dan seberapa longgar struktur utangnya saat siklus permintaan berubah. Di set data September 2025, IFII terlihat paling konsisten di kas dan margin, WOOD paling besar tapi modal kerjanya paling berat di stok, FWCT paling rapi di modal kerja tapi leverage-nya relatif ketat, DSNG paling kuat secara grup tapi angka segmen kayu tidak bisa diseret jadi pembuktian profit kayu, sementara SOFA dan terutama TIRT lebih cocok dibaca sebagai cerita khusus, bukan representasi normal industri kayu ekspor. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/3

testestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Harga Kayu di Amerika Mendekati 600 Dollar

Rebound tapi belum bisa tembus all time high lagi. Secara teoritis, kenaikan harga kayu ini harusnya bisa berdampak positif buat perusahaan kayu Indonesia yang melakukan ekspor ke Amerika. Dapat duit dollar, bayar karyawan pakai rupiah. Margin tebal.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
$FWCT $WOOD $IFII

Read more...

1/2

testes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Belanja Modal Perusahaan

Belanja modal sering dipakai jadi panggung supaya perusahaan terlihat ekspansi, padahal tidak sedikit yang cuma ganti kemasan dan bikin hidup direksi makin nyaman dengan beli Mercy pakai duit perusahaan tapi Mercy nya atas nama direktur๐Ÿ˜Œ. Investor akhirnya nyangkut karena laba kelihatan naik, tetapi kasnya habis ditelan proyek yang tidak jelas balik modalnya. Di pasar seperti IHSG, capex yang bagus itu yang membuat biaya per unit turun, distribusi makin efisien, dan kas setelah capex tetap tebal. Capex yang jelek biasanya bikin laporan penuh cerita, tetapi FCF mengempis dan utang naik pelan-pelan. Jadi tes paling jujur itu sederhana, habis belanja modal, perusahaan masih cetak kas atau malah minta napas ke bank? Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Ada emiten yang capexnya relatif ringan terhadap kemampuan menghasilkan kas, sehingga FCF tetap kuat dan risiko pembiayaan rendah. Ada yang capexnya menengah dan masih nyaman karena mesin kas besar, walau utang bank tetap harus dipantau karena siklus bisnisnya bisa berubah cepat. Ada juga yang capexnya sudah melampaui CFO, sehingga FCF negatif, ini bukan otomatis buruk, tapi artinya investor sedang membiayai fase pembangunan aset produktif, dan hasilnya wajib terlihat cepat. Yang paling patut dicurigai justru capex yang tidak memperbaiki putaran kas, karena itu biasanya yang membuat cerita ekspansi jadi beban berkepanjangan.

Dilihat dari peruntukannya, pembeda tiap emiten cukup jelas. $ACES banyak di renovasi gerai dan peralatan toko, ini tipe belanja yang menjaga daya tarik dan efisiensi ritel, dan biasanya masuk akal kalau dibiayai dari kas internal. GOOD fokus kapasitas pabrik, mesin, peralatan, plus akuisisi merek lewat kombinasi bisnis, arahnya memperlebar portofolio dan memperkuat pangsa. $CPIN memperkuat logistik dan rantai pasok vertikal lewat silo, gudang bahan baku, hatchery, kandang, ini tipikal belanja pemimpin pasar untuk menekan biaya jangka panjang. $FWCT membangun pabrik plywood dan menambah aset logistik seperti tugboat dan tongkang, ini ekspansi yang bisa jadi lompatan, tetapi menuntut disiplin likuiditas karena fase awalnya lebih berat ke kas. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

๐Ÿ—๏ธ Belanja Modal Untuk Apa? NYANGKUT?
๐ŸŽฏ ACES renovasi toko, peralatan toko, kantor
๐Ÿญ GOOD ekspansi kapasitas, mesin pabrik, perolehan merek
๐Ÿ“ CPIN silo, gudang bahan baku, hatchery, kandang
๐Ÿชต FWCT pabrik plywood WCT 1 dan WCT 3, tugboat, tongkang

๐Ÿ’Ž Mesin kas setelah capex
๐Ÿฅ‡ FCF dibanding revenue
๐ŸŸข ACES 13,66%
๐ŸŸก GOOD 5,75%
๐ŸŸ  CPIN 5,57%
๐Ÿ”ด FWCT minus 2,11%

๐Ÿงท Capex dibanding CFO
๐Ÿ”ด FWCT 132,18%
๐ŸŸ  GOOD 41,32%
๐ŸŸก CPIN 29,80%
๐ŸŸข ACES 13,23%
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

๐Ÿ›Ÿ CFO dibanding capex
๐ŸŸข ACES 7,56x
๐ŸŸก CPIN 3,36x
๐ŸŸ  GOOD 2,42x
๐Ÿ”ด FWCT 0,76x

๐Ÿ’ง Kualitas konversi kas
๐Ÿงฒ Penerimaan pelanggan dibanding revenue
๐ŸŸข ACES 114,46%
๐ŸŸก GOOD 102,62%
๐ŸŸ  FWCT 99,64%
๐Ÿ”ด CPIN 99,04%

๐Ÿงพ Piutang dibanding revenue
๐ŸŸข ACES 1,86%
๐ŸŸก FWCT 3,42%
๐ŸŸ  CPIN 5,14%
๐Ÿ”ด GOOD 9,55%
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

๐Ÿฆ Pendanaan dan beban bunga
๐Ÿท๏ธ Utang bank dibanding revenue
๐ŸŸข ACES 0,00%
๐Ÿ”ด GOOD 21,71%
๐ŸŸ  FWCT 16,11%
๐ŸŸก CPIN 13,96%

๐Ÿงจ Utang bank dibanding CFO
๐Ÿ”ด FWCT 2,46x
๐ŸŸ  GOOD 2,22x
๐ŸŸก CPIN 1,76x
๐ŸŸข ACES tidak ada utang bank

๐Ÿงฏ Beban keuangan dibanding CFO
๐Ÿ”ด FWCT 20,20%
๐ŸŸ  GOOD 13,09%
๐ŸŸก CPIN 10,71%
๐ŸŸข ACES 5,50%

๐Ÿ“ฆ Tekanan biaya operasional
๐Ÿงช Gross margin
๐ŸŸข ACES 47,87%
๐ŸŸก GOOD 27,73%
๐ŸŸ  CPIN 15,95%
๐Ÿ”ด FWCT 12,14%
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

๐Ÿงฐ SGA dibanding revenue
๐Ÿ”ด ACES 40,90%
๐ŸŸ  GOOD 20,16%
๐ŸŸก CPIN 6,80%
๐ŸŸข FWCT 6,07%

๐Ÿช™ Laba bersih dibanding revenue
๐ŸŸข ACES 7,53%
๐ŸŸก CPIN 6,66%
๐ŸŸ  GOOD 5,66%
๐Ÿ”ด FWCT 4,01%
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

๐ŸŸฉ ACES
๐Ÿ’ต Kas Rp1,82 T
๐Ÿฆ Utang bank Rp0,00 M
๐Ÿ’ง CFO Rp996,96 M
๐Ÿ—๏ธ Capex Rp131,85 M
๐ŸŒŠ FCF Rp865,11 M
๐Ÿ›’ Revenue Rp6,33 T

๐ŸŸจ GOOD
๐Ÿ’ต Kas Rp1,06 T
๐Ÿฆ Utang bank Rp2,05 T
๐Ÿ’ง CFO Rp924,66 M
๐Ÿ—๏ธ Capex Rp382,10 M
๐ŸŒŠ FCF Rp542,56 M
๐Ÿ›’ Revenue Rp9,44 T

๐ŸŸง CPIN
๐Ÿ’ต Kas Rp4,19 T
๐Ÿฆ Utang bank Rp7,06 T
๐Ÿ’ง CFO Rp4,02 T
๐Ÿ—๏ธ Capex Rp1,20 T
๐ŸŒŠ FCF Rp2,82 T
๐Ÿ›’ Revenue Rp50,60 T
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

๐ŸŸฅ FWCT
๐Ÿ’ต Kas Rp93,27 M
๐Ÿฆ Utang bank Rp184,43 M
๐Ÿ’ง CFO Rp74,95 M
๐Ÿ—๏ธ Capex Rp99,07 M
๐ŸŒŠ FCF minus Rp24,12 M
๐Ÿ›’ Revenue Rp1,14 T

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/9

testestestestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$USDIDR๐Ÿ‘ˆ๐Ÿ‘ˆ
$FWCT
Mamen sadar gak????

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Piutang Macet Adalah Racun

Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Piutang macet itu pembunuh senyap, perusahaan bisa terlihat untung padahal kasnya tersedot di tagihan yang tidak kembali. Di Indonesia, banyak cerita gagal bayar berawal dari kebiasaan memberi kredit longgar demi mengejar penjualan. Saat pelanggan mulai telat bayar, beban cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) memotong laba, lalu arus kas operasi ikut melemah, dan bank biasanya mulai mengetat. Investor yang disiplin biasanya membaca piutang lebih dulu daripada membaca laba, karena piutang yang menua adalah alarm paling awal. Data per 30 September 2025 di PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk ($ACES), PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD), PT Wijaya Cahaya Timber Tbk ($FWCT), dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk ($CPIN) memperlihatkan pola yang kontras, dari yang nyaris setara kas sampai yang ekornya sudah lewat 180 hari. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau dilihat dari nominal piutang usaha neto, CPIN paling besar di Rp2,60 triliun atau Rp2.599,7 miliar, jauh di atas GOOD Rp901,7 miliar, lalu ACES Rp117,9 miliar, dan FWCT Rp39,1 miliar. Nominal besar tidak otomatis bahaya, tetapi artinya eksposur kreditnya memang bagian penting dari mesin penjualan. Di sisi porsi terhadap aset, GOOD justru paling berat dengan sekitar 10,5%, sedangkan CPIN sekitar 5,9% dan FWCT sekitar 5,2% berada di tengah, lalu ACES paling tipis sekitar 1,4%. Jadi, GOOD menanggung sensitivitas yang lebih tinggi ke perilaku pembayaran pelanggan, sementara ACES lebih mirip ritel yang piutangnya bukan pusat cerita.

Kualitas umur piutang memberi gambaran yang lebih tajam dibanding nominal. FWCT melaporkan 100% belum jatuh tempo, ACES 98,6% belum jatuh tempo, dan GOOD 85,8% belum jatuh tempo, ini tiga pola yang umumnya nyaman karena menandakan penagihan berjalan sesuai tempo. CPIN lebih campuran, 65,8% masih di bawah 31 hari, tetapi ada ekor 11,4% yang sudah lewat 180 hari, dengan nilai Rp330,6 miliar, dan bagian seperti ini biasanya yang memicu diskusi paling serius soal kualitas kredit. Ekor yang panjang berarti perusahaan harus memilih, mengejar koleksi agresif, menerima write-off, atau memperbesar cadangan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Arah perubahan dari Desember 2024 ke September 2025 memperlihatkan siapa yang sedang memperketat kredit dan siapa yang sedang melonggarkan. ACES melonjak dari Rp44,9 miliar menjadi Rp117,9 miliar, naik Rp73,0 miliar atau 162,6%, dan pendorong utamanya piutang pihak berelasi yang naik menjadi Rp98,7 miliar, itu sekitar 83,7% dari total piutang. GOOD bergerak sebaliknya, turun dari Rp1.159 miliar menjadi Rp901,7 miliar, turun Rp257,3 miliar atau 22,2%, ini biasanya terbaca sebagai penagihan aktif atau pengetatan termin. FWCT naik tipis dari Rp36,8 miliar ke Rp39,1 miliar, naik Rp2,3 miliar atau 6,25%, sedangkan CPIN naik dari Rp2.109 miliar ke Rp2.599,7 miliar, naik Rp490,7 miliar atau 23,3%, yang selaras dengan peningkatan aktivitas kredit piutang seiring penjualan.

Di CKPN, sinyal kehati-hatian paling terasa di CPIN karena CKPN Rp289,6 miliar, sejalan dengan adanya piutang yang sudah sangat menua. GOOD menyisihkan Rp5,7 miliar, relatif kecil dibanding saldo piutang, dan FWCT melaporkan CKPN Rp0 karena seluruh piutang berstatus lancar, sedangkan ACES sangat kecil Rp319 ribu, konsisten dengan model ritel yang piutang pihak ketiganya didominasi kartu kredit. Risiko konsentrasi juga membedakan, FWCT memiliki ketergantungan pendapatan pada Far East American Inc 24% dan Concannon Lumber Co 16% sehingga total 40% dari pendapatan, sedangkan CPIN tidak memiliki pelanggan tunggal yang melebihi 10% penjualan, membuat risiko kreditnya lebih tersebar. GOOD juga tidak memiliki pelanggan pihak ketiga yang melebihi 10% penjualan, sementara ACES justru punya penumpukan di pihak berelasi, termasuk PT Omni Digitama Internusa Rp76,5 miliar, sehingga isu utamanya bukan gagal bayar ritel, melainkan disiplin settlement intra-grup. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

๐Ÿงพ Piutang usaha neto.
๐Ÿ“ CPIN Rp2,60 triliun atau Rp2.599,7 miliar.
๐Ÿ˜ GOOD Rp901,7 miliar.
๐Ÿ›๏ธ ACES Rp117,9 miliar.
๐Ÿชต FWCT Rp39,1 miliar.

๐Ÿงฎ Porsi piutang terhadap aset.
๐Ÿงฒ GOOD sekitar 10,5%.
๐Ÿงฑ CPIN sekitar 5,9%.
๐Ÿงฐ FWCT sekitar 5,2%.
๐Ÿงท ACES sekitar 1,4%.
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

โณ Kualitas umur piutang.
๐ŸŸฉ FWCT 100% belum jatuh tempo.
๐ŸŸฆ ACES 98,6% belum jatuh tempo.
๐ŸŸจ GOOD 85,8% belum jatuh tempo.
๐ŸŸฅ CPIN 11,4% sudah >180 hari, Rp330,6 miliar.

๐Ÿ“ˆ Piutang
๐Ÿš€ ACES naik Rp73,0 miliar, 162,6%, didorong piutang berelasi Rp98,7 miliar.
๐Ÿ“‰ GOOD turun Rp257,3 miliar, 22,2%, sinyal penagihan aktif.
๐Ÿช™ CPIN naik Rp490,7 miliar, 23,3%, kredit tumbuh seiring penjualan.
๐Ÿงฏ FWCT naik Rp2,3 miliar, 6,25%, stabil.

๐Ÿง‘โ€๐Ÿคโ€๐Ÿง‘ Konsentrasi dan sumber risiko.
๐Ÿง‘โ€๐Ÿ’ผ ACES piutang berelasi sekitar 83,7% dari total, PT Omni Digitama Internusa Rp76,5 miliar.
๐Ÿ›ฐ๏ธ FWCT pendapatan terpusat 40% pada 2 pelanggan besar.
๐Ÿง‘โ€๐Ÿณ GOOD relasi terbesar PT Garuda Elang Nusantara Rp45,5 miliar, sekitar 5,05% dari piutang.
๐Ÿง‘โ€๐Ÿ”ง CPIN pelanggan tersebar, tidak ada yang >10% penjualan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

๐Ÿงช CKPN sebagai rem laba.
๐Ÿงจ CPIN CKPN Rp289,6 miliar.
๐Ÿงฟ GOOD CKPN Rp5,7 miliar.
๐Ÿช FWCT CKPN Rp0.
๐Ÿงต ACES CKPN Rp319 ribu.

๐Ÿง  Lonjakan piutang biasanya menahan kas, kasus paling jelas di ACES karena kenaikan piutang berelasi.
๐Ÿงซ Penurunan saldo piutang seperti GOOD biasanya membantu arus kas operasi bila penjualan tetap jalan.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/10

testestestestestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Dollar Meroket Adalah Berkah Buat Saham yang Doyan Ekspor

Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Ada investor yang sengaja cari saham nyangkut yang punya napas ekspor, karena ketika USD meroket, peluang cuan bisa datang dari dua arah sekaligus. Banyak orang mengira semua emiten yang terdengar global otomatis aman saat rupiah melemah. Padahal yang paling menentukan itu struktur pendapatan, struktur biaya, dan posisi moneter valas. Ekspor yang benar-benar hidup di laporan biasanya terasa seperti tameng alami. Impor yang dominan justru bisa berubah jadi beban yang diam-diam menggerus margin. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Cara baca yang paling aman adalah memisahkan dua sumber dampak USD. Pertama, dampak operasional, yaitu penjualan ekspor yang dibayar valas atau yang bergerak searah USD. Kedua, dampak akuntansi, yaitu laba-rugi selisih kurs dari aset moneter neto valas. Keduanya bisa sama-sama positif, tapi bobotnya bisa sangat beda antar emiten. Karena itu, angka posisi valas yang besar tidak otomatis berarti bisnisnya pro-USD.

$FWCT kelihatan paling jelas membawa cerita ekspor sebagai mesin bisnis inti. Sampai September 2025, ada beban penjualan ekspor Rp35,5 miliar, lalu ada pelanggan utama Far East American Inc dan Concannon Lumber Co dengan nilai transaksi Rp457,7 miliar. Dengan pendapatan FWCT Rp1,14 triliun, transaksi ke dua pelanggan itu setara kira-kira 40,1% dari pendapatan, jadi ekspor FWCT besar sekaligus terkonsentrasi. FWCT juga punya fasilitas Kredit Pembiayaan Modal Kerja Ekspor dari Eximbank, jadi ekspornya bukan sekadar klaim, tetapi memang ada infrastruktur pembiayaannya.

Konsekuensi dari konsentrasi itu dua sisi. Di satu sisi, kalau order dari pelanggan utama stabil, utilisasi produksi dan arus kas bisa jauh lebih terjaga dibanding emiten yang ekspornya hanya sisipan. Di sisi lain, ketergantungan pada sedikit nama membuat risiko permintaan menjadi lebih tajam. Saat ada gangguan order atau renegosiasi harga, efeknya bisa langsung merembet ke volume dan margin. Jadi, FWCT menarik bukan karena ekspornya ada, tetapi karena ekspornya dominan dan terukur.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

$GOOD juga punya ekspor yang nyata, penjualan ekspor Rp283,6 miliar sampai September 2025. Bedanya dengan FWCT, GOOD lebih mengandalkan distributor pihak ketiga untuk pasar luar negeri, dengan perjanjian distribusi berdurasi 8 bulan sampai 2 tahun. Model ini biasanya membuat ekspansi pasar terasa lebih ringan dari sisi capex dan operasional. Namun ada titik rawan yang perlu disadari investor, yaitu perjanjian seperti ini bisa diakhiri oleh salah satu pihak dengan pemberitahuan tertentu, sehingga kesinambungan kanal perlu dijaga terus-menerus.

$CPIN punya penjualan luar negeri Rp196 miliar untuk 9M 2025, tetapi dibanding penjualan neto konsolidasian Rp50,6 triliun, porsinya hanya sekitar 0,39%. Artinya, kalau ada investor yang menjadikan CPIN sebagai pegangan ekspor ketika USD melonjak, pijakan utamanya bukan dari porsi ekspor. Pijakan CPIN lebih banyak ada pada skala domestik, kemampuan menjaga margin, dan kemampuan meneruskan perubahan biaya ke harga jual. Di CPIN, cerita besarnya lebih dekat ke manajemen komoditas dan risiko operasional, bukan ke cerita ekspor.

ACES paling berbeda karena inti bisnisnya ritel domestik, bukan penjualan ekspor yang material. ACES punya ketergantungan impor yang tinggi, 87,03% dari total pembelian adalah barang impor. Jadi ketika USD menguat, tekanan pertama yang muncul sering kali ada di harga pokok barang dagangan. Jika penyesuaian harga jual tidak mulus, margin bisa tertekan meskipun secara akuntansi ada komponen valas yang terlihat positif. Ini yang membuat ACES terlihat seperti punya exposure valas, tetapi secara bisnis bisa merasakan sisi yang berlawanan.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Dari sisi laba-rugi kurs dan posisi moneter neto valas, semua emiten ini sebenarnya berada di sisi yang secara teori diuntungkan USD karena aset moneter neto valasnya positif. FWCT mencatat laba kurs Rp4,69 miliar, dengan posisi moneter neto valas positif Rp96,8 miliar, dan kenaikan 1% kurs USD meningkatkan laba sebelum pajak Rp5,8 miliar. CPIN mencatat laba kurs Rp47,6 miliar, posisi moneter neto valas positif Rp491 miliar, dan kenaikan 1% kurs USD berdampak Rp5,2 miliar pada laba sebelum pajak. GOOD punya posisi moneter neto valas positif Rp170,7 miliar, dan penguatan 1% USD meningkatkan laba setelah pajak Rp1,33 miliar.

ACES mencatat rugi kurs Rp10,1 miliar meskipun posisi moneter neto valasnya positif Rp282,4 miliar, dan kenaikan 1% kurs USD berdampak Rp2,8 miliar pada laba sebelum pajak. Ini contoh bagus bahwa arah dampak tidak berhenti di angka moneter neto saja, karena realisasi kurs, struktur transaksi, dan timing bisa membuat hasil periode berjalan terlihat berbeda. Dan yang lebih penting untuk investor, ACES tetap membawa risiko operasional dari sisi impor 87,03% yang bisa menekan margin ketika USD naik. Jadi, gain kurs yang terlihat bisa saja tidak cukup untuk menutup kenaikan biaya barang.

Kalau dibanding dari sisi risiko yang paling menentukan hasil akhir, FWCT dan GOOD lebih dekat ke pola natural hedge karena ada penjualan ekspor yang bisa membantu menyeimbangkan tekanan biaya terkait USD. CPIN lebih ditentukan oleh risiko bisnis dan komoditas, termasuk ketidakpastian faktor alam seperti penyakit ayam, serta fluktuasi jagung dan bungkil kedelai, dengan mitigasi utama lewat penyesuaian harga. ACES membawa risiko pasokan dan harga impor yang membuat USD kuat berpotensi menjadi tekanan, terutama bila daya beli dan kompetisi ritel membatasi ruang kenaikan harga. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Jadi untuk investor yang sengaja mencari saham nyangkut yang pro-USD, yang paling nyaman biasanya bukan yang sekadar punya aset moneter neto valas positif, melainkan yang punya arus pendapatan ekspor yang cukup nyata untuk menjaga margin tetap hidup saat USD naik.

๐ŸŒ Saham ekspor dan sensitivitas USD
๐ŸŒฒ FWCT ekspor kayu lapis dan veneer dominan
โ€ƒโ€ƒ๐Ÿ“ฆ Transaksi pelanggan luar negeri Rp457,7 miliar
โ€ƒโ€ƒ๐Ÿ’ต Beban penjualan ekspor Rp35,5 miliar
โ€ƒโ€ƒ๐Ÿฆ Kredit modal kerja ekspor Eximbank
โ€ƒโ€ƒ๐Ÿ“Š Posisi moneter valas positif Rp96,8 miliar
โ€ƒโ€ƒ๐Ÿ“ˆ USD naik 1% laba sebelum pajak naik Rp5,8 miliar Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

๐Ÿ— CPIN bisnis domestik skala besar
โ€ƒโ€ƒ๐Ÿšข Penjualan luar negeri Rp196 miliar
โ€ƒโ€ƒ๐Ÿ“‰ Porsi ekspor sekitar 0,39% dari revenue
โ€ƒโ€ƒ๐Ÿ’ฐ Posisi moneter valas positif Rp491 miliar
โ€ƒโ€ƒ๐Ÿ“Š USD naik 1% laba sebelum pajak naik Rp5,2 miliar
โ€ƒโ€ƒ๐ŸŒฝ Risiko utama jagung bungkil kedelai dan penyakit ayam

๐Ÿช GOOD ekspor lewat distributor
โ€ƒโ€ƒ๐ŸŒ Penjualan ekspor Rp283,6 miliar
โ€ƒโ€ƒ๐Ÿค Kontrak distribusi 8 bulan sampai 2 tahun
โ€ƒโ€ƒ๐Ÿ’ต Posisi moneter valas positif Rp170,7 miliar
โ€ƒโ€ƒ๐Ÿ“ˆ USD naik 1% laba setelah pajak naik Rp1,33 miliar

๐Ÿฌ ACES ritel domestik impor berat
โ€ƒโ€ƒ๐Ÿ“ฆ Impor 87,03% dari total pembelian
โ€ƒโ€ƒ๐Ÿ’ผ Posisi moneter valas positif Rp282,4 miliar
โ€ƒโ€ƒ๐Ÿ“‰ Rugi kurs Rp10,1 miliar
โ€ƒโ€ƒโš ๏ธ USD naik tekan margin karena biaya barang Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

โ€ƒโ€ƒโœ… Pro USD operasional FWCT
โ€ƒโ€ƒโš–๏ธ Seimbang ringan GOOD
โ€ƒโ€ƒ๐Ÿญ Domestik kuat CPIN
โ€ƒโ€ƒ๐Ÿšจ Rentan USD kuat ACES

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/10

testestestestestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$FWCT saham bagus ga ada yg ngelirik kah ini

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Makin Sering Nyangkut = Makin Banyak Berdoa = Makin Banyak Belajar

Lanjutan dari pembahasan saham nyangkut di External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Ketika investor tidak nyangkut, rantai pasok itu terasa seperti detail yang tidak penting, karena yang dilihat cuma harga saham dan headline kinerja. Begitu sudah nyangkut, barulah otak investor dipaksa turun ke dapur perusahaan, bahan bakunya apa, belinya dari siapa, pakai impor atau lokal, dan siapa yang sebenarnya pegang tombol harga. Di titik itu, nyangkut berubah jadi semacam sekolah kilat, karena setiap angka di Laporan Keuangan mendadak punya konsekuensi langsung ke portofolio. Yang menarik, semakin besar dan semakin kompleks perusahaannya, semakin banyak juga area yang bisa bocor, bukan cuma dari laba, tapi dari bahan baku, kurs, kontrak, dan relasi. Jadi manfaat nyangkut itu salah satunya sederhana tapi mahal nilainya, investor jadi belajar sampai ke akar, bukan cuma sampai ke permukaan. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau dibedah dari sisi bahan baku, perbedaan karakter antar emiten langsung terlihat dari skala dan jenis risiko yang dibawa. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) itu dunia komoditas dan impor yang volumenya masif, bahan baku yang digunakan sampai September 2025 mencapai Rp35,76 triliun, terutama jagung dan bungkil kacang kedelai untuk pakan, ditambah bahan kemasan, bahan farmasi, dan bahan baku segmen ayam olahan. Sementara PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) lebih seperti keranjang multi-komoditas untuk makanan-minuman, kacang tanah, jagung, kedelai, coklat bubuk dan cair, susu cair segar, buah-buahan, sayuran, lalu bahan kemasan, barang setengah jadi, sampai barang habis pakai dan suku cadang, dengan beban pokok bahan baku yang digunakan sekitar Rp4,8 triliun. Secara statistik, ini bukan beda tipis, CPIN kira-kira 7,45 kali lebih besar dari GOOD dalam konsumsi bahan baku, jadi volatilitas harga komoditas dan kurs di CPIN punya daya rusak yang jauh lebih besar per satuan waktu.

Begitu masuk ke pola pembelian, investor yang nyangkut biasanya baru sadar bahwa siapa pemasoknya sering sama pentingnya dengan berapa margin labanya. GOOD melakukan pembelian persediaan signifikan dari pihak berelasi seperti PT Tudung Putra Putri Jaya (TPPJ), PT Garuda Elang Nusantara (GEN), dan PT Hormel Garudafood Jaya (HGJ), lalu lewat entitas anak PT Mulia Boga Raya Tbk (MBR) ada jalur bahan baku khusus untuk keju merek Prochiz. Ini memberi dua lapis efek, satu sisi bisa mengamankan pasokan dan standar kualitas, sisi lain membuat investor wajib mengecek kewajaran harga transfer dan ketahanan pasok kalau ada perubahan kebijakan grup. Sebagai mitigasi, GOOD menyebut pengawasan tingkat persediaan dan kadang memakai kontrak berjangka komoditas, yang artinya manajemen sadar harga bahan baku bisa menggoyang margin kapan saja. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

CPIN membawa bentuk kompleksitas lain, karena ketergantungan impor dan jaringan pemasok grupnya membuat risiko kurs ikut menempel ke biaya. Sumber bahan bakunya mencakup impor luar negeri untuk komoditas utama, pembelian signifikan melalui entitas sepengendali seperti PT SHS International, PT Satria Multi Sukses, PT Indovetraco Makmur Abadi, Great Emerald Pte. Ltd., PT Nugen Bioscience Indonesia, PT Surya Alam Permai, sampai CP Meiji https://cutt.ly/itzQnv4x. dari Thailand untuk barang jadi tertentu, lalu tetap ada pemasok pihak ketiga dengan utang usaha Rp975,1 miliar. Pola ini membuat tren risiko CPIN cenderung mengikuti tiga gelombang yang sering datang bersamaan, harga komoditas global, kurs, dan biaya pendanaan modal kerja, karena pakan itu game volume dan perputaran. CPIN juga memitigasi dengan kontrak pembelian saat harga murah, sesekali kontrak berjangka komoditas, dan formula produksi yang memungkinkan substitusi bahan baku tanpa menurunkan kualitas, tetapi mitigasi seperti ini biasanya mengurangi guncangan, bukan menghapusnya.

FWCT beda cerita, karena di sini nyangkut sering membuka mata investor bahwa risiko tidak selalu datang dari harga komoditas global, tapi dari konsentrasi pasok dan struktur perjanjian. PT Wijaya Cahaya Timber Tbk (FWCT) membeli veneer, log kayu, bahan pembantu, dan suku cadang, dengan persediaan veneer Rp16,91 miliar per 30 September 2025. Pasokan veneer signifikan datang dari pihak berelasi PT Wijaya Triutama Plywood Industri (WTPI) lewat perjanjian jual-beli jangka panjang 10 tahun sampai 1 November 2030, dan nilai pembelian dari WTPI mencapai Rp60,55 miliar atau 8,74% dari total pembelian grup. Untuk mengunci pasokan, FWCT menempatkan security deposit Rp21 miliar sebagai aset keuangan tidak lancar, plus ada kerja sama pemanfaatan hutan dengan Perum Perhutani KPH Kediri untuk FGS Jabon, serta pembelian dari pihak ketiga lain tanpa ada pemasok individu yang melebihi 10% dari total penjualan konsolidasian. Di sisi pembiayaan, ada fasilitas dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia atau Eximbank dengan tujuan spesifik untuk pembelian bahan baku, yang membuat rantai pasok FWCT melekat pada disiplin bank dan kelancaran ekspor. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

ACES itu contoh kontras yang sering bikin investor salah fokus kalau belum nyangkut, karena ACES bukan manufaktur, jadi tidak punya bahan baku produksi, yang ada adalah persediaan barang dagangan untuk dijual ulang. Persediaan ACES terbagi ke home improvement products, lifestyle products, dan toys products yang dikelola juga lewat PT Toys Games Indonesia (TGI). Yang bikin efeknya tajam adalah sumber pembeliannya, porsi impor mencapai 87,03% dari total pembelian per 30 September 2025, lalu ada pembelian dari ekosistem Grup Kawan Lama seperti PT Krisbow Indonesia dan entitas lain, serta sebelumnya ada hak eksklusif pembelian produk Ace dari Ace Hardware Corporation sampai akhir 2024. Jadi tren risikonya di ACES itu lebih banyak mengikuti kurs, biaya logistik, ketersediaan pasokan impor, dan dinamika siklus konsumsi, bukan soal naik-turun harga jagung atau veneer.

Kalau investor menyusun benang merahnya, kelihatan bahwa manfaat nyangkut paling terasa saat investor mulai membaca bahan baku sebagai peta risiko, bukan sekadar catatan akuntansi. CPIN itu permainan skala dengan bahan baku Rp35,76 triliun, jadi perubahan kecil pada harga dan kurs bisa bergetar ke laba karena basisnya besar dan berulang. GOOD lebih kecil di Rp4,8 triliun, tetapi multi-komoditas dan ada pola pembelian pihak berelasi, sehingga investor belajar menguji kewajaran transaksi dan daya tahan supply chain internal grup. FWCT terlihat kecil dari angka persediaan veneer Rp16,91 miliar, tetapi punya kontrak pasok panjang, pembelian pihak berelasi 8,74% dari total, deposit Rp21 miliar, dan pembiayaan Eximbank untuk bahan baku, jadi risiko utamanya sering muncul dari eksekusi perjanjian, ketergantungan pasok, dan ritme ekspor. ACES malah mengajarkan pelajaran paling sederhana, ketika impor 87,03% jadi sumber utama barang dagangan, maka kurs dan logistik adalah bahan baku sesungguhnya bagi ritel, walaupun tidak tercatat sebagai bahan baku pabrik. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Nyangkut membuat investor belajar karena begitu nyangkut, investor biasanya berhenti bertanya harga sahamnya ke mana, lalu mulai bertanya perusahaan ini hidup dari apa, beli dari siapa, dan apa yang terjadi kalau jalur pasok itu tersendat. Angka-angka yang awalnya terasa cuma pelengkap, seperti utang usaha pihak ketiga Rp975,1 miliar di CPIN, pembelian pihak berelasi di GOOD, impor 87,03% di ACES, atau deposit Rp21 miliar di FWCT, mendadak berubah jadi faktor yang menentukan tenang atau paniknya investor saat kondisi makro berubah. Dan dari sisi pola geraknya, semakin besar skala bahan baku dan semakin berat ketergantungan pada impor atau relasi tertentu, semakin cepat juga risiko bisa pindah dari catatan ke laba. Itulah kenapa investor yang sudah nyangkut sering justru jadi investor yang lebih paham, karena rasa sakit membuat mereka belajar sampai tuntas.

๐Ÿญ $GOOD
๐Ÿฅœ Kacang tanah
๐ŸŒฝ Jagung
๐Ÿซ˜ Kedelai
๐Ÿซ Coklat bubuk dan cair
๐Ÿฅ› Susu cair segar
๐Ÿฅญ Buah-buahan dan sayuran
๐Ÿ“ฆ Bahan kemasan
๐Ÿงฉ Barang setengah jadi
๐Ÿ”ง Barang habis pakai dan suku cadang
๐Ÿค Pihak berelasi
๐Ÿข TPPJ, GEN, HGJ
๐Ÿง€ MBR Prochiz
๐Ÿ’ฐ Bahan baku digunakan sekitar Rp4,8 triliun
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

๐Ÿ” $CPIN
๐ŸŒฝ Jagung
๐Ÿซ˜ Bungkil kedelai
๐Ÿ“ฆ Bahan kemasan
๐Ÿ’Š Farmasi dan obat hewan
๐ŸŒ Impor bahan utama
๐Ÿค Pihak berelasi
๐Ÿข SHS International, Satria Multi Sukses, Indovetraco, Nugen, dan lain-lain
๐Ÿ’ฐ Bahan baku digunakan Rp35,76 triliun

๐Ÿชต $FWCT
๐Ÿงฑ Veneer
๐Ÿค WTPI Rp60,55 miliar, 8,74% pembelian, kontrak sampai 1 November 2030
๐ŸŒฒ Log kayu
๐ŸŒณ Perum Perhutani KPH Kediri
๐Ÿ’ผ Security deposit Rp21 miliar
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

๐Ÿฌ ACES
๐Ÿ“ฆ Barang dagangan jadi
๐ŸŒ Impor 87,03% pembelian
๐Ÿค Vendor grup
๐Ÿงฐ Krisbow Indonesia dan ekosistem Kawan Lama

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/3

testestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Jika Memang Terpaksa Harus Nyangkut Saham

Lanjutan dari diskusi nyangkut di External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Kalau investor mau nyangkut di $CPIN, $FWCT, GOOD, dan $ACES, riset yang benar itu adalah hal yang wajib, bukan untuk gaya-gayaan, riset itu adalah alat keselamatan. Banyak orang di Stockbit beli saham seperti beli tren, ikut-ikutan karena ada influencer yang teriak gas all in, lalu baru panik saat laporan keuangan bicara hal yang tidak mereka pahami dan harga anjlok. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Yang bikin bahaya investor adalah sumber nyangkut paling menyakitkan bukan cuma karena harga turun, tetapi juga karena salah paham terhadap tata kelola, pihak berelasi, dan risiko hukum yang diam-diam bisa menyedot laba dan kas. Investor yang tidak punya alasan beli dan rencana jual biasanya akan menyerah di momen terburuk, karena mereka tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik angka. Sebaliknya, kalau nyangkut atas kesadaran sendiri, nyangkut lama pun masih bisa ikhlas, karena investor paham pemicunya dan paham apa yang harus dipantau.

Kalau dibandingkan dari ekosistem pengendali, empat emiten ini sama-sama hidup di bawah payung grup yang protektif, hanya bentuk proteksinya berbeda dan dampaknya ke investor juga beda. CPIN dikendalikan keluarga Jiaravanon lewat struktur grup dengan PSP 55,53%, dan integrasi hulu-hilirnya lengkap dari pembibitan, pakan, sampai olahan, plus ada lisensi intelektual dari entitas pengendali global yang dibayar lewat royalti.
FWCT lebih terpusat ke figur pengendali, PSP 58,08% lewat PT Fortuna Anugrah Sumber Terpadu dengan Aris Sunarko sebagai ultimate shareholder, dan rantai hulunya tergantung pemasok veneer WTPI, lalu hilirnya mulai melebar ke pelayaran lewat anak usaha baru.
GOOD terlihat punya jangkar global yang unik, Hormel 30,17% dan PSP PT Tudung Putra Putri Jaya 10,04%, lalu hilirnya ditarik kuat oleh SNS sebagai distribusi dan MBR untuk pengolahan, ditambah GBS yang sudah terintegrasi penuh pasca akuisisi.
ACES dikendalikan PT Kawan Lama Sejahtera 60% dengan induk terakhir PT Kawan Lama Internusa, dan modelnya sangat ekosistem, lahan, vendor, sampai e-commerce banyak bersinggungan dengan entitas grup. Persamaannya jelas, investor tidak sedang menilai perusahaan yang berdiri sendiri, investor sedang menilai perusahaan yang bergerak di dalam jaringan kepentingan grup, sehingga kualitas tata kelola terasa dari seberapa wajar arus nilai antara emiten dan entitas grupnya. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Bagian yang paling sering membuat investor menyesal adalah saat transaksi pihak berelasi berubah dari sekadar operasional menjadi mekanisme penyedotan margin. Dilihat dari besarnya transaksi yang langsung menekan laba, CPIN punya beban royalti ke Nugen Bioscience Rp511,05 miliar yang setara 33,18% dari beban umum, ini seperti biaya tetap yang tetap hidup saat siklus ayam sedang tidak ramah, dan secara kasar disebut bisa menggerus sekitar 15% dari laba periode berjalan. CPIN juga punya pembelian bahan baku Rp2,24 triliun yang setara 4,43% dari penjualan, jadi relasi itu bukan kosmetik, itu jalur biaya.
GOOD punya pembelian COGS dari TPPJ dan GEN Rp947,21 miliar yang setara 13,88% dari COGS, lalu kompensasi manajemen Rp84,85 miliar yang kira-kira sekitar 17% dari laba bersih, ini angka yang membuat investor perlu kritis karena porsi nilai yang pindah ke manajemen dan grup bisa terasa besar saat laba lagi tipis.
FWCT terlihat lebih kecil dari sisi nominal, tetapi karakter risikonya tajam, pembelian veneer dari WTPI Rp60,55 miliar setara 8,74% dari pembelian dan utang ke FAST sebagai PSP Rp43,40 miliar setara 18,07% dari liabilitas, lalu total utang pihak berelasi yang disebut mencapai Rp65,7 miliar dengan bunga 8,5% sampai 9% menekan arus kas bebas yang sedang dipulihkan.
ACES juga punya transaksi yang sifatnya struktural, pembelian inventori dari Krisbow Rp196,85 miliar setara 5,48% dari pembelian, dan liabilitas sewa ke PT Tiga Dua Delapan Rp165,82 miliar setara 9,70% dari liabilitas, jadi ketergantungan properti grup itu nyata. Dari pola ini, CPIN dan GOOD cenderung punya beban berulang yang sifatnya seperti toll gate, royalti, shared services, kompensasi, sedangkan FWCT dan ACES lebih banyak terikat pada rantai pasok dan ekosistem grup yang menentukan fleksibilitas operasional. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Di sisi perjanjian penting dan pembatasan pendanaan, perbedaannya terasa pada ruang gerak manajemen saat kondisi berubah. CPIN punya covenant yang relatif standar untuk perusahaan besar, Debt to Tangible Net Worth di bawah 2x dan EBITDA dibanding bunga di atas 2x, sehingga ukurannya jelas dan bisa dipantau sebagai disiplin finansial, tetapi di sisi lain CPIN juga punya perjanjian lisensi yang membuat royalti menjadi komponen yang sulit dihindari.
FWCT justru kebalikannya, ada perjanjian transaksi veneer 10 tahun sampai 2030 yang mengunci pasokan dengan deposit Rp21 miliar, lalu pinjaman bank BNI punya negative covenant ketat, dilarang akuisisi atau investasi melebihi laba sesudah pajak atau earning after tax (EAT) tanpa izin bank, jadi perusahaan bisa saja punya peluang ekspansi, tetapi tangannya diikat oleh kontrak. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

GOOD punya cerita kombinasi bisnis GBS yang menghasilkan bargain purchase karena imbalan kas lebih rendah dari nilai wajar aset neto, lalu ada shared services agreement dengan TPPJ untuk efisiensi IT, keuangan, dan audit, sehingga ada peluang efisiensi, tetapi juga ada ruang debat fairness karena biaya jasa internal bisa menjadi kanal shifting laba.
ACES punya perubahan besar karena lisensi Ace Hardware berakhir per 2025 sehingga royalti dari sekitar Rp35 miliar tahun lalu menjadi Rp0 di 9M 2025, ini penghematan yang langsung memperbaiki margin operasional kalau biaya rebranding tidak membengkak, dan di saat yang sama ACES punya merchant agreement masif dengan bank untuk transaksi kartu kredit pelanggan yang menunjukkan bisnisnya sangat bergantung pada kelancaran ekosistem pembayaran dan traffic toko.

Kalau investor mau membandingkan dinamika perbaikan, ACES terlihat punya pergeseran paling jelas dari sisi biaya tetap royalti yang hilang, sedangkan CPIN tetap memikul komponen royalti yang besar, FWCT memikul kontrak yang membatasi manuver, dan GOOD memikul kompleksitas integrasi dan pembagian nilai di dalam grup. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

CPIN punya tagihan pajak atau claim for refund Rp397,29 miliar, artinya ada angka besar yang statusnya tidak sederhana dan evaluasinya bisa panjang, sehingga investor perlu sadar bahwa laporan pajak itu bukan formalitas.
FWCT justru punya sisi yang relatif lebih bersih dalam narasi pajak karena menerima SKPLB PPN 2024 yang direstitusi pada 2025, jadi ada efek kas yang lebih ramah, dan secara hukum mereka sedang diversifikasi ke pelayaran, yang artinya risiko kepatuhan dan eksekusi model bisnis baru ikut naik.

GOOD punya daftar sengketa pajak yang panjang dan masih jalan dari keberatan sampai banding dan peninjauan kembali, dengan contoh PPh Badan GPPJ 2020 Rp22,8 miliar dan PPh Badan MBR 2022 Rp42,4 miliar, sehingga akumulasi potensi kurang bayar bisa material dan menyedot fokus manajemen serta kas jika hasilnya tidak sesuai harapan.
ACES sedang proses banding pajak tahun 2021 untuk PPh Pasal 4 ayat 2, PPN, dan PPh Badan yang keberatannya ditolak, jadi ada ketidakpastian yang tetap harus dipantau. Dari kacamata investor yang tidak mau menyesal, angka-angka pajak itu harus diperlakukan seperti risiko yang bisa muncul kapan saja, bukan seperti catatan kaki. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

CPIN dan ACES cenderung lebih terlembagakan dari sisi tata kelola karena skala dan sistem grup, tetapi CPIN punya beban royalti besar yang melekat dan sensitif terhadap siklus serta kurs, sedangkan ACES justru mendapat napas karena royalti hilang dan arus kas terlihat solid dengan CFO Rp996 miliar versus laba Rp481 miliar yang memberi bantalan kualitas laba. FWCT dan GOOD sama-sama tampak sangat dipengaruhi kebijakan taktis PSP pada fase transisi, FWCT dengan ketergantungan ekstrem pada WTPI dan struktur pendanaan yang mengikat, GOOD dengan integrasi anak usaha dan transaksi pihak berelasi yang porsinya besar terhadap COGS dan laba, ditambah beban sengketa pajak yang tidak ringan. Jadi saat investor berniat nyangkut di empat saham ini, yang paling waras adalah menilai bukan cuma produk dan pertumbuhan, tetapi juga peta arus uang ke pihak berelasi, batasan covenant yang mengikat napas manajemen, dan potensi biaya legal-pajak yang bisa muncul sebagai kejutan. Investor yang paham tiga hal itu biasanya tidak mudah tergoda ikut-ikutan, karena mereka tahu perbedaan antara cerita yang enak didengar dan realitas yang benar-benar menentukan nasib portofolio.

๐Ÿ“ CPIN
๐Ÿงพ Royalti Nugen Rp511,05 M 33,18% beban umum
๐Ÿฆ Covenant Debt to Tangible NW <2x, EBITDA bunga >2x
๐Ÿงพ Risiko pajak Rp397,29 M

๐ŸŒฒ FWCT
๐Ÿงท Veneer WTPI Rp60,55 M 8,74%
๐Ÿ’ณ Utang FAST Rp43,40 M 18,07%
๐Ÿฆ Deposit Rp21 M, covenant bank ketat
๐Ÿ’ธ Utang relasi Rp65,7 M bunga 8,5% sampai 9%

๐Ÿช GOOD
๐Ÿงพ COGS relasi Rp947,21 M 13,88%
๐Ÿ’ผ Kompensasi Rp84,85 M kira-kira 17%
๐Ÿงจ Sengketa pajak Rp22,8 M dan Rp42,4 M

๐Ÿฌ AHI ACES
๐Ÿ’ง CFO Rp996 M vs laba Rp481 M
โœ… Royalti Ace Rp0, dulu Rp35,2 M
๐Ÿข Sewa relasi Rp165,82 M 9,70%, inventori Krisbow Rp196,85 M 5,48%

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/3

testestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$FWCT yuk ๐Ÿชœ

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Mencari Alasan Nyangkut 2

Di postingan sebelumnya saya sempat bahas tentang alasan nyangkut di $TOWR ICBP ACES MAPI GOOD. https://stockbit.com/post/26878320

Setelah menulis artikel tersebut, ternyata TOWR MAPI ICBP malah naik. Sisa ACES GOOD aja yang masih abadi nyangkut. Jadi saya memutuskan mencari saham buat nyangkut lainnya. Di situ saya ketemu $FWCT dan $CPIN. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Valuasi dan alasan nyangkut di CPIN dan FWCT sebenarnya sederhana kalau investor fokus ke dua hal yang sering diabaikan pasar, kemampuan mengubah penjualan jadi kas, dan disiplin mengelola risiko saat siklus industri berubah. CPIN itu seperti mesin pangan yang hidup dari volume dan integrasi, jadi harga wajar sahamnya banyak ditentukan oleh stabilitas margin pakan, DOC, dan ayam, bukan sekadar cerita. FWCT kebalikannya, skalanya kecil tapi sedang membuktikan perbaikan kas, sementara harga sahamnya sudah dihajar diskon seolah bisnisnya rapuh. Keanehannya muncul saat angka kas mulai membaik, tetapi pasar tetap menempelkan multiple murah ekstrem karena takut fase ekspansi berubah jadi beban. Jadi logika bertahan di dua saham ini bukan karena berharap keajaiban, tapi karena lantai fundamentalnya bisa dihitung dan pemicunya jelas. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau investor bandingkan dari sisi ukuran dan pola pertumbuhan laba, CPIN berada di liga yang berbeda. Penjualan CPIN Rp50,60 triliun, dengan beban bahan baku Rp35,76 triliun, laba kotor sekitar Rp8 triliun, lalu beban penjualan Rp1,89 triliun dan beban administrasi Rp1,54 triliun, ditambah booster keuntungan nilai wajar aset biologis Rp188 miliar, menghasilkan laba pemilik Rp3,36 triliun yang naik dari Rp2,38 triliun. Secara rasio kasar, laba bersih CPIN sekitar 6,6% dari penjualan, sementara laba kotor sekitar 15,8%, ini menunjukkan bisnis besar dengan margin yang tidak mewah tapi kuat karena volume. FWCT jauh lebih kecil, penjualan Rp1,14 triliun, COGS Rp1,00 triliun atau 88% dari penjualan, beban usaha Rp69,5 miliar, beban keuangan bersih Rp15,1 miliar, laba bersih Rp45,9 miliar atau sekitar 4,0% dari penjualan. Polanya jelas, CPIN menang karena skala dan integrasi yang membuat margin cukup stabil, FWCT menang kalau ekspansi bisa mengurangi biaya logistik dan memperbaiki margin yang masih tipis.

Dari sisi kas, alasan nyangkut di CPIN biasanya datang dari kualitas laba yang tidak tipu-tipu, sementara FWCT datang dari perubahan arah yang baru terjadi. CPIN mencetak CFO Rp4,01 triliun, lebih besar dari laba Rp3,36 triliun, ditopang penyusutan Rp986 miliar sebagai pos non-kas, dan kas dari pelanggan Rp50,11 triliun yang kemudian banyak keluar ke pemasok Rp42,06 triliun. CPIN juga tetap sanggup membayar dividen tunai Rp1,77 triliun sambil belanja aset tetap Rp1,19 triliun, jadi investor melihat perusahaan ini bisa membiayai pertumbuhan dan bagi hasil dari mesin operasi yang matang. FWCT menerima kas dari pelanggan Rp1,14 triliun dan membalik CFO dari minus Rp17,4 miliar menjadi plus Rp74,9 miliar, ini sinyal modal kerja jauh lebih rapi. Namun FWCT sedang fase investasi, CFI Rp99 miliar membuat FCF kira-kira minus Rp24,1 miliar, dan ada pencairan utang bank Rp609,8 miliar untuk menopang modal kerja dan aset tetap, sehingga pasar cenderung menghukum valuasi sampai investasi benar-benar menghasilkan penghematan biaya dan tambahan laba. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Di neraca dan risiko, karakter dua emiten ini makin kontras, tapi justru itu yang membuat alasan bertahan tidak sulit. CPIN punya persediaan Rp9,61 triliun dan aset biologis Rp4,96 triliun sebagai inti operasi, utang bank jangka pendek Rp4,25 triliun dikelola dengan rasio utang terhadap ekuitas 0,22 yang jauh di bawah batas kovenan 2,0, dengan total liabilitas Rp11,81 triliun dan ekuitas Rp31,90 triliun, jadi ruang napasnya besar. Ada juga beban royalti pihak berelasi Rp511 miliar dan sensitivitas pada jagung serta kedelai impor, tetapi skala dan struktur modalnya memberi bantalan. FWCT punya total aset Rp746 miliar dan liabilitas Rp363 miliar, utang bank jangka pendek naik dari Rp41,2 miliar ke Rp80,1 miliar, namun persediaan turun dari Rp109 miliar ke Rp78 miliar sehingga perputaran stok ke kas terlihat, dan ada setoran jaminan Rp21 miliar untuk mengunci pasokan veneer 10 tahun. Risiko FWCT lebih spesifik, konsentrasi dua pelanggan luar negeri menyumbang 40% pendapatan, serta ekspansi pelayaran dengan aset kapal dalam penyelesaian Rp30,7 miliar dan aset pelayaran yang sudah tumbuh cepat, sehingga investor bertaruh pada eksekusi, bukan pada skala. Jadi CPIN itu alasan bertahannya karena stabilitas kas dan struktur modal tebal, sedangkan FWCT karena valuasi murahnya menunggu pembuktian capex menjadi margin dan kas.

๐Ÿ“Œ Alasan nyangkut di CPIN
๐Ÿญ Integrasi hulu-hilir, volume besar, mesin operasi matang
๐Ÿ’ฐ Laba Rp3,36 triliun naik dari Rp2,38 triliun
๐Ÿงพ CFO Rp4,01 triliun lebih besar dari laba, kualitas laba kuat
๐Ÿงฑ Ekuitas Rp31,90 triliun vs liabilitas Rp11,81 triliun, bantalan tebal
๐ŸŽ Dividen tunai Rp1,77 triliun, tetap jalan sambil capex Rp1,19 triliun
โš ๏ธ Risiko utama, harga jagung dan kedelai impor, plus royalti Rp511 miliar

๐Ÿ“Œ Alasan nyangkut di FWCT
๐Ÿ“‰ Valuasi murah di mata pasar karena takut utang dan fase ekspansi
๐Ÿ”„ CFO berbalik dari minus Rp17,4 miliar jadi plus Rp74,9 miliar
๐Ÿงฏ Persediaan turun Rp109 miliar ke Rp78 miliar, modal kerja membaik
๐Ÿšข Diversifikasi pelayaran, aset kapal dalam penyelesaian Rp30,7 miliar
๐Ÿงฑ Aset Rp746 miliar, liabilitas Rp363 miliar, skala kecil tapi lincah
โš ๏ธ Risiko utama, COGS 88% revenue, FCF minus sekitar Rp24,1 miliar, konsentrasi pelanggan 40%
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

๐Ÿง  Cara cepat membedakan keduanya
๐Ÿ›ก๏ธ CPIN investor bertahan karena stabilitas kas dan struktur modal
๐ŸŽฏ FWCT investor bertahan karena diskon valuasi menunggu bukti ekspansi menghasilkan margin dan kas

CPIN dan FWCT bisa terlihat seperti tempat berteduh yang masuk akal, satu karena skala dan dominasi, satu lagi karena cerita pemulihan dan ekspansi. Masalahnya, dua narasi itu sering membuat investor lupa bahwa risiko yang paling mahal justru muncul saat semuanya terlihat baik-baik saja. Di dunia nyata, risiko tidak naik bertahap, kadang loncat, terutama ketika kurs, suku bunga, dan kovenan bank mulai ikut menentukan napas perusahaan. Yang lebih licin, banyak ranjau tidak muncul di laba, tapi muncul di struktur biaya, modal kerja, dan ketergantungan pihak tertentu. Jadi alasan nyangkut memang tidak sulit, tetapi alasan untuk tetap waspada juga sama jelasnya, karena data mereka menunjukkan potensi goyang yang bisa terasa cepat.

Di CPIN, sumber bahaya yang paling konkret ada di kombinasi kurs dan komoditas. Manajemen mengakui pelemahan Rupiah 1% terhadap Dolar AS dapat menggerus laba sebelum pajak sekitar Rp5,2 miliar, ini logis karena bahan baku pakan seperti jagung dan bungkil kedelai sangat dipengaruhi harga global dan impor. Artinya, saat dolar menguat bersamaan dengan kenaikan harga komoditas, tekanan margin bisa datang dari dua arah sekaligus. Karena CPIN bermain di volume besar, sedikit perubahan di input cost bisa mengalir menjadi dampak yang terasa di bottom line. Ini bukan berarti CPIN rapuh, tetapi berarti CPIN sangat sensitif. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Lapisan risiko berikutnya di CPIN adalah suku bunga dan struktur pembiayaan jangka pendek. Kenaikan 100 basis poin dapat memangkas laba sekitar Rp70,6 miliar, relevan karena utang bank jangka pendek berada di Rp4,25 triliun. Ditambah lagi, aset biologis Rp4,96 triliun membawa risiko operasional yang tidak sederhana, perubahan mortalitas, wabah, atau cuaca bisa memukul nilai dan produktivitas. Di laporan laba, ada juga komponen keuntungan nilai wajar aset biologis Rp188 miliar yang sifatnya sensitif, jadi saat kondisi memburuk, komponen ini bisa berbalik arah dan mempercepat penurunan laba. Kekuatan neraca memberi bantalan, total liabilitas Rp11,81 triliun ditopang ekuitas Rp31,90 triliun dan gearing 0,22, tetapi bantalan bukan berarti kebal, melainkan hanya memperpanjang waktu reaksi.

Di FWCT, bentuk bahayanya berbeda dan bisa terasa lebih tajam karena skala kecil membuat satu kejadian berdampak besar. Dua pelanggan luar negeri, Far East American Inc dan Concannon Lumber Co, menyumbang sekitar Rp457,7 miliar atau 40% dari penjualan Rp1,14 triliun, jadi jika satu saja berhenti beli atau menekan harga, efeknya langsung terasa pada utilisasi, margin, dan kas. Secara statistik, utang bank jangka pendek naik dari Rp41,2 miliar menjadi Rp80,1 miliar, menandakan kebutuhan modal kerja dan tekanan pembiayaan meningkat. Ada juga kovenan bank yang ketat, pembatasan merger, transaksi aset tertentu, sampai pembatasan perubahan pengendali tanpa izin tertulis, jadi risikonya bukan hanya bunga, tetapi juga risiko fasilitas ditarik ketika bank menilai profil risiko memburuk.

Yang membuat FWCT semakin menuntut kewaspadaan adalah fase ekspansi yang sedang berjalan. CFO sudah berbalik positif Rp74,9 miliar setelah tahun lalu minus Rp17,4 miliar, tetapi belanja modal Rp99,06 miliar membuat arus kas bebas kira-kira minus Rp24,1 miliar, artinya ekspansi masih menyedot kas lebih cepat daripada kas yang dihasilkan. Neraca FWCT juga terlihat rapat, aset Rp746 miliar berhadapan dengan liabilitas Rp363,7 miliar dan ekuitas Rp382,4 miliar, jadi ruang salah langkah tidak selebar emiten raksasa. Cerita pelayaran melalui PT Marina Andalan Jaya Utama memang memberi opsi pendapatan baru dengan aset kapal tarik dan tongkang yang sudah mencapai Rp70,1 miliar dan aset kapal dalam penyelesaian Rp30,7 miliar, tetapi ini juga menambah kompleksitas operasional, dan kompleksitas sering datang dengan biaya tak terduga di awal. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/2

testes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

SUDAHLAH $FWCT SEGERA EXPORT KAYU BAKAR KE JERMAN, DISANA PENDUDUKNYA HAMPIR MEMBEKU SKSKSKSKSKSKS

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Valuasi $FWCT yang Anomali

Lanjutan dari diskusi saham kayu nyangkut di External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Valuasi FWCT di harga 144 terlihat seperti pasar sengaja memberi diskon besar, tapi diskon ini bukan hadiah. Angka-angka kasnya menunjukkan perusahaan masih menghasilkan uang tunai yang nyata, sementara harga sahamnya seolah menilai bisnis ini rapuh. Di saat yang sama, FWCT sedang membakar kas lewat ekspansi, jadi murah di layar bisa saja cuma cerminan risiko eksekusi. Yang bikin ganjil, multiple-nya sudah seperti saham siklus yang sedang terpuruk, padahal penjualan masih tumbuh dan dividen masih jalan. Jadi anehnya bukan karena FWCT murah, tapi karena kombinasi murahnya terlalu ekstrem dibanding data operasional yang tidak sedang runtuh. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau peta pembandingnya dibuka, DSNG itu raksasa dan skalanya beda kelas, aset Rp17,2 triliun, liabilitas Rp6,24 triliun, pendapatan Rp8,94 triliun, laba Rp1,31 triliun, arus kas operasi atau cash flow from operations (CFO) Rp2,04 triliun, penerimaan kas dari pelanggan Rp9,07 triliun. Tapi kayu DSNG hanya Rp948,7 miliar atau sekitar 10,6% dari total pendapatan, jadi perbandingan DSNG dengan emiten kayu murni perlu hati-hati karena mesin uang utamanya bukan kayu. Di kubu kayu murni, FWCT dan $IFII ukurannya mirip di pendapatan, FWCT Rp1,144 triliun dan IFII Rp1,01 triliun, artinya FWCT sekitar 13,3% lebih besar di omzet. Namun ketika masuk ke laba, FWCT Rp45,95 miliar sedangkan IFII Rp154,5 miliar, jadi laba FWCT hanya sekitar 29,7% dari IFII, di sinilah pasar biasanya mulai ragu, omzet kencang tapi efisiensi belum selevel rival. $SOFA dan TIRT berada di ujung spektrum yang berbeda, SOFA kecil dan sensitif modal kerja, TIRT pendapatan Rp33 juta dengan operasional kayu lapis berhenti sejak 2020 sehingga lebih cocok dibaca sebagai cerita bertahan hidup.

Arus kas CFO FWCT Rp74,95 miliar, lalu belanja modal atau capital expenditure (capex) Rp99,06 miliar, hasilnya arus kas bebas atau free cash flow (FCF) menjadi negatif, kira-kira minus Rp24,11 miliar. Di level rasio, CFO margin 6,55%, namun FCF margin minus 2,11%, ini menggambarkan perusahaan sebenarnya mampu menghasilkan kas operasional, tetapi fase ekspansi menyedot kas lebih cepat dari yang dihasilkan. Rasio capex terhadap laba 2,15 kali dan capex terhadap CFO 1,32 kali, jadi mesin kasnya belum cukup untuk menutup mesin investasi, selisihnya harus ditambal lewat kas lama atau utang baru. Di sisi kualitas laba, ada kabar baik, CFO terhadap laba 1,63 kali, artinya laba akuntansi tidak kosong dan ditopang kas, tetapi FCF terhadap laba minus 0,52 kali mengonfirmasi bahwa fase investasi sedang dominan. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Utang finansial FWCT Rp258,7 miliar, dibanding CFO menghasilkan rasio utang terhadap CFO 3,45 kali, dan dibanding laba disetahunkan sekitar Rp61,28 miliar menghasilkan estimasi waktu sekitar 4,22 tahun laba untuk menutup utang, itu pun dengan asumsi laba stabil dan tidak ada kebutuhan kas lain. Pasar biasanya tidak alergi pada utang selama FCF positif atau capex mulai turun, masalahnya di FWCT capex masih lebih tinggi dari CFO, jadi investor membaca ada periode rawan, yaitu ketika cicilan dan bunga berjalan sementara manfaat investasi kapal dan pabrik belum sepenuhnya terasa di margin. Di atas itu, margin laba bersih atau net profit margin (NPM) FWCT sekitar 4,0% membuat ruang error tipis, kenaikan biaya bahan baku atau ongkos logistik yang meleset sedikit saja bisa menekan laba dengan cepat.

Namun dari sisi valuasi murni, angka FWCT memang seperti tidak sinkron dengan label risikonya. Price to earnings ratio (PER) 4,61 kali, price to book value (PBV) 0,74 kali, price to CFO (P/CFO) 2,82 kali, price to sales (P/S) 0,24 kali, enterprise value to earnings before interest tax depreciation and amortization (EV/EBITDA) sekitar 4,39 kali, dividend yield 5,55% dengan dividend payout ratio (DPR) 32,6%. Bahkan nilai aset bersih atau net asset value (NAV) per saham sekitar Rp194,8, sementara harga 144 berarti diskon sekitar 26,1% terhadap NAV. Untuk investor yang fokus value, kombinasi PER di bawah 5 kali dan PBV di bawah 1 kali biasanya sudah terdengar seperti bargain, apalagi kalau dividen masih dibayar. Ini yang bikin terasa ganjil, pasar seolah menilai aset dan penjualan FWCT tidak cukup berkualitas untuk diberi multiple normal, padahal kas operasionalnya masih positif dan tumbuh penjualannya nyata. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Keanehan itu makin jelas kalau dilihat dalam bentuk per saham dan produktivitas per orang. Utang per saham sekitar Rp131 hampir setara dengan harga saham 144, sementara kas per saham hanya Rp47, jadi secara psikologis investor melihat porsi leverage yang menempel di setiap lembar saham cukup besar. Di sisi operasional, dengan 136 karyawan, pendapatan per karyawan sekitar Rp11,2 miliar, laba per karyawan sekitar Rp0,45 miliar, CFO per karyawan sekitar Rp0,73 miliar, dan kas dari pelanggan per karyawan sekitar Rp11,1 miliar, ini menunjukkan mesin penagihan dan konversi omzet ke kas berjalan, hanya saja mesin investasi sedang memakan porsi kas yang besar. Jadi problemnya bukan FWCT tidak menghasilkan kas, melainkan timing kasnya, kas masuknya ada, tetapi kas keluarnya untuk ekspansi lebih cepat.

Kalau investor mencoba membaca arah ke depan dengan cara yang lebih kuantitatif, ada dua jalur cerita. Jalur optimis melihat PEG ratio 0,83 dan berargumen PER 4,61 kali terlalu murah untuk emiten yang omzetnya naik 26,4% dan masih membayar dividen, apalagi float publik hanya 17,4% dan kapitalisasi pasar sekitar Rp282 miliar yang membuat pergerakan harga bisa sensitif terhadap sentimen kinerja kuartalan. Jalur konservatif melihat FCF negatif dan margin 4,0% sebagai kombinasi yang rawan, karena ekspansi harus benar-benar menurunkan biaya logistik atau menaikkan kapasitas dengan utilisasi tinggi, kalau tidak, utang akan terasa berat. Di tengah-tengah, posisi yang paling realistis adalah mengakui FWCT murah secara multiple, tetapi pasar sedang meminta bukti bahwa capex Rp99,06 miliar itu akan berubah menjadi perbaikan margin dan FCF positif, bukan sekadar menambah beban.

Untuk membuat valuasi terlihat normal di PER 10 kali, FWCT perlu laba tahunan sekitar Rp133 miliar, kira-kira naik 117% dari laba disetahunkan saat ini. Untuk investor yang berpikir 10 tahun, di harga 144 dibutuhkan pengembalian rata-rata sekitar Rp14,4 per tahun dari kombinasi dividen dan arus kas bebas agar balik modal secara sederhana, sementara earnings per share (EPS) annualized Rp31,2 memberi ruang, dengan catatan dividen tetap dijaga dan FCF berbalik positif ketika fase ekspansi mulai selesai. Jadi valuasi FWCT saat ini terasa aneh karena pasar menempelkan haircut besar pada bisnis yang masih tumbuh, hanya karena satu hal yang belum terjawab, apakah investasi logistik dan kapasitas itu benar-benar akan mengangkat marjin dan mengembalikan FCF ke zona positif. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

๐Ÿงฎ PER 4,61x, murah untuk emiten yang revenue naik 26,4%.
๐Ÿงพ PBV 0,74x, harga 144 di bawah NAV Rp194,8, diskon 26,1%.
๐Ÿ’ต P/CFO 2,82x, pasar menghargai kas operasi sangat rendah.
๐Ÿ›’ P/S 0,24x, omzet besar tapi dihargai kecil.
๐ŸŽ Dividend yield 5,55%, masih bagi dividen.

๐Ÿ’ธ Masalah inti ada di kas vs ekspansi
๐Ÿšง CFO Rp74,95 miliar, capex Rp99,06 miliar.
๐Ÿ”ป FCF minus Rp24,11 miliar, artinya masih bakar kas.
๐Ÿ“‰ CFO margin 6,55%, FCF margin minus 2,11%.
๐Ÿงฑ Capex 2,15x laba, capex 1,32x CFO, butuh utang atau kas lama.
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

๐Ÿฆ Risiko yang bikin pasar pelit multiple
๐Ÿงท Utang finansial Rp258,7 miliar.
โš–๏ธ Utang per saham Rp131, hampir setara harga 144.
๐Ÿช™ Kas per saham Rp47, bantalan tipis.
๐Ÿงป NPM 4,0%, ruang salah langkah sempit.

โœ… Sinyal positif yang sering diabaikan
๐Ÿง CFO 1,63x laba, laba ditopang kas nyata.
๐Ÿ“ฆ Persediaan turun 11,4% saat penjualan naik, barang laku.
๐ŸŒ Net USD 5,8 juta, laba kurs Rp4,69 miliar.

๐ŸŽฏ Kunci pembuktian
๐Ÿšข Investasi logistik harus turunkan biaya dan naikkan margin.
๐Ÿ“ˆ Jika FCF balik positif, valuasi murahnya jadi masuk akal.
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/3

testestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Perang Kayu IHSG

Lanjutan diskusi saham kayu-kayu di External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Saham kayu sering dianggap cerita lama dan kuno. Di sektor ini, yang menang bukan yang paling banyak aset, tapi yang paling rapi mengubah penjualan menjadi uang tunai, lalu menjaga utang tetap jinak saat kurs bergerak liar. Itu sebabnya emiten seperti PT Wijaya Cahaya Timber Tbk ($FWCT) terasa menonjol, karena memilih jalur ekspansi dan integrasi hulu-hilir yang berani, bukan sekadar bertahan hidup. Di sisi lain ada PT Tirta Mahakam Resources Tbk ($TIRT) yang praktis sudah keluar dari bisnis kayu, dan PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA) yang hidup dari ceruk dengan ruang gerak sempit. Jadi, menarik atau tidaknya saham kayu itu bukan soal romantisme industri, tapi soal siapa yang punya mesin kas dan disiplin risiko paling kuat. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau disusun dari pendapatan terbesar ke terkecil, terlihat jelas ada beberapa kasta yang jaraknya jauh. PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) melaju dengan pendapatan konsolidasian Rp8,94 triliun, tetapi perlu dicatat kayu hanya Rp948,7 miliar atau sekitar 10,6% dari total, jadi ini lebih tepat dibaca sebagai emiten sawit dengan bonus kayu. Di lapis berikutnya ada FWCT Rp1,14 triliun dengan lompatan 26,4%, lalu PT Indonesia Fibreboard Industry Tbk ($IFII) Rp1,01 triliun dengan kenaikan 11,7%. Setelah itu jurangnya ekstrem, SOFA hanya Rp23,05 miliar dan turun tipis, sementara TIRT praktis nol secara bisnis kayu dengan pendapatan Rp33 juta karena operasional kayu lapis berhenti sejak 2020. Pola ini penting buat investor karena pendekatan analisisnya beda, DSNG lebih cocok dibaca sebagai konglomerasi agro, FWCT dan IFII sebagai manufaktur kayu yang masih berputar, SOFA sebagai butik furnitur, TIRT sebagai cerita restrukturisasi hidup-mati.

Di laba-rugi dan arus kas, perbedaan wataknya makin kelihatan. FWCT mampu membesarkan omzet, tetapi efisiensinya belum setajam IFII, laba bersih FWCT Rp45,9 miliar membuat margin laba bersih (net profit margin, NPM) sekitar 4,0%, sedangkan IFII laba bersih Rp154,5 miliar dengan NPM sekitar 15,3%. DSNG tetap solid dengan laba bersih Rp1,31 triliun, tetapi karena basisnya konsolidasian sawit, angka ini tidak bisa dibandingkan mentah-mentah dengan spesialis kayu. Di arus kas operasi (cash flow from operations, CFO), FWCT Rp74,9 miliar dan IFII Rp310,9 miliar sama-sama menunjukkan kualitas laba yang ditopang uang tunai, sementara SOFA CFO negatif Rp3,12 miliar dan TIRT CFO negatif Rp8,3 miliar menandakan napas operasionalnya tersengal. Bagian yang paling menarik adalah transformasi logistik dan risiko kurs, FWCT membangun dukungan pelayaran dengan capex kapal tunda dan tongkang Rp37,5 miliar, TIRT malah ingin membeli 20 kapal Rp162 miliar sebagai pivot total, dan IFII memilih jalur efisiensi pabrik dengan pembangunan ADR Tower serta upgrade lini mesin. Dari sisi kurs, FWCT dan IFII punya posisi yang cenderung diuntungkan saat dolar menguat, FWCT memegang aset moneter neto USD 5,8 juta dan mencatat laba kurs Rp4,69 miliar per September 2025, IFII memiliki aset bersih valas Rp92,2 miliar, sedangkan DSNG terkena rugi kurs neto Rp24,05 miliar karena utang dolar lebih dominan. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Revenue
DSNG Rp8,94 triliun, tetapi kayu Rp948,7 miliar atau sekitar 10,6% dari total, pembacaannya lebih ke sawit plus kayu.
FWCT Rp1,14 triliun, naik 26,4%, ini akselerasi paling mencolok di antara spesialis kayu.
IFII Rp1,01 triliun, naik 11,7%, tumbuh lebih stabil dan rapi.
SOFA Rp23,05 miliar, turun tipis, ukuran kecil membuat sedikit gangguan biaya saja langsung terasa.
TIRT Rp33 juta, ini level yang secara praktis menegaskan bisnis kayunya sudah berhenti.

Laba bersih
IFII laba Rp154,5 miliar, NPM sekitar 15,3%, mesin profitabilitasnya paling efisien.
DSNG laba Rp1,31 triliun, NPM sekitar 14,7%, tetapi ini campuran sawit dan kayu, jadi jangan dibandingkan satu garis dengan murni kayu.
FWCT laba Rp45,9 miliar, NPM sekitar 4,0%, omzet kencang tetapi biaya masih menekan.
SOFA laba Rp561 juta, NPM sekitar 2,4%, masih untung, tapi ruang aman tipis karena skala kecil.
TIRT rugi Rp33,1 miliar, dengan pendapatan nyaris nol ini lebih mirip beban bertahan hidup.
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kualitas Laba
FWCT CFO Rp74,9 miliar lebih besar dari laba Rp45,9 miliar, ini sinyal laba ditopang kas nyata, bukan sekadar angka akuntansi.
IFII CFO Rp310,9 miliar jauh di atas laba Rp154,5 miliar, ini biasanya menandakan penagihan dan modal kerja terkendali.
SOFA CFO negatif Rp3,12 miliar meski laba positif, umumnya berarti kas nyangkut di persediaan atau piutang.
TIRT CFO negatif Rp8,3 miliar plus rugi, kombinasi yang biasanya membuat perusahaan bergantung pada pendanaan eksternal.

Utang
FWCT utang bank Rp184,4 miliar, dibanding CFO Rp74,9 miliar itu setara sekitar 2,5 tahun CFO, dibanding laba Rp45,9 miliar setara sekitar 4,0 tahun laba, jadi aman atau tidaknya tergantung disiplin belanja dan stabilitas permintaan.
IFII utang bank jangka panjang Rp261,4 miliar, CFO Rp310,9 miliar sudah lebih besar dari angka itu, ruang napasnya lebar.
SOFA karena CFO negatif, utang kecil pun bisa terasa berat kalau modal kerja terus mengembang.
TIRT sangat bergantung pada dukungan pemegang saham, ada suntikan dana dari PT Harita Jayaraya mencapai Rp997 miliar, ini menegaskan model bertahannya bukan dari operasi.
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Ekspor
FWCT posisi aset moneter neto USD 5,8 juta dan laba kurs Rp4,69 miliar per September 2025, ini bantalan alami saat dolar menguat.
IFII aset bersih valas Rp92,2 miliar, juga cenderung terlindungi saat rupiah melemah.
DSNG rugi kurs neto Rp24,05 miliar karena eksposur utang dolar lebih besar daripada aset dolarnya, sehingga pelemahan rupiah langsung menekan.

Persediaan, piutang, dan sinyal permintaan pasar
FWCT persediaan barang jadi turun 11,4% saat penjualan naik, ini biasanya sinyal barang bergerak cepat, bukan numpuk di gudang.
FWCT piutang usaha seluruhnya belum jatuh tempo, ini menunjukkan disiplin kredit dan penagihan yang rapi.
SOFA CFO negatif karena persediaan menahan kas, lalu perusahaan bergantung pada uang muka pelanggan sebagai napas operasional, ini pola yang riskan kalau permintaan melambat.

Arah belanja modal dan logistik
FWCT menambah dimensi pelayaran lewat PT Marina Andalan Jaya Utama dan capex kapal tunda serta tongkang Rp37,5 miliar, tujuannya menekan biaya angkut dan mengamankan rantai pasok.
TIRT memilih pivot ekstrem ke angkutan laut dengan rencana pembelian 20 kapal Rp162 miliar, ini lebih mirip upaya mengganti jantung bisnis yang sudah berhenti.
IFII fokus mengasah produktivitas pabrik, termasuk ADR Tower serta peningkatan kapasitas mesin sanding dan cutting, ini biasanya berujung pada margin yang lebih konsisten.
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/2

testes
2013-2026 Stockbit ยทAboutยทContactHelpยทHouse RulesยทTermsยทPrivacy