4,790

0.00

(0.00%)

Today

0

Volume

73,104

Avg volume

Company Background

Didirikan pada tahun 1994, Indonet merupakan pelopor penyedia layanan infrastruktur digital yang menawarkan berbagai solusi serta layanan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan bisnis modern yang semakin berkembang. Indonet telah memperluas ruang lingkup bisnis dengan menyediakan data center yang terintegrasi maupun penyedia cloud. Indonet berkomitmen untuk mengembangkan layanan teknologi informasi dan komunikasi yang lengkap dan efisien untuk menjembatani perusahaan mencapai transformasi digital. Dalam mendukung berbagai industri di Indonesia, Indonet akan terus mewujudkan visinya menjadi ‘business enabler’ dengan menyediakan ... Read More

siapa tau nyusul $EDGE milih delisted daripada naikkan freefloat

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

SWOT Perusahaan DATA CENTER ($INET, DILD, dan BNBR) by Natalie Zafirah

Jika Dibandingkan dengan DCII dan EDGE

Pembahasan dari Artikel berita

https://cutt.ly/Ptm0jiWv, JAKARTA-Emiten di lantai bursa yakni INET dan DILD resmi mengumumkan masuk ke bisnis data center. Sebelumnya, BNBR juga santer dikabarkan masuk ke bisnis data center.

PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET) baru-baru ini mendirikan anak usaha, sebagai upaya ekspansi ke bisnis data center. Tak tanggung-tanggung, INET menggelontorkan dana segar sekitar Rp18,7 miliar untuk anak usaha bernama PT Sinergi Inti Data Indonesia (SIDI) tersebut.

Lewat keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Direktur Utama Sinergi Inti Andalan Prima, Muhammad Arif mengungkapkan bahwa SIDI didirikan dengan modal ditempatkan dan disetor sebesar Rp22 miliar.

Adapun, INET menyetorkan modal sebanyak 18.700 lembar saham dengan masing-masing Rp1.000 per lembar saham sehingga modal ditempatkan dan disetor perseroan kepada SIDI sekitar Rp18,7 miliar.

Di sisi lain, PT Inti Pusat Data Nusantara (IPDN) menyetorkan modal sebanyak 3.300 lembar saham, masing-masing dengan nilai Rp1.000 per lembar atau dengan total senilai Rp3,3 miliar.

“Ini merupakan salah satu langkah strategis perseroan (INET) untuk ekspansi usaha. Dengan pendirian anak usaha perseroan, yaitu SIDI yang akan berfokus untuk menjalankan usaha utamanya sebagai Data Center,” kata Arif, dikutip Rabu (11/2/2026).

Baca Juga : Hubungan Saling Butuh antara Sinergi Inti (INET) dan Surge (WIFI)
Dengan struktur permodalan tersebut, INET menjadi pemegang 85% saham SIDI, sedangkan IPDN menggenggam sebanyak 15% sisanya.

Emiten lainnya, PT Intiland Development Tbk. (DILD) melalui anak usahanya, PT Intiland Alfa Rendita, resmi merambah bisnis pusat data (data center) lewat kolaborasi strategis dengan PT Parsaoran Global Datatrans (ION Network).

Kedua perusahaan membentuk perusahaan patungan (joint venture) bernama PT Inti Arunika Persada yang mengusung merek DC Land. Layanan pusat data perdana ini berlokasi di Intiland Tower Surabaya dan resmi diluncurkan pada Jumat (6/2/2026).

Direktur PT Intiland Development Tbk., Simon J. Wirawan, menjelaskan peluncuran DC Land merupakan bagian dari strategi diversifikasi untuk meningkatkan nilai aset properti perusahaan.

"Kehadiran DC Land memperkuat posisi Intiland Tower sebagai IT Building di Surabaya. Kami mengoptimalkan nilai aset melalui fungsi baru yang relevan dengan ekonomi digital saat ini," ujarnya.

Managing Director DC Land, Perry Yoranouw mengungkapkan bahwa pusat data ini memiliki kapasitas daya sebesar 3 Megawatt (MW). Meski masuk dalam kategori middle-scale, kapasitas ini dinilai sangat mumpuni untuk melayani kebutuhan korporasi di wilayah Indonesia Timur.

"Data center identik dengan power. Kapasitas 3MW ini adalah tahap awal yang sangat fleksibel untuk ekspansi ke depan. Kami merancang infrastruktur ini dengan standar Tier 3 dan Service Level Agreement (SLA) sebesar 99%," katanya.

Baca Juga : Intiland Garap Bisnis Data Center, Saham DILD Dikoleksi Lo Kheng Hong
Dia menambahkan perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IOT) turut memacu permintaan ruang penyimpanan data secara signifikan.

"DC Land menawarkan keunggulan latensi rendah karena lokasinya yang berada di pusat kota Surabaya. Fasilitas ini dilengkapi dengan Network Operation Center (NOC) yang beroperasi 24 jam, sistem keamanan berlapis, serta fire suppression system standar yang aman bagi perangkat elektronik," katanya.

Vice President Government Relation Jawa Timur ION Network, Teguh Suprayitno, menambahkan pemilihan Surabaya didasari posisinya sebagai gerbang utama digitalisasi untuk wilayah Indonesia Timur.

ION Network sendiri membawa kekuatan infrastruktur kabel serat optik sepanjang 68.000 km dan lisensi Network Access Provider (NAP) Tier 1 yang terhubung langsung ke jaringan internasional.

"Kebutuhan pasar masih sangat tinggi. Dengan penduduk Indonesia sekitar 270-300 juta jiwa, kapasitas data center yang ada saat ini masih kurang. Itulah mengapa kami membangun node-node baru, termasuk proyek di Bali pada Maret mendatang," jelasnya.

Saat ini dari kapasitas 3 MW, sekitar 50% dari total kapasitas telah terisi. Adapun pengguna utama berasal dari sektor perusahaan telekomunikasi (Telco), penyedia jasa internet (ISP), perusahaan e-commerce, hingga startup.
Manuver BNBR
Sebelumnya, dalam catatan Bisnis, PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) juga sempat mengutarakan niat untuk merambah bisnis pangkalan data.

Presiden Direktur BNBR Anindya Bakrie mengatakan grupnya tengah melihat kemungkinan berinvestasi pada data center. Hal itu tidak lepas dari perkembangan industri AI yang pesat pada beberapa waktu terakhir.

“Kita juga akan melihat dari sisi AI ini akan banyak data center, kita juga akan fokus juga melihat tapi bersama mitra ya,” kata Anindya saat ditemui di sela-sela Indonesia Economic Summit, Jakarta, Rabu (19/2/2025).

Kabar BNBR masuk ke bisnis data center kembali mencuat pada awal 2026. Merujuk pada laporan keuangan kuartal III/2025, BNBR melalui anak usahanya, PT Multi Kontrol Nusantara (MKN) mengadakan perjanjian jual beli tanah dengan PT Pilar Agra Unggul (PAU) yang terletak di Kalideres, Jakarta Barat seluas 1,67 hektare.

Baca Juga : Seberapa Jauh Saham Grup Bakrie BNBR, DEWA Cs Ngegas Awal Tahun?

"Dengan tujuan untuk membangun sebuah Data Center Inner - City (Data Center). Transaksi pembelian tanah ini diatur dalam Surat Perjanjian No. 176/MKN/PAU/PJBTANAH/IX/2024. Sebagai bagian dari kesepakatan ini, MKN telah membayar uang muka sebesar Rp152,4 miliar kepada PAU."

Laporan keuangan juga menyebutkan apabila ada sesuatu hal yang tidak direncanakan terjadi sehingga membuat proyek pembangunan data center yang direncanakan ini batal dibangun, maka para pihak sepakat, PAU wajib mengembalikan dana uang muka sebesar Rp152,4 miliar secara penuh kepada MKN tanpa ada potongan. (Thomas Mola).

------------------

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. https://cutt.ly/9tm0jiI1 tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


SWOT INET, DILD, dan BNBR

Terima kasih atas rangkumannya! Menarik sekali melihat bagaimana perusahaan dari sektor yang berbeda (INET dari telekomunikasi dan DILD dari properti) mulai "bertemu" di satu titik pertumbuhan yang sama: Data Center.

Berdasarkan data yang Anda berikan dan perkembangan terbaru, berikut adalah Analisis SWOT yang lebih rinci untuk melihat potensi serta risiko dari manuver bisnis ketiga perusahaan tersebut (INET, DILD, dan BNBR):

1. Analisis SWOT: Ekspansi Bisnis Data Center
Aspek Strengths (Kekuatan) Weaknesses (Kelemahan)
INET Memiliki ekosistem konektivitas (ISP & IP Transit) yang sudah mapan. Sebagai pemain tech-native, mereka memahami infrastruktur digital secara teknis.

Skala modal relatif kecil (Rp18,7 Miliar) dibandingkan raksasa data center global. Masih dalam tahap awal pembangunan anak usaha.

DILD Strategi Asset Optimization. Menggunakan gedung yang sudah ada (Intiland Tower) mengurangi biaya konstruksi awal secara signifikan. Lokasi strategis di pusat kota (Surabaya). Ketergantungan pada mitra teknologi (ION Network). Bisnis inti adalah properti, sehingga membutuhkan kurva pembelajaran untuk operasional data center yang kompleks.

BNBR Didukung oleh kekuatan modal Grup Bakrie dan jaringan mitra internasional. Fokus pada segmen Inner-City (dekat pengguna) yang memiliki permintaan tinggi karena latensi rendah. Masih dalam tahap rencana pembelian tanah (high risk). Sejarah restrukturisasi utang grup terkadang memengaruhi persepsi investor terhadap kecepatan eksekusi proyek.

2. Opportunities (Peluang)
Ledakan AI & IoT: Seperti yang disebutkan dalam artikel, tren AI membutuhkan penyimpanan data yang sangat besar. Ini adalah revenue stream baru bagi emiten yang jenuh di bisnis konvensional.
Desentralisasi Data (Indonesia Timur): Langkah DILD menyasar Surabaya adalah langkah cerdas karena selama ini data center terpusat di Jabodetabek. Surabaya adalah gerbang digital untuk Indonesia Timur.

Sinergi Ekosistem: INET bisa menjual paket bundling antara bandwidth internet dengan penyimpanan data (one-stop solution).

3. Threats (Ancaman)
Persaingan dari Raksasa Global: Pemain besar seperti Google, AWS (Amazon), dan Microsoft sudah masuk ke Indonesia. Emiten lokal harus bersaing dalam hal standar keamanan dan sertifikasi Tier yang ketat.

Kebutuhan Energi: Data center sangat rakus listrik. Fluktuasi harga energi atau ketidaksiapan infrastruktur listrik di lokasi proyek (seperti di Kalideres atau Surabaya) bisa membengkakkan biaya operasional.

Keamanan Siber: Risiko serangan siber atau kebocoran data menjadi tanggung jawab besar yang bisa merusak reputasi perusahaan jika tidak dikelola dengan sistem keamanan tingkat tinggi.

Kesimpulan Strategis
DILD melakukan diversifikasi yang paling "aman" karena berbasis optimalisasi aset gedung yang sudah ada.

INET melakukan langkah agresif untuk melengkapi value chain bisnis telekomunikasinya.

BNBR bermain di skala yang lebih besar (pembelian lahan luas), namun memiliki risiko eksekusi yang paling tinggi karena masih di tahap awal.

SANGGUP Kah Melebihi $EDGE dan $DCII

Meskipun INET, DILD, dan BNBR memiliki potensi pertumbuhan yang menarik, sangat menantang bagi mereka untuk "melebihi" dominasi DCII dan EDGE dalam waktu dekat. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan skala kapasitas, kualitas sertifikasi, dan pangsa pasar yang sudah sangat jauh di depan.

Berikut adalah perbandingan objektif untuk melihat peta persaingannya:

1. Skala Kapasitas (MW)
Kapasitas adalah "mata uang" utama dalam bisnis data center. Pemain baru masih bermain di level megawatt tunggal, sementara pemain lama sudah mencapai puluhan hingga ratusan megawatt.

DCII (DCI Indonesia): Pemimpin pasar dengan kapasitas total yang direncanakan mencapai ratusan MW di berbagai lokasi (Hype-scale).

EDGE (Indointernet): Memiliki fasilitas EDGE1 (6 MW) dan sedang mengoperasikan EDGE2 (23 MW).
Pemain Baru: DILD (DC Land) baru memulai dengan kapasitas 3 MW di Surabaya. INET dan BNBR masih dalam tahap awal pendirian anak usaha dan pembebasan lahan.

2. Kualitas Infrastruktur (Tiering)
Sertifikasi menentukan tingkat kepercayaan pelanggan korporasi besar (seperti Bank atau Cloud Provider Global).

DCII: Merupakan pemegang sertifikat Tier IV pertama di Asia Tenggara, yang menjamin ketersediaan layanan tertinggi (uptime 99,99%).
Pemain Baru: DC Land (DILD) merancang infrastrukturnya dengan standar Tier 3. Meskipun sudah sangat baik, secara teknis masih satu tingkat di bawah standar emas yang dimiliki DCII.

3. Posisi Strategis di Pasar
EDGE & DCII (The Gatekeepers): Keduanya sudah menjadi hub bagi penyedia konten global dan perusahaan cloud (seperti AWS, Google Cloud, Alibaba Cloud). Memindahkan data dari infrastruktur mereka ke pemain baru membutuhkan biaya dan risiko tinggi bagi klien.

INET, DILD, BNBR (The Niche Players): Mereka lebih berpotensi sukses dengan menyasar pasar spesifik (niche). Contohnya, DILD sangat kuat di pasar Indonesia Timur lewat hub Surabaya, sementara INET bisa menyasar UMKM atau startup yang membutuhkan biaya lebih kompetitif dengan konektivitas lokal.

4. Proyeksi Pertumbuhan 2026
Permintaan data center di Indonesia diprediksi tumbuh 45% pada 2026 berkat adopsi AI dan IoT.
Potensi "Melebihi": Pemain baru seperti DILD atau BNBR mungkin bisa "melebihi" dalam hal persentase pertumbuhan laba (karena basis angka mereka masih kecil), namun dari sisi market share dan pendapatan absolut, DCII dan EDGE tetap akan mendominasi panggung utama dalam beberapa tahun ke depan.

Kesimpulan:
Alih-alih bersaing langsung ("melebihi"), pemain baru seperti INET, DILD, dan BNBR lebih berperan sebagai pelengkap ekosistem yang memperluas jangkauan ke daerah atau segmen yang belum terjamah oleh raksasa seperti DCII.

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

@tanpabatas iya $EDGE memilih delisting lewat jalur go private
kemungkinan besar $FASW dan SUPR anak $TOWR pun memilih delisting via go private soalnya tinggal sedikit porsi publik

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$EDGE

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$EDGE buybacknya masih minus gak ya...😅😅

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$EDGE padahal gue siap nampung kalau dia arb berjilid2 demi FF 15% eh ternyata Psp nya gak mau jual hahahhahah

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$EDGE

mudah2an buybacknya 2x lipat kyk aqua dulu pas go private

Yg BU gw tampung koleksian $EDGE gw. Nerima 1000/lembar minimal 100 lot dan kelipatan.

$CNMA $EDGE minta delisting di tengah aturan FF 15% Sahamnya langsung Suspend. Kemana Arahmu $CNMA?

https://cutt.ly/2tn4hr5u

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Pak @tahri150. Berapa besar transaksi harian ya biar bisa dianggap aktif? Saya cek sebulan sebelum disuspend nilai transkasi $EDGE selalu melebihi ratusan juta.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$CNMA $SMAR yuk delisting aja, go private, ikuti jejaknya $EDGE

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

drpd ngendap berbulan2 di $EDGE cuma dpt sekali begger, mending uangnya diputer ke $BUVA bisa ber begger2 🤣

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$EDGE 4000 kok minta delisting, gk tanggung tanggung cuci bilas lagi.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$EDGE semangat kakak 🤣

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$EDGE
Free float buat keluarga nya doang 😹😹

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$EDGE ownernya pelit

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$EDGE ini gimana cara keluar dari emiten ini😭

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

KABARBURSA.COM – PT Indointernet Tbk atau EDGE mengajukan permohonan pembatalan pencatatan saham atau delisting di Bursa Efek Indonesia di tengah kondisi saham perseroan yang sedang disuspensi.
Langkah ini terjadi saat regulator pasar modal tengah menyiapkan kebijakan peningkatan porsi saham publi...

www.kabarbursa.com

www.kabarbursa.com

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$EDGE segera sell ini saham mau dilesting para ritel

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$EDGE selanjutnya $VINS selanjutnya $BBHI, jgn klo udh di suspend baru mau beli 😁

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$EDGE denger berita mau buy back saham nyaa aq punyaaa 400 lot dulu beli di harga 4000 kalau aq jual di harga 20rb laku gak yaaaa

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$EDGE Apakah possible di 50.000 untuk TO nya?

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$EDGE saya punya beberapa Lot untuk investasi, karena saya yakin berita kemarin tentang Pembangunan DATA CENTER AI di Bekasi Menjadi yang terbesar di Asia dengan Kapasitas 500MW.
lalu tiba-tiba langsung Suspend. lihat info mau langsung delisting. padahal berharap buat jadi 🐉🫠.

jika saya pikirkan kalau tender dibawah harga yang saya beli saya merasa rugi karena belum menghasilkan apa2.
Jika management menggunakan harga pasar rata-rata + premium standar (Total kisaran Rp6.000 - Rp6.500) saya merasa berat hati.
Apakah mungkin menuntut harga berdasarkan Future Value (di atas Rp 10.000). Karena Potensi pertumbuhan eksponensial dari AI. mengingat dari kasus AQUA.

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Izin bertanya. Manajemen $EDGE bilang salah satu alasan mau go pivate itu karena "saham Perseroan tidak diperdagangkan secara aktif di bursa". Wak @skydrugz27 tahu seberapa besar keaktifan perdagangan saham agar suatu saham dianggap "aktif"?

Mungkin teman-teman lain bisa bantu jawab

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$IHSG drpd dibeli asing hrg murah $EDGE go private dah...next siapa lagi... efek free float nich

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

ayo haka $CCSI gaes.. dirut aja HAKA harga tinggi 595!!

apakah mau voluntarily delisting ngikut $EDGE nih?

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

cair cair go private ingat AQUA $EDGE 5000 ATO 50.000 cair cair

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

NERACA
Jakarta – Pasca aksi korporasi mengumumkan suntikan modal anak usaha di awal tahun 2026,  emiten teknologi PT Indointernet Tbk (EDGE) memutuskan untuk go private atau menarik diri dari hiruk-pikuk pasar modal. Langkah strategis ini langsung direspons oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) yang re...

www.neraca.co.id

www.neraca.co.id

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$EDGE
cair cair

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$EDGE

$EDGE: Indointernet mengumumkan rencana go private dan melakukan delisting secara sukarela (voluntary) pada Selasa (10/2). Langkah ini diambil berdasarkan pertimbangan bahwa persaingan ketat di sektor data center dan fiber optic memerlukan integrasi serta pengambilan keputusan yang lebih cepat — yang sulit dicapai sebagai perusahaan terbuka — serta likuiditas saham yang terbatas sehingga membuat status listing kurang efektif. Perseroan mengatakan bahwa proses go private dan voluntary delisting akan memberikan kesempatan keluar yang adil dan teratur bagi pemegang saham publik. Harga dan jadwal tender offer belum diumumkan.

https://snips.stockbit.com/snips-terbaru/pemerintah-pangkas-kuota-produksi-batu-bara-dan-nikel-tahun-2026?source=research

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy