


Volume
Avg volume
Perusahaan terus terlibat dalam bisnis yang berhubungan dengan jasa internet dan pengembangan perangkat lunak, melalui portal bisnis online, ogahrugi.com; dan perusahaan pengembang jaringan serat optik, FiberStar.Ogahrugi.com menyediakan pengguna dengan berbagai produk dan layanan dengan diskon menarik, sementara FiberStar menyediakan infrastruktur komunikasi dengan jaringan serat optik di seluruh Indonesia.
$FUJI
\Halo Sobat Investor! Selamat datang di sesi bedah emiten bersama saya. Hari ini kita akan membedah Laporan Keuangan Tahunan 2025 dari **PT Fuji Finance Indonesia Tbk (FUJI)**.
Sebagai mentor Anda, saya melihat ada pergerakan aset yang *sangat menarik* dan tidak biasa di sini. Mari kita bedah fundamentalnya agar Anda tidak salah mengambil keputusan investasi.
Berikut adalah analisa mendalam saya berdasarkan data audit per 31 Desember 2025:
### 1. Perubahan Ekstrem pada Model Bisnis (Red Flag atau Strategi Baru?)
Hal pertama yang langsung menarik perhatian saya adalah perubahan drastis pada struktur aset produktif mereka. Perhatikan ini baik-baik:
* **Piutang Pembiayaan Konsumen NOL:** Pada tahun 2024, perusahaan memiliki piutang pembiayaan konsumen sebesar Rp85,3 miliar. Namun, di tahun 2025, angka ini menjadi **Rp0**. Artinya, mereka telah menghentikan atau melunasi seluruh portofolio pembiayaan konsumen mereka.
* **Lonjakan Piutang Lainnya:** Uang dari pembiayaan konsumen tersebut tampaknya berpindah ke pos "Piutang Lainnya" yang melonjak drastis dari Rp7,3 miliar (2024) menjadi **Rp81,3 miliar** (2025).
* **Analisa Mentor:** Sobat investor harus waspada. Pergeseran dari piutang usaha inti (pembiayaan) ke "piutang lainnya" seringkali menimbulkan pertanyaan transparansi. Siapa pihak yang berutang sebesar Rp81 miliar ini? Apakah ini piutang produktif? Ini mengubah profil risiko perusahaan secara signifikan.
### 2. Posisi Kas & Likuiditas: "Cash is King"
Di sisi lain, neraca FUJI sangat likuid. Ini adalah bantalan keamanan yang kuat.
* **Kas Melimpah:** Kas dan setara kas naik menjadi **Rp104,6 miliar** dari sebelumnya Rp82,9 miliar.
* **Rasio Kas:** Dengan total aset Rp188,8 miliar, artinya **55% dari total aset perusahaan adalah uang tunai**.
* **Analisa Mentor:** Ini adalah *Cash Box Company*. Valuasi perusahaan ini sangat didukung oleh uang tunai yang mereka pegang. Risiko kebangkrutan sangat minim, namun uang tunai yang terlalu banyak menumpuk (idle cash) bisa berarti manajemen belum menemukan instrumen investasi yang memberikan *return* tinggi.
### 3. Profitabilitas: Tren Menurun
Meskipun aset tumbuh, kemampuan mencetak laba justru menurun.
* **Laba Bersih Turun:** Laba bersih tahun berjalan turun menjadi **Rp8,35 miliar**, dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp11,03 miliar.
* **Penyebab Utama:** Pendapatan dari pembiayaan konsumen anjlok dari Rp12,4 miliar menjadi Rp8 miliar, sejalan dengan hilangnya portofolio piutang konsumen tadi.
* **Laba Per Saham (EPS):** Turun dari 8.49 menjadi **6.42**. Penurunan EPS biasanya akan direspon negatif oleh pasar kecuali ada dividen besar.
### 4. Kesehatan Utang: Sangat Sehat (Hampir Tanpa Utang)
Sobat investor yang konservatif akan menyukai bagian ini.
* **Liabilitas Rendah:** Total liabilitas hanya Rp7,9 miliar, sangat kecil dibandingkan ekuitas yang mencapai Rp180,9 miliar,.
* **Debt Free:** Tidak tercatat adanya utang bank maupun obligasi yang signifikan dalam daftar liabilitas berbunga.
* **Analisa Mentor:** Perusahaan ini sangat *solvent*. Tidak ada risiko gagal bayar utang dalam waktu dekat.
### 5. Arus Kas: Pemulihan Positif
* **Arus Kas Operasi Positif:** Arus kas dari aktivitas operasi berbalik positif menjadi **Rp24,7 miliar**, dibandingkan tahun sebelumnya yang negatif Rp41,4 miliar.
* **Analisa Mentor:** Arus kas positif ini terjadi karena mereka menerima pelunasan dari pembiayaan konsumen (uang masuk) sebesar Rp149,8 miliar, namun tidak menyalurkan pembiayaan baru secara agresif (pengeluaran pembiayaan hanya Rp47,7 miliar),. Ini mengonfirmasi bahwa perusahaan sedang dalam mode "mengerem" ekspansi kredit konsumen.
### Kesimpulan & Saran Mentor (Verdict):
**FUJI saat ini adalah saham "Defensif Aset", bukan saham "Growth".**
* **Peluang:** Perusahaan ini sangat aman secara neraca karena didominasi uang tunai dan hampir tidak punya utang. Jika manajemen membagikan dividen dari kas yang melimpah tersebut, ini bisa menjadi *dividend play* yang menarik.
* **Risiko:** Bisnis intinya (pembiayaan konsumen) terlihat berhenti total di 2025. Pendapatan menurun. Pertanyaan besarnya adalah: Ke mana arah bisnis selanjutnya? Dan apakah "Piutang Lainnya" sebesar Rp81 miliar itu aman (bisa ditagih)?
**Saran Tindakan:**
Jika Anda mencari pertumbuhan laba yang agresif, FUJI mungkin sedang *stagnan* karena transisi bisnis. Namun, jika Anda mencari perusahaan dengan valuasi aset (PBV) yang mungkin terdiskon dengan *downside risk* rendah karena banyaknya uang tunai, saham ini layak dipantau—dengan catatan Anda harus mencari tahu detail tentang "Piutang Lainnya" tersebut.
Tetap bijak, dan selalu diversifikasi portofolio Anda!
https://cutt.ly/StnnvKxD
RANDOM TAG $MTDL $DNET
Yang harus anda waspadai adalah sentimen negatif karena CT Corp mempunyai rekam jejak yang buruk dan itu tidak akan hilang dengan gampang di zaman digital ini. Kalau anda ingat mengenai insiden boikot CT Corp karena menghina ulama dan pesantren, pasti anda tahu. Selain itu group transmart sendiri kalah bersaing dari segi model bisnis oleh $AMRT dan $DNET, belum lagi adanya farmers market, grand lucky dan super indo itu lebih kompetitif daripada group CT. Saya sendiri sebagai konsumen melihat bahwa group CT ini sudah menurun akhir-akhir ini karena kalah bersaing dengan model bisnis lain seperti bisnis media dan penyiaran sudah terdisrupsi oleh youtube, lalu bisnis ritel sudah terdisrupsi oleh toko online dan kompetitor minimarket dll. Begitu kira-kira @FerryAnditama
@Bintang3605 $GTRA cukup menarik Kerja sama dengan $MYOR $DNET dan dibalik perusahan itu milik Jogi Hendra Atmadja & Anthoni Salim (Salim Grub) Menarik untuk dipantau.
Mendekati Ramadhan & Lebaran juga saham² sektor Retail menarik🙏
DYOR

$DNET
Halo, Sahabat Investor! Mari kita bedah PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) ini. Banyak yang bilang ini "saham Indomaret", tapi sebagai mentor Anda, saya harus ingatkan: **DNET itu lebih dari sekadar minimarket.** Ini adalah kendaraan strategis Grup Salim yang sedang bertransformasi dari sekadar pedagang ritel menjadi pemain infrastruktur digital.
Berikut adalah analisis lengkap saya untuk bekal strategi investasi Anda di Februari 2026 ini:
### 1. Fundamental: "Satu Tubuh, Dua Jiwa"
DNET saat ini berdiri di atas dua kaki utama yang sangat berbeda karakternya:
* **Sang Tulang Punggung (Indomaret):**
Ini adalah mesin uang utama. Kepemilikan 40% DNET di Indomaret adalah alasan kenapa perusahaan ini tetap profitabel. Kinerja Indomaret luar biasa; pada Kuartal I 2025 saja, laba bersih Indomaret loncat **213%** secara tahunan (YoY). Indomaret menjadi penopang utama yang menutupi kerugian dari segmen lain. Target penambahan 1.000 gerai di 2025 menunjukkan dominasi mereka belum akan pudar.
* **Sang Mesin Pertumbuhan (FiberStar):**
Ini adalah "masa depan" DNET. Melalui entitas anak PT Mega Akses Persada (FiberStar), DNET agresif menggelar kabel optik. Targetnya gila-gilaan: menambah 113.817 km kabel di 2025 untuk mencapai total 164.424 km. Lebih menarik lagi, FiberStar sudah menjadi mitra resmi **Starlink** di Indonesia, membuka peluang pendapatan hibrida (fiber + satelit).
### 2. Kinerja Keuangan: Hijau Royo-royo
Laporan keuangan menunjukkan tren positif yang solid:
* **Laba Bersih:** Full Year 2024 tembus Rp1,07 Triliun (+49% YoY). Tren ini berlanjut di 9 bulan pertama 2025 dengan kenaikan laba 12,55% menjadi Rp838,66 Miliar.
* **Beban:** Hati-hati, ekspansi agresif FiberStar memakan biaya. Beban keuangan tercatat Rp408,87 miliar per September 2025 karena utang untuk belanja modal (Capex). DNET bahkan baru saja menjaminkan asetnya ke Bank Mandiri pada Januari 2026 untuk mengamankan pinjaman.
### 3. Sisi Gelap: Pemberat Langkah (Laggards)
Tidak semua portofolio DNET bersinar. Anda harus waspada pada:
* **KFC (FAST):** Masih menjadi beban. Di Semester I 2025, kontribusi FAST membuat DNET rugi Rp50,36 miliar karena isu boikot dan biaya bahan baku. Meski kerugian menyusut, pemulihannya lambat.
* **Sari Roti (ROTI):** Laba sempat tertekan (-68% di Q1 2025) karena biaya operasional, meskipun secara fundamental masih *market leader*.
### 4. Valuasi & Teknikal: Mahal tapi Premium
* **Valuasi:** DNET tidak murah. PE Ratio-nya berada di kisaran **109x - 125x**. Ini jauh di atas rata-rata industri. Investor membayar "harga premium" untuk eksklusivitas saham Indomaret (karena Indomaret tidak IPO sendiri) dan potensi ledakan FiberStar.
* **Posisi Pasar (Februari 2026):** Harga saham di kisaran **Rp8.975**.
* **Teknikal:** Indikator Moving Average (MA) jangka panjang menunjukkan sinyal **Beli**, namun osilator jangka pendek menunjukkan posisi Netral/Konsolidasi.
* **Support/Resistance:** Perhatikan level *support* kuat di area Rp8.100 - Rp8.650. *Resistance* terdekat di Rp9.150.
### 5. Strategi Investasi dari Mentor
Sahabat investor, berikut arahan saya untuk DNET:
1. **Untuk Investor Jangka Panjang (Value/Growth):** **HOLD/ACCUMULATE ON WEAKNESS.**
DNET adalah *proxy* terbaik untuk konsumsi domestik dan infrastruktur digital Indonesia. Jika Anda percaya ekonomi Indonesia tumbuh 5,1%-5,2% di 2026, Indomaret akan panen. Jangan kejar harga saat hijau (FOMO). Cicil beli jika harga terkoreksi mendekati Rp8.600.
2. **Untuk Trader Jangka Pendek:** **WAIT AND SEE.**
Likuiditas DNET rendah (free float efektif <10%). Pergerakan harganya bisa sangat *volatile* dan tidak wajar (sempat kena UMA di awal 2026). Tunggu konfirmasi volume besar sebelum masuk.
3. **Manajemen Risiko:**
Perhatikan utang DNET yang membengkak untuk Capex FiberStar Rp2 Triliun. Jika suku bunga tidak turun sesuai ekspektasi, beban bunga bisa menggerus laba bersih.
**Kesimpulan Mentor:**
DNET adalah saham "Sultan" dengan valuasi premium. Anda membeli *cashflow* monster dari Indomaret dan tiket lotere masa depan dari FiberStar. Jika Anda nyaman dengan valuasi mahal demi kualitas aset grup Salim, saham ini layak ada di portofolio jangka panjang Anda.
*Disclaimer: Keputusan investasi ada di tangan Anda. Pelajari risiko sebelum bertransaksi.*
https://cutt.ly/mtv859N8
RANDOM TAG $SRTG $BNBR
$DNET free float nya baru 9 % doang,,,, Otomatis ini mah🤣🤣🤣🤣🤣🤣 harga msh tinggi ketika ada badai langsung buyar
@Nugrohojatty iya $DNET, emiten peliharaan salim trnyata juga suka manipulasi harga macam $BUMI $AMMN DIJUAL dengan narasi msci dan growth khayalan🤣
$AMRT: Akumulasi Masif = Buyback Mode ON? 🛒
Pantauan broker summary (8 Des '25 - 23 Jan '26) makin menarik. Broker CC terlihat rajin "serok" di bawah. Kemungkinan besar ini realisasi Buyback.
Mari kita bedah matematikanya:
💰 Total Dana: Rp 1,5 Triliun
📄 Max Saham: 650 Juta lembar
🎯 Estimasi Harga Max: 1.5T / 650jt = ~Rp 2.307/lembar
Status Saat Ini: Estimasi CC baru belanja sekitar Rp 500 Miliar. Artinya? Masih ada "bensin" sekitar Rp 1 Triliun yang siap diguyur ke pasar sampai akhir masa buyback 6 Maret 2026 nanti.
🧐 The "Real" Insight: Secara teori, harga max buyback ada di 2.300. Tapi ingat prinsip ekonomi:
Management wants the lowest average price.
Biasanya di masa buyback, harga justru sengaja ditahan/dijaga di level bawah (tidak diterbangkan dulu) supaya akumulasi barang tetap murah. Mereka cenderung pasang "tembok tebal" di Bid, bukan HAKA (Hajar Kanan) agresif.
Always do your own research.
$DNET $ICBP
1/2


Sejumlah saham emiten mencatatkan transaksi crossing jumbo kala Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup anjlok 0,20% hingga ke 8.992 pada perdagangan saham hari ini, Kamis (22/1). Aksi ini terjadi di tengah meningkatnya volatilitas dan koreksi saham-saham berkapitalisasi besar
Crossing saha...

katadata.co.id
https://cutt.ly/dtzmY4Q1 $MPPA $DNET $AMRT
Raksasa di Balik Rak Sabun
Pernahkah kamu merasa kalau Alfamart itu sebenarnya bukan cuma toko kelontong tapi lebih mirip infrastruktur negara. Ke mana pun saya pergi di awal 2026 ini dari gang sempit di Bali sampai pinggiran jalan besar pun papan merah itu selalu ada. Kita sering kali abai karena tampilannya yang membosankan dan terlalu biasa. Padahal di balik deretan sabun dan mi instan itu ada mesin uang raksasa yang tahun ini diproyeksikan meraup pendapatan seratus tiga puluh delapan triliun rupiah. Angka itu besar sekali bahkan kalau dipikir jumlahnya sudah hampir tidak masuk akal buat ukuran jualan barang recehan. Tapi itulah realitanya. Saat ekonomi terasa agak berat dan inflasi parkir di level dua koma tujuh puluh delapan persen orang mungkin menahan diri beli barang elektronik baru tapi mereka tetap butuh detergen dan kopi saset setiap pagi.
Biasanya orang akan bicara panjang lebar soal efisiensi atau rasio keuangan yang njelimet. Tapi kalau kita bicara jujur $AMRT ini sebenarnya sedang berjudi dengan skala. Mereka tidak bisa berhenti ekspansi. Berhenti berarti kalah. Makanya target delapan ratus gerai baru di 2026 ini bukan cuma soal pertumbuhan tapi soal cara mereka bertahan hidup agar tetap relevan di mata konsumen yang makin pragmatis. Sekarang mereka mulai lari ke luar Jawa karena di sini sudah terlalu sesak. Saya sedikit skeptis sebenarnya. Mengirim logistik ke pelosok itu mahal dan rumit sekali. Apakah margin tipis mereka kuat menahan beban itu dalam jangka panjang. Belum lagi soal upah buruh yang terus merangkak naik setiap tahun yang menjadi beban nyata dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan jargon teknologi.
Lalu ada Lawson yang selalu jadi bahan pembicaraan hangat di kalangan investor. Semua orang sekarang mendadak jadi analis kuliner dan bilang Lawson adalah kunci masa depan karena margin makanan siap saji itu jauh lebih tebal. Memang benar kalau jualan kopi dan odeng itu lebih menguntungkan daripada jualan minyak goreng subsidi. Tapi jangan lupa kalau tren gaya hidup itu sangat cepat berubah. Apa yang hari ini terasa keren dan premium di mata kelas menengah bisa saja jadi basi dalam dua tahun ke depan. Saya melihat Lawson sebagai upaya nekat untuk keluar dari jebakan margin tipis retail tradisional yang mulai jenuh. Berhasil atau tidak itu cerita lain tapi narasi pasar sudah telanjur jatuh cinta dengan ide ini dan harga sahamnya pun ikut terbang ke valuasi yang menurut saya sudah cukup premium.
Investor ritel sering kali terjebak dalam bias narasi kalau perusahaan besar pasti selalu aman. Padahal risiko terbesar perusahaan seperti ini justru ada pada kejenuhan pasar dan biaya operasional yang tidak pernah turun. Di Jawa rasanya setiap beberapa ratus meter sudah ada satu toko yang berdiri. Kalau mereka salah langkah dalam ekspansi luar pulau atau jika strategi digital lewat AlfaGift ternyata cuma jadi tempat bakar uang tanpa menciptakan loyalitas asli maka raksasa ini bisa goyah juga. Saya lebih suka melihatnya sebagai bisnis yang stabil tapi sudah tidak punya banyak ruang untuk memberikan kejutan yang luar biasa. Ini bukan saham buat kamu yang mencari kekayaan instan dalam semalam tapi lebih ke soal menyimpan uang di tempat yang kita tahu tidak akan hilang besok pagi.
Kadang saya merasa kita terlalu memuja angka pertumbuhan tanpa melihat betapa lelahnya manajemen menjaga operasional ribuan toko setiap hari. Memang ekonomi makro sedang stabil dengan bunga acuan bank sentral yang tidak lagi liar tapi daya beli masyarakat bawah sebenarnya sedang diuji secara diam-diam. Mereka belanja tapi mereka makin selektif mencari promosi. Di situlah seninya mengelola bisnis retail yang harus tetap terlihat murah tapi tetap harus menghasilkan untung bagi pemegang saham. Sebuah ironi yang harus dijaga setiap hari demi memuaskan ekspektasi pasar yang tidak pernah puas. Akhirnya investasi di sini adalah soal seberapa sabar kamu menunggu dividen dari recehan yang dikumpulkan setiap jam dari seluruh pelosok negeri ini.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
$MIDI $DNET
$EMTK sebetulnya punya mainan seputar supporting/proxy data center, yang akan semakin baik kemampuan nya di tahun 2026 ini. Ini hasil JV dengan perusahaan ahli di singaparna country.
tahun 2025 SBU ini masih jadi aib.
seharusnya 2027 terbang SBU bidang konstruksi infra data centernya, dengan asumsi bubble ai nggak meletus ya
____
$DNET $BINA