Volume
Avg volume
BTPN merupakan bank yang memfokuskan diri untuk melayani dan memberdayakan masyarakat berpendapatan rendah yang terdiri dari para pensiunan, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta komunitas prasejahtera produktif (mass market). Didirikan di Bandung, Jawa Barat, pada 1958 dengan nama Bapemil, bank berubah nama menjadi Bank Tabungan Pensiunan Nasional di tahun 1986. Saat ini BTPN berkantor pusat di Jakarta dengan cabang-cabang di lebih dari 300 kota di seluruh Indonesia. BTPN menawarkan berbagai jasa perbankan melalui enam unit bisnisnya. Pertama adalah BTPN Purna Bakti yang fokus pada segmen pensiunan dan prapensi... Read More
BTPN - PT. Bank SMBC Indonesia Tbk Rp 2.010 -30 (-1,00%) Info Selengkapnya! JAKARTA β Jenius, layanan digital banking PT Bank SMBC Indonesia (BTPN), meluncurkan dua fitur terbaru dalam segmen tabungannya, Cash Cow dan Bayar & Nabung. Fitur Cash Cow memungkinkan nasabah untuk menabung dari ...
idnfinancials.com
PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN) telah membayarkan bunga pertama untuk obligasi yang mereka miliki senilai Rp 23,99 miliar. Di mana, bunga obligasi tersebut dibayarkan pada 17 Maret 2025. Berdasarkan keterbukaan informasi (17/3), obligasi yang harus dibayarkan oleh Bank SMBC adalah Obligasi Berkel...
kontan.co.id
BTPN - PT. Bank SMBC Indonesia Tbk Rp 2.080 -10 (-0,48%) Info Selengkapnya! JAKARTA - Direktur Utama (Dirut)Β PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN), Henoch Munandar, menanggapi fenomena pelemahan saham perbankan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir di Bursa Efek Indonesia (BEI). Menurutnya...
idnfinancials.com
trauma sama grup bakrie dan eks bakrie aja mungkin, dulu $BTPN sempat dikuasai grup bakrie sblm ipo
selain itu mungkin hny krn ga likuid aja
duit LKH uda besar, saham beredar cm sedikit ga bisa nyerap uang LKH
bagger disinipun juga ga ngefek kalo uda punya triliun an
π₯ π π₯ π π₯ ππ₯ π π₯ π π₯ π
ADA YANG TAU ALASAN LKH PILIH $BDMN DIBANDING $BTPN ? ? ?
π₯ π π₯ π π₯ ππ₯ π π₯ π π₯ π
ingat gak ente taruhan di akhir tahun 2023. Antara $BTPN vs $PANI ente kalah tapi gak terima lalu sibuk dengan seribu alasan
News Today
π Trump tegaskan tarif impor ke Kanada dan Meksiko, Wall Street berakhir merah.
π OPEC+ tingkatkan produksi, Harga Minyak dunia turun.
π LM Antam hari melejit naik Rp25rb ke level Rp1,704jt/gram.
π $RAAM infokan pengurangan modal ditempatkan dan setorkan pada entitas anak.
π Ekspansi Usaha, $RSCH dirikan anak usaha baru yang bergerak di bidang konstruksi.
π DEWA sampaikan hasil pelaksanaan penambahan modal tanpa HMETD.
π $BTPN catatkan peningkatan aset dan Laba pada tahun 2024.
π LINK infokan pengunduran diri Anggota Dewan Komisaris Perseroan.
BTPN - PT. Bank SMBC Indonesia Tbk Rp 2.040 +80 (+4,00%) Info Selengkapnya! JAKARTA β PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN), yang dahulu dikenal dengan Bank BTPN, mencatatkan pendapatan bunga bersih melesat 26,3% year-on-year (yoy) menjadi Rp15,2 triliun pada 2024. Berdasarkan laporan keuangan...
idnfinancials.com
$INDR: Apakah Ada Transfer Pricing?
Pertanyaan salah satu user Stockbit di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
PT Indo-Rama Synthetics Tbk (INDR) ini bisnisnya memang menarik. Mereka bergerak di industri serat poliester, benang pintal, dan tekstil, dengan jaringan global di bawah Indorama Corporation. Dari laporan keuangan, mereka jelas pemain besar, tapi kalau ditelusuri lebih dalam, ada banyak kejanggalan yang bikin mikir: "Ini beneran rugi atau cuma strategi akuntansi?" Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi aset, total aset INDR Rp 12,567 triliun, turun 0,72% dari Rp 12,658 triliun tahun lalu. Aset tetap masih jadi yang terbesar, Rp 7,296 triliun atau 58,06% dari total aset, tapi menariknya, kas mereka melonjak 112,95% dari Rp 203,23 miliar menjadi Rp 432,67 miliar. Kok bisa kas naik, tapi tetap rugi? Sementara itu, piutang usaha naik 5,68% dari Rp 1,358 triliun menjadi Rp 1,435 triliun, dan persediaan malah turun drastis 21,06% dari Rp 3,094 triliun ke Rp 2,442 triliun. Sinyal efisiensi atau ada sesuatu yang nggak kelihatan?
Di sisi liabilitas, totalnya Rp 6,149 triliun, turun 1,74% dari Rp 6,258 triliun. Utang berbunga jangka pendek turun 23,87% dari Rp 638,99 miliar ke Rp 486,48 miliar, tapi utang berbunga jangka panjang malah naik 19,66% dari Rp 1,488 triliun ke Rp 1,781 triliun. Jadi, mereka ngurangin utang jangka pendek tapi tetap doyan berutang jangka panjang. Klasik.
Sekarang masuk ke laporan laba rugi. Pendapatan naik 14,27% dari Rp 12,111 triliun menjadi Rp 13,839 triliun. Lumayan kan? Tapi beban pokok pendapatan juga naik 11,15% dari Rp 12,436 triliun ke Rp 13,823 triliun. Margin laba kotor nyaris nggak ada, cuma Rp 167,63 miliar, meski sudah lebih baik dibanding tahun lalu yang minus Rp -325,54 miliar. Kalau ada yang bertanya-tanya kenapa mereka rugi, ini jawabannya: biaya produksi kegedean. Gaji dan tunjangan naik 10,16% dari Rp 137,12 miliar menjadi Rp 151,05 miliar, biaya transportasi naik 13,71% dari Rp 33,90 miliar ke Rp 38,54 miliar, biaya administrasi naik 12,72% dari Rp 94,40 miliar ke Rp 106,41 miliar. Pokoknya, semua naik kecuali laba. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Anehnya, arus kas dari operasi (CFO) tetap positif Rp 611,98 miliar, meskipun turun 35,67% dari Rp 951,27 miliar tahun lalu. Arus kas investasi lebih baik, defisitnya mengecil 22,32% dari Rp -574,81 miliar ke Rp -446,53 miliar, dan arus kas pendanaan malah jeblok 54,14% dari Rp -344,46 miliar ke Rp -530,95 miliar. Ini bikin penasaran: kalau beneran rugi, kok masih bisa generate kas operasional positif?
Jawabannya ada di laporan transaksi dengan pihak berelasi. 50,01% dari total pembelian berasal dari perusahaan dalam grup. Pemasok terbesar? Indorama Universal Pte Ltd (ISN), PT INEOS Aromatics Indonesia, dan PT Indorama Petrochemicals (PTIP), semuanya masih satu keluarga. Sementara itu, pendapatan dari pihak berelasi cuma 4,91% dari total revenue. Jadi, mereka banyak beli dari grup sendiri dengan harga yang nggak jelas transparansinya, sementara penjualan ke grup jauh lebih kecil. Klasik transfer pricing? Bisa jadi. Who knows.
Bukti lainnya? Rugi fiskal yang terus membengkak. Dari USD 60,07 juta di 2023 naik 71,52% jadi USD 103,02 juta di 2024. Akibatnya? Beban pajak nihil. Apakah ini sudah textbook banget: "bikin rugi" supaya nggak bayar pajak? Entahlah. Tapi anehnya, kas tetap mengalir positif.
Jadi, apakah INDR pura-pura rugi? Secara teknis, mereka nggak salah, karena ini strategi akuntansi yang sah. Apakah ini ilegal? Entahlah. Saya juga tidak tahu.
Kalau melihat laporan pajak INDR, bisa dibilang akuntannya benar-benar jago dalam memanfaatkan aturan perpajakan. Tidak ada beban pajak kini yang dicatat di laporan laba rugi, padahal perusahaan tetap beroperasi dengan pendapatan yang naik 14,27% menjadi Rp 13,839 triliun. Mereka berhasil mencatatkan rugi fiskal yang besar, sehingga justru mendapatkan manfaat pajak sebesar USD 9,15 juta dari aset pajak tangguhan.
Strategi ini bisa terjadi karena perusahaan memanfaatkan rugi fiskal yang terus meningkat untuk mengurangi pajak terutang di masa depan. Pada tahun 2024, rugi fiskal INDR membengkak menjadi USD 103,03 juta, naik dari USD 60,07 juta di 2023. Artinya, mereka punya saldo rugi yang bisa digunakan untuk menutupi laba di tahun-tahun mendatang, sehingga pajak yang harus dibayar tetap rendah atau bahkan nihil.
Dari sisi perpajakan, ini bukan pelanggaran, tetapi lebih ke strategi perencanaan pajak yang sangat efisien. Selama transaksi dengan pihak berelasi dan harga transfer bisa dibuktikan wajar, maka ini sah-sah saja. Namun, kalau ada perubahan regulasi pajak atau pengawasan yang lebih ketat terkait transaksi dengan grup seperti Indorama Universal Pte Ltd, INEOS, dan PTIP, maka strategi ini bisa lebih sulit dijalankan ke depannya. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Jadi, apakah akuntannya jago? Jelas jago. Mereka bisa membuat perusahaan tetap bernapas lega secara kas, sambil mencatatkan rugi akuntansi yang membuat pajak tetap rendah atau bahkan nihil. Ini contoh klasik bagaimana rugi di laporan keuangan belum tentu berarti bisnisnya burukβbisa jadi itu hanya strategi optimasi pajak yang cerdas.
INDR masih punya peluang untuk rebound kalau bisa mengelola beberapa faktor dengan baik. Pendapatan naik 14,27% dari Rp 12,111 triliun menjadi Rp 13,839 triliun, menunjukkan permintaan tetap ada meskipun margin tipis. Persediaan bahan baku dalam perjalanan turun drastis 55,20% dari Rp 36,04 juta ke Rp 16,14 juta, menandakan efisiensi dalam rantai pasokan. Jika harga bahan baku stabil dan INDR bisa menaikkan harga jual, margin berpotensi membaik. Saat ini, INDR masih bergantung pada pemasok dalam grup, dengan Indorama Universal Pte Ltd (ISN) menyumbang 23,62% dari total pembelian, PT INEOS Aromatics Indonesia 19,33%, dan PT Indorama Petrochemicals (PTIP) yang pada 2023 berkontribusi 10,96%. Ketergantungan ini memastikan pasokan yang stabil, tetapi juga membuka celah bagi strategi harga transfer yang sulit dipantau.
PT INEOS Aromatics Indonesia merupakan bagian dari INEOS Group, perusahaan kimia multinasional yang didirikan oleh Sir Jim Ratcliffe. INEOS Group beroperasi di sektor petrokimia, termasuk aromatik, dan juga memiliki keterlibatan dalam dunia olahraga. Pada Desember 2023, INEOS mengakuisisi 27,7% saham Manchester United, meningkatkan kepemilikannya menjadi hampir 29% pada awal 2025. Ini berarti PT INEOS Aromatics Indonesia dan INEOS yang memiliki saham di Manchester United berada dalam satu entitas perusahaan yang sama.
Sebagai pemasok utama, PT INEOS Aromatics Indonesia menyediakan Purified Terephthalic Acid (PTA), bahan baku penting dalam produksi serat poliester dan produk tekstil INDR. Pada tahun 2024, pembelian bahan baku dari INEOS mencapai 19,33% dari total pembelian, sedikit lebih rendah dibandingkan 20,56% pada 2023. Ketergantungan tinggi pada pemasok dalam grup bisa memengaruhi struktur biaya dan margin laba. Dalam praktik bisnis global, transaksi antar perusahaan dalam grup diawasi untuk memastikan kesesuaiannya dengan prinsip harga wajar (armβs length principle), terutama terkait transfer pricing. Oleh karena itu, transparansi dalam penetapan harga bahan baku menjadi kunci bagi laporan keuangan INDR serta persepsi regulator terhadap kebijakan perpajakannya. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
INDR memiliki beberapa kreditor utama, baik bank lokal maupun internasional, dengan komposisi utang yang cukup menarik. Total utang bank jangka pendek mencapai USD 30,10 juta, turun dari USD 41,45 juta pada 2023, dengan mayoritas berasal dari PT Bank QNB Indonesia Tbk (USD 20,00 juta) dan PT Bank Central Asia Tbk (USD 10,10 juta). Sementara itu, utang dari PT Bank SMBC Indonesia Tbk yang sebelumnya USD 8,95 juta, kini sudah lunas.
Di sisi jangka panjang, INDR justru menambah pinjaman, dengan total naik dari USD 75,39 juta menjadi USD 87,54 juta. PT Bank HSBC Indonesia menjadi kreditor terbesar dengan pinjaman USD 40,94 juta, naik dari USD 38,39 juta, diikuti oleh PT Bank SMBC Indonesia Tbk $BTPN (USD 15,00 juta), PT Bank Central Asia Tbk $BBCA (USD 10,00 juta), dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation Singapore (USD 15,00 juta). Beberapa bank lain seperti PT Bank SBI Indonesia dan PT Bank DBS Indonesia juga memiliki eksposur, meskipun jumlahnya lebih kecil.
Dari sisi bunga, utang dalam Dolar AS memiliki suku bunga antara 4,73% - 6,83% pada 2024, sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 4,48% - 6,86%. Dengan komposisi ini, HSBC menjadi pemberi pinjaman terbesar, sementara INDR tampaknya lebih memilih menekan utang jangka pendek dan memperpanjang tenor dengan tambahan pinjaman jangka panjang.
Namun, ada beberapa faktor yang bisa menghambat potensi rebound. Beban bahan baku masih sangat tinggi, mencapai 73,66% dari total biaya produksi, yang membuat margin laba tetap tipis meskipun pendapatan naik. Kalau harga bahan baku naik lagi, INDR bisa semakin sulit untuk mencetak laba. Beban keuangan juga terus meningkat, terutama karena utang berbunga jangka panjang naik 19,66% dari Rp 1,488 triliun menjadi Rp 1,781 triliun. Ini berarti perusahaan masih bergantung pada pembiayaan jangka panjang yang bisa menjadi beban jika kondisi pasar tidak membaik. Selain itu, kalau ada regulasi pajak yang lebih ketat terkait transaksi pihak berelasi, strategi perencanaan pajak INDR bisa terganggu. Selama ini, perusahaan bisa menghindari pajak dengan mencatatkan rugi akuntansi, tetapi kalau otoritas pajak mulai menyoroti transaksi antar perusahaan dalam grup, mereka bisa dipaksa membayar pajak lebih besar yang akan makin menekan profitabilitas. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Jadi, apakah INDR bisa rebound? Secara teori, bisa, asal bisa menjaga efisiensi bahan baku, mengurangi ketergantungan pada grup untuk pembelian, dan mulai memperbaiki margin dengan menaikkan harga jual. Tapi kalau strategi harga transfer dan manajemen beban masih seperti ini, rebound bisa jadi lebih lama atau bahkan nggak terjadi sama sekali.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138 (caranya cek gambar terakhir)
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Jangan lupa kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://bit.ly/44osZSV
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/9
π Bank SMBC $BTPN mencatat laba bersih Rp2,81 triliun pada 2024, naik 19,57% dari Rp2,35 triliun di 2023. Pendapatan bunga meroket ke Rp18,18 triliun, tetapi laba per saham justru turun ke Rp279 π. Apa dampaknya bagi investor? π°
π https://cutt.ly/1rtzWmk4
$ARTO $BBHI