BBNI

BBNI

ID flagID flag

Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

4,270

-100

(-2.29%)

Today

21.7 M

Volume

47.3 M

Avg volume

Company Background

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. atau BBNI merupakan bank BUMN bidang usaha perbankan. BNI kini tercatat sebagai bank nasional terbesar ke-4 di Indonesia, dilihat dari total aset, total kredit maupun total dana pihak ketiga. Dalam memberikan layanan finansial secara terpadu, BNI didukung oleh sejumlah anak perusahaan, yakni Bank BNI Syariah, BNI Multi Finance, BNI Securities, BNI Life Insurance, dan BNI Remittance. Jaringan layanan BNI tersebar di seluruh Indonesia melalui ke-1.766 outlet domestik dan di luar negeri melalui cabang-cabang di New York, London, Tokyo, Hong Kong, Singapura dan Osaka. BNI memiliki 72 outlet we... Read More

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Kata bandar, $BBRI $BBCA $BBNI BMRI masih mau dibanting lagi sampai Januari akhir. Bener/bohong? Voting masih dibuka disini masih sampai 12 januari.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BBNI msk top loser🤔 kmu abis eksdate apa gmn

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BBRI setelah Dividen Trap nih Dashboard analisa harga 10th terakhir beserta update konsensusnya
semoga membantu acuan investasi kalian ya

Dashboard ada di BIO

Random Tag $ADRO $BBNI

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Kalian ngapain ???!!! $BBCA $BBNI $BBRI BMRI

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

@stevanusagung nope harga perbankan tahun 2026 akan makin junam DYOR
$BBRI $BBCA $BBNI

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

@titoandriant PBV di bawah 1 untuk sekelas $BBNI sangat menarik untuk di cicil

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BBNI $BBRI $BMRI saham ampas sarang koruptor ini. Thn 2026 aja di awalin jeblok pasti makin kedepan makin jeblos aja bisa makin parah dari 2025.

$MEDC bandarnya udah mulai masak gaes DYOR
$BBRI $BBNI

@ShahRZ hari pertama pembukaan bursa di tahun 2026, dapat dipastikan memang tdk ada windows dressing either January effects
Dyor
$BBRI $BBNI $BMRI

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

@ricohidayat1 do you see this?
$BRIS $BBRI $BBNI

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Barang siapa memilih badut, maka ia akan menikmati kekonyolannya

$BBNI $BBRI $IHSG

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

IHSG nyentuh all time high, big bank malah jadi pemberat!🤣

$BBCA $BMRI $BBNI

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BBNI bank himbara emg pada ampas ☺️

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BBNI ni bank emang sangat anomali

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BBNI mau bangkrut spt ni BNI naskleng

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

anak perempuan saya nyanyiin lagu huntrix berbulan2 sampe saya bosen. Ternyata mengandung kode ilahi: "we're going up up up it's our moment, gonna be gonna be niiickel, gonna be gonna be niiickel." 😶‍🌫

$BBRI $BMRI $BBNI

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Sejumlah saham mencatatkan kinerja relatif solid sepanjang 2025 di tengah tekanan pasar global. Stabilitas ekonomi domestik dan kesinambungan kebijakan fiskal dinilai menjadi faktor utama yang menopang kinerja emiten.
Untuk 2026, sejumlah analisis memperkirakan saham berfundamental kuat akan menjadi...

katadata.co.id

katadata.co.id

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BBNI $BBRI

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BBNI jang bujang
kek gini terus kao buat

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Holder bluechip :


$BBNI $BMRI $ITMG

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$BBRI $BBNI $GIAA

Banyak yang khawatir BBRI kolaborasi sama Barcelona itu cuma "bakar duit" gak jelas. Wajar sih skeptis, apalagi kondisi makro lagi menantang. Tapi coba kita bedah logikanya jangan sama kan kolaborasi ini dengan insiden masa lalu:

1. Efisiensi Marketing: Buat bank segede BRI, biaya akuisisi nasabah (CAC) itu mahal. Daripada sebar baliho di tiap tikungan yang belum tentu dikerling anak muda, mending masuk ke komunitas fans bola (ada 29 juta orang fans Barca di Indo). Ini target market yang sangat spesifik dan loyal.

2. CASA Game: Fokusnya bukan cuma gaya-gayaan, tapi narik Dana Murah (CASA) lewat kartu debit edisi khusus. Kalau dana murah naik, Cost of Fund turun, ujung-ujungnya NIM makin tebal.

3. Porsi Biaya: Kontrak ini cuma sampai akhir 2027. Secara hitung-hitungan, biaya sponsor klub global begini biasanya nggak sampai 1% dari total laba bersih BRI. Jadi, risiko ke deviden hampir nggak berasa, tapi upside ke branding BRImo buat jangka panjang itu gede.
Bukannya mau pom-pom, tapi manajemen BBRI biasanya cukup kalkulatif kalau soal alokasi modal. Strategi ini bukan buat tahun ini doang, tapi buat ngamanin dominasi di segmen digital 5-10 tahun ke depan.

Disclaimer: Bukan ajakan beli/jual. Do your own research.

Read more...

1/2

testes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Katanya yang Akan Buka Perdagangan Bursa di 2026 Adalah Presiden Prabowo

Kira - kira Prabowo akan kasi arahan apa? 🤔

Semoga saja setelah Prabowo kasi arahan itu saham BUMN terbang semua. Investor $BBRI $BMRI $BBNI udah capek Nyangkut di 2025. Di 2026 semoga lebih baik dan BUMN meroket bersama Danantara.😌

Semoga. Amiin.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/10

testestestestestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Bahaya Target Return yang Terlalu Tinggi

Banyak investor memulai perjalanan investasinya dengan target yang terdengar ambisius. Ingin menggandakan uang dalam waktu singkat, mengejar return puluhan persen per tahun, atau berharap pasar selalu memberi hasil di atas rata-rata. Target seperti itu memang bisa memotivasi, tetapi juga bisa menjadi sumber masalah yang serius dalam jangka panjang.

Disadari atau tidak, sikap dan perilaku kita dalam berinvestasi akan dipengaruhi oleh tingginya target return yang kita tetapkan. Bila kita menetapkan target return yang terlalu tinggi, kita akan didorong untuk bersikap agresif dan mencari cara cepat untuk mencapainya. Saham yang stabil dan berkualitas akan terasa membosankan karena pergerakannya terlalu lambat. Perhatian kita pun beralih ke saham-saham yang bergerak agresif, cerita turnaround yang belum tentu jelas, atau sektor yang sedang ramai dibicarakan. Akhirnya, investasi perlahan berubah menjadi spekulasi.

Masalah berikutnya adalah distorsi dalam pengambilan risiko. Demi mengejar target tinggi, kita cenderung mengabaikan downside. Risiko yang sebenarnya besar terasa bisa diterima karena dibungkus oleh potensi keuntungan yang menggiurkan. Ukuran posisi membesar, diversifikasi diabaikan, dan disiplin perlahan menghilang. Selama harga masih naik, semuanya terlihat baik-baik saja, sampai pasar bergerak berlawanan.

Ekspektasi yang berlebihan juga menciptakan tekanan psikologis. Ketika hasil tidak sesuai target, kekecewaan muncul lebih cepat. Kita menjadi tidak sabar, sering keluar masuk saham, dan terus mengganti strategi. Padahal, masalah utamanya bukan pada pasar, melainkan pada target yang sejak awal tidak masuk akal. Alih-alih membangun proses yang konsisten, kita terjebak mengejar angka.

Dalam jangka panjang, pola ini sangat merusak. Return tinggi yang sesekali tercapai sering diikuti oleh kerugian besar yang menghapus hasil sebelumnya. Secara mental, kita menjadi lelah dan sinis. Kepercayaan diri turun, tetapi bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena ekspektasi yang tidak selaras dengan realitas pasar.

Pendekatan yang lebih sehat adalah menurunkan fokus dari target ke proses. Alih-alih bertanya berapa persen return yang ingin kita capai, kita bisa bertanya apakah keputusan yang kita ambil masuk akal, risikonya terukur, dan konsisten dengan tujuan jangka panjang. Pasar tidak bisa kita kendalikan, tetapi proses berpikir dan disiplin bisa.

Ada beberapa tanda bahwa target investasi kita mungkin sudah terlalu tinggi:
1. Keputusan semakin agresif demi mengejar hasil.
2. Saham berkualitas terasa kurang menarik.
3. Kekecewaan muncul meski hasil sebenarnya masih wajar.
4. Strategi sering berubah tanpa evaluasi yang matang.

Investor yang bertahan lama biasanya bukan yang memasang target paling tinggi, tetapi yang mampu menjaga ekspektasi tetap realistis. Mereka membiarkan waktu dan compounding bekerja, sambil fokus menghindari kesalahan besar. Dalam investasi, bertahan dan berkembang sering kali lebih penting daripada menang cepat.

Target seharusnya membantu kita tetap disiplin, bukan mendorong kita mengambil risiko yang tidak perlu. Menurut Anda, berapakah target return yang masuk akal dan realistis dalam konteks investasi saham?

@Blinvestor

Follow my Telegram: https://cutt.ly/Btd6w8CM

Random tags: $BBNI $BRIS $BBTN

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Sejumlah saham mencatatkan kinerja relatif solid sepanjang 2025 di tengah tekanan pasar global. Stabilitas ekonomi domestik dan kesinambungan kebijakan fiskal dinilai menjadi faktor utama yang menopang kinerja emiten.
Untuk 2026, sejumlah analisis memperkirakan saham berfundamental kuat akan menjadi...

katadata.co.id

katadata.co.id

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

@MutanX wajar aja, dulu 2012 ada $GIAA sponsorin Liverpool, 2013 ada $BBNI sponsorin Chelsea, 2026 kini $BBRI sponsorin Barca.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

cek postingan saya, rumus saham yang akan ara 📈 $BBNI

Danantara Story : Keraguan Investor

Keraguan terhadap Danantara wajar, bahkan sehat. Setidaknya ada dua keraguan besar yang beredar di publik. Pertama, Danantara dikhawatirkan hanya menjadi pengulangan Kementerian BUMN dengan nama dan struktur baru, tanpa perubahan substantif dalam cara negara mengelola BUMN. Kedua, sekalipun strukturnya berbeda, direksi BUMN tetap akan sulit mengambil keputusan strategis karena dibayang-bayangi risiko hukum, khususnya tafsir kerugian negara dan jerat tipikor.

Untuk menjawab dua keraguan ini, yang perlu dilihat bukan narasinya, melainkan perubahan struktur sebelum dan sesudah revisi Undang-Undang BUMN. Sebelum Danantara, BUMN dikelola langsung di bawah Kementerian BUMN dengan logika administrasi negara. Negara berperan sekaligus sebagai regulator, pemilik, dan sering kali penentu arah bisnis. BUMN menjalankan mandat campuran antara fungsi komersial dan penugasan publik. Dividen disetor ke APBN dan berhenti di sana, habis untuk belanja rutin, tanpa membentuk siklus reinvestasi yang terencana. Aset negara besar, tetapi tidak bekerja sebagai portofolio yang dituntut menghasilkan nilai jangka panjang.

Revisi UU BUMN menggeser logika ini. Negara memisahkan peran sebagai regulator dan pemilik aset. Kepemilikan saham BUMN strategis dialihkan ke Danantara, sementara negara tetap memegang kendali melalui saham dwiwarna. Kementerian BUMN tidak dibubarkan, tetapi perannya bergeser menjadi pembuat kebijakan dan pengawas. Pengelolaan ekonomi atas aset BUMN dipindahkan ke sebuah holding yang bekerja dengan logika korporasi dan investasi, bukan logika anggaran. Di titik ini, Danantara bukan sekadar kementerian dengan nama baru, melainkan perubahan kerangka pengelolaan.

Struktur Danantara dibangun dengan dua pilar yang fungsinya dipisahkan secara tegas. Danantara Asset Management berperan sebagai operational holding. BUMN dikonsolidasikan di bawahnya, dibenahi, dan dipaksa menghasilkan arus kas. Fokusnya bukan sekadar laba akuntansi atau pemenuhan penugasan, tetapi efisiensi, disiplin modal, dan cash generation. Di sisi lain, Danantara Investment Management berfungsi sebagai pengalokasi modal. Dividen dan hasil usaha BUMN tidak seluruhnya ditarik ke negara, tetapi dikelola dan diinvestasikan kembali ke sektor-sektor strategis. Fungsi pengelolaan portofolio investasi terpusat seperti ini sebelumnya tidak pernah benar-benar ada.

Namun justru karena strukturnya serius, risikonya juga serius. Danantara bukan proyek pencitraan ringan. Ia mengubah arsitektur aliran uang negara. BUMN menghasilkan kas, kas naik ke Danantara Asset Management, lalu dikonsolidasikan ke Danantara untuk dialokasikan kembali atau disetorkan ke negara. Negara secara sadar memindahkan salah satu tumpuan fiskalnya dari APBN langsung ke kinerja korporasi BUMN. Jika Danantara berhasil, negara memperoleh mesin pendanaan berkelanjutan tanpa menambah utang. Jika gagal, dampaknya bukan sekadar reputasi.

Kegagalan Danantara berarti dividen yang diharapkan tidak muncul, sementara belanja negara tetap berjalan. Defisit tidak mengecil, bahkan berpotensi melebar karena negara kehilangan sumber pendanaan non-pajak yang seharusnya diperkuat. Lebih jauh, struktur holding menciptakan konsentrasi risiko. Kesalahan tata kelola di tingkat Danantara Asset Management tidak lagi berdampak pada satu BUMN, tetapi pada keseluruhan portofolio. Risiko juga muncul di sisi investasi. Jika Danantara Investment Management salah arah dalam mengalokasikan modal, kerugian itu langsung menggerus arus kas BUMN dan memaksa negara kembali bergantung pada utang atau APBN.

Keraguan kedua, soal keberanian direksi mengambil keputusan di tengah bayang-bayang tipikor, justru menjadi alasan mengapa desain ini memisahkan peran secara lebih jelas. Dalam struktur lama, keputusan bisnis sering berada di wilayah abu-abu antara kebijakan dan korporasi. Direksi cenderung defensif, memilih tidak bertindak daripada mengambil risiko strategis. Dalam desain Danantara, BUMN diposisikan lebih tegas sebagai entitas bisnis dengan target arus kas dan tata kelola korporasi. Risiko hukum tidak hilang, tetapi ruang tafsir bahwa setiap keputusan bisnis otomatis adalah kebijakan negara dipersempit. Akuntabilitas dibuat lebih jelas, bukan lebih longgar.

Tantangan terberat Danantara tetap pada perubahan kultur. Struktur bisa diubah lewat undang-undang, kebiasaan tidak. Jejak kultur lama masih mudah ditemukan. Ketika publik melihat bank milik negara mengalokasikan anggaran besar untuk endorsement klub sepak bola Eropa seperti Barcelona, pertanyaan yang muncul sederhana. Apa relevansinya dengan bisnis inti. Apakah Lamine Yamal akan menjadi brand ambassador Simpedes. Tentu tidak. Ini bukan soal legal atau tidak, melainkan soal disiplin berpikir.

Danantara pada dasarnya hadir untuk memotong pola semacam itu. Bukan untuk melarang promosi atau kebanggaan merek, tetapi untuk memaksa pertanyaan yang lebih mendasar, sebagaimana cara investor berpikir. Apakah keputusan ini menghasilkan arus kas. Apakah ini memperkuat bisnis inti. Apakah setiap rupiah yang keluar berpeluang kembali sebagai lebih dari satu rupiah di masa depan. Dalam perspektif investor, pengeluaran dinilai bukan dari seberapa terlihat, tetapi dari seberapa besar nilai tambah yang diciptakan. Tanpa perubahan kultur berpikir seperti ini, struktur sebaik apa pun akan berhenti di tengah jalan, karena aset besar tanpa disiplin modal hanya akan memindahkan masalah lama ke wadah yang lebih besar.

Karena itu, Danantara tidak layak dinilai dari pidato atau narasi besarnya. Ia harus dinilai dari hal yang paling tidak romantis. Arus kas. Disiplin belanja modal. Keberanian memangkas keputusan yang populer tetapi tidak produktif. Jika kultur ini benar-benar berubah, Danantara bisa menjadi fondasi baru pengelolaan kekayaan negara. Jika tidak, ia hanya akan menjadi wadah besar yang mengonsolidasikan kebiasaan lama. Dan dalam konteks fiskal, kegagalan seperti itu bukan hanya memalukan, tetapi mahal.

Bagi investor saham, konteks ini menjadi relevan. Mayoritas saham BUMN berada di valuasi rendah bukan semata karena kinerja, tetapi karena ketidakpercayaan yang menahun terhadap tata kelola, konsistensi kebijakan, dan disiplin modal. Pasar tidak menghukum angka, pasar menghukum asumsi. Dengan memahami struktur Danantara dan logika di baliknya, setidaknya terbuka ruang bagi pematahan asumsi lama. Kini ada kepentingan yang lebih jelas bagi BUMN untuk membereskan laporan keuangannya, memperbaiki arus kas, dan meningkatkan setoran dividen, karena aliran uangnya tidak lagi berhenti di satu titik. Entah berhasil atau tidak, arah kepentingannya berubah. Spinoff dan inbreng BUMN belakangan ini juga terasa lebih masuk akal jika dibaca sebagai logika holding yang sedang membenahi anak usahanya, bukan sekadar manuver administratif. Sentimen pasar memang tidak berubah dalam semalam, tetapi ia bergerak ketika struktur dan kepentingan mulai selaras. Semoga kali ini berhasil.

$BBRI $BBNI $BMRI

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

terima kasih @Stockbit atas apresiasi nya bisa di urutan 4 pun saya sangat senang, membantu para ritel fomo yang baru terjun, bukan nya sok ngajarin tapi banyak yg terjebak dengan mindset yang instan


$SUPA $BBCA $BBNI

saya kasih info yang big bank aja y. harganya pure suply and demand.
yang paling kuat itu $BBNI.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Happy New Year 2026!
Semoga kita bisa cuan bareng, like dan ketik amin jika setuju!
$BBCA $BBNI $BMRI

2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy