


Volume
Avg volume
BANK akan membuka dan mempermudah akses layanan perbankan syariah berbasis digital agar dapat melayani seluruh lapisan masyarakat, serta menjalin kerjasama dengan pelaku industri di berbagai sektor. Keamanan dan kenyamanan nasabah juga menjadi prioritas kami dalam memaksimalkan penggunaan teknologi informasi guna mengembangkan produk-produk pendanaan, pembiayaan dan jasa-jasa perbankan lainnya, seperti transfer dana, pembayaran, pembelian dan lain-lain.
Dalam video ini, kami akan membedah Laporan Keuangan Kuartal 3 (LK Q3 2025) PT Midi Utama Indonesia Tbk ($MIDI). Harga saham MIDI anjlok dari 486 ke 380, menimbulkan pertanyaan besar: Apakah harus cutloss MIDI untuk masuk AMRT? Analisis mendalam menunjukkan cerita yang kontradiktif antara harga dan fundamental.
Fakta Kunci MIDI:
1. Laba Bersih Rekor Baru: Laba bersih MIDI yang diatribusikan ke pemilik induk selama sembilan bulan pertama 2025 sekitar 590 Miliar Rupiah, naik tajam sekitar 26,5% dari periode yang sama tahun lalu (467 Miliar). Hipotesis awal bahwa harga longsor karena laba anjlok langsung gugur.
2. Kualitas Laba & Arus Kas Kuat: Arus kas operasi (CFO) sembilan bulan 2025 lebih besar daripada laba akrual. Rasio kas operasi terhadap laba berada di atas 2 kali. Ini berarti setiap 1 Rupiah laba didukung lebih dari 2 Rupiah uang nyata yang masuk ke rekening.
3. Neraca Super Sehat: MIDI telah melunasi seluruh utang bank berbunga per 30 September 2025. Posisi utang berbunga praktis nol. Modal kerja juga rapi, dengan kas naik dari 380 Miliar menjadi 520 Miliar.
4. Ekspansi Agresif: Profil kas terlihat tipis di free cash flow karena MIDI sedang dalam fase ekspansi besar. Capex sembilan bulan pertama 2025 mencapai sekitar 1,1 Triliun Rupiah, digunakan untuk pembukaan gerai baru. Ini adalah ciri perusahaan yang sedang mengorbankan kas jangka pendek demi pertumbuhan di masa depan.
5. Divestasi Lawson: Pelepasan Lawson pada Mei 2025 menghilangkan kerugian yang konsisten di bagian kepentingan nonpengendali, membuat laba bersih pemilik induk lebih bersih dan mudah dibaca.
Konteks Induk ($AMRT):
Sentimen satu grup cenderung menular. Di sisi lain, AMRT menghadapi tantangan berbeda:
• Laba bersih pemilik induk turun sekitar 3,5% (dari 2,40 T ke 2,32 T). Kas dari operasi juga turun dari 5,7 T ke 4,9 T.
• Investasi non-inti (digital) terbukti salah arah, dengan kerugian nilai wajar dari RAENA (8 Miliar) dan kerugian nilai wajar yang belum direalisasi sekitar 260 Miliar dari investasi di $BANK Aladin Syariah. Ini memukul ekuitas dan mengirim sinyal buruk alokasi modal ke pasar.
Valuasi dan Kesimpulan:
MIDI di harga 380 dengan EPS annualised 23-24 Rupiah memiliki PER hanya di kisaran 16 kali. Dengan pertumbuhan laba 26,5%, PEG ratio kasar sekitar 0,6—yang merupakan tanda undervalued bagi value investor. Sementara itu, AMRT dengan laba turun, PER-nya masih di kisaran 24 kali di harga 1.810.
Keputusan cutloss MIDI (bisnis yang labanya tumbuh puluhan persen dan PER belasan kali) demi membeli AMRT (bisnis yang labanya turun dan PER dua puluhan kali) adalah arbitrase rasa takut, bukan arbitrase nilai. MIDI sedang dihukum kolektif pasar karena sentimen grup, bukan karena fundamental yang rusak. Investor rasional cenderung mempertahankan atau mencicil MIDI.
Disclaimer: Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan masing-masing investor. Selalu baca laporan keuangan dan lakukan analisis independen Anda.
Jangan lupa like, comment, dan subscribe ke channel Wawasan Cerdas untuk analisis saham yang lebih mendalam!
https://cutt.ly/Etys9gT5
Saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk ($AMRT) mengalami koreksi drastis sekitar 43% dari harga puncaknya 3.170 menjadi 1.810. Penurunan sedalam ini biasanya identik dengan laba yang rontok atau utang yang meledak, namun, di AMRT gambarannya berbeda.
Apa yang Sebenarnya Terjadi? Pasar menghukum AMRT bukan karena bisnis minimarketnya sepi, tetapi karena kegagalan investasi digital non-inti yang terjadi saat hype fintech sedang memuncak. Kerugian ini muncul sebagai sumber minus yang menggerus ekuitas, membuat pasar mencabut premi euforia digital yang dulu ditempelkan.
1. Trauma Investasi Digital:
◦ RAENA: Investasi di Raena R U Pte Ltd (sekitar 1,24%) resmi berhenti beroperasi sejak Februari 2025, mengakibatkan kerugian sekitar 8,2 Miliar Rupiah di penghasilan komprehensif lain.
◦ Bank Aladin ($BANK): Investasi 500 Miliar Rupiah di Bank Aladin (kepemilikan 1,99%) anjlok nilainya, hanya tersisa sekitar 235 Miliar Rupiah per Maret 2025. Selisih kerugian nilai wajar yang belum direalisasi mencapai sekitar 263 Miliar Rupiah.
2. Kekuatan Bisnis Inti:
◦ Pendapatan & Laba Bruto: Pendapatan neto AMRT 9M 2025 naik menjadi 94,5 Triliun Rupiah (dari 88,2 T di 2024), dan laba bruto naik menjadi 20,3 Triliun Rupiah. Ini menunjukkan barang di rak Alfamart masih laku keras.
◦ Neraca Kuat: AMRT mencatat rasio utang berbunga terhadap ekuitas 0,00 (praktis tanpa utang bank berbunga yang mengancam).
◦ Mesin Kas Raksasa (CFO): Kas neto dari aktivitas operasi (CFO) 9M 2025 sekitar 4,9 Triliun Rupiah, hampir dua kali lipat dari laba bersih (2,3 Triliun Rupiah). Ini menunjukkan kualitas laba yang sangat tinggi dan mesin kas yang kuat.
3. Masalah Laba dan Capex:
◦ Meskipun pendapatan naik, laba bersih 9M 2025 turun tipis karena beban penjualan dan distribusi melompat dari 15 T menjadi 16,6 T Rupiah.
◦ Free Cash Flow (FCF) Tipis: Sekitar 3,8 Triliun Rupiah dari CFO dihabiskan untuk Belanja Modal (Capex) agresif (perolehan aset tetap/hak guna), membuat FCF yang tersisa hanya sekitar 1 Triliun Rupiah.
Valuasi AMRT di Harga 1.810: Dengan PER sekitar 24 kali dan PBV sekitar 4,3 kali, saham ini secara textbook belum bisa dibilang murah. Namun, bagi investor yang fokus pada stabilitas arus kas operasional (Price to CFO 11-12 kali) dan neraca yang bersih, harga 1.810 mulai terlihat masuk akal, mengingat trauma digital sudah terekam di laporan keuangan.
Penting: Investor yang masuk di harga ini sedang bertaruh pada earning jump (lonjakan laba) di masa depan, karena hampir 80% kas operasional dihisap kembali untuk ekspansi.
Tonton video ini sampai selesai untuk memahami: Apakah 1.810 adalah titik entry terbaik untuk AMRT?
https://cutt.ly/vtyf9HC5
random $MIDI
PT Super Bank Indonesia atau Superbank bakal melantai di Bursa Efek Indonesia melalui pencatatan saham perdana atau initial publik offering (IPO) pada Desember 2025 mendatang. IPO bank digital ini menawarkan saham di rentang Rp 525 hingga Rp 695 per saham.
Di tengah aksi IPO, valuasi Superbank Indon...

katadata.co.id
$MIDI LK Q3 2025: Apakah Harus Cutloss?
Pertanyaan salah satu user Stockbit bukan di External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Pertanyaan salah satu user Stockbit yang bingung apakah harus cutloss MIDI untuk masuk AMRT. Pertanyaan yang wajar timbul ketika investor tidak tahu apa yang mereka beli. Harga MIDI amblas dari 486 ke 380, AMRT dari 3.170 ke 1.810, layar merah di aplikasi langsung membuat otak pindah ke mode selamatkan diri, bukan mode baca laporan keuangan. Di forum, narasi yang muncul sederhana, mungkin laba ritel sudah hancur, konsumsi lesu, sektor ritel selesai. Padahal kalau angka dibuka pelan, cerita yang muncul justru sebaliknya, terutama di MIDI. Di satu sisi ada anak usaha yang labanya naik puluhan persen, kas operasi deras, utang bank berbunga nol. Di sisi lain ada induk raksasa yang omzetnya masih naik, tetapi laba bersihnya malah turun, cashflow menyusut, plus investasi non-inti digital yang mulai terbukti salah arah. Jadi ketika investor bertanya apakah masuk akal memotong kerugian di MIDI untuk mengejar AMRT, yang sedang dihukum pasar karena drama RAENA dan BANK, pertanyaannya pelan-pelan bergeser menjadi, sebenarnya siapa yang sakit dan siapa yang hanya ikut tertular panik. Pada titik itu, data keuangan berubah dari sekadar angka menjadi alat deteksi siapa korban dan siapa kambing hitam di satu grup yang sama. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Lihat dulu fakta di LK MIDI. Berdasarkan laporan keuangan interim Q3 2025, laba bersih yang diatribusikan ke pemilik induk selama sembilan bulan pertama 2025 sekitar 590 Miliar Rupiah, naik sekitar 26,5% dari periode yang sama tahun lalu yang masih di kisaran 467 Miliar. Laba per saham juga ikut naik, dari sekitar 14 ke hampir 18 Rupiah per lembar. Kalau angka ini diannualkan, laba setahun penuh kira-kira mendekati 800 Miliar. Artinya, di tengah harga saham yang jatuh dari 486 ke 380, bisnisnya justru mencetak rekor laba baru, bukan turun. Untuk kuartal ketiga saja, laba bersih pemilik induk sekitar 200 Miliar, jauh lebih tinggi dibanding Q3 tahun lalu yang hanya sekitar 142 Miliar. Jadi hipotesis awal bahwa harga longsor karena laba anjlok langsung gugur di bab pertama.
Yang membuat cerita MIDI menarik adalah kualitas laba, bukan cuma besarnya. Arus kas operasi sembilan bulan 2025 lebih besar daripada laba akrual. Penerimaan kas dari pelanggan sedikit di atas pendapatan, dan setelah menambahkan kembali beban nonkas seperti depresiasi, kas bersih dari operasi tembus kisaran triliunan Rupiah. Rasio kas operasi terhadap laba di atas 2 kali, artinya setiap 1 Rupiah laba di kertas didukung lebih dari 2 Rupiah uang nyata yang masuk ke rekening. Di sisi neraca, utang bank berbunga sudah dilunasi, sehingga posisi utang berbunga per 30 September 2025 praktis nol. Ini kombinasi yang jarang di ritel, laba naik, kas operasi kuat, utang bank hilang. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Lalu kenapa profil kas kelihatan tipis di free cash flow? Jawabannya, MIDI lagi fase ekspansi gila-gilaan, tapi gila-gilaan yang masuk akal. Capex sembilan bulan pertama 2025 sekitar 1,1 Triliun Rupiah, kalau diannualkan bisa tembus sekitar 1,5 Triliun. Hampir seluruh kas operasi dipompa kembali ke pembukaan gerai baru dan penambahan aset hak-guna. Itu kenapa free cash flow setelah capex terlihat tipis, hanya puluhan sampai ratusan Miliar, meskipun kas operasi sendiri sangat sehat. Ini bukan ciri bisnis yang sekarat, tetapi profil perusahaan ritel yang sedang mengorbankan kas jangka pendek demi menambah mesin uang baru di masa depan.
Satu peristiwa teknis yang sering dilupakan investor adalah divestasi Lawson. MIDI menjual seluruh kepemilikan di PT Lancar Wiguna Sejahtera, pengelola Lawson, ke AMRT dengan nilai transaksi sekitar 200 Miliar Rupiah pada Mei 2025. Sebelum dijual, Lawson secara konsisten mencatat rugi di bagian kepentingan nonpengendali. Di laporan 2024, kerugian KNP ini memakan laba komprehensif grup. Begitu Lawson dilepas, rugi kepentingan nonpengendali itu hilang, laba bersih pemilik induk menjadi lebih bersih dan lebih mudah dibaca. Ada tambahan selisih yang masuk ke tambahan modal disetor, dan ada cash in yang membantu memperkuat kas serta mendanai ekspansi. Jadi kenaikan laba MIDI di 2025 ini adalah campuran antara perbaikan operasional dan efek bersih-bersih portofolio, bukan trik kosmetik semata.
Modal kerja MIDI sendiri cukup rapi. Kas dan bank naik dari kisaran 380 Miliar di akhir 2024 menjadi sekitar 520 Miliar di Q3 2025, sementara persediaan malah turun sekitar 7% menjadi sekitar 2,5 Triliun. Utang usaha ke pemasok pihak ketiga juga turun cukup dalam, dari sekitar 2,3 Triliun ke sekitar 1,9 Triliun. Utang berbunga hilang, jadi sumber pendanaan utama modal kerja adalah utang usaha dan liabilitas sewa. Risiko yang tersisa lebih di sisi operasional ritel klasik, seperti keusangan stok, bukan risiko kebangkrutan karena bunga. Dari kacamata kreditur, ini tipe neraca yang bikin tidur nyenyak, makin jauh dari skenario gagal bayar. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau hanya melihat MIDI, investor mungkin tergoda menyimpulkan bahwa harga 380 ini adalah hadiah. Namun konteksnya tidak bisa dilepas dari induknya, AMRT, karena sentimen satu grup cenderung menular. AMRT pada 9M 2025 membukukan pendapatan sekitar 94,5 Triliun Rupiah, naik sekitar 7 sampai 8% dari tahun lalu yang sekitar 88 Triliun. Laba kotor juga naik tipis, dari sekitar 19,4 Triliun ke 20,3 Triliun. Masalahnya, laba usaha justru turun sedikit, dan laba bersih pemilik induk turun dari sekitar 2,40 Triliun ke sekitar 2,32 Triliun, minus sekitar 3,5%. Kas dari operasi juga turun dari sekitar 5,7 Triliun ke sekitar 4,9 Triliun. Jadi di AMRT, omzet masih naik, tetapi marjin makin termakan beban dan kas operasional turun.
Di atas itu semua, ada dua bom kecil di sisi investasi non-inti yang menghancurkan aura teknologi dan digital yang dulu menempel di AMRT. Pertama, investasi kecil di RAENA, platform reseller produk kecantikan, praktis kandas. RAENA berhenti beroperasi pada Februari 2025 dan AMRT mengakui kerugian nilai wajar sekitar 8 Miliar Rupiah di penghasilan komprehensif lain. Kedua, investasi sekitar 500 Miliar di $BANK Aladin Syariah sekarang tercatat rugi nilai wajar yang belum direalisasi sekitar 260 Miliar. Angka ini tidak memukul laba bersih, tetapi memukul ekuitas lewat penghasilan komprehensif lain dan mengirim pesan ke pasar bahwa bagian digital dan bank kecil ini jauh dari kata sukses. Bagi investor institusi, ini sinyal manajemen alokasi modal yang perlu dikaji ulang. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Secara neraca, AMRT sebenarnya sangat kuat. Utang berbunga juga nol per Q3 2025, kas dan setara kas masih di kisaran beberapa Triliun Rupiah, dan struktur ekuitas kokoh. Namun dari sudut pandang valuasi, pasar sebelumnya memberi premi luar biasa. Di harga 3.170, dengan EPS annualised sekitar 74 Rupiah, PER AMRT sempat bermain di kisaran 40 kali. Wajar kalau ketika pertumbuhan laba negatif, kas operasi turun, dan investasi digital menunjukkan kerugian ratusan Miliar di ekuitas, pasar mulai mencabut premi tersebut. Derating ke level 1.810 sehingga PER sekitar 24 kali lebih terlihat sebagai normalisasi daripada penghancuran.
Bandingkan dengan MIDI. Di harga 380, dengan EPS annualised sekitar 23 sampai 24 Rupiah, PER MIDI hanya di kisaran 16 kali. Net margin sekitar 3,9%, laba naik 26,5%, utang bank berbunga nol, kas operasi dua kali laba, tetapi free cash flow tipis karena ekspansi toko. Di sisi valuasi, PEG ratio kasar sekitar 0,6 (PER 16 dibagi growth laba sekitar 26,5%), yang biasanya dibaca value investor sebagai tanda undervalued. Sementara AMRT dengan pertumbuhan laba minus, PER masih 24 kali, PEG tidak layak dihitung karena growth negatif. Dari sudut angka dingin, sulit menjelaskan logika cutloss dari saham yang tumbuh laba puluhan persen dengan PER belasan kali demi membeli induk yang labanya turun dan PER masih dua puluhan kali.
Poin krusial berikutnya adalah memahami kenapa harga MIDI tetap babak belur meskipun laba naik. Jawaban paling masuk akal bukan di laporan laba rugi MIDI, tetapi di psikologi pasar dan korelasi satu grup. Ketika AMRT dihajar sentimen karena RAENA dan BANK, ketika investor mulai mempertanyakan strategi digital, dana besar yang ingin mengurangi eksposur ke grup cenderung menjual apa saja yang masih bisa dijual dalam satu klaster. MIDI kebetulan masuk keranjang yang sama, sehingga ikut dijual tanpa dibedakan mana yang sedang bermasalah dan mana yang justru membaik. Ini bukan cerita fundamental yang rusak, tetapi cerita satu grup yang sedang dihukum kolektif oleh pasar. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Lalu bagaimana dengan peluang rebound. Dari sisi MIDI, semua sinyal internal memberi harapan. Laba inti naik, kas operasi kuat, utang berbunga nol, bisnis inti ritel menengah terus ekspansi dengan capex besar. Divestasi Lawson menghilangkan sumber rugi di kepentingan nonpengendali, sehingga laba ke depan lebih bersih. Diskrepansi antara fundamental yang membaik dan harga yang turun membuka ruang bagi investor rasional untuk masuk mencicil. Asalkan ekonomi domestik tidak masuk resesi dalam dan daya beli tidak hancur permanen, narasi bahwa harga pada akhirnya akan kembali mendekati nilai wajar punya dasar yang masuk akal.
Di sisi AMRT, harapan rebound juga ada, tetapi ceritanya berbeda. Neraca tanpa utang memberi proteksi besar terhadap skenario buruk. Bisnis ritel inti tetap menghasilkan kas, CFO masih beberapa Triliun per tahun. Namun untuk membuat harga kembali ke kisaran 3.000, laba harus kembali tumbuh, bukan stagnan atau turun. Manajemen harus membuktikan bahwa capex besar di jaringan minimarket menghasilkan return yang layak dan bahwa episode RAENA dan penurunan nilai investasi di BANK adalah pelajaran mahal sekali lewat, bukan pola yang akan berulang. Selama laba bersih belum kembali tumbuh, PER 24 kali di 1.810 masih terasa premium untuk investor value murni, walaupun mungkin terasa wajar untuk investor growth yang percaya pada dominasi jangka panjang AMRT di ritel modern.
Sekarang balik ke pertanyaan awal, apakah rasional cutloss MIDI untuk masuk AMRT. Dari sudut pandang angka, menurut saya jawabannya cenderung tidak. Investor yang cutloss di 380 lalu masuk AMRT di 1.810 pada dasarnya menjual bisnis yang laba bersihnya naik lebih dari 20% dengan PER belasan kali, demi membeli bisnis yang labanya turun dengan PER di kisaran dua puluhan kali, hanya karena label perusahaan besar terasa lebih menenangkan. Itu bukan arbitrase nilai, itu arbitrase rasa takut. Secara risiko, investor memang menukar mid cap dengan large cap, tetapi secara fundamental, MIDI yang sekarang justru terlihat lebih segar, sementara AMRT sedang menjalani masa disiplin valuasi setelah fase euforia digital. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bukan berarti MIDI tanpa risiko. Ketergantungan pada pemasok dan pihak berelasi dalam ekosistem Alfamart tinggi, risiko keusangan stok selalu membayangi, dan ekspansi agresif berarti perusahaan rela mengorbankan free cash flow sekarang demi pertumbuhan masa depan. Kalau ekonomi mendadak melambat tajam, gerai baru bisa butuh waktu lebih lama untuk balik modal. Sentimen grup juga bisa membuat MIDI lanjut ditekan selama investor masih trauma dengan cerita RAENA dan BANK di level induk. Namun selama angka laba dan kas operasi terus menunjukkan tren naik, tekanan harga lebih terlihat sebagai kesempatan daripada vonis mati.
Jadi posisi rasional yang menurut saya paling sehat adalah begini. Untuk investor yang siap berpikir beberapa tahun, bukan beberapa hari, MIDI di harga tertekan lebih masuk akal untuk dipertahankan atau dicicil, bukan dicutloss demi mengejar induk yang sedang dalam proses koreksi valuasi. Untuk investor yang hanya bisa tidur kalau pegang nama besar, AMRT masih bisa dibela, tetapi harus jujur mengakui bahwa ini beli raksasa dengan pertumbuhan laba yang lagi melambat dan jejak keputusan investasi digital yang bikin kening berkerut. Yang jelas, keputusan paling lemah adalah cutloss MIDI hanya karena panik melihat grafik, tanpa membaca bahwa laba naik, kas operasi kuat, utang bank nol, sementara yang benar-benar sedang diadili pasar justru strategi investasi non-inti di level induk. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau mau nunggu di valuasi PBV < 1 ya monggo. Siapa tahu dikasi. 🥴
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

PT Super Bank Indonesia atau Superbank bakal melantai di Bursa Efek Indonesia melalui pencatatan saham perdana atau initial publik offering (IPO) pada Desember 2025 mendatang. Saham IPO bank digital ini ditawarkan di rentang Rp 525 hingga Rp 695 per saham.
Bank digital di bawah grup PT Elang Mahkota...

katadata.co.id
$AMRT Apakah Sudah Bagus Masuk di Harga Sekarang?
Request salah satu member External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Ada yang tanya apakah masuk AMRT sekarang sudah menarik. Jawabannya selalu sama, tergantung kemampuan finansial masing-masing investor. Kalau punya dana unlimited, ya tinggal cicil selot selot dari sekarang sampai nanti harga entah di PBV 0,1 dan PER di bawah 10, tinggal main rata-rata terus. Kalau duit terbatas, pilihan realistis cuma dua, siap cut loss kalau salah skenario atau siap keep hold dan berdamai dengan floating merah bertahun-tahun. Di harga 1.810, AMRT bukan lagi saham murah secara textbook value, tapi juga bukan lagi saham euforia seperti waktu masih di 3.000-an. Investor yang masuk sekarang sebenarnya sedang beli kombinasi mesin kas ritel yang sangat kuat plus sejarah investasi digital yang gagal. Pertanyaannya, investor lebih fokus ke mesin kasnya atau trauma investasi non-intinya. Kalau fokus ke mesinnya, harga hari ini terlihat menggoda. Kalau fokus ke lukanya, mungkin masih terasa mahal. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sebagai analis yang mencoba waras, cara menjawab apakah AMRT sudah menarik di sekitar 1.810 adalah dengan menimbang dua sisi. Di satu sisi ada red flag non-inti yang sudah meledak di laporan keuangan, terutama RAENA dan $BANK Aladin. Di sisi lain, ada fundamental operasional inti yang sampai hari ini masih kokoh, mulai dari revenue yang terus naik, arus kas operasi yang dua kali laba, sampai neraca tanpa utang berbunga. Saham ini sekarang bukan lagi cerita murni growth tech, tapi berubah jadi kombinasi ritel defensif dengan bekas luka strategi digital. Profil risiko-imbal hasilnya justru makin menarik buat investor jangka panjang yang cari stabilitas arus kas, meski PER tradisionalnya masih di zona premium.
Kenapa harga bisa amblas dari 3.170 ke 1.810, koreksi sekitar 43% dalam setahun. Bukan karena Alfamartnya sepi atau bisnis inti ritel runtuh. Penyebab utamanya ada di sisi strategi non-inti, terutama investasi digital yang gagal dan devaluasi aset keuangan yang dulu dibeli dengan narasi pertumbuhan tinggi. RAENA, platform reseller produk kecantikan tempat AMRT punya porsi kecil sekitar 1,24 persen, resmi tidak beroperasi lagi sejak Februari 2025. Begitu operasional berhenti, AMRT mengakui kerugian investasi sekitar 8,2 Triliun Rupiah di penghasilan komprehensif lain. Angkanya kecil dibanding skala grup, tetapi dari sudut pandang sentimen pasar, itu adalah pengumuman resmi bahwa satu cabang mimpi digital benar-benar bangkrut. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Lebih berat lagi ada di Bank Aladin. AMRT menanam sekitar 500 Miliar Rupiah di sana dengan kepemilikan sekitar 1,99 persen. Per Maret 2025 nilai pasar investasinya turun sehingga yang tersisa sekitar 235 Miliar Rupiah saja. Selisihnya muncul sebagai kerugian nilai wajar yang belum direalisasi di penghasilan komprehensif lain, totalnya sekitar 263 Miliar Rupiah. Kerugian ini tidak menggerus laba bersih langsung, tapi jelas memukul ekuitas dan psikologi investor. Gabungan RAENA yang mati dan Bank Aladin yang turun tajam membuat pasar menghapus kembali premi growth digital yang dulu ditempelkan di harga AMRT ketika orang masih percaya penuh pada narasi ritel plus fintech.
Di atas kertas, laba bersih sembilan bulan pertama 2025 sekitar 2,31 Triliun Rupiah, sedikit turun dari sekitar 2,40 Triliun Rupiah di periode yang sama 2024. Padahal pendapatan neto di periode yang sama naik dari sekitar 88,2 Triliun menjadi kurang lebih 94,5 Triliun Rupiah. Artinya topline membesar, tetapi margin di bawahnya tertekan. Biang keladinya terutama beban penjualan dan distribusi yang naik signifikan, dari kisaran 15 Triliun menjadi sekitar 16,6 Triliun Rupiah. Biaya gaji, promosi, logistik, listrik, dan seluruh ongkos menjalankan jaringan gerai yang makin luas ikut menggerus margin. Dari sisi pertumbuhan laba, ini memang bikin banyak investor value mengernyit, karena revenue naik, tapi laba bersih justru mundur tipis.
Namun kalau berpindah ke arus kas, cerita AMRT jauh lebih menyenangkan. Kas neto dari aktivitas operasi dalam sembilan bulan pertama 2025 sekitar 4,9 Triliun Rupiah, dua kali lebih besar daripada laba bersih yang sekitar 2,3 Triliun Rupiah. Rasio CFO terhadap laba di kisaran 2 kali ini menunjukkan kualitas laba yang sangat tinggi. Ini masih ditopang oleh manajemen modal kerja yang agresif, terutama utang usaha ke pemasok yang mencapai sekitar 12,9 Triliun Rupiah. Dari kacamata cashflow, minimarket Alfamart bukan sekadar toko kecil di setiap sudut kota, tapi mesin kas raksasa yang setiap hari menyedot uang tunai dari jutaan transaksi konsumen dan baru menyalurkannya ke pemasok belakangan.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Neraca AMRT juga termasuk kategori yang banyak investor suka. Rasio utang berbunga terhadap ekuitas tercatat 0,00 pada pertengahan dan akhir 2025, artinya secara praktis tidak ada utang bank berbunga yang menggantung di atas kepala. Memang ada fasilitas pinjaman jangka pendek yang jumlahnya sempat besar, sekitar puluhan Triliun Rupiah sepanjang periode, tetapi pada tanggal pelaporan posisi pinjamannya nol karena sudah dilunasi. Aset lancar sekitar 20,3 Triliun Rupiah menutup liabilitas jangka pendek yang sekitar 19,6 Triliun Rupiah, sehingga secara likuiditas jangka pendek masih aman. Bagi investor yang trauma sama emiten ritel yang bangkrut karena utang, profil neraca seperti ini ibarat sabuk pengaman ekstra.
Sisi yang membuat debat semakin menarik ada di area Capex. Dari sekitar 4,9 Triliun Rupiah kas operasi 9M 2025, sekitar 3,8 Triliun Rupiah dihabiskan lagi untuk belanja modal, baik itu perolehan aset tetap, aset hak guna, maupun beban yang dikapitalisasi. Free cash flow yang tersisa hanya sekitar 1 Triliun Rupiah lebih sedikit, dengan margin FCF di kisaran 1% dari penjualan. Dengan kata lain, hampir 80% kas operasional kembali disedot untuk ekspansi. AMRT juga tidak cuma bangun dan renovasi minimarket, tetapi menambah eksposur ke format convenience store melalui aksi korporasi di Lawson, dengan mengambil sekitar 70 persen saham Lancar Wiguna Sejahtera dari MIDI dengan nilai sekitar 200 Miliar Rupiah. Semua ini menunjukkan manajemen masih berada di mode serang, bukan mode panen.
Dari kombinasi arus kas dan Capex ini lahir gambaran yang agak paradox. CFO kuat, tapi FCF tipis. Bagi investor growth, ini bisa dibaca positif, bahwa perusahaan sedang menanam untuk masa depan. Bagi investor value yang konservatif, ini sinyal hati-hati, karena harga saham di 1.810 jelas tidak mencerminkan saham turn around yang sedang dijual murah berdasarkan free cash flow sekarang. Saat ini, kalau angka-angkanya diannualkan, investor bicara tentang PER sekitar 24 kali, PBV sekitar 4,3 kali, price to sales sekitar 0,6 kali, price to cashflow operasi sekitar 11 sampai 12 kali, dan price to free cashflow di kisaran 45 kali. Jadi secara kas operasi masih reasonable, secara free cashflow masih termasuk mahal.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Lalu apakah 1.810 ini menarik. Buat investor realistis yang paham konteks, jawabannya cenderung ya, tapi dengan catatan bahwa yang dibeli itu kualitas neraca dan arus kas, bukan pertumbuhan laba yang langsung meledak tahun depan. Investor tipe ini melihat bahwa harga sekarang sudah menghapus sebagian besar premi digital yang dulu berlebihan. RAENA sudah resmi gagal dan dihantam ke laporan, Bank Aladin sudah turun nilainya ratusan Miliar dan itu sudah nongol di penghasilan komprehensif lain. Neraca sekarang bersih dari utang berbunga, bisnis inti masih mencetak puluhan Triliun revenue dan beberapa Triliun laba, arus kas operasi dua kali laba, dan perusahaan masih agresif memperluas jaringan fisik. Dengan logika ini, 1.810 adalah harga yang mulai masuk akal untuk pemimpin ritel dengan safety neraca sekuat ini, meskipun tetap bukan zona PBV 1 atau PER 10.
Investor optimis yang bertipe growth akan melangkah lebih jauh dan bilang ini salah satu titik entry terbaik setelah pembersihan portofolio digital. Mereka tidak terlalu pusing dengan PER 24 kali di atas kertas saat laba 9M turun tipis. Fokus mereka justru ke Capex yang setara satu setengah kali laba, ekspansi Lawson dan jaringan minimarket yang terus melebar, serta potensi earning jump ketika siklus tanam ini selesai dan gerai-gerai baru masuk fase panen. Dari sudut pandang ini, kerugian RAENA dan devaluasi Bank Aladin itu hanya biaya bersih-bersih satu kali, sementara nilai jangka panjang ada di jaringan toko, brand, dan cash machine yang terus berputar.
Sebaliknya, investor pesimis melihat bilangan yang sama sebagai alasan untuk menjauh dulu. Mereka akan bilang, laba bersih turun, free cashflow tipis, PER 24 kali itu terlalu mahal untuk perusahaan yang laba bersihnya tidak tumbuh, dan P/FCF 40-an kali sama sekali tidak ramah buat value investor. Kelompok ini baru akan menganggap AMRT menarik kalau valuasi turun mendekati standar ritel tradisional, misalnya PER di bawah 15 dan PBV agak mendekati 2 kali, atau ketika manajemen membuktikan bahwa Capex belasan Triliun dalam beberapa tahun benar-benar berubah jadi lonjakan laba, bukan sekadar mempertahankan pangsa pasar.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bandar dan trader pendek juga punya bacaan sendiri. Koreksi 43% dari puncak dianggap sudah cukup dalam untuk menciptakan ruang swing dan technical rebound. Neraca yang bebas utang berbunga dipakai sebagai jaminan psikologis bahwa saham ini tidak akan tiba-tiba bangkrut seperti kasus emiten ritel yang pernah tumbang di masa lalu. Bagi mereka, pertanyaan apakah AMRT fundamentalnya bagus atau tidak hanya penting sejauh bisa menentukan seberapa berani menahan posisi ketika harga goyang.
Kalau ditarik ke angka yang sangat sederhana, untuk membuat harga 1.810 ini tampak murah dalam kacamata value konservatif dengan PER 10, laba tahunan AMRT ke depan harus naik ke kisaran 7,5 Triliun Rupiah, atau sekitar 2,5 kali dari level laba sekarang. Untuk membuat investor yang beli di harga sekarang bisa balik modal dari kas murni dalam 10 tahun, free cashflow per tahun pun harus naik beberapa kali lipat dari kondisi saat ini. Jadi siapa pun yang masuk di harga ini sebenarnya bukan cuma beli blue chip ritel stabil, tetapi ikut memasang taruhan bahwa earning jump dan lonjakan free cashflow akan muncul beberapa tahun lagi.
Jadi kembali ke pertanyaan awal, apakah AMRT di 1.810 sudah menarik. Kalau mindset investor adalah menunggu PBV 0,1 dan PER di bawah 10 seperti yang sering dijadikan bercandaan di forum, jelas ini belum. Tetapi kalau fokus investor adalah mencari bisnis ritel yang kas operasionalnya kuat, neracanya bersih, red flag non-inti besar sudah keluar ke laporan, dan masih punya runway ekspansi fisik yang panjang, maka di sinilah saham ini mulai layak dilirik. Tinggal investor jujur ke diri sendiri, kuat menahan guncangan kalau earning jump datangnya lama, atau sebenarnya hanya ingin masuk karena berharap bandarnya lagi siap menggoreng dari bawah.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

$AMRT Ada Apa Denganmu?
Request member bukan External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Hari ini ada member Pintar Nyangkut di Telegram yang request minta dibahaskan AMRT. Saham ini anjlok terus, bikin banyak portofolio kelihatan merah darah. Mengapa anjlok. Sederhana saja, karena bandarnya lemah. Naik turun harga saham itu pada praktiknya memang sangat tergantung bandar dan arus dana besar, bukan sekadar angka di laporan keuangan. Tapi begitu investor sudah nyangkut, biasanya langsung ingin cari alasan fundamental, seolah semua ini semata urusan rasio dan margin. AMRT pun nasibnya sama, harga dari 3.170 amblas ke 1.810, lalu investor sibuk bertanya apa yang salah dari perusahaannya. Padahal kalau jujur, yang salah pertama kali ya ekspektasi yang ketinggian dan valuasi yang sudah kelewat mahal. Setelah itu baru disusul berita kegagalan investasi digital yang jadi bensin tambahan untuk panic selling massal. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Penurunan harga saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk dari 3.170 ke 1.810 dalam setahun terakhir berarti koreksi sekitar 43%. Dalam kondisi normal, angka sedalam itu biasanya identik dengan perusahaan yang labanya rontok, utangnya meledak, atau nyaris bangkrut. Di AMRT, gambarnya tidak seperti itu. Bisnis inti minimarketnya masih jalan bagus, penjualan naik, kas dari pelanggan deras, utang berbunga nol, tapi harga saham dihajar seolah-olah bisnisnya hancur total. Yang sebenarnya terjadi, pasar sedang mencabut kembali premi euforia digital dan investasi non-inti yang dulu ditempelkan ke AMRT waktu hype fintech dan startup lagi panas-panasnya. Begitu Bank Aladin dan RAENA tidak sesuai mimpi, pasar membalas berlebihan ke arah sebaliknya.
Dari sisi operasional inti, AMRT justru kelihatan sehat. Pendapatan neto untuk sembilan bulan pertama 2025 sekitar 94,5 Triliun Rupiah, naik dari kurang lebih 88,2 Triliun Rupiah di periode yang sama 2024. Laba bruto naik dari sekitar 18,9 Triliun menjadi kurang lebih 20,3 Triliun Rupiah. Artinya barang di rak masih laku keras, pelanggan masih belanja, dan jaringan gerai masih berputar kencang. Di Q1 2025 laba per saham juga naik dari 21,44 ke 23,48 Rupiah per saham, jadi di tiga bulan pertama tahun itu sebenarnya EPS membaik. Ini bukan profil emiten yang sedang sekarat, ini profil bisnis ritel besar yang tetap tumbuh.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Neracanya juga termasuk kategori aman. Aset lancar sekitar 20,3 Triliun Rupiah menutup liabilitas jangka pendek sekitar 19,6 Triliun Rupiah, jadi rasio lancar masih di atas 1. Rasio utang berbeban bunga terhadap ekuitas di 30 September 2025 maupun 31 Desember 2024 tercatat 0,00. Praktis perusahaan tidak punya utang bank berbunga yang mengancam, di luar liabilitas sewa yang memang bawaan model bisnis minimarket. Dari sisi risiko keuangan, AMRT ini bukan perusahaan yang perlu takut gagal bayar, malah tergolong yang bisa tenang secara likuiditas.
Di arus kas, gambarnya malah lebih bagus lagi. Kas neto dari aktivitas operasi dalam sembilan bulan pertama 2025 sekitar 4,9 Triliun Rupiah, sementara laba bersih di periode yang sama sekitar 2,3 Triliun Rupiah. Artinya kas yang benar-benar masuk dua kali lebih besar dari laba akuntansi. CFO margin berada di kisaran 5,1% sampai 5,2% terhadap pendapatan, angka yang solid untuk bisnis ritel besar. Ini didukung oleh penerimaan kas dari pelanggan yang mendekati 100 Triliun Rupiah dalam sembilan bulan, dan posisi utang usaha ke pihak ketiga yang sekitar 12,9 Triliun Rupiah. Alfamart menerima uang tunai dari pelanggan setiap hari, tetapi pembayaran ke pemasok bisa ditunda sesuai termin.
Lalu kenapa laba bersih justru turun tipis sekitar 3,5% dibanding sembilan bulan 2024. Di sini mulai kelihatan sumber gangguan. Di atas kertas, laba kotor naik, tetapi beban penjualan dan distribusi melompat. Total beban ini naik dari kisaran 15 Triliun Rupiah menjadi sekitar 16,6 Triliun Rupiah. Biaya gaji, logistik, promosi, dan operasional jaringan gerai yang semakin lebar menggerus margin neto. Bisnis ritel modern memang haus biaya. Selama pertumbuhan penjualan bisa mengimbangi, semua masih baik-baik saja. Tapi kalau biaya lari sedikit lebih kencang daripada penjualan, laba bersih akan melambat, dan itu yang terjadi di AMRT 2025.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Yang benar-benar bikin pasar gerah bukan minimarketnya, tetapi portofolio investasi digital di luar bisnis inti. AMRT menanam dana di Raena R U Pte Ltd, platform reseller produk kecantikan, dengan porsi sekitar 1,24%. Secara bisnis, RAENA sudah berhenti beroperasi sejak Februari 2025. Akibatnya AMRT mencatat kerugian sekitar 8,2 Miliar Rupiah di penghasilan komprehensif lain. Di skala grup, angka ini kecil, tetapi secara sinyal ke pasar, ini jelas stempel kegagalan di strategi diversifikasi startup.
Kasus yang lebih berat ada di investasi $BANK Aladin. AMRT menanam sekitar 500 Miliar Rupiah di Bank Aladin dengan porsi kepemilikan 1,99%. Per 31 Maret 2025, nilai pasar Bank Aladin hanya membuat nilai investasi AMRT tinggal sekitar 235 Miliar Rupiah. Selisih besarnya muncul sebagai kerugian nilai wajar yang belum direalisasi di penghasilan komprehensif lain, total sekitar 263,2 Miliar Rupiah dan angkanya masih tertahan sampai akhir kuartal tiga. Ini bukan kerugian kas yang keluar hari itu juga, tetapi tetap menggerus ekuitas dan memperlihatkan betapa mahalnya harga yang dibayar untuk mimpi digital yang tidak jadi kenyataan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Di laporan keuangan, kerugian neto atas instrumen ekuitas yang diukur di nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain juga sekitar puluhan Miliar Rupiah. Kalau digabung dengan RAENA dan Bank Aladin, investor melihat pola yang sama, yaitu portofolio non-inti yang semestinya menjadi mesin pertumbuhan digital malah berubah jadi sumber minus. Dulu pasar senang memberi premi untuk narasi sinergi ritel dan bank digital, sekarang pasar menarik kembali premi itu dengan cara yang kejam. Harga 3.170 yang dulu terbentuk pada puncak optimisme ternyata mengandung porsi fantasi yang besar, dan ketika fantasi itu pecah, koreksinya pun dalam.
Masalah fundamentalnya jadi jelas. Untuk bisnis inti, AMRT termasuk bagus. Pendapatan naik, laba bruto naik, kas operasi kuat, neraca bersih dari utang berbunga. Namun dari sisi alokasi modal non-inti dan disiplin belanja modal, banyak tanda tanya. Laba bersih stagnan bahkan turun tipis, penghasilan komprehensif dipukul kerugian investasi digital, dan free cash flow tertekan karena Capex tinggi. CFO sekitar 4,9 Triliun Rupiah, tetapi Capex kas untuk aset tetap dan hak guna sekitar 3,8 Triliun Rupiah, membuat free cash flow hanya di kisaran 1 Triliun Rupiah atau sekitar 1,1% dari penjualan. Hampir 80% kas operasional dihisap kembali untuk ekspansi.
Ketika angka-angka itu diterjemahkan ke valuasi di harga 1.810, hasilnya seperti ini. EPS annualised sekitar 74-an Rupiah, sehingga PER sekitar 24 kali. Nilai buku per saham sekitar 416 Rupiah, jadi PBV sekitar 4,3 kali. Revenue per saham sekitar 3.034 Rupiah, sehingga price to sales sekitar 0,60. Price to cash flow dari operasi sekitar 11 sampai 12 kali, sedangkan price to free cash flow melompat ke kisaran 40 kali. Secara kas operasional, ini masih bisa dibilang wajar untuk pemimpin ritel dengan jaringan besar dan posisi pasar kuat. Tetapi secara free cash flow murni, saham ini jelas belum bisa dibilang murah. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dengan standar value konservatif, misalnya PER ideal 10 dan PBV 1, harga wajar super defensif untuk AMRT ada di kisaran 400 sampai 750 Rupiah per saham. Itu level yang secara realistis kecil kemungkinan tersentuh kecuali ada krisis besar atau laba benar-benar rontok. Di sisi lain, supaya harga 1.810 terasa murah dengan basis PER 10, laba tahunan harus naik ke sekitar 7,5 Triliun Rupiah, alias butuh pertumbuhan laba lebih dari dua kali lipat dari posisi sekarang. Free cash flow juga harus naik sekitar 4 sampai 5 kali kalau investor ingin balik modal dari arus kas dalam 10 tahun. Investor yang masuk di 1.810 pada praktiknya tidak lagi beli berdasarkan angka hari ini, tetapi sedang mengambil posisi spekulatif bahwa earning jump akan datang beberapa tahun ke depan.
Dari berbagai sudut pandang, gambarannya seperti ini. Investor nyangkut yang optimis akan bilang 1.810 ini sudah diskon besar dari masa euforia di atas 3.000. Mereka fokus ke fakta bahwa bisnis inti masih mencetak lebih dari 90 Triliun penjualan per tahun, menghasilkan sekitar 2 sampai 3 Triliun laba bersih, kas operasi hampir 5 Triliun, dan utang berbunga nol. Bagi mereka, kesalahan di RAENA dan Bank Aladin adalah biaya belajar, bukan alasan untuk meninggalkan saham.
Investor nyangkut yang pesimis melihat angka yang sama dengan rasa yang berbeda. Mereka menekankan bahwa laba bersih justru turun saat pendapatan naik, free cash flow tipis, Capex agresif, dan kerugian nilai wajar investasi digital mencapai ratusan Miliar Rupiah. Menurut mereka, koreksi 43% belum menjamin bahwa valuasi sekarang sudah murah, karena masih menyisakan premi pertumbuhan yang belum terbukti.
Bandar dan trader agresif melihat AMRT sebagai mainan yang menarik. Mereka melihat saham likuid, harga sudah jatuh jauh, fundamental operasi kuat sehingga kecil risiko emiten ini benar-benar bermasalah secara kas, dan volatilitasnya cukup besar untuk dimainkan. Buat kelompok ini, angka Triliun-Triliun di laporan keuangan lebih berguna sebagai batas bawah psikologis, bukan acuan valuasi jangka panjang. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Investor realistis menempatkan diri di tengah. Mereka mengakui bahwa AMRT adalah bisnis ritel dominan dengan mesin kas kuat dan neraca bersih, yang memang pantas mendapat sedikit premi. Namun mereka juga sadar bahwa valuasi premium itu semestinya datang bersama pertumbuhan laba, bukan bersama cerita trauma investasi digital yang salah arah. Di 1.810, saham ini bukan lagi euforia murni seperti di 3.170, tetapi juga belum bisa dibilang value stock dalam arti klasik.
Ringkasnya, dengan satuan angka yang disederhanakan, posisi AMRT hari ini kurang lebih begini. Bisnis minimarketnya mencetak puluhan Triliun penjualan, laba bersih beberapa Triliun, kas operasi hampir 5 Triliun, tanpa utang berbunga, tetapi ditarik turun oleh keputusan investasi digital yang menghabiskan ratusan Miliar Rupiah nilai ekuitas dan belanja modal agresif yang menekan free cash flow. Koreksi harga dari 3.170 ke 1.810 lebih banyak mencerminkan pembongkaran mimpi non-inti daripada keruntuhan toko Alfamart di lapangan. Rebound sangat mungkin terjadi jika manajemen berhenti berjudi di luar bisnis inti dan mulai mengkonversi kas operasi besar itu menjadi peningkatan laba dan free cash flow yang nyata, bukan sekadar menambah daftar proyek yang butuh dana baru. Kalau tidak, AMRT akan tetap menjadi perusahaan yang fundamentalnya bagus, tetapi valuasinya berat, dan investor nyangkut akan hidup di antara harapan earning jump dan realita free cash flow yang masih serba pas-pasan.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10










𝐁𝐀𝐍𝐊 : 𝐋𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭 𝐧𝐚𝐢𝐤 𝐥𝐚𝐠𝐢? | 𝐄𝐥𝐥𝐢𝐨𝐭𝐭 𝐖𝐚𝐯𝐞 𝐀𝐧𝐚𝐥𝐲𝐬𝐢𝐬
Harga saham #BANK terlihat mulai bergerak naik lagi pada perdagangan sebelumnya setelah sempat tertekan turun dari minggu sebelumnya
Bisa naik sampai berapa dan apakah sinyal perlawanan naik ini bisa menjadi sinyal dari sudah selesainya tren turun harga saham $BANK yang sudah berjalan dari tahun lalu?
Pembahasan selengkapnya bisa dibaca di sini https://cutt.ly/ptt5hXHS

@hilmanna3 trio hambara plus $BRIS bulan Oktober belum rilis.$BANK dan $BTPS udah.cek aja di websitenya.
kira2 knp ya bank BUMN blm rilis laporan bulan Oktober?
“Bukan Tentang Grafik, Tapi Transaksi”
Banyak trader terlalu terpaku pada bentuk grafik dan indikator klasik. Padahal, pergerakan pasar sejatinya digerakkan oleh transaksi nyata yang terjadi di balik layar. Tanpa adanya dana besar, harga tidak akan bergerak signifikan.
Trigger Smart Money dibangun dengan filosofi sederhana: ikuti transaksi, bukan tebakan. Sistem ini membaca data perdagangan yang benar-benar terjadi di pasar, lalu mengekstrak pola penting yang sering terlewatkan oleh mata manusia.
Lonjakan volume yang abnormal menjadi tanda awal bahwa ada sesuatu yang berbeda. Tapi sistem tidak terburu-buru menyimpulkan. Analisis lanjutan dilakukan untuk memastikan ke mana arah dominan aktivitas tersebut.
Pendekatan ini sangat penting karena banyak lonjakan volume terjadi akibat kepanikan atau aksi sesaat. Dengan filter tambahan, hanya pergerakan yang memiliki struktur sehat yang diteruskan sebagai informasi penting.
Dengan cara ini, trader memiliki landasan objektif sebelum mengambil keputusan, bukan sekadar mengikuti emosi atau keramaian.
$BANK $BULL $ISAT
1/2


🎯 Strategi Trading $BMRI
DYOR ("Do Your Own Research")
Harga ditutup di 5.025 (0,00%), sempat menyentuh high 5.025 (+0,00%) dan low 4.960 (-1,29%). Saat ini harga berada di atas MA5 (4.978,00), MA10 (4.875,00), namun masih di atas MA20 (4.806,00) dan di atas MA50 (4.565,00) → tren jangka menengah bullish dengan konsolidasi. Support terdekat ada di 4.875–4.960, resistance di 5.100 lalu 5.175.
1. Untuk scalping: entry 5.025, target 5.080 (+1,09%), target 5.135 (+2,19%), target 5.190 (+3,28%).
2. Untuk swing: entry bertahap di zona support 4.875–4.960, target 5.150 (+2,49%), target 5.300 (+5,47%), target 5.500 (+9,45%), stop loss < 4.630.
3. Strategi CL: entry di harga scalping (5.025) atau swing (contoh 4.920), jika floating loss -3% dari harga beli segera cut loss.
SINYAL: Uptrend konsisten dari level 4.000 dengan konsolidasi di atas semua MA, volume turun 24,14% — hati-hati distribusi, tunggu konfirmasi breakout.
🔰 Strategi: Entry saat breakout 5.100 dengan volume naik atau pullback ke support 4.960 dengan konfirmasi bounce.
✅ Cocok Untuk: Scalping range-bound & swing momentum breakout dengan patience tinggi.
Confident: 65% swing area konsolidasi sehat; 35% scalping momentum pendek saat distribusi — harga konsolidasi di atas semua MA, volume turun, potensi breakout resistance berikutnya.
🔎 Stochastic Slow di 87,68 (overbought), CCI di 131,22 (positif kuat → overbought), Volume 1.285K (-24,14%) → volume turun, sinyal konsolidasi atau distribusi.
🚀 Tag random $BBRI$BANK
1/2


STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menyalakan sinyal waspada bagi para pelaku pasar modal. Otoritas bursa mengumumkan lima saham sekaligus masuk dalam kategori di luar kebiasaan atau Unusual Market Activity (UMA) pada Rabu, 26 November 2025. Seluruh saham tersebut memicu ...

stockwatch.id
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Efek Indonesia (BEI) memantau ketat pola pergerakan Unusual Market Activity (UMA) atas lima saham sekaligus mulai Rabu, (26/11/2025). Emiten ini dipantau karena terjadi kenaikan harga saham yang tidak wajar.
Adapun kelima emiten yang dimaksud antara lain, PT Pacific S...

www.cnbcindonesia.com

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,56% ke level 8.521,89 pada perdagangan Selasa (25/11).
Saham CASA yang melonjak 12,96%, DSSA naik 1,42%, serta BUMI menguat 8,26% tercatat sebagai leading movers. Sementara itu, BBRI terkoreksi 3,77%, BREN turun 4,69%, d...

www.cnbcindonesia.com

🟡 UMA:
» $BHAT $BANK $APIC maybe karena up.
» TCPI entah karena apa.
🟢 UNSUSPEN:
» INET INET-W apabila masih up berpotensi suspen 2.
» LFLO » FCA 1 minggu.
🔴 SUSPEN:
» NRCA AYAM ARKO suspen pertama 1 hari, besok kembali normal.
» MGNA MGNA-W SINI suspen kedua maybe 1 minggu, welcome FCA.
» BUVA suspen keempat maybe lebih dari 1 bulan, welcome FCA.