


Volume
Avg volume
PT Agung Podomoro Land Tbk adalah perusahaan yang bergerak di pengembangan properti. Hingga akhir Desember 2018, APLN memiliki 41 (empat puluh satu) entitas anak, 12 (dua belas) entitas dengan kepemilikan tidak langsung melalui entitas anak, yang dikonsolidasikan dalam APLN, serta 2 (dua) perusahaan asosiasi di bidang properti di Jakarta, Karawang, Bogor, Bandung, Bali, Batam, Medan, Balikpapan, dan Makassar.
@jklmno coba dibaca pelan-pelan $APLN
Kasasi ditolak
PK ditolak ๐
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

@jklmno apa iya? ๐ค
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
$APLN $PANI $CBDK

saya sudah haki di $APLN karena melihat ada banyak dana yg keluar. terimakasih $APLN dan saya kalau sudah keluar akan move on dari emiten tersebut ๐ซธ๐๐ซท

Sengketa Lahan $APLN vs $SMRA vs $BSDE
Dalam dunia properti, sengketa itu hal yang wajar karena memang begitu realitanya. Sengketa lahan itu makanan sehari-hari. APLN jadi contoh yang paling gampang dilihat karena sengketanya bukan kecil-kecil. Investor boleh saja fokus ke marketing sales, tapi izin dan sertifikat itu yang menentukan uangnya benar-benar bisa mengalir atau tidak. Jadi sengketa di properti itu bukan sekadar drama hukum, tapi bisa jadi monster yang makan cashflow. External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Kalau dibandingkan APLN, BSDE, dan SMRA, pembeda paling penting ada di dua hal. Pertama, seberapa besar angka yang benar-benar nyangkut di akun persediaan atau aset. Kedua, siapa lawannya, perorangan atau kebijakan pemerintah, karena itu menentukan seberapa sulit jalan keluarnya. Dari sisi sengketa ini, APLN paling berat bebannya.
Di APLN, ketidakpastian material menempel langsung ke persediaan real estat sekitar Rp826,68 miliar. Angka itu datang dari Pulau I Rp510,65 miliar dan Pulau F Rp316,02 miliar. Ini bukan sengketa batas lahan biasa, tapi sengketa yang berakar dari pembatalan izin reklamasi, dan sudah ada putusan Mahkamah Agung yang membatalkan izin. Dampaknya sederhana tapi tajam, selama izin belum pulih, proyek sulit jalan, pendapatan masa depan tertahan, dan nilai persediaan berisiko kena penurunan nilai. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sisi baik dari APLN tetap ada, karena kalau suatu hari ada pemulihan izin yang jelas dan bisa dieksekusi, persediaan itu bisa berubah jadi mesin pendapatan yang besar. Syaratnya ketat, harus ada kepastian regulasi dan administrasi, bukan sekadar optimisme manajemen. Dari data yang dibawa, syarat itu belum bisa dibilang terpenuhi karena upaya hukum atau administratif masih berjalan dan hasil akhirnya belum mengembalikan kepastian proyek. Jadi kuncinya bukan di narasi, tapi di status izin yang benar-benar pulih.
BSDE posisinya jauh lebih tenang karena sengketa yang disebutkan ada di entitas anak DUTI terkait sertifikat HGB, dan perkara-perkara besarnya sudah dimenangkan sampai kasasi serta berkekuatan hukum tetap. Artinya, risiko aset inti tiba-tiba hilang atau berhenti dimonetisasi jadi lebih kecil. Gokil sih ini pengacara DUTI dan BSDE, menang semua kasusnya. ๐ค
Sisi kurang enaknya, biaya hukum dan friksi operasional bisa tetap ada, tapi biasanya itu tidak mengunci satu akun persediaan raksasa seperti kasus reklamasi. Bagi investor, ini tipe risiko yang lebih bisa diprediksi. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
SMRA berada di tengah, kasusnya tersebar di beberapa proyek seperti Kelapa Gading, Bekasi, dan Bogor. Banyak gugatan perorangan, tapi mayoritas perkara besar yang disebutkan sudah inkracht dimenangkan, jadi ancaman sistemiknya mengecil. Sisi baiknya, karena tersebar, satu kasus jarang mematikan keseluruhan perusahaan. Sisi buruknya, jumlah perkara yang banyak bisa menyedot fokus, waktu, dan biaya, serta tetap bisa mengganggu ritme penjualan di proyek tertentu walau nilainya per objek relatif terkendali.
Jadi bisa dikatakan kalau sengketa paling berat itu adalah APLN, lalu SMRA, lalu BSDE. APLN membawa risiko yang bisa menahan monetisasi dan membuka potensi impairment pada angka yang besar. SMRA lebih menghadapi gangguan yang terfragmentasi, biasanya lebih banyak mengganggu level proyek, bukan level perusahaan. BSDE terlihat paling bersih karena sengketa utamanya sudah selesai, sehingga ruang gerak bisnisnya lebih fokus ke eksekusi dan ekspansi.
๐งจ Sengketa
๐ด APLN
๐ฐ Persediaan terkait reklamasi sekitar Rp826,68 miliar
๐งฉ Pulau I Rp510,65 miliar
๐งฉ Pulau F Rp316,02 miliar
๐ข BSDE
๐งพ Sengketa HGB di DUTI sudah inkracht dimenangkan
Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
๐ก SMRA
๐งท Sengketa menyebar per proyek, perkara besar banyak yang inkracht dimenangkan
โ๏ธ Dampak paling terasa ke laporan keuangan
๐งฑ APLN
โ Potensi monetisasi tertahan karena izin belum pulih
๐ Risiko impairment persediaan jika kepastian tidak kembali
๐๏ธ BSDE dan SMRA
โ
Risiko aset inti lebih terkendali karena basis hukum lebih kuat dan banyak kemenangan inkracht
๐ธ Dampak lebih sering berupa biaya dan friksi eksekusi
๐ Syarat supaya berubah sengketa jadi kabar baik
๐ด APLN
๐งพ Pemulihan izin yang jelas dan bisa dieksekusi, bukan sekadar proses berjalan
๐งฉ Tanda proyek bergerak, bukan hanya tetap tercatat sebagai persediaan
๐ข BSDE
๐ Fokus ke eksekusi proyek karena sengketa besar sudah selesai
๐ก SMRA
๐งฐ Menjaga agar kasus-kasus kecil tidak mengganggu ritme proyek utama
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/6






Apakah $APLN Punya Kawasan Ekonomi Khusus dan Proyek Strategis Nasional Seperti $BSDE dan $KIJA?
Pertanyaan salah satu user Stockbit bukan di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Pertanyaan ini sebenarnya bukan soal label doang, karena KEK dan PSN itu biasanya membawa perlakuan regulasi yang beda. Begitu sebuah proyek masuk jalur khusus, izin, infrastruktur, sampai insentif fiskal bisa berubah dramatis. Jadi wajar kalau investor penasaran, karena ini bisa memengaruhi margin dan kecepatan monetisasi lahan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sayangnya dari LK 2025, APLN tidak mencantumkan kepemilikan atau pengelolaan wilayah berstatus KEK maupun PSN. Di sisi lain, BSDE jelas punya PSN Tol Serpong-Balaraja lewat Trans Bumi Serbaraja dan punya KEK ETKI lewat Surya Inter Wisesa. KIJA juga jelas mengelola KEK Kendal, Tanjung Lesung, dan Morotai, bahkan sudah ada bukti manfaat fiskal berupa restitusi pajak PPh bernilai puluhan miliar. Jadi secara struktur dukungan negara, posisi APLN memang tidak sejajar dengan BSDE dan KIJA saat ini. Dari sini bisa kelihatan mana perusahaan yang dekat dengan pemerintah.
Kenapa status KEK dan PSN bisa dianggap kabar baik? Karena KEK memberi insentif fiskal seperti perlakuan pajak tertentu untuk aktivitas di zona itu, sementara PSN biasanya memberi prioritas konektivitas dan kepastian eksekusi proyek, terutama untuk infrastruktur. Dampaknya bukan hanya laba akuntansi, tapi bisa terasa di margin bersih dan kecepatan penjualan atau sewa. Syarat agar efeknya benar-benar terasa itu sederhana, proyek harus aktif, transaksi terjadi di area KEK, dan perusahaan memang menjadi pengelola atau pemegang konsesi yang berhak atas fasilitas tersebut. Untuk APLN, syarat ini belum terpenuhi, buktinya status itu tidak muncul eksplisit di dokumen yang dibahas, sehingga fasilitasnya tidak bisa diasumsikan ada.
Di sisi APLN, kekuatannya ada di model bisnis yang lebih konvensional dan lebih mudah dipahami, residensial, superblok, pusat belanja, dan hotel di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Medan, Balikpapan, dan Batam. Ini bisa menjadi nilai plus karena tidak bergantung pada satu proyek raksasa berizin khusus untuk bisa jalan. Namun konsekuensinya, APLN juga lebih terekspos ke pajak final normal penjualan properti dan lebih bergantung pada siklus demand properti serta okupansi mal dan hotel, tanpa pengungkit fiskal khas KEK seperti yang bisa dinikmati pengelola kawasan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bagian yang paling sedih adalah cerita reklamasi APLN. Secara skala, proyek Pulau I, Pulau F, dan Pulau G terlihat besar dan bisa terasa strategis, tapi justru menghadapi pembatalan izin dan sengketa hukum, bukan jalur percepatan seperti PSN. Ini bisa dibaca dua sisi. Sisi baiknya, kalau kepastian izin pulih, nilai lahan dan opsi pengembangan bisa kembali terbuka dan menjadi katalis besar. Sisi buruknya, selama statusnya menggantung, modal dan perhatian manajemen berpotensi terkunci, timeline monetisasi tidak jelas, dan risiko kebijakan daerah tetap menghantui, dengan bukti riwayat putusan Mahkamah Agung untuk Pulau I dan proses hukum yang masih berjalan untuk Pulau F, serta ketergantungan kebijakan pemda untuk Pulau G.
Eksposur Batam juga sering disalahpahami investor. APLN punya proyek Orchard Park Batam melalui entitas anak, dan Batam memang punya karakter insentif kawasan bebas atau perdagangan khusus. Bagusnya, ini bisa membantu demand dan aktivitas ekonomi di sekitar proyek, sehingga pemasaran lebih terbantu dibanding kota biasa. Buruknya, manfaat itu sifatnya tidak otomatis menjadi insentif fiskal langsung di level perusahaan, karena APLN berperan sebagai pengembang biasa, bukan pengelola kawasan ekonomi yang mendapatkan fasilitas seperti KIJA di Kendal. Syarat agar efeknya naik kelas itu APLN harus mengelola kawasan berstatus khusus atau punya skema perizinan yang mengikat fasilitas fiskal ke proyek, dan itu belum terlihat dari dokumen yang dibahas.
Jadi kalau investor membandingkan tiga emiten ini, BSDE dan KIJA ada di jalur yang lebih punya pengungkit regulasi, baik lewat KEK maupun PSN, sementara APLN bermain di jalur komersial yang lebih standar tetapi dibayangi isu legal proyek reklamasi. Ini bukan berarti APLN jelek, hanya karakter risikonya berbeda, lebih banyak bergantung pada pemulihan izin, penyelesaian sengketa, dan perbaikan siklus properti. Agar APLN bisa mendekati kelebihan struktural BSDE dan KIJA, syaratnya harus ada proyek yang masuk status KEK atau PSN secara eksplisit, atau reklamasi mendapatkan kepastian hukum dan izin yang stabil sehingga proyek besar benar-benar bisa dieksekusi. Sampai titik data 30 September 2025, bukti yang paling kuat adalah absennya pengungkapan KEK dan PSN pada APLN, sementara pada BSDE dan KIJA statusnya jelas dan sudah ada jejak manfaatnya di laporan.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/7







$APLN yg udah masuk pucuk kemaren tenang, ini tinggal nunggu waktu aja, tapi lama atau cepetnya ga ada yg tau ๐ฟ
Beli merah, jual ijo, jangan kebalik ๐๐ผ
$APLN senang bisa membantu investor untuk dapat cuan, kuncinya itu disiplin TP & CL kalau main saham momentum. Nanti kita akan masuk lagi di $APLN, stay tune

$APLN close di 160 or 165 juga udah cantik ndarr, wlwpun masih minus๐๐ serok serokk
$PADI $BIPI