410

0.00

(0.00%)

Today

33.49 M

Volume

36.84 M

Avg volume

Company Background

PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk didirikan pada 1995 dan bergerak di bidang usaha perlengkapan rumah tangga dan gaya hidup. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, Perseroan menjalankan usaha dalam bidang perdagangan, perindustrian, jasa dan perbengkelan. Hingga saat ini, Perseroan masih menjalankan kegiatan usaha sesuai dengan Anggaran Dasar Perusahaan. Produk-produk Perseroan dipasarkan di bawah berbagai merk dagang, termasuk “Ace”, “Krisbow” dan “Kris”. Perseroan terus berkembang sebagai perusahaan ritel dan kini telah menjadi salah satu perusahaan ritel terkemuka yang menyediakan beragam perlengkapan rumah tangga dan gaya hid... Read More

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

#100
Rab, 14 Jan 2026


$ACES Stabil di 410: Flat 0.00% Siap Rebound Bareng Recovery Konsumsi Retail & Rate Cut 2026?


ACES ditutup stabil flat 0.00% di 410, tanpa tekanan jual signifikan, volume tetap solid 33.4 juta+ lembar menunjukkan minat akumulasi masih kuat dari ritel & institusi!

PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (Ace Hardware Indonesia) ini spesialis retail home improvement, lifestyle products, hardware, tools, dan furnitur rumah tangga dengan jaringan toko luas di seluruh Indonesia.

Dengan proyeksi rate cut BI/Fed berlanjut, stimulus ekonomi & pemulihan daya beli masyarakat kelas menengah, plus boom properti/residensial baru serta renovasi rumah, revenue ACES dari penjualan ritel & ekspansi gerai bakal terus terakselerasi. Positioning kuat sebagai leader home improvement dengan brand recognition tinggi & diversifikasi produk lifestyle.

Valuasi masih attractif untuk player retail spesialis dengan market cap 7.019T. YTD relatif stabil dengan potensi upside dari momentum konsumsi awal tahun.

Prediksi: Kalau support 408-410 bertahan & katalis laporan penjualan bulanan positif/ekspansi gerai baru keluar, bisa rebound ke 420-440 zone.


Data Kunci 📌

- Harga close hari ini: Rp 410.00, flat 0.00%.
- Open: Rp 410.00, High: Rp 412.00, Low: Rp 408.00, Previous Close: Rp 410.00.
- Volume: ~33,489,800 lembar solid banget, konfirmasi akumulasi terjaga & minat buyer stabil.
- Market Cap: 7.019T IDR.
- Sentimen: Stabil teknikal sektor retail di tengah fluktuasi awal tahun, tapi fundamental konsumsi rumah tangga & rate cut sangat supportive jangka menengah.

Kesimpulan & Prediksi:
Akumulasi bertahap di level ini kalau yakin tema recovery retail konsumsi + rate cut jangka panjang, target upside 10-15% Q1-Q2 2026 dari momentum penjualan musiman & ekspansi gerai.

Risiko: Kalau profit taking muncul atau data konsumsi makro delay recovery, bisa terkoreksi ke 400-405 (support kuat previous low & psychological), di bawah itu potensi tekanan lebih kalau volume seller dominan.

Tapi ACES ini player retail home improvement paling solid di Indonesia, positioning premium bareng pertumbuhan kelas menengah & tren renovasi rumah nasional!



Disclaimer: Ini opini pribadi berdasarkan data publik, bukan rekomendasi beli/jual.
Pasar volatile, selalu cross-check real-time & DYOR full + konsultasi advisor profesional ya!
#SahamRetail #HomeImprovement #Konsumsi #RateCut #IDX $IHSG $AMRT #MAPI #ERAA

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ACES bad move stop royalti. "soul" nya ikut hilang😥

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ACES kapan nih nyentuh kepala 3xx

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Putus Lisensi Ace Hardware Ternyata Laba $ACES Tetap Nyungsep vs Royalti Tetap Jalan Tapi Laba $MAPI dan $MAPA Tetap Naik

ACES baru saja memutus lisensi Ace Hardware, lalu publik berharap satu hal yang kelihatannya logis, biaya royalti hilang maka laba harusnya langsung melonjak. Tapi angka 9M 2025 justru bilang kebalikannya, laba ACES turun 16% walau beban royalti jadi nol. Ini contoh klasik kenapa menghapus satu biaya itu belum tentu membuat mesin laba otomatis ngebut, karena kadang biaya itu cuma serpihan kecil dari puzzle yang lebih besar. Yang lebih menentukan biasanya adalah kecepatan penjualan, daya tarik brand di mata konsumen, diskon yang terpaksa diberikan, dan biaya transisi yang tidak kelihatan dari luar. Jadi sebelum menyimpulkan strategi lisensi itu gagal atau sukses, investor wajib bandingkan skala penghematan royalti versus skala penurunan laba, lalu lihat apakah MAPI dan MAPA memang punya struktur bisnis yang membuat royalti terasa ringan walau angkanya besar. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Di Laporan Keuangan Q3 2025, beban royalti ACES menjadi Rp0, padahal di LK Q3 2024 masih ada bayar lisensi Rp35,27 miliar. Penghematan Rp35,27 miliar ini terdengar besar kalau dibaca sendirian, tetapi saat ditempelkan ke kinerja laba, konteksnya berubah. Laba bersih ACES turun dari Rp567,8 miliar menjadi Rp476,7 miliar, turun Rp91,1 miliar. Artinya, penghematan royalti itu secara kasar hanya setara 38,7% dari penurunan laba bersih, dan itu pun masih angka kotor sebelum bicara pajak dan efek biaya transisi lain. Bahkan kalau dibandingkan ke skala pendapatan ACES Rp6,33 triliun, royalti yang hilang itu cuma sekitar 0,56% dari revenue, sementara penurunan laba bersih setara sekitar 1,44% dari revenue. Ini sebab utama kenapa secara statistik reaksi laba ACES tidak otomatis meledak, karena yang dihapus itu memang bukan komponen biaya yang dominan terhadap revenue. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Sekarang bandingkan dengan Grup MAP. MAPI di 9M 2025 membayar royalti Rp541,56 miliar dan MAPA membayar Rp524,44 miliar. Angkanya jauh lebih besar dari royalti ACES tahun lalu, tetapi posisi mereka berbeda karena skala revenue mereka jauh lebih besar. Royalti MAPI setara sekitar 1,8% dari revenue Rp30,04 triliun. Royalti MAPA setara sekitar 3,8% dari revenue Rp13,94 triliun. Jadi royalti memang memakan porsi, terutama di MAPA, tetapi selama mesin penjualan berlari, royalti itu bekerja seperti biaya variabel yang ikut tumbuh bersama omzet, bukan seperti beban mati yang menggerus saat sales melemah. Di 9M 2025, revenue MAPI masih tumbuh 8,8% dan laba bersih tumbuh 5,2%. MAPA bahkan revenue tumbuh 12,3% dan laba bersih tumbuh 5,5%. Jadi narasinya jelas, MAPI dan MAPA tetap naik karena volume penjualannya naik, walau sebagian kenaikan itu dimakan oleh biaya yang ikut naik, termasuk royalti.

Kalau investor ingin melihat kekuatan brand dan pricing power lewat angka yang sederhana, lihat tren margin laba bersih. ACES punya revenue yang hanya naik tipis 1,7%, tapi laba turun 16%. Secara matematis, margin laba bersih ACES kira-kira turun dari sekitar 9,12% di 9M 2024 menjadi sekitar 7,53% di 9M 2025, turun sekitar 1,59 poin persentase. Ini sinyal bahwa ada tekanan yang jauh lebih besar daripada sekadar royalti, misalnya tekanan diskon, biaya marketing rebranding, biaya operasional toko, atau tekanan kurs atas barang impor, karena ACES memang sangat bergantung pada impor untuk barang dagangan. Sementara itu, MAPI dan MAPA juga mengalami kompresi margin, tetapi jauh lebih terkendali. Margin laba bersih MAPI kira-kira turun tipis sekitar 0,19 poin persentase, dan MAPA turun sekitar 0,53 poin persentase. Ini pola yang masuk akal, revenue naik kencang tetapi ada biaya yang ikut naik, termasuk royalti, sewa, dan biaya operasional. Bedanya, MAP Group masih bisa menjaga agar kenaikan revenue tetap mengalahkan kenaikan beban total, sehingga laba tetap tumbuh. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Bagian yang sering bikin investor salah baca ada di penempatan akuntansi royalti. Di ACES, royalti historisnya muncul di beban penjualan atau beban operasional, jadi ketika lisensi selesai per 31 Desember 2024, garis biaya itu memang hilang. Di MAPI, royalti dicatat dalam beban penjualan, jadi menekan laba operasional. Di MAPA, royalti dicatat langsung di beban pokok, sehingga menekan gross margin dari awal. Ini penting karena kalau investor bandingkan gross margin lintas emiten tanpa sadar ada royalti yang masuk COGS versus masuk SGA, hasilnya bisa menyesatkan. MAPA bisa terlihat gross margin lebih tipis bukan karena lebih tidak efisien, tetapi karena struktur pencatatan biaya lisensinya lebih depan di COGS.

Sekarang masuk ke bagian transaksi pihak berelasi, karena ini sering jadi petunjuk bagaimana ekosistem grup bekerja dan seberapa banyak transaksi internal dipakai untuk mengamankan supply chain, sewa lokasi, atau jasa manajemen. Di ACES, pembelian dari pihak berelasi naik menjadi Rp299,11 miliar atau 8,33% dari total pembelian di 2025, dari Rp271,99 miliar atau 6,75% di 2024. Kenaikan porsi ini memberi dua kemungkinan yang sama-sama realistis. Sisi positifnya, grup bisa mengonsolidasikan pengadaan atau logistik, membuat pasokan lebih stabil saat transisi brand. Sisi yang harus diawasi, porsi transaksi internal yang naik bisa menyembunyikan pergeseran margin antar entitas grup, jadi investor perlu cek apakah pricing transaksi wajar dan apakah ada perubahan term pembayaran yang berdampak ke kas. Penjualan ACES ke pihak berelasi juga naik, tetapi skalanya kecil, kontribusinya sekitar 0,82% dari penjualan di 2025 dari 0,63% di 2024, jadi ini bukan pendorong laba utama. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Di MAPI, eksposur pendapatan bersih dari pihak berelasi sangat kecil, sekitar 0,08% dari total pendapatan. Ini memberi kesan bisnisnya memang digerakkan oleh transaksi eksternal dengan konsumen, bukan permainan transaksi internal. Tetapi Grup MAP punya hubungan internal yang kuat dalam bentuk jasa manajemen. MAPI memberikan dukungan IT, HR, legal, dan lain-lain ke MAPA, lalu menarik biaya manajemen Rp144,61 miliar di 9M 2025, naik dari Rp131,37 miliar di 2024. Angka ini bukan sekadar biaya, ini menggambarkan model holding yang membuat sistem grup lebih seragam, tetapi sekaligus membuat MAPA bergantung pada induk untuk sebagian fungsi kunci. Di MAPA sendiri, penjualan non-eceran turun kontribusinya dari 5,41% atau Rp70,92 miliar di 2024 menjadi 3,92% atau Rp34,63 miliar di 2025. Secara narasi, ini bisa dibaca sebagai fokus yang makin condong ke ritel inti, atau normalisasi kanal non-eceran yang mungkin lebih tidak stabil.

Jadi kenapa ACES yang menghapus royalti malah labanya turun, sementara MAPI dan MAPA yang tetap bayar royalti malah labanya naik? Jawabannya ada di skala bisnus dan momentum penjualan. Royalti itu bukan musuh utama kalau revenue dan traffic toko tumbuh, karena biaya itu biasanya dihitung sebagai persentase penjualan. MAPI dan MAPA hidup dari portofolio brand global yang masih menarik konsumen, sehingga mereka bisa mempertahankan rotasi stok, menjaga harga jual, dan mengubah pertumbuhan revenue menjadi pertumbuhan laba walau tidak secepat revenue. Sebaliknya, ACES sedang masuk fase transisi brand. Saat lisensi diputus, perusahaan harus membangun ulang persepsi merek, menanggung biaya rebranding, promosi, penyesuaian sistem, dan pada periode awal sering muncul efek samping yang tidak terlihat, misalnya konsumen butuh waktu untuk percaya bahwa toko yang sama tetap punya value yang sama. Kalau pada saat yang sama rupiah melemah, sementara porsi impor besar, tekanan biaya bisa datang dari dua arah sekaligus, biaya barang naik dan perusahaan belum tentu bisa langsung menaikkan harga tanpa mengorbankan volume. Hasil akhirnya, penghematan royalti yang kecil secara persentase tadi tenggelam oleh tekanan yang lebih besar. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Untuk ACES, investor perlu ukur apakah pasca pemutusan lisensi, pertumbuhan revenue mulai akselerasi, bukan sekadar revenue growth mini 1,7% seperti sekarang. Lalu lihat apakah margin laba bersih berhenti turun dan mulai stabil, karena itu tanda biaya transisi mulai lewat dan pricing power mulai balik. Untuk MAPI dan MAPA, lihat apakah pertumbuhan royalti tetap sejalan dengan pertumbuhan revenue, karena kalau royalti tumbuh lebih cepat terus-menerus, margin akan makin tertekan. Di 9M 2025, royalti MAPI tumbuh 10,7% sementara revenue 8,8%, dan royalti MAPA tumbuh 14,2% sementara revenue 12,3%, ini masih wajar, tetapi memberi sinyal bahwa mix penjualan bisa bergeser ke brand yang royalti rate-nya lebih tinggi, atau biaya lisensi memang naik mengikuti kontrak. Terakhir, lihat skala kontribusi royalti terhadap laba. Royalti MAPA sekitar 45,6% dari laba bersih Rp1,15 triliun, sedangkan royalti MAPI sekitar 31,9% dari laba bersih Rp1,70 triliun. Ini bukan angka kecil, jadi kalau ada shock penjualan, royalti akan langsung terasa, tetapi selama growth bertahan, biaya itu justru menjadi bukti bahwa brand engine mereka masih bekerja.

Jadi kasus ACES bukan anomali, ini statistik yang konsisten dengan fase transisi. Menghapus royalti memang mengurangi satu pos biaya, tetapi nilai penghematannya relatif kecil terhadap revenue dan bahkan tidak cukup untuk menutup penurunan laba yang terjadi. Sementara itu MAPI dan MAPA seperti mesin yang sudah matang, mereka membayar royalti besar karena mereka memang menjual brand besar, dan selama revenue tumbuh, royalti itu hanya biaya variabel yang ikut bergerak. Jadi kontrasnya bukan soal siapa yang lebih pintar memilih lisensi, tetapi soal siapa yang sedang berada di fase stabil dengan momentum penjualan kuat, versus siapa yang sedang membangun ulang mesin brand dan harus membuktikan bahwa tanpa lisensi pun traffic, margin, dan laba bisa kembali naik. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

🏛️ Struktur kontrol
👑 ACES PT Kawan Lama Sejahtera 60,00%
🧩 MAPI PT Satya Mulia Gema Gemilang 51,00%
🧬 MAPA anak MAPI 68,83%

🔗 Transaksi pihak-berelasi
🏠 ACES pembelian Rp299,11B 8,33% naik dari Rp271,99B 6,75%
🛒 ACES penjualan Rp53,99B 0,82% naik dari 0,63%
🏃 MAPA penjualan non-eceran 3,92% Rp34,63B turun dari 5,41% Rp70,92B
🧾 MAPA pembelian 0,12%
🧊 MAPI kontribusi 0,08%
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

📜 Lisensi royalti biaya manajemen
🧯 ACES lisensi AHC berakhir 31 Des 2024 royalti 9M 2025 Rp0 vs Rp35,27B
🏷️ MAPI royalti Rp541,56B 1,8% masuk SGA
🧷 MAPA royalti Rp524,44B 3,8% masuk COGS
🎛️ MAPI fee manajemen ke MAPA Rp144,61B naik dari Rp131,37B

🧮 Dampak ke laba
⚠️ MAPA royalti kira-kira 45% dari laba bersih Rp1,15T
✅ ACES hemat royalti tapi laba tetap -16%
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

📈 Trend ringkas
🐘 ACES revenue +1,7% laba -16%
🦍 MAPI revenue +8,8% laba +5,2%
🐆 MAPA revenue +12,3% laba +5,5%
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/7

testestestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Dampak Melemahnya Rupiah Pada $ACES vs $MAPI vs $MAPA

Rupiah melemah itu bukan cuma isu makro yang lewat di timeline, buat ritel justru itu seperti pajak tambahan yang tidak kelihatan tapi terasa di laporan laba rugi. ACES, MAPI, dan MAPA menjual barang yang kelihatannya sangat domestik, tapi dapurnya banyak bergantung ke barang impor, lisensi merek global, dan biaya-biaya yang ikut gerak valas. Jadi ketika kurs bergerak tidak bersahabat, pertanyaan paling penting itu bukan siapa yang paling besar, tapi siapa yang paling bisa meneruskan kenaikan biaya ke konsumen tanpa merusak demand. Di saat yang sama, investor sering keliru menilai risiko valas hanya dari angka rugi selisih kurs, padahal akar masalahnya ada di struktur biaya, kecepatan putar stok, dan seberapa berat beban sewa. Kalau Rupiah terus melemah, pemenangnya biasanya bukan yang paling ramai gerai, tapi yang paling disiplin mengelola margin, stok, dan kontrak valas. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Kalau disusun seperti keluarga besar, MAPI itu ibu yang punya ekosistem paling gemuk, MAPA itu anak yang spesialis sports dan justru sering terlihat lebih lincah, sementara ACES itu tetangga yang bisnisnya beda dunia tapi sama-sama hidup dari impor barang dagangan. Dari sisi ketergantungan impor, ACES terang-terangan menyebut 87,03% pembelian berasal dari impor. Ini penting karena artinya COGS dan persediaan ACES sangat sensitif terhadap pelemahan Rupiah. MAPI dan MAPA juga sangat import reliant secara model bisnis karena banyak brand global dan barang dagangan impor, bedanya mereka punya tambahan mesin penyeimbang berupa pendapatan luar negeri. MAPI mencatat kontribusi internasional besar dari Filipina Rp2,05 triliun dan Vietnam Rp1,14 triliun, total Rp3,19 triliun atau sekitar 10,62% dari revenue 9M 2025 sebesar Rp30,04 triliun. MAPA malah terlihat lebih terasa natural hedge karena Filipina Rp1,66 triliun dan Thailand Rp683,9 miliar, total Rp2,34 triliun atau sekitar 16,82% dari revenue Rp13,94 triliun. Maknanya sederhana, kalau Rupiah melemah, sebagian top line MAPI dan MAPA justru datang dari negara dengan mata uang lokal mereka, jadi ada bantalan alami walau tidak otomatis menutup semua risiko impor. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Sekarang lihat skala dan struktur biaya, karena di ritel, kurs biasanya masuk lewat dua pintu utama, COGS dan opex. MAPI mencetak revenue Rp30,04 triliun, MAPA Rp13,94 triliun, ACES Rp6,33 triliun. Ini bukan sekadar beda ukuran, tapi beda cara bertahan saat kurs jelek. Dari revenue itu, COGS MAPI Rp17,38 triliun, MAPA Rp7,43 triliun, ACES Rp3,30 triliun. Angka COGS ini menggambarkan biaya barang yang dijual, dan ini yang paling cepat tertekan saat Rupiah melemah kalau barang impor dominan. Lalu SGA atau biaya operasional, MAPI Rp10,17 triliun, MAPA Rp4,83 triliun, ACES Rp2,59 triliun. SGA ini biasanya berisi gaji, sewa, utilitas, promosi, dan overhead toko. Saat kurs melemah, demand bisa melambat, tapi SGA banyak yang tidak ikut turun cepat, inilah yang membuat margin ritel gampang terjepit.

Kalau investor ingin cepat menangkap efisiensi, margin itu alat bantu yang paling gampang. Gross margin kira-kira menunjukkan seberapa kuat pricing power dan mix produk sebelum biaya toko, dan hasilnya cukup menarik. Dengan angka revenue dan COGS tadi, gross margin MAPI kira-kira 42,14%, MAPA 46,70%, ACES 47,87%. Ini memberi sinyal, ACES dan MAPA punya ruang kotor yang lebih tebal, sementara MAPI lebih berat di cost of goods secara proporsi karena mix bisnisnya sangat beragam. Tapi gross margin tidak cukup, karena ritel itu hidup-mati di biaya toko. Ketika SGA ikut dimasukkan, operating margin kira-kira menjadi 8,29% di MAPI, 12,05% di MAPA, dan 6,95% di ACES. Artinya MAPA terlihat paling efisien mengubah omzet menjadi laba operasional, sedangkan ACES meski gross margin tebal, biaya operasionalnya juga berat. Ini masuk akal karena format ACES cenderung toko besar dan operasionalnya padat aktivitas. Net profit juga memperjelas hasil akhirnya. MAPI mencatat laba bersih Rp1,70 triliun, MAPA Rp1,15 triliun, ACES Rp476,7 miliar. Kalau dihitung kasar net margin, MAPI sekitar 5,66%, MAPA 8,25%, ACES 7,53%. Jadi dari sisi efisiensi laba bersih terhadap omzet, MAPA menonjol, ACES masih oke, MAPI menang di nominal karena skala. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Skala juga bisa dilihat dari aset dan tenaga kerja, karena ini menggambarkan betapa besar kapal yang harus diputar saat arus kurs dan demand berubah. Total aset MAPI Rp30,84 triliun, MAPA Rp13,21 triliun, ACES Rp8,15 triliun. Karyawan MAPI 31.971 orang, MAPA 15.066 orang, ACES 14.226 orang. Yang menarik, ACES dan MAPA jumlah karyawannya mirip, tapi omzetnya beda jauh, ini memberi petunjuk soal produktivitas. Revenue per karyawan kira-kira MAPI Rp939,6 juta, MAPA Rp925,3 juta, ACES Rp445,0 juta. Laba bersih per karyawan kira-kira MAPI Rp53,2 juta, MAPA Rp76,3 juta, ACES Rp33,5 juta. Investor biasanya memakai metrik ini untuk mengukur disiplin operasi, karena ritel itu perang efisiensi, bukan hanya perang ekspansi gerai. Dari sini, MAPA tampak paling produktif per kepala, lalu MAPI, lalu ACES. Namun ACES punya format toko yang berbeda, jadi angka ini tidak otomatis berarti ACES lebih buruk, tapi berarti modelnya lebih berat operasional.

Masuk ke inti kekhawatiran investor soal Rupiah, yaitu eksposur moneter valas. Foreign monetary assets itu aset dalam mata uang asing yang sifatnya moneter, misalnya kas valas, piutang valas, deposito valas. Foreign monetary liabilities itu kewajiban valas seperti utang usaha valas, utang bank valas, atau liabilitas lain yang dibayar dalam valas. Selisihnya adalah net exposure. ACES punya foreign monetary assets Rp287,0 miliar dan liabilities Rp4,5 miliar, jadi net exposure positif Rp282,5 miliar. Secara logika, ini posisi net long, Rupiah melemah harusnya memberi keuntungan translasi atau setidaknya bantalan. Tapi faktanya ACES masih mencatat net forex loss Rp10,10 miliar. Ini pelajaran penting buat investor, posisi akhir periode bisa terlihat aman, tapi selama periode berjalan bisa terjadi mismatch timing, misalnya pembayaran impor terjadi di saat kurs lebih buruk, atau keuntungan dari posisi aset valas belum terealisasi, atau ada komponen yang bukan monetary seperti persediaan impor yang efek kursnya masuk lewat COGS, bukan lewat akun selisih kurs. Jadi jangan hanya melihat net exposure akhir periode lalu merasa aman. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

MAPI dan MAPA berbeda karakter. MAPI punya foreign monetary assets Rp952,6 miliar dan liabilities Rp1.531,5 miliar sehingga net exposure negatif Rp578,9 miliar. MAPA assets Rp69,4 miliar dan liabilities Rp643,8 miliar sehingga net exposure negatif Rp574,4 miliar. Keduanya posisi net short, artinya secara teori, Rupiah melemah cenderung menekan laba karena kewajiban valas lebih besar dari aset valas. Ini selaras dengan adanya rugi selisih kurs, MAPI net forex loss Rp9,47 miliar, MAPA Rp21,69 miliar. Investor perlu menangkap maknanya, MAPA rugi selisih kurs lebih besar daripada MAPI padahal skala revenue MAPA lebih kecil, jadi sensitivitasnya relatif lebih terasa ke margin. Karena itu MAPI dan MAPA menggunakan lindung nilai berupa forward, MAPI sebesar Rp920 miliar dan MAPA Rp295 miliar. Forward ini bisa dibaca sebagai rem, bukan airbag. Rem mengurangi volatilitas, tapi tetap ada biaya, dan tidak selalu menghapus rugi, apalagi kalau underlying exposure datang dari impor persediaan yang perputarannya cepat dan kontraknya bertahap.

Ada lagi penekan yang sering diremehkan investor saat kurs melemah, yaitu liabilitas sewa. MAPI memiliki lease liabilities Rp4,82 triliun dan MAPA Rp1,92 triliun. Angka ini penting karena sewa adalah biaya yang sulit ditawar dalam jangka pendek, dan ketika demand melemah atau biaya impor naik, ruang bernapas menyempit. Secara proporsi, lease liabilities MAPI sekitar 15,63% dari total aset, MAPA sekitar 14,53%. Ini cukup besar untuk bisnis yang banyak bergantung pada gerai. Sederhananya, MAPI dan MAPA punya mesin besar yang harus tetap berputar, sementara kurs dan daya beli tidak selalu mendukung. Di sisi lain, ACES tidak ditunjukkan angka lease liabilities dalam data ini, tapi ACES jelas punya struktur biaya toko sendiri, hanya bentuknya berbeda.

Dari sisi tren strategi, MAP Group kelihatan jelas sedang membangun diversifikasi regional untuk mengurangi ketergantungan domestik, MAPI bahkan membentuk entitas baru di India dan Filipina pada 2025, sementara MAPA menunjukkan kontribusi Filipina dan Thailand yang sudah besar. Ini bisa menjadi pelindung jangka panjang terhadap siklus ekonomi Indonesia, tapi tetap tidak menghilangkan risiko Rupiah pada sisi impor barang dagangan. ACES malah menunjukkan tren konsolidasi tenaga kerja dari 14.597 orang pada 2024 menjadi 14.226 orang pada 2025, turun 2,54%. Ini bisa dibaca sebagai fokus efisiensi, atau sinyal kehati-hatian menghadapi demand dan tekanan biaya. Dan jangan lupa ACES laba bersih 9M 2025 turun sekitar 16% dibanding 9M 2024, ini menguatkan narasi bahwa tekanan kurs dan impor itu bukan teori. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Dalam rezim Rupiah yang melemah karena omon-omon, ACES itu kelihatannya paling aman dari sisi net exposure valas karena net long Rp282,5 miliar, tapi tetap rentan dari sisi ekonomi nyata karena 87,03% pembeliannya impor, jadi efek kurs banyak masuk lewat COGS dan pricing ke konsumen. MAPI itu raksasa skala, revenue Rp30,04 triliun, aset Rp30,84 triliun, gerai lebih dari 3.000, tapi justru karena raksasa, beban tetap seperti SGA Rp10,17 triliun dan lease liabilities Rp4,82 triliun membuatnya paling sensitif terhadap kombinasi kurs buruk dan demand melemah. MAPA itu anak yang paling efisien dalam angka, net margin kira-kira 8,25% dan operating margin sekitar 12,05%, serta punya natural hedge regional lebih terasa sekitar 16,82% revenue dari Filipina dan Thailand, tetapi posisi valas net short dan rugi selisih kurs Rp21,69 miliar menunjukkan ada titik rawan yang harus dijaga. Kalau investor mencari siapa yang paling tahan banting saat Rupiah melemah, fokusnya bukan cuma siapa yang punya hedging, tapi siapa yang bisa mempertahankan margin tanpa mengorbankan volume, siapa yang bisa mengelola stok impor dengan putaran cepat, dan siapa yang beban sewanya tidak membuat perusahaan kaku saat pasar berubah.

Dampak Melemahnya Rupiah Pada ACES vs MAPI vs MAPA

📦 Impor ekspor laba
🚢 ACES impor 87,03% pembelian
🌏 MAPI revenue luar negeri Filipina Rp2,05T Vietnam Rp1,14T
🌏 MAPA Filipina Rp1,66T Thailand Rp683,9B
💰 Laba bersih MAPI Rp1,70T MAPA Rp1,15T ACES Rp476,7B
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

🧾 Revenue COGS SGA
🏢 MAPI Rp30,04T Rp17,38T Rp10,17T
🏃 MAPA Rp13,94T Rp7,43T Rp4,83T
🏠 ACES Rp6,33T Rp3,30T Rp2,59T

⚖️ Penekan pendukung growth
🧲 Penekan MAPI sewa Rp4,82T MAPA sewa Rp1,92T ACES laba turun 16%
🛍️ Pendukung brand kuat MAP Group ACES kas Rp1,82T
🚀 Growth MAPI tambah entitas India dan Filipina ACES rebranding

📏 Skala jaringan
🦍 MAPI aset Rp30,84T karyawan 31.971 gerai >3.000
🐆 MAPA aset Rp13,21T karyawan 15.066 gerai >1.000
🐘 ACES aset Rp8,15T karyawan 14.226 gerai 257
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

💱 Risiko valas dan mitigasi
🟢 ACES net exposure +Rp282,5B rugi valas Rp10,10B
🔴 MAPI net exposure -Rp578,9M rugi Rp9,47B forward Rp920B
🔴 MAPA net exposure -Rp574,4M rugi Rp21,69B forward Rp295B
🧱 Komoditas tidak material fokus risiko bunga dan valas

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/5

testestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$MAPI vs $MAPA vs $ACES: Kisah Ibu, Anak, dan Tetangga

MAPI dan MAPA itu memang ibu dan anak, tapi ini bukan sekadar hubungan kepemilikan 68,83% lalu selesai. Di laporan keuangan, hubungan ibu-anak itu kelihatan dari arus transaksi internal, fee, sampai piutang-utangnya yang kadang tampak kecil tapi maknanya besar. ACES itu tetangga yang kelihatan mirip dari luar sama-sama ritel, sama-sama impor barang, sama-sama hidup dari jaringan toko, tapi ekosistemnya beda dunia karena dia main di Kawan Lama Group. Jadi kalau investor baca angka tanpa konteks, gampang salah tafsir, dikira semua ritel itu sama, padahal model uangnya beda, risikonya beda, dan kualitas labanya juga beda. Kuncinya, investor harus lihat trend, skala, lalu cek angka-angka yang kelihatannya receh seperti piutang pihak berelasi, karena sering justru di situ cerita sebenarnya. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Dari sisi skala, MAPI itu raksasa ekosistem. Total asetnya Rp30,83 triliun dan jaringan tokonya lebih dari 3.000 outlet, jadi wajar kalau kompleksitasnya juga tinggi, karena bisnisnya bukan hanya jual barang tapi mengelola portofolio lisensi merek global, F&B, department store, dan banyak format toko. MAPA itu anak yang fokus sports dan active lifestyle, tokonya lebih dari 1.000, dan laba bersihnya Rp1,148 triliun. ACES lebih spesifik home improvement dan lifestyle home, tokonya 257, dan laba bersih 9M 2025 Rp476,7 miliar, turun 16% dari Rp567,8 miliar di 9M 2024. Trend ini penting, karena untuk ACES kita punya pembanding tahunannya, jadi investor bisa langsung baca bahwa demand atau margin sedang tertekan dibanding tahun lalu, walaupun perusahaannya tetap sehat secara struktur. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau investor bagi laba bersih dengan jumlah karyawan, hasilnya jadi indikator produktivitas paling sederhana, karena ritel itu pada akhirnya perang efisiensi orang dan toko. MAPI dengan laba bersih Rp1,702 triliun dan 31.971 karyawan menghasilkan laba sekitar Rp53,2 juta per karyawan selama 9 bulan. MAPA dengan laba Rp1,148 triliun dan 15.066 karyawan menghasilkan sekitar Rp76,2 juta per karyawan, ini tinggi, artinya MAPA lebih tajam dalam mengubah operasi toko menjadi laba bersih. ACES dengan laba Rp476,7 miliar dan 14.226 karyawan menghasilkan sekitar Rp33,5 juta per karyawan, lebih rendah, dan itu nyambung dengan karakter bisnisnya yang cenderung big box, banyak staf per toko, dan transaksi yang lebih berat di logistik serta inventory. Bahkan kalau investor lihat karyawan per toko, ACES kira-kira 55 orang per outlet, sedangkan MAPI dan MAPA secara kasar berada di belasan atau bahkan lebih rendah karena formatnya campuran banyak toko kecil di mal. Ini menjelaskan kenapa membandingkan margin dan produktivitas lintas ritel itu wajib pakai konteks format toko.

Lalu coba baca data toko dan laba per toko untuk rasa skala. ACES laba Rp476,7 miliar dibagi 257 gerai itu sekitar Rp1,85 miliar per gerai untuk 9 bulan. MAPA laba Rp1,148 triliun dibagi lebih dari 1.000 gerai itu kira-kira di atas Rp1 miliar per gerai, tapi ingat karena jumlah gerainya lebih dari 1.000, angka per gerai aslinya sedikit lebih rendah dari pembagian kasar ini. MAPI laba Rp1,702 triliun dibagi lebih dari 3.000 gerai itu di bawah Rp1 miliar per gerai, dan itu tidak otomatis jelek, karena MAPI punya banyak format yang secara ekonomi memang lebih tipis per outlet, tapi menang di volume dan ekosistem. Jadi makna angka per gerai itu bukan untuk menentukan siapa paling hebat, tapi untuk memahami model, ACES menang di big store economics, MAPA menang di specialty retail sports yang margin dan perputaran bisa tinggi, MAPI menang di jaringan dan diversifikasi. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Sekarang bagian yang sering bikin investor salah paham, transaksi pihak berelasi. Angka piutang dan utang pihak berelasi itu bisa jadi tanda sinergi yang sehat, atau tanda ketergantungan internal yang kalau salah kelola bisa jadi bom waktu. Untuk ACES, piutang usaha pihak berelasi Rp98,8 miliar dan utang usaha pihak berelasi Rp36,3 miliar. Kalau investor bandingkan dengan laba ACES Rp476,7 miliar, piutang pihak berelasi itu sekitar 20,73% dari laba 9 bulan, bukan kecil-kecil amat. Tapi ACES juga punya kas Rp1,81 triliun, jadi piutang pihak berelasi itu hanya sekitar 5,46% dari kas, artinya secara likuiditas, ini tidak menakutkan. Ini contoh cara baca yang benar, bandingkan ke laba untuk melihat materialitas terhadap performa, bandingkan ke kas untuk melihat risiko likuiditas. Untuk MAPI, piutang pihak berelasi Rp10 juta, ini secara skala praktis nol, sementara utang pihak berelasi Rp9,4 miliar, dibanding laba Rp1,702 triliun itu sekitar 0,55%. Untuk MAPA, piutang pihak berelasi Rp2,8 miliar dan utang pihak berelasi Rp573 juta, dibanding laba Rp1,148 triliun itu sekitar 0,24% dan 0,05%. Maknanya sederhana, di angka trade receivables dan trade payables, MAPI dan MAPA tidak terlihat seperti memarkir besar-besaran piutang dagang ke pihak berelasi, sedangkan ACES lebih banyak berinteraksi dalam ekosistem Kawan Lama, wajar karena ada transaksi sewa, supply chain, dan layanan antar entitas grup.

Masuk ke kualitas neraca dan risiko, di sinilah perbedaan ibu, anak, dan tetangga makin kelihatan. ACES punya posisi likuiditas yang terlihat paling nyaman, kas Rp1,81 triliun dan rasio CFO terhadap utang 0,98. Artinya, hampir seluruh utang bisa ditutup oleh arus kas operasi, ini sinyal perusahaan yang operasionalnya benar-benar menghasilkan uang tunai dan tidak ketergantungan pada refinancing untuk bernapas. Tapi ACES punya kerentanan besar yang sifatnya struktural, yaitu 87,03% pembelian barang dagangan berasal dari impor, jadi pelemahan Rupiah langsung bisa menggerus margin, dan ini bukan risiko kecil-kecilan, ini risiko inti model bisnisnya. Jadi ketika laba ACES turun 16% YoY, investor seharusnya langsung refleks bertanya, apakah ada tekanan kurs, apakah ada perubahan pricing power, apakah inventory aging meningkat, karena di bisnis impor, kesalahan kecil di timing kurs dan stok bisa terasa di laba. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

MAPI punya kekuatan di diversifikasi dan ekosistem merek, tapi kelemahannya juga khas perusahaan ekosistem, beban tetap dan kewajiban yang besar. Total liabilitas Rp14,63 triliun dibanding aset Rp30,83 triliun itu sekitar 47,45%, jadi leverage-nya nyata, dan investor harus paham bahwa ritel besar itu sering hidup dengan kombinasi utang dan liabilitas sewa. Tambahan lagi, ada biaya royalti dan technical assistance Rp541,5 miliar dalam 9 bulan. Kalau investor bandingkan kasar terhadap laba bersih Rp1,702 triliun, biaya ini setara sekitar 31,82% dari laba bersih, dan ini menjelaskan satu hal, MAPI itu bukan cuma jualan, tapi juga bayar tiket lisensi untuk bisa jualan merek global. Selama demand kuat, biaya itu wajar, tapi kalau demand melemah, biaya lisensi dan biaya sewa itu bisa terasa menekan. Jadi investor yang pegang MAPI harus lebih disiplin membaca trend penjualan same store sales, margin, dan beban sewa, karena ini emiten yang sensitif terhadap siklus konsumsi.

MAPA posisinya menarik, karena dia anak yang justru terlihat sangat produktif di laba per karyawan, dan laba bersihnya Rp1,148 triliun membuatnya terlihat seperti mesin laba di segmen sports. Tapi kelemahan yang harus diingat, MAPA ini memang hidup di dunia mal dan lokasi premium, jadi beban sewanya besar, liabilitas sewa jangka panjang Rp1,06 triliun. Kalau investor bandingkan dengan laba Rp1,148 triliun, skala liabilitas sewa itu sekitar 92,33% dari laba 9 bulan, artinya MAPA punya komitmen fixed cost yang signifikan. Ini bukan berarti berbahaya otomatis, tapi artinya MAPA sangat bergantung pada traffic ritel modern, efektivitas lokasi, dan kemampuan menjaga throughput penjualan per meter persegi. Selain itu, karena dia anak, ada ketergantungan sistem ke MAPI untuk layanan manajemen, TI, dan ekosistem voucher, jadi investor harus paham bahwa sebagian efisiensi MAPA itu memang hasil mesin grup, bukan berdiri sendiri sepenuhnya. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Trend laba bisa memberi tahu apakah mesin uangnya sedang menguat atau melemah, di sini ACES terlihat melemah di laba YoY 16% dan itu wajib diinvestigasi dengan kacamata kurs dan impor. Skala bisnis bisa memberi tahu kita mengenai daya tahan dan daya tawar, MAPI menang telak di aset Rp30,83 triliun dan jaringan lebih dari 3.000 toko, tapi skala juga berarti kompleksitas dan beban tetap. Keunggulan MAPA ada di produktivitas, laba per karyawan sekitar Rp76,2 juta, dan laba Rp1,148 triliun dengan fokus yang jelas, tapi risikonya ada di sewa dan ketergantungan ekosistem grup. Data pihak berelasi membantu investor membedakan sinergi yang wajar versus potensi ketergantungan internal, di sini ACES memang lebih terkoneksi dalam grup Kawan Lama lewat piutang Rp98,8 miliar dan utang Rp36,3 miliar, sementara MAPI dan MAPA terlihat jauh lebih kecil pada pos dagang pihak berelasi, sehingga cerita sinerginya lebih banyak muncul lewat layanan manajemen, voucher, dan kesamaan ekosistem operasional, bukan lewat piutang dagang yang besar.

ACES itu tetangga yang terlihat paling mandiri secara neraca, kas tebal Rp1,81 triliun dan kemampuan bayar utang dari CFO yang sangat kuat, tapi dia paling sensitif ke kurs karena impor 87,03% dan itu bisa menjelaskan kenapa laba bisa turun walau bisnis tampak stabil dari luar. MAPI itu ibu yang mengendalikan ekosistem terbesar, daya tahannya datang dari diversifikasi merek dan skala, tapi investor harus siap dengan beban tetap, liabilitas besar, dan biaya lisensi yang nyata Rp541,5 miliar yang akan selalu ikut makan kue laba. MAPA itu anak yang tampak paling tajam dari sisi efisiensi laba, tapi karena hidup di lokasi premium dan sewa, investor harus rajin memantau apakah mesin penjualannya tetap kencang saat siklus konsumsi melemah, karena di bisnis sewa, penurunan traffic itu efeknya berantai ke margin dan laba. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

🏬 Kesamaan
🤝 Sama-sama ritel lifestyle dengan jaringan gerai besar
🗺️ Sama-sama dominan kota besar Indonesia
📘 Sama-sama SAK dan Rupiah
🌍 Sama-sama sensitif valas impor dan likuiditas piutang

🧩 Beda karakter bisnis
🏠 ACES fokus home improvement dan toys 257 gerai
👗☕ MAPI raksasa multi segmen termasuk apparel dan F&B aset Rp30,83T gerai >3.000
🏃 MAPA spesialis sports kids gerai >1.000 anak MAPI 68,83%
✈️ MAPI MAPA ekspansi regional ACES dominan domestik
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

🔗 Transaksi pihak berelasi
🧠 MAPI→MAPA jasa manajemen IT HR legal finance
🎟️ MAPA terima gift voucher grup timbul piutang utang intra grup
👥 Ada pengurus silang di grup
🧳 Pihak terkait eksternal MAPI MAPA Samsonite Burger King UFM
🏢 ACES ekosistem Kawan Lama sewa dan transaksi dengan Home Center Toys Games plus advance internal

💪 Power per emiten
🛡️ ACES kas Rp1,81T CFO utang 0,98 ekuitas Rp6,44T
🏗️ MAPI skala merek dan jaringan terbesar aset Rp30,83T
🥇 MAPA laba Rp1,14T margin kuat pemimpin sports kids

⚠️ Weakness kunci
📉 ACES laba turun 16% impor 87,03%
🧱 MAPI liabilitas Rp14,63T royalty technical Rp541,5B
🧷 MAPA tergantung induk liabilitas sewa Rp1,06T
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

🧑‍🤝‍🧑 Kontribusi
👷 ACES 14.226 karyawan dividen Rp579,8B
👨‍👩‍👧‍👦 MAPI 31.971 karyawan pajak Rp506,9B
⚙️ MAPA 15.066 karyawan laba tinggi per tenaga kerja

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/6

testestestestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

wah lom pernah ngerasain mines 52% setahun di $ACES

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ACES jangan panik kawan, semua ada waktunya. Perusahaan Cashnya tebal dapat menutupi semua hutang jangka pendek maupun panjang. Kalau pakai logika sudah ada barang pegang saja lama toh juga tiap tahun bagi deviden jadi ada pemasukan tiap tahun kepada investor. Kalau pakai emosi ya pasti Cutloss.
Strategi Cekek-Injak sedang dimainkan di ACES sama dulu seperti $PNLF saat didepak dari MSCI tujuannya supaya ritel cutloss dan sudah tampak pada pemegang saham Desember 2025 ACES bekurang.
#pakailogika#kontrolemosi

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ACES g ada pergerakan, mau bangkrut kyknya

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ACES harga 412

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ACES infokan harga 398 kawan,nanti saya beli

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ACES tdnya sih pede msh, eh pas dgr brita ace hardware mau masuk lg jd ky nambah saingan otomatis awal2 3 bln prtama mgkn customer nyobain lg balik..otomatis revenue jg bakal turun..exit dl dah

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ACES tokonya aja bnyak yg sepi bro

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ACES pola sisir, dari pengalaman yang polanya begini biasanya sedang di akumulasi bertahap biar harga tidak melonjak tinggi tiba tiba. gw juga ikutan mungutin receh. DYOR

14.01.2026 Update 15:00

SCREENER - DUMP

$ACES $MCOL $PANR

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ACES gilak gk kuat nunggunya wkwk cl

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ACES ini ngapain 30 analyze rekomen ini. padahal harga cenderung turun

saham ini $ACES akan semakin jatuh sebentar lagi saat nnt $MAPI akan membawa balik brand Ace hardware ke Indonesia maka azko akan semakin hilang positioning di market dan pelanggan akan kembali lagi belanja ke Ace Hardware karena mereka loyalis brand ace hardware akan sadar kalau azko bukan ace hardware, jd sebelum ace hardware opening gerai dgn masif sebaiknya segera out dr emiten ini sambil wait and see bagaimana persaingan bisnis di antara keduanya nya. secara analis bandarmologi investor asing udah mulai out dr saham ini dalam beberapa bulan terakhir sehingga ini saham terus down trend walaupun ada investor lokal yg juga tampung ini barang. jd lebih baik wait and see dulu sampai nnt ace hardware kembali opening grai di Indonesia lewat manajemen $MAPI group yg punya citra platinum dlm membawa brand luar

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

ADAB

Kemarin ada seorang Part time trader,Equity Sales di salah satu Sekuritas mengulas tentang kesalahan penyebutan oleh seorang yang tampaknya pemula dalam menyebut kode Broker di akun IG nya.
Sedikit pembelaan disana dan lebih banyak yang menghakimi sampai ke hal -hal remeh lainnya.
Seharusnya tidak perlu berlebihan, karena faktanya tehnologi canggih sekelas AI pun bisa minta maaf atas kekeliruan yang dibuatnya.
Kenapa ini penting , karena saat ini banyak postingan yang menawarkan analisa saham berbasis AI, seolah ini cara cerdas dan paling mutakhir mensiasati pasar modal.Bahkan mungkin sebagian ada yang beranggapan AI memiliki kemampuan untuk menjelaskan segala hal tanpa membuka ruang berpikir kemungkinan adanya kelemahan yang sangat fundamental tetap bisa salah.
Ya , aplikasi canggih ini hanya menjalankan sesuai input yang diterimanya ,juga memiliki keterbatasan dari sisi waktu untuk Versi tertentu.
Artinya salah adalah hal wajar.
Kembali ke pembicaraan awal , kesalahan menjadi wajar selama bukan hal yang substansi dan tidak melanggar aturan menyampaikan pendapat di forum.
Salah menyebut XL dengan XC tidak harus berbalas olok -olok.
Sebagai contoh secanggih Chat GPT pun yang saat ini begitu dihornati dan dijadikan rujukan untuk membuat trading plan, menyajikan analisa tehnikal, menjadi basis aplikasi trading ,lewat kecerdasan jawaban atas berbagai macam pertanyaan bisa mengakui kesalahan penyebutan SB sebagai bukan broker dikarenakan keterbatasan bawaan seperti disebutkan diatas.
Sesederhana itu cara pandangnya,
Canggih,hebat , nyaris sempurnan bisa salah.
Sebelum ini juga menjadi sesuatu yang dianggap salah,ijinkan untuk mrnyampaikan disclaimer .
Jmo, cmiiw.



Untuk yang layak dihormati,
yang tetap bekerja tanpa diamati.
$ACES

Read more...
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ACES gk ada kehidupan

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ACES kalau 408 jebol udah deh sekian dan terimakasih

$ACES menunggu tembus 420 dengan volume.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$PWON titip sendal dulu 500 lot, lumayan 😁

$ACES menurut keyakinan saya harganya punya potensi bisa ke 500, tapi ini menurut saya ya bukan menurut market 😂

$SIDO cuman bisa nunggu dividend saja, enaknya tambah posisi di harga 500 🥳

Update porto dari seorang ritel kecil hari ini.

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

lagi cari2 saham fundamental bagus yang sedang sisiran

$ACES masuk ga ya?

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ACES cuan dkit gw langsung TP lgnsng pindahin ke $BJTM toh sama2 lelet

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ACES bagaimana ini 🤔

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ACES tidak ada tanda2 kehidupan

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$ACES rungkattt dehhhhhhh..........saham bagus ..cumaaa gak ada yang minatttttt cokkkkkkkk

imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$MAPI Saham Ritel Siklus Raksasa IHSG

Lanjutan dari postingan di External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

MAPI adalah saham ritel siklus terbesar di IHSG saat ini barengan dengan ERAA. Investor perlu memahami bedanya sektor ritel primer dan ritel siklus agar tidak salah dalam menentukan benchmark, soalnya kedua sektor itu meskipun sama-sama main di bisnis ritel tapi pola kerjanya beda. Ritel primer hidup dari kebutuhan harian, jadi demand-nya cenderung stabil, traffic lebih tahan banting, dan risiko utamanya biasanya di efisiensi operasional, persaingan harga, dan ekspansi jaringan. Ritel siklus hidup dari discretionary spending, jadi ketika daya beli melemah, konsumen bisa menunda belanja, langsung memukul penjualan, lalu fixed cost tetap menggigit. Karena itu, harga saham ritel siklus sering terlihat lebih liar, bukan karena bisnisnya jelek, tapi karena operating leverage-nya tinggi. MAPI ada di jantung ritel siklus, jadi investor yang membandingkan MAPI dengan benchmark ritel primer biasanya sedang menonton pertandingan bola dengan aturan basket. Dan di sinilah MAPI jadi menarik, dia raksasa, tetapi raksasa yang harus terus membuktikan bahwa skala dan ekosistemnya benar-benar menghasilkan daya tahan, bukan sekadar menumpuk kompleksitas. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau bicara skala, MAPI itu bukan pemain ritel, tetapi ekosistem ritel. Total aset Rp30,84 T per September 2025 menjadikannya yang terbesar di kumpulan emiten ritel dalam data ini, dan jaraknya tidak tipis, karena ACES hanya Rp8,15 T dan $LPPF Rp4,50 T. Dengan aset sebesar ini, MAPI punya ruang manuver yang lebih luas, mulai dari modal kerja, investasi, sampai pengelolaan portofolio brand yang besar. Lalu ada bukti yang lebih kasat mata, jaringan lebih dari 3.000 toko atau outlet di Indonesia dan Asia Tenggara. Sebagai pembanding, MDIY yang sedang ekspansif baru 1.154 gerai, FAST 695 gerai, jadi MAPI itu seperti punya peta kota sendiri, sementara yang lain punya beberapa distrik. Basis karyawan 31.971 orang juga menegaskan MAPI bukan sekadar banyak toko, tetapi banyak mesin operasional, dan ini jauh di atas $ACES 14.226 orang dan LPPF 7.473 orang. MAPI itu perusahaan yang bisa mengubah satu keputusan strategi menjadi perubahan nasib puluhan ribu orang, ini berarti skala, tetapi juga berarti risiko eksekusi.

Keunikan MAPI ada pada cara menangkap dompet konsumen dari banyak sisi sekaligus. Dia bukan hanya jualan baju, tetapi multi-segmen yang memadukan retail, department store, dan makanan-minuman. Di retail, ada pakaian seperti Zara, Mango, Cotton On, ada olahraga lewat ekosistem grup termasuk MAPA yang mengelola Planet Sports dan Foot Locker, ada mainan lewat Kidz Station, ada gadget lewat Digimap. Di department store, ada Sogo, Seibu, dan Galeries Lafayette yang secara karakter adalah anchor tenant, artinya bisa mempengaruhi traffic mal. Di makanan-minuman, lewat anak usaha MBA, MAPI mengelola Starbucks, Subway, Pizza Marzano, dan Krispy Kreme, ini kategori yang sering berfungsi sebagai traffic engine karena orang datang bukan cuma belanja, tapi juga nongkrong dan makan. Lalu ada hal yang membuat MAPI semakin berbeda, ada properti seperti Sunter Mall, ada toko buku seperti Kinokuniya, ada Foodhall sebagai pasar swalayan. Kombinasi ini membuat MAPI mirip kota mandiri, ketika satu sudut kota sepi, sudut lain masih bisa ramai, setidaknya secara teori. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Namun teori harus diuji dengan angka operasional, karena ritel siklus itu tidak kenal ampun soal kas. Revenue MAPI di 9M 2025 Rp30,03 T, ini besar dan menempatkan MAPI di papan atas, tetapi untuk konteks benchmark, ERAA masih lebih besar di revenue Rp52,36 T karena modelnya distributor gadget yang high ticket. Produktivitas MAPI Rp939,5 Juta per karyawan terlihat wajar untuk ekosistem lifestyle dan department store yang padat operasional, tetapi jauh di bawah ERAA dan ERAL yang bisa lebih dari Rp8.000 Juta per karyawan karena sifat barangnya mahal dan throughput tinggi. Ini bukan berarti MAPI kalah, ini berarti MAPI bermain di basket, ERAA bermain di sprint, metriknya memang tidak bisa disamakan mentah-mentah. Yang lebih krusial justru kesehatan kas terhadap beban utang. Rasio CFO terhadap utang MAPI 0,35, artinya arus kas operasionalnya hanya meng-cover sekitar 35% dari utang berbeban bunga dalam periode yang sama, dan ini jauh lebih lemah dibanding ACES 0,98 dan MAPA 0,97. Angka 0,35 itu bukan vonis, tapi alarm. Alarm bahwa MAPI harus sangat disiplin dalam mengelola modal kerja, biaya sewa, dan struktur pendanaan, karena operating leverage-nya tinggi dan siklus bisa berubah cepat.

Di titik ini, keunggulan MAPI terlihat nyata sekaligus bukan tanpa harga. Keunggulan pertama, portofolio merek eksklusif. Memegang merek seperti Apple, Zara, dan Starbucks memberi loyalitas pelanggan dan positioning premium yang biasanya lebih tahan terhadap perang diskon, dan juga memberi daya tawar terhadap pengelola mal. Keunggulan kedua, diversifikasi geografis. Ekspansi ke Vietnam, Filipina, Thailand, Singapura, Kamboja, sampai India membuat MAPI tidak sepenuhnya tergantung pada satu ekonomi domestik. Ini bisa jadi bantalan ketika satu negara melambat, meskipun tetap ada risiko manajemen lintas negara. Keunggulan ketiga, ekosistem terintegrasi. MAPI bisa menangkap belanja konsumen dari pakaian, sepatu, olahraga, sampai makanan-minuman, sehingga share of wallet lebih besar dibanding peritel single category. Dalam ritel siklus, punya banyak pintu masuk ke dompet konsumen itu penting, karena konsumen bisa mengurangi belanja fashion tapi masih bisa belanja kopi dan makanan, atau sebaliknya. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kelemahan MAPI juga harus dibaca dengan tajam dan objektif, karena ini yang menjelaskan kenapa pasar sering memberi diskon ke ritel siklus saat sentimen memburuk. Pertama, risiko kurs. Banyak merek internasional berarti ada komponen impor, biaya barang, royalti, atau supply chain yang terpapar USD dan EUR. Kalau Rupiah melemah, margin bisa tertekan jika penyesuaian harga tidak bisa secepat kenaikan biaya, apalagi ketika daya beli sedang sensitif. Kedua, liabilitas tinggi Rp14,63 T. Ini berarti beban bunga dan beban sewa signifikan. Dan di ritel siklus, biaya sewa itu seperti pajak yang harus dibayar walau traffic turun, jadi ketika siklus jelek, perusahaan dengan liabilitas besar akan lebih cepat terasa berat. Ketiga, kompleksitas eksekusi. Mengelola ribuan gerai, puluhan ribu karyawan, dan portofolio merek yang luas itu selalu ada risiko kebocoran, entah di inventory, shrinkage, promosi yang salah sasaran, atau biaya operasional yang melebar. Skala memberi daya tawar, tetapi skala juga memberi banyak titik rawan.

Bagian yang sering dianggap bonus tetapi sebenarnya bisa jadi penentu valuasi jangka panjang adalah hidden assets dan hidden gems. Di dalam grup, MAPA sering dianggap permata, karena secara kesehatan keuangan dan margin terlihat lebih baik daripada induknya, sehingga investor bisa melihat MAPA sebagai mesin laba yang lebih bersih di segmen active. Lalu ada hidden asset berupa properti investasi seperti Sunter Mall dan lahan strategis di Solo, Bandung, Bali, dengan estimasi nilai wajar Rp957,3 Miliar. Ini tidak otomatis langsung mengalir ke laba, tetapi memberi optionality, bisa jadi sumber monetisasi, refinancing, atau pembukaan nilai jika manajemen mengambil langkah korporasi. Penambahan entitas baru di India dan Filipina pada 2025 juga memberi sinyal MAPI bukan hanya mempertahankan kerajaan, tetapi sedang membangun mesin pertumbuhan baru di luar Asia Tenggara, dan ini bisa mengubah profil pertumbuhan jangka panjang, walau tentu risikonya tinggi karena masuk pasar baru itu butuh adaptasi. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Jadi MAPI itu raksasa ritel siklus yang dominan karena aset Rp30,84 T, jaringan lebih dari 3.000 gerai, dan 31.971 karyawan, dengan model bisnis yang unik karena menguasai lifestyle dari pakaian sampai kopi. Keunggulannya kuat, merek global, diversifikasi geografis, ekosistem terintegrasi, sehingga dia punya banyak cara untuk menangkap dompet konsumen. Namun kelemahannya juga nyata dan tidak boleh dipoles, risiko kurs karena ketergantungan pada merek internasional, liabilitas Rp14,63 T yang membuat beban pendanaan dan sewa berat, serta rasio CFO terhadap utang 0,35 yang mengingatkan bahwa raksasa pun harus disiplin menjaga kas. Jadi untuk investor, MAPI bukan saham yang dibaca dengan logika ritel primer, MAPI harus dibaca sebagai mesin operating leverage, saat daya beli kuat dia bisa melaju kencang, tapi saat daya beli turun dia harus mampu mengecilkan mesin dengan cepat supaya tetap sehat.

🏆 Status terbesar ritel ekosistem
🏙️ MAPI raja ekosistem lifestyle
📌 Ukuran menang lewat aset gerai karyawan
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

📊 Bukti dominasi September 2025
💰 Aset Rp30,84 T
🆚 ACES Rp8,15 T
🆚 LPPF Rp4,50 T
🏪 Gerai 3.000 lebih
🆚 MDIY 1.154
🆚 FAST 695
👥 Karyawan 31.971
🆚 ACES 14.226
🆚 LPPF 7.473

🧩 Mesin bisnis MAPI
🛍️ Retail multi-kategori
👕 Fashion Zara Mango Cotton On
🏀 Sports lewat MAPA Planet Sports Foot Locker
🧸 Kids Kidz Station
📱 Gadget Digimap
🏬 Department store Sogo Seibu Galeries Lafayette
🍩 F&B Starbucks Subway Pizza Marzano Krispy Kreme
🏢 Aset pendukung Sunter Mall Foodhall Kinokuniya
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

⚖️ Dibanding ritel lain
💵 Revenue 9M 2025 Rp30,03 T
🚀 ERAA lebih besar Rp52,36 T karena model distributor
🧮 Produktivitas Rp939,5 J per karyawan
⚡ ERAA ERAL jauh lebih tinggi karena barang bernilai tinggi
🏗️ Ekspansi gerai lebih kalem
🧨 MDIY paling agresif tambah 193 gerai
💧 CFO utang 0,35
🛡️ ACES 0,98 dan MAPA 0,97 lebih aman

✅ Kekuatan inti
🎟️ Lisensi merek global Apple Zara Starbucks
🧠 Diversifikasi kategori bikin tahan siklus
🌏 Jejak regional Asia Tenggara sampai India
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

⚠️ Titik rawan
💱 Sensitif USD EUR karena impor
🧱 Liabilitas Rp14,63 T beban bunga sewa

💎 Hidden angle
✨ MAPA lebih sehat dari induk
🏗️ Properti Sunter Mall dan lahan strategis nilai wajar estimasi Rp957,3 M
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/4

testestestes
imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Saham Ritel Siklus Terbesar di IHSG: $MAPI vs $ERAA

Lanjutan dari postingan di External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Saham ritel siklus terbesar di IHSG adalah MAPI dan ERAA. Dua nama ini sering bikin investor salah fokus, karena kelihatannya sama-sama ritel, padahal cara mereka menghasilkan uang dan cara mereka berdarah itu beda spesies. MAPI menang di wilayah kekuasaan, gerai, ekosistem, dan aset, jadi dia seperti pemilik kota yang punya banyak pintu masuk cuan. ERAA menang di arus uang yang lewat, revenue-nya segede arus kontainer di pelabuhan, tapi margin dan kasnya bisa berubah cepat kalau modal kerja dan siklus gadget tidak ramah. Di saat pasar lagi lemah, ritel siklus itu bukan soal siapa paling ramai di headline, tapi siapa yang paling cepat mengubah traffic jadi kas, lalu kas itu cukup untuk bertahan. Investor yang cuma lihat omzet biasanya baru sadar belakangan, omzet besar itu bisa datang bareng piutang besar, stok besar, dan kebutuhan pembiayaan besar. Investor yang cuma lihat jumlah gerai juga sering ketipu, karena gerai banyak itu berarti fixed cost banyak, dan fixed cost itu tidak peduli daya beli sedang seret. Jadi membaca ritel siklus wajib pisahkan dua definisi terbesar, terbesar karena ekosistem dan aset seperti MAPI, atau terbesar karena volume penjualan seperti ERAA. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau ukuran terbesar didefinisikan sebagai ekosistem, MAPI itu jelas pemilik panggung utama. Total aset MAPI Rp30,84 T, ini jauh di atas $ACES Rp8,15 T dan LPPF Rp4,50 T, jadi dari sisi neraca MAPI memang yang paling besar di ritel siklus gaya hidup. Jaringan gerainya juga masif, lebih dari 3.000 toko atau outlet di Indonesia dan Asia Tenggara, sementara MDIY yang lagi ekspansif baru 1.154 gerai. Skala organisasinya juga paling lebar, 31.971 karyawan, artinya MAPI itu bukan sekadar punya toko, tapi punya mesin operasional besar yang menggerakkan banyak format dan banyak merek sekaligus. Model bisnisnya pun bukan satu jalur, ada pakaian seperti Zara dan Mango, ada department store seperti Sogo dan Seibu, ada sport dan lifestyle, lalu ada makanan dan minuman lewat anak usaha seperti Starbucks, Subway, dan Genki Sushi. Ini penting, karena di ritel siklus, diversifikasi itu bisa jadi tameng ketika satu kategori melemah, misalnya fashion lesu tapi makanan dan minuman masih jalan, atau sebaliknya. Namun diversifikasi juga berarti kompleksitas, dan kompleksitas itu butuh biaya, butuh eksekusi, dan butuh disiplin mengelola inventori lintas kategori.

Kalau ukuran terbesar didefinisikan sebagai volume uang yang berputar, ERAA yang pegang mahkota. Revenue ERAA di 9M 2025 Rp52,36 T, hampir 2 kali revenue MAPI Rp30,03 T. Jadi kalau investor bicara siapa yang paling deras putaran uangnya di ritel siklus, jawabannya ERAA, bukan MAPI. Bisnisnya distributor dan peritel perangkat telekomunikasi seperti ponsel dan tablet lewat jaringan iBox dan Erafone, dan sifat bisnis gadget itu beda dari fashion dan department store. Gadget itu high ticket, jadi revenue per transaksi bisa tinggi, lalu revenue per karyawan juga biasanya tinggi, tapi volatilitasnya muncul lewat siklus produk, diskon harga, kurs, dan kebutuhan stok yang harus selalu relevan. Di ritel siklus, model seperti ERAA bisa terlihat sangat perkasa saat siklus gadget lagi bagus, tetapi bisa cepat tertekan kalau demand melambat sementara stok dan pembiayaan sudah terlanjur besar. Jadi definisi terbesar versi ERAA adalah arus transaksi, bukan luas wilayah fisik. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau MAPI dan ERAA disandingkan dengan ritel siklus lain, kontras skalanya langsung kelihatan. Dari sisi revenue 9M 2025, ERAA Rp52,36 T berada jauh di atas ACES Rp6,33 T dan MDIY Rp5,77 T, apalagi di atas pemain restoran yang biasanya lebih kecil omzetnya per emiten. Dari sisi jumlah gerai, MAPI dengan lebih dari 3.000 gerai melampaui MDIY 1.154, FAST 695, dan PZZA 583. Dari sisi laba bersih, MAPI Rp1,70 T masih unggul dari MAPA Rp1,14 T, sementara FAST justru rugi Rp243,9 M yang menggambarkan betapa ritel siklus bisa langsung tergelincir ketika traffic turun atau sentimen menghantam. Dan ada satu poin yang sering luput, pertumbuhan fisik paling agresif justru bukan MAPI atau ERAA, melainkan MDIY yang menambah 193 gerai. Artinya, ada pemain yang memilih strategi tekan gas lewat ekspansi titik jual, sementara raksasa ekosistem seperti MAPI bisa saja memilih optimasi portofolio merek dan format, dan raksasa omzet seperti ERAA bisa fokus ke throughput penjualan dan distribusi.

Keunggulan MAPI terlihat sangat jelas kalau investor melihatnya sebagai ekosistem. Pertama, diversifikasi luas, dari ujung kepala sampai ujung kaki, dari fashion sampai sepatu, dari sport sampai kafe, sehingga tidak tergantung satu segmen. Kedua, kekuatan merek global, banyak merek eksklusif dengan loyalitas pelanggan yang biasanya lebih tahan dibanding brand generik. Ketiga, skala ekonomi, ukuran besar memberi daya tawar lebih baik saat negosiasi sewa dan penempatan gerai, ini sangat penting di ritel mal karena biaya sewa bisa menentukan hidup-mati satu toko. Namun kelemahan MAPI juga bukan sekadar catatan kecil, total liabilitas Rp14,63 T berarti beban pendanaan dan kewajiban operasionalnya berat. Ditambah lagi ada risiko nilai tukar, karena banyak merek internasional berarti pembelian barang dan supply chain akan terpapar USD dan EUR, sehingga ketika kurs bergerak tidak bersahabat, margin bisa terkikis kalau penyesuaian harga terlambat atau permintaan tidak kuat. Jadi MAPI itu seperti mesin besar yang kuat, tetapi membawa ransel kewajiban yang besar juga, investor dapat stabilitas ekosistem, namun harus siap menerima risiko struktur neraca dan kurs. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Sementara keunggulan ERAA itu berada pada kecepatan dan volume. Revenue Rp52,36 T dalam 9 bulan berarti throughput penjualannya luar biasa besar, dan jaringan iBox serta Erafone membuatnya dekat dengan siklus upgrade konsumen. Di saat produk baru keluar dan demand tinggi, model bisnis seperti ini bisa memanen volume sangat cepat. Namun kelemahan model ini biasanya tidak muncul di headline, melainkan muncul di balik layar, yaitu kebutuhan modal kerja, persediaan yang harus selalu relevan, serta kompetisi diskon yang bisa memaksa margin menipis. Bagi investor, ERAA sering terasa seperti perusahaan yang sangat besar, tapi rasa risikonya juga besar karena perputaran barang cepat, harga cepat berubah, dan kebutuhan pembiayaan bisa naik turun mengikuti siklus. Jadi kalau MAPI itu raja wilayah, ERAA itu raja arus uang, dan raja arus uang selalu punya tantangan menjaga arus kas tetap sehat ketika arus barang makin deras.

Tren sektor ritel siklus secara umum memperjelas kenapa dua raksasa ini tetap harus waspada. Pelemahan daya beli terlihat nyata dari contoh FAST dan PZZA yang terpaksa menata ulang gerai dan efisiensi, bahkan FAST sampai mencatat rugi besar. Saat daya beli melemah, konsumen menahan belanja discretionary, lalu traffic turun, dan fixed cost yang besar langsung memakan laba. Di fase seperti ini, strategi growth dan strategi kontraksi sama-sama bisa benar, tergantung posisi perusahaan. MDIY menunjukkan agresif ekspansi, karena formatnya bisa menang lewat sebaran gerai dan value proposition yang kuat. Sebaliknya, pemain lain memilih konsolidasi gerai untuk menjaga profitabilitas. Investor yang membaca ritel siklus dengan benar akan melihat bukan sekadar siapa yang terbesar hari ini, tetapi siapa yang paling cepat menyesuaikan biaya, siapa yang paling cerdas mengelola stok, dan siapa yang paling disiplin menjaga neraca ketika siklus melawan. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

MAPI itu seperti wali kota di pusat perbelanjaan, menguasai wilayah yang luas, punya berbagai jenis toko, dan bisa mengatur ekosistemnya agar tidak bergantung pada satu sumber pendapatan. ERAA itu seperti pelabuhan utama, volume transaksi dan barangnya paling deras, sehingga terlihat dominan dari sisi revenue. Namun keduanya punya musuh yang sama, musim kemarau daya beli, ketika traffic menurun dan konsumen menunda belanja discretionary. Di musim seperti itu, ukuran besar bisa jadi keunggulan karena punya daya tawar dan diversifikasi, tetapi ukuran besar juga bisa jadi beban karena biaya tetap dan kewajiban lebih sulit dipangkas cepat. Jadi investor yang ingin menilai siapa ritel siklus terbesar dengan cara yang benar sebaiknya memegang dua definisi sekaligus, MAPI terbesar karena ekosistem dan aset Rp30,84 T dengan lebih dari 3.000 gerai dan 31.971 karyawan, ERAA terbesar karena revenue Rp52,36 T yang hampir 2 kali MAPI. Setelah itu barulah investor menilai yang lebih penting, memilih kerajaan yang luas, atau memilih pelabuhan yang deras, sambil tetap menghitung risiko liabilitas Rp14,63 T di MAPI dan risiko siklus modal kerja di ERAA. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

🧭 Ritel siklus terbesar IHSG
🏙️ MAPI raksasa ekosistem
🚢 ERAA raksasa perputaran uang
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

🏙️ MAPI dominasi skala fisik
💰 Aset Rp30,84 T
🏪 Gerai 3.000 lebih
👥 Karyawan 31.971
🧩 Mesin bisnis
👕 Zara Mango
🏬 Sogo Seibu
☕ Starbucks Subway Genki Sushi

🚢 ERAA dominasi revenue
💵 Revenue 9M 2025 Rp52,36 T
📈 Hampir 2 kali MAPI Rp30,03 T
📱 Core iBox Erafone

📊 Pembanding
🪜 Revenue gap
🥇 ERAA Rp52,36 T
🆚 ACES Rp6,33 T
🆚 MDIY Rp5,77 T
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

🏁 Profit
🏆 MAPI laba Rp1,70 T
🆚 MAPA Rp1,14 T
🧯 FAST rugi Rp243,9 M

⚠️ Risiko kunci
🧱 MAPI liabilitas Rp14,63 T
💱 MAPI sensitif USD EUR
🌵 Sektor ritel kena daya beli turun
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/5

testestestestes
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy