Persamaan $BBKP dan $BACA Part 2
Di postingan sebelumnya kita sudah melihat apa persamaan direksi BBKP dan BACA.
http://bit.ly/3SGL5ui
DI postingan kali ini mari kita lihat apa lagi persamaan kedua bank ini.
BBKP dan BACA dulu pernah menjadi saham bank favorite warga Stockbit. Alih - alih beli saham $BBCA $BBRI $BBNI, banyak warga stockbit memilih all in BACA dan BBKP di harga >400. Tidak ada salahnya sih all in BACA BBKP di harga >400. All in di harga >1000 pun tidak masalah yang penting dilakukan secara sadar tanpa paksaan dan pengaruh dari siapapun. Kalau trader, tinggal cutloss aja begitu minus 2-5% lalu move on cari saham lain yang hype. Kalau investor long-term, tinggal hold aja selama 20-50 tahun, paling juga nanti bisa cuan 1-5% kalau hold nya selama itu. Yang masalah itu kalau masih galau, antara mau jadi trader atau investor very long term. Entry pakai aliran trader buy on breakout resistance 800, Nyangkutnya pakai aliran hold forever cuan 1% cabut. Ini lah yang merusak time-line Stockbit. Nyangkut dan cutloss, bukannya introspeksi malah cari kambing hitam. Padahal kambing pirang lebih enak daging nya.
Lanjut ke persamaan BBKP dan BACA.
2. Dalam setahun terakhir keduanya sudah anjlok lebih dari 50%
Saham yang sudah anjlok lebih dari 50% dalam jangka waktu 1 tahun biasanya para investornya yang haka pucuk sudah pasrah dan nrimo. Istilah kerennya sudah masuk tahap acceptance. Kalau anjloknya baru 10-25%, itu para investornya rata - rata masih tahap denial dan anger. Istilah kerennya, fase senggol bacok. Bukti lain dari fase acceptance para investor adalah saham tersebut tidak lagi menjadi trending topic di streamline. Sudah jarang saya lihat investor bahas saham BACA dan BBKP. Tertutupi oleh saham - saham IPO.
3. Kedua saham ini harganya sudah di bawah 200 rupiah.
Saham yang harganya di bawah 200 rupiah lebih mudah di pompom pakai ilusi harga murah padahal secara valuasi mungkin masih mahal. Investor awam pada umumnya lebih mudah dibujuk untuk beli saham harga <200 meskipun PBV sudah di atas 3. Tinggal pamer Portofolio lalu bilang "beli saham ini harganya masih di bawah 200, wow, murah banget."
4. BBKP dan BACA masih punya potensi digoreng pakai isu tambah modal inti dan isu akusisi-merger. Apalagi zaman now makin susah dapat izin pendirian bank baru. Kalau mau mendirikan bank baru di Indonesia maka modal awal minimum adalah 10 Triliun. Peraturan OJK (POJK) Nomor 12 /POJK.03/2021 tentang Bank Umum.
Dalam aturan tersebut dinyatakan bagi pendirian Bank Berbadan Hukum Indonesia (BHI) menetapkan syarat modal minimal Rp 10 triliun. Nilai ini naik tinggi dibandingkan aturan sebelumnya yakni Rp 3 triliun. Jadi daripada dirikan bank baru, lebih baik akuisisi bank kecil lama yang modal intinya di bawah 3 Triliun. Oleh karena itu menurut saya BBKP dan BACA meskipun saat ini terpuruk, masih punya kesempatan rebound di masa depan.
Apalagi saat ini juga masih ada moratorium Fintech dan moratorium Manajer Investasi sesuai dengan POJK 77 dan Surat Keputusan Anggota Dewan Komisioner OJK No. KEP-72/D.04/2021. Ini akibat terlalu banyak pinjol pencuri data pribadi nasabah dan akibat terlalu banyak tukang goreng saham berkedok manajer investasi sehingga OJK melakukan moratorium. Efeknya adalah old player perbankan dan pinjol diuntungkan karena tidak ada saingan baru dalam waktu dekat.
Bank lama lebih memilih konsolidasi dengan sesama para pemain lama ketimbang mulai dari nol.
Untuk cerita tentang kisah goreng - goreng saham bisa cek artikel lama tentang Narada dan WanaArtha di sini
http://bit.ly/3vJyhtk
http://bit.ly/3ddMFDH
Disclaimer: http://bit.ly/3bLj4Oc
1/2

