imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

THE BEAUTY OF ENCEK GLODOK: THE SERIES (Part 4)

PENANGKAP PISAU JATUH: THE CONTRARIAN AND THE LAW OF REVERSE TO THE MEAN

Mana yang lebih baik, beli saham yang sedang naik atau beli saham yang sedang turun? Ini juga salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan dan jadi perdebatan di forum-forum saham.

Untuk pertanyaan ini, encek glodok lebih memilih untuk menangkap pisau jatuh dibanding burung terbang. Kakdr way memilih saham-saham yang sudah jatuh setidaknya 50% dari harga tertingginya. Dengan kata lain, pemilik toko kelontong ini adalah seorang investor contrarian dan bukan trader trend follower.

Tulisan ini akan membahas mengenai perbedaan strategi yang kebanyakan diterapkan oleh seorang trader dan seorang investor. Karena tulisan ini merupakan bagian dari serial the beauty of encek glodok, pembahasan pada tulisan ini akan lebih dititik beratkan pada kelebihan yang dimiliki strategy contrarian ini.

Bagi kebanyakan trader, kemana harga bergerak adalah acuan dalam keputusan untuk membeli ataupun menjual saham. Bagi mereka harga dan volume perdagangan suatu saham merupakan rujukan utama, sementara kondisi fundamental perusahaan tidak menjadi pertimbangan utama dalam keputusan mereka (itupun kalau memang masuk pertimbangan).

Seorang trader memiliki asumsi bahwa harga (pasar) selalu benar (market is always right). Harga pasar sudah memperhitungkan (discountI) semua informasi yang ada, termasuk faktor fundamental perusahaan.

Selain itu, seorang trader juga percaya bahwa harga saham itu akan bergerak mengikuti trend dan ada momentumnya. Harga saham yang naik cenderung akan terus naik, sebaliknya harga yang turun akan cenderung terus turun atau sulit untuk naik. Karena itu, dalam trading ada yang namanya support dan resistance.

Dengan asumsi dan kepercayaan tersebut, sebagian besar trader adalah seorang trend follower: membeli saham yang harganya sedang naik dan menghindari yang sedang turun.

Konsekuensi logis dari itu semua, para trader punya aturan cut loss (CL) guna melindungi modal mereka. Karena mereka membeli saham berdasarkan asumsi/kepercayaan di atas, trader yang tidak memiliki atau mematuhi aturan CL akan sangat berbahaya. Tidak jarang, banyak trader pemula yang tidak disiplin dengan aturan CL ini harus nyangkut di tiang gantungan.

Sebaliknya, investor memiliki asumsi dan kepercayaan yang berbeda dengan para trader. Bagi investor, harga di pasar bukanlah rujukan yang tepat untuk menilai harga sebenarnya/nilai dari sebuah saham.

Rujukkan utama para investor adalah kondisi fundamental dari perusahaan, dan bukan fluktuasi harga di pasar. Ketika membeli saham, investor memanfaatkan adanya diskrepansi antara harga di pasar dan nilai fundamental dari perusahaan yang sahamnya sedang jadi fokus perhatian mereka.

Investor yang baik adalah mereka yang bisa memanfaatkan sifat moody dan kepribadian labil dari Mr. Market. The Dean of Wallstreet, Benjamin Graham mengatakan: Mr. Markets job is to provide you with prices; your job is to decide whether it is to your advantage to act on them. You have not to trade with him just because he constantly begs you to.

Serupa dengan itu, Mantan menantu Warren Buffett, Mary Buffett menjelaskan bahwa Warren Buffett got super rich not by playing the stock market but by playing the people and institutons who play the stock market.

Oleh karena itu, jika harga yang ditawarkan oleh pasar lebih tinggi dari perkiraan nilai yang dianggap wajar atau belum masuk margin of safety dari perhitungan si investor, dia tidak akan membelinya. Sebaliknya, jika harga tersebut lebih rendah dari yang dia perkirakan, dia akan membelinya, walaupun harga saham tersebut sedang mengalami trend yang menurun.

Bagaimana jika setelah dia beli harga sahamnya teryata terus mengalami penurunan. Bukannya CL seperti trader, biasanya seorang akan terus membelinya (average down) jika dianggap memang tidak ada perubahaan dari fundamental perusahaan.

Seorang investor percaya bahwa penurunan tersebut hanya lah sementara, karena dia percaya pada jangka panjang harga akan mengikuti faktor fundamentalnya. Sebagaimana diungkapkan oleh Graham: in the short run, the market is a voting machine, but in the long run it is a weighing machine.

Berdasarkan penjelasan mengenai perbedaan bagaimana cara trader dan investor membeli saham di atas, pertanyaannya kemudian pastinya adalah mana di antara cara tersebut yang paling baik?

Lalu apa hubungannya perbedaan cara tersebut dengan pembahasan pisau jatuh, contrarian dan reverse to the mean?

Kalau mau tahu jawaban dan penasaran sama lanjutan tulisan ini Please Stay tuned di sini.

Tabik

NB:
- Tulisan ini hanya iseng dan buat catatan pribadi gue saja. Jika dikira berguna silahkan baca, jika merasa terganggu dan jelek, silahkan skip, block atau unfollow gue.
- Waktu update tulisan ini dilakukan tidak secara regular, tetapi tergantung dari mood dan kesediaan waktu gue.
- Tulisan ini bukanlah ajakan untuk meniru apa yang dilakukan oleh kakdr way. Karena seperti telah ditulis di teaser series tulisan ini, strategy tersebut mungkin hanya cocok untuk kakdr saja, dan tidak untuk orang lain. Tulisan ini diharapkan bisa jadi pelajaran untuk elu dalam mencari strategy investasi/trading saham lu sendiri.

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy