THE BEAUTY OF ENCEK GLODOK: THE SERIES (Part 2)

TOKO KELONTONG: DIVERSIFICATION AND PROBABILITY IN STOCK MARKET

Berapa banyak jumlah saham yang sebaiknya ada dalam portofolio? Ini adalah pertanyaan yang sering kali ditanyakan oleh banyak orang. Permasalahan ini juga sering jadi perdebatan dan telah ditulis oleh banyak suhu-suhu investasi, termasuk yang ada di forum stockbit ini.

Inti yang menjadi perdebatannya adalah apakah lebih baik concentrated portfolio (portofolio yang terkonsentrasi pada sedikit saham) atau diversified portfolio (portofolio yang terdiversifikasi ke banyak saham)?

Dengan menganalisa strategi toko kelontong dari encek glodok, tulisan ini akan mendiskusikan masing-masing pandangan yang menjadi perdebatan terkait dengan banyaknya jumlah saham yang sebaiknya ada pada portofolio seseorang.

Gue berpendapat bahwa kedua pandangan tersebut, sebenarnya benar dan baik. Masing-masing mempunyai argumen yang kuat dan valid. Bagi gue, concentrated portfolio ataupun diversified portfolio ini lebih pada persoalan strategy investasi dan kemampuan pemenuhan prasyarat (requirement) dari masing-masing strategy tersebut.

Meskipun demikian, karena tulisan ini membahas tentang “the beauty of encek glodok” pembahasan akan lebih banyak dilakukan dari sisi portofolio yang terdiversifikasi secara luas (wide- diversification), ala toko kelontong encek glodok.

Let’s start the discussion !

Terkait dengan masalah diversifikasi ini, investor terkemuka dunia, Warren Buffet pernah mengatakan "diversification is protection against ignorance. It makes little sense if you know what you are doing."

Andrew Carnegie juga mengatakan “ Concentrate your energy, thought and capital exclusively upon the business in which you are engaged... 'Don't put all your eggs in one basket' is all wrong. I tell you 'put all your eggs in one basket, and then watch that basket.'

Beberapa peryataan tentang concentrated portfolio tersebut BENAR DAN GUE SETUJU SEKALI. Gue pun menyarankan, kalau elu memang mau benar-benar belajar dan menekuni berinvestasi saham di pasar modal secara mandiri/dilakukan sendiri, baiknya memiliki concentrated portfolio.

Jika kita memang mengerti dan telah memiliki sistem stock picking yang baik, memang sebaiknya kita hanya memiliki sedikit saham saja dalam portofolio lu agar bisa mampu bekinerja baik dan mengalahkan pasar.

Secara logika saja, kalau kita sudah tahu bahwa saham berikutnya yg akan kita beli memiliki potensi keuntungan yg lebih rendah dari saham yg sebelumnya telah kita beli (bukan best ideas kita), buat apa kita membeli/memperbanyak jumlah saham di portofolio kita. Jumlah saham yang banyak juga akan menyulitkan kita untuk mengelola dan mengawasi perkembangan dari tiap saham yang ada di portofolio.

Tapi permasalahannya bukan pada logika tersebut, permasalahan sesunggunya adalah pada prasyarat atau kemampuannya dalam memilih dan mengawasi perkembangan saham-saham tersebut. Dari peryataan Buffet, misalnya, ada kalimat “IF YOU KNOW WHAT YOU ARE DOING”.

Banyak orang langsung saja meniru gaya investasi buffet yg sangat terkonsentrasi, tapi tidak/belum memiliki pengetahuan dalam menganalisa perusahaan, menilai management, menaksir harganya dan memiliki kesabarannya/emosinya sebaik buffet. Ini saya kira, kenapa banyak investor baru yang gagal portfolionya karena menerapkan portfolio yg sangat terkonsentrasi.

Selain itu, pilihan seberapa luas diversifikasi juga dipengaruhi strategy investasi yang dilakukan oleh si investor. Bagi beberapa investor, diversification is a matter of strategy rather than choice. William Browne, misalnya, pernah mengatakan “I chose to diversify because I am not certain which are my 10 best holdings and nothing is sure in the future."

Serupa dengan itu, Walter Schloss juga pernah menjelaskan alasan kenapa dia memiliki jumlah saham yang banyak pada portfolio dan tidak memiliki strategy yang sama dengan Buffet:

“I always held 50 to 100 stocks at any given time because it would have been very stressful if one particular stock had turned against me. Psychologically, I am just built differently than Warren [Buffett]. I see that there are many people trying to be like Warren, but they should take note that he is not only a good analyst; he is also a good judge of people and businesses. I know my limitations, so I’d rather invest in the way I am most comfortable with.”

Pendapat Schloss di atas juga sebenarnya dapat kita hubungkan dengan strategy investasi yang dijalankan olehnya. Sama seperti Benjamin Graham, Big Walter juga memiliki strategy investasi “(Deep) value investing”, yaitu mencari saham-saham sangat murah, salah satunya dengan cara valuasi net-nets atau low pbv.

Investor-investor yang beraliran deep value investing ini umumnya jarang sekali memilih untuk hanya punya sedikit saham di portfolio nya (portfolio yg terkonsentrasi), sebab hal itu akan sangat riskan sekali.

Kenapa demikian? Dan apa hubungan strategy ini dengan toko kelontong si encek glodok? Semua itu akan kita bahas pada lanjutan tulisan “the beauty of encek glodok” part 2 ini.

So Stay Tuned…Tabik

NB:
- Tulisan ini hanya iseng dan buat catatan pribadi gue saja. Jika dikira berguna silahkan baca, jika merasa terganggu dan jelek, silahkan skip, block atau unfollow gue.
- Waktu update tulisan ini dilakukan tidak secara regular, tetapi tergantung dari mood dan kesediaan waktu gue.
- Tulisan ini bukanlah ajakan untuk meniru apa yang dilakukan oleh kakdr way. Karena seperti telah ditulis di teaser series tulisan ini, strategy tersebut mungkin hanya cocok untuk kakdr saja, dan tidak untuk orang lain. Tulisan ini diharapkan bisa jadi pelajaran untuk elu dalam mencari strategy investasi/trading saham lu sendiri.

Read more...