Arjuna vs Resi Bisma : @ WAR (War as Received)
Sangkakala berbunyi.
LK Q3 $ITMG barusan keluar.
Para prajurit meniup terompet tanduk, memukul tambur dan genderang di seluruh penjuru Hastina.
Arjuna keluar dari tenda Pandawa mengapit Gandiwa-nya. Tatapannya mengingatkan kita akan debut Al Pacino saat memasuki bar dalam misi menembak Solozzo. Ia mengangguk kepada Kresna, mantap menjejakkan kaki di atas kereta kuda. Lima huruf kapital menghiasi sisi samping kanan kereta dengan 2 simbol energi api di atas huruf N. Sisi kiri tercantum Resources : 1,4 Bio Tonne, solar cell, dan beberapa symbol EBT dicoret silang. Body belakang dihiasi 3 huruf besar-besar : I dan M, mengapit T di tengah ditambah 2 nyala api yang khas.
Untuk membuang keraguan Arjuna, Kresna telah membangkitkan kembali peristiwa Dursasana merenggut pakaian Drupadi di muka semua orang, termasuk di depan Bisma. Pembiaran adalah Kejahatan, kecam Kresna.
"Aku adalah kematian bagi semua yg hadir di sini. Bahkan jika kau tidak mengangkat senjata, aku akan tetap membinasakan mereka semua," tegas Kresna, yang dapat merangkap Janardana (juru selamat umat manusia. Kresna adalah titisan Vishnu, by the way.
Di sisi Kurawa, Resi Bisma (selanjutnya disebut Bisma saja untuk memudahkan lidah dan menghemat mata kita), mengenakan perisai putih mengkilat. Keretanyanya dihiasi simbol matahari dan tanah, garis lengkung, dan warna kuning dan coklat kemerahan. DI sudut kiri bawah terpampang logo PT KAI. Janggutnya putihnya terjuntai menutupi pin yang terjahit sempurna di dada, yang kalau dibaca dari kiri ke kanan : ‘beyond coal’.
Semua orang minggir memberikan jalan. Para pawang hujan menonton di perimeter ikut-ikutan menyukseskan pertempuran 2 ksatria panahan terbaik dunia.
Arjuna dan Bisma kini berhadap-hadapan di tengah Padang Kurusetra.
Gladi Resik kemarin, panah pertama gontok-gontokan GPM sama kuat di 33 %. Jadi sudah gak boleh dikeluarkan lagi. Skor seri.
Tanpa banyak seremoni, Arjuna mengarahkan panahnya ke tarif KAI Tanjung Enim - Tarahan yang sudah melonjak 2 kali lipat dari 2007 (IPO ITMG) dari Rp. 230,- per ton per km, sekarang sudah di Rp. 493,- per ton per km. Tarif KAI Tanjung Enim – Kertapati naik 74 % dari ke Rp. 391/ton/km ke Rp. 680.
Kasir kereta Bisma menghindari panah yang seolah dilontarkan setengah hati. Peningkatan tarif KAI memang terlihat besar jika dilihat dari per ton per km saja. Namun jika dilihat dari persentase terhadap COGS, hanya naik 4 % dari 29 % ke 33 % per Q3 2021. Kalau Total COGS vs Sales $PTBA, malah termaintain di 60 %. Dalam kurun waktu puluhan tahun, PTBA tidak perlu menanggung biaya penyusutan media transportasi (kereta api) layaknya ITMG.
Panah pertama Arjuna missed, hanya menyentuh debu kereta Bisma.
Bisma menyerang balik 2 komponen biaya terbesar ITMG. Stripping cost dan transportation yang mendekati 70 % dari COGS, belum bicara penyusutan. Ya, biaya transportasi ITMG harusnya juga mengikutsertakan penyusutan kendaraan. Besarnya COGS dapat dilihat awal-awal ITMG IPO, saat Neracanya masih belum ternoda.
Arjuna tidak bisa mengelak. Panah Bisma mengenai jari-jari kereta Arjuna.
Panah kedua Arjuna menyerang titik lemah PTBA di banyaknya porsi domestik.
Kenaikan batubara tidak sepenuhnya dinikmati PTBA.
Bisma membalas bahwa porsi ekspor per Q3 saja (Juli – September) sudah berada di 63 %. Saat indeks naik, PTBA dengan mudah menggeser porsi volume ekspor lebih banyak. Demikian sebaliknya. Dan saat batubara sedang berada di titik nadir di Q4 2020, PTBA masih profit, sementara ITMG rugi.
Bisma berbalik mengarahkan panahnya ke DMO 20 % ITMG. Belum terpenuhinya porsi DMO akan mengakibatkan ITMG harus mengorbankan marjinnya sedikit lebih banyak di H2. Arjuna berkelit bahwa porsi DMO sudah terpenuhi 20 % dan kekurangan dapat tertutupi dengan porsi 21 % yang belum terjual.
Kedua panah bertemu di tengah dan rontok bersamaan. Sama kuat.
Bisma mengarahkan panah sekadar menghabiskan giliran, dengan mengutip CLK ITMG.
“Berdasarkan perjanjian jasa pemasaran tertanggal 31 Mei 2012, IMM, TCM, KTD, JBG, dan Bharinto akan memberikan imbalan kepada Banpu Public Company Limited atas jasa pemasaran sebesar 1,5% dari penjualan kotor ekspor batubara dari 1 Januari 2012. Perjanjian ini berlaku sejak tahun 2012 dan akan diperpanjang secara otomatis sesuai dengan ketentuan yang sama.”
Satu panah ngasal lagi :
“Berdasarkan perjanjian jasa konsultasi lindung nilai tertanggal 1 Juni 2021, TCM akan memberikan imbalan kepada Banpu Public Company Limited atas jasa konsultasi derivatif sebesar US$0,03 per ton batubara yang diperdagangkan oleh Banpu Public Company Limited atas nama TCM. Perjanjian ini berlaku sejak tanggal 1 Juni 2021 sampai dengan 31 Mei 2022. Sampai dengan tanggal 30 September 2021, TCM belum menggunakan jasa konsultasi tersebut.”
Kresna melarikan kereta ke sudut yang sedikit berbeda, sembari Arjuna memikirkan arah panah berikutnya.
Tarif Pajak PPh PTBA telah turun dari 30 % ke 28 % di 2009, ke 25 % di 2010, dan tahun 2020 sudah sama dengan ITMG. PTBA memiliki Piutang Tak Tertagih, tapi nilainya kecil dan sudah ada skema cicilan dari PLTU milik bersama dengan PLN tersebut.
Arjuna mengarahkan panah ketiga ke pabrik DME yang akan dibangun. Dia sudah menunggu apakah Bisma akan menggunakan berita-berita MoU yang beberapa bulan sekali menghiasai berita tapi tidak kunjung terwujud.
Yang tidak diantisipasi Arjuna adalah : Bisma memiliki sesuatu yang berbeda. PTBA tentu saja menyambut baik komitmen investor DME (Air Products, Pertamina, dan investor baru yang telah berhasil dilobby Presiden), namun seandainya semuanya tidak kunjung terwujud, Pemerintah sedang menyiapkan aturan pembebasan royalty untuk semua perusahaan batubara yang melakukan hilirisasi. Dengan rata-rata royalty sekitar 13,5 % di mana actual royalty setiap tahunnya PTBA rata-rata di sekitar 10 % dari Sales atau sekitar 1 T, investasi Rp. 1,3 T selama 20 tahun tidak lagi memberatkan Capex. Bisma dengan mudah mematahkan anak panah Arjuna sedetik setelah mencapai klimaks.
Arjuna sadar Bisma bisa balik menyerang ketersediaan cadangan kalori rendah ITMG dan tambang-tambang yang masih belum beroperasi. Pembukaan tambang-tambang yang belum beroperasi akan mengkonsumsi biaya yang nilainya bahkan lebih besar dari capex setahun DME PTBA.
Malam sebelumnya, saat Pandawa menghadap ke tendanya, Bisma sendiri yang membocorkan kelemahannya kepada cucu kesayangan sekaligus lawan yang siap menghabisinya esok hari.
“...ketahuilah pantanganku ini, bahwa aku tidak akan menyerang seseorang yang telah membuang senjata, juga yang terjatuh dari keretanya. Aku juga tidak akan menyerang mereka yang senjatanya terlepas dari tangan, tidak akan menyerang orang yang bendera lambang kebesarannya hancur, orang yang melarikan diri, orang dalam keadaan ketakutan, orang yang takluk dan mengatakan bahwa ia menyerah, dan aku pun tidak akan menyerang seorang wanita, juga seseorang yang namanya seperti wanita, orang yang lemah dan tak mampu menjaga diri, orang yang hanya memiliki seorang anak lelaki, ataupun orang yang sedang mabuk. Dengan itu semua aku enggan bertarung...”
Arjuna tahu pada akhirnya, dia harus mengambil senjata pamungkasnya, panah yang tidak pernah terbayangkan akan dia gunakan untuk menghabisi Kakeknya sendiri.
Saat Panah Pasupati diangkat, Guntur memenuhi Padang Kurusetra. Satu panah Pasupati melahirkan 1000 anak panah bagaikan dividen-dividen ITMG.
Dividen PTBA tahun 2020 yang hanya 35 % terlihat inferior. Sementara ITMG hampir selalu membayarkan 100 % laba, meskipun Q4 2020 menderita rugi.
Namun, Bisma adalah Dewa Perang dalam arti sesungguhnya. Yudhistira pernah mengatakan tidak ada yang sanggup menaklukkan Bisma dalam pertempuran, bahkan apabila laskar Dewa dan laskar Asura menggabungkan kekuatan dan dipimpin oleh Indra, Sang Dewa Perang. Saking saktinya, Bisma memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki siapapun : Bisma dapat menentukan waktu kematiannya sendiri.
Bisma mengangkat busurnya, membidik Net Profit ITMG.
ITMG boleh memiliki kalori setinggi 6300 atau lebih, boleh punya dividen besar, tapi pada akhir hari, seperti seluruh perusahaan di dunia, yang penting adalah berapa Net Profit Margin yang dapat dihasilkan dari setiap ton batubara yang dijual. Dalam seluruh sejarah batubara, tidak ada perusahaan yang secara konsisten menghasilkan laba seperti PTBA.
40 - 50 % porsi local juga berarti PTBA dapat lebih leluasa menaikkan porsi ekspor. Tahun 2024 saat produksi PTBA mencapai 70 juta ton atau 2 kali lipat dari sekarang, otomatis porsi yang sekarang 50 % akan berkurang jadi 25 %, dan PTBA akan leluasa merambah ke mancanegara menaikkan ASP. ASP naik, COGS tetap, laba melonjak.
Q3 2021 saja, NPM per ton PTBA telah mencapai : Rp. 373.000 per ton, tertinggi sepanjang sejarah perusahaan batubara. Sementara Accounting Manager ITMG masih menghitung-hitung di sekitar Rp. 320.000 per ton.
Panah Bisma bukan saja menghalau mundur Pasupati, tapi merobek perisai Arjuna. Sang cucu kesayangan sempoyongan, hampir terjatuh dari kereta, seandainya bukan karena keahlian Kresna mengendalikan kuda. Kepercayaan dirinya terkikis. Kenangan buruk tragedy ibu jari kanan Bambang Palgunadi melintas di pikirannya. Hanya karena Resi Durna memanjakannya lah, dan bukan karena murni kemampuan, dia bisa menjadi pemanah terbaik pada generasinya.
Kresna berpaling. Meskipun Arjuna telah kembali berdiri tegak dengan kuda-kuda dan Gandiwa seperti sediakala, dia memahami kekalutan pikiran Arjuna.
Semua orang tahu ke mana anak panah terakhir Bisma akan diarahkan.
Srikandi beranjak mendekati Yudhistira.
Tiba-tiba petir menggelegar untuk kedua kalinya. Gerimis turun. Pawang hujan terkejut, “lho... kok bisa?”
Arjuna dan Bisma masih saling bertatapan. Bagaikan Ganryu bersiaga dengan nodachi siap melontarkan potongan burung Layang-layang, menatap kebekuan mata Musashi bersama dayung panjangnya.
Langit mendadak terkuak.
Sebuah benda menyerupai kitab turun melintasi Padang Kurusetra, begitu cepat, menuju arah Selatan. Tidak ada manusia yang sanggup membacanya, kecuali Kresna.
“Apakah itu pertanda, Kakang ?“ tanya Arjuna.
“Akhir peperangan telah dekat,” angguk Kresna.
“Kalau begitu, apa yang mesti kita tunggu?” tanya Arjuna. Bisma saja sudah sesusah ini. Masih ada Adipati Karna dengan senjata Kunta-nya.
Srikandi sudah tidak sabaran. “Turunin aku Kakak,” rengek Srikandi. Kresna adalah kakak kandung Srikandi.
“Sebentar,” tukas Kresna.
Yudhistira ikut mempertanyakan keputusan Kresna Srikandi tidak boleh turun. Situasi Arjuna sudah di pojokan, hanya bergantung pada belas kasihan Bisma.
“Apa lagi yang ditunggu, Janardana?” tanya Yudhistira dengan emosi yang jarang terlihat.
Dengan hati-hati Kresna mengurai satu demi satu file pdf yang melintas di langit dan menerjemahkannya kepada Arjuna.
Mulut Kresna komat-kamit mengucapkan sesuatu,
“Tunggu…,” bisiknya. Dilanjutkan satu kata dalam bahasa Sanskerta :
...
....
“elkakiuempat.”