Cara Menebak Titik Harga Tertinggi Suatu Saham

Tadi pagi ketika cek market IHSG bergerak naik turun tipis sekali kaya potongan daging sapi di Yoshinoya.

Akhir hari perdagangan, saya lihat IHSG juga meningkat cuma +0.27%. Dari ngelihat kenaikan IHSG tidak ada yang saya rasa spesial.

Selanjutnya iseng melihat portofolio tiba - tiba saya kaget saldo porto saya meningkat lumayan hari ini. Ternyata $TBLA yang saya kumpulkan di tahun lalu tiba-tiba hijau dengan saldo lumayan dan $ITMG tiba-tiba saldonya meningkat cukup signifikan.

Setelah saya cek ternyata TBLA hari ini masih bisa melanjutkan penguatannya hingga melewati angka 805 yang merupakan saldo average saya SEBELUM wabah covid-19.

Saya jadi ingat sebelum COVID-19, TBLA saya floating profit diatas 20% dalam kurang lebih setahun saya pegang. (saat itu TBLA sempat menyentuh 975 seingat saya di Desember 2019. Dalam hitungan bulan profit itu menghilang dan berubah menjadi hingga minus 50% hanya dalam waktu 3 bulan.

Ini berarti jika kita memperhitungkan floating profit saya ketika itu saya sempat mengalami penurunan dana di TBLA hingga 70% di bulan maret 2020. 5 bulan berselang di Agustus 2020 tiba-tiba investasi di TBLA saya sudah kembali menjadi hijau lumayan (karena tentunya saya melakukan average down ketika harga murah kemarin). Tapi tetap saja harga per hari ini sudah diatas harga average saya sebelum COVID-19.

Kenapa saya tidak melakukan cut loss di TBLA ketika penurunan besar? karena dari awal saya memang tidak berniat menjual TBLA saya sebelum mencapai target harga jual saya. Jadi ketika turun tajam saya tetap bisa tenang dan malah sibuk terus melakukan average down untuk saham-saham saya. Karena saya tahu barang apa yang saya beli dan kualitas dari barang ini yang bagus walau tidak sempurna (biaya bunga hutang yang besar satu-satunya cacat di perusahaan ini).

Untuk yang ingin tahu analisa saya terhadap TBLA bisa baca di tutorial value investing yang pernah saya share di link https://bit.ly/36UdVje

Begitu juga halnya di ITMG. Tampaknya banyak orang tahu, bahwa saya sangat menyukai emiten ini dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya. Ketika IHSG hancur maret kemarin banyak yang memberikan nasihat kepada saya untuk cut loss di saham ini. Bahkan ada yang kirim message ke saya bahwa harga coal akan turun dibawah 40 usd, coal akan hancur ITMG akan dibawah 5rb. Yang sayangnya itu tidak terjadi, karena saya tentu senang hati membeli saham yang rutin bagi dividen minimal 1000 pertahun dengan harga 5.000 per lembar.

Untuk yang ingin tahu analisa saya terhadap ITMG bisa baca di link https://bit.ly/2XNeA2v

Kenaikan dua saham ini entah kenapa membuat saya banyak mendapatkan pertanyaan apakah ITMG dan TBLA akan bisa melanjutkan penguatan untuk harga sahamnya?

Sejujurnya jawaban saya, saya tidak terlalu peduli mau kedua saham itu besok tetap melesat naik atau merosot turun. Melesat naik membuat saya senang melihat angka di porto saya bertambah secara "semu". Saya bilang semu, karena saya merasa belum menjual saham ITMG dan TBLA dalam waktu dekat karena masih jauh dari target harga jual yang saya inginkan.

Jika harga sahamnya turun, saya dengan senang hati akan membeli nya jika sudah mencapai target harga beli yang saya harapkan. Jika kedua hal itu belum terjadi maka saya masih memiliki dana menganggur yang bisa saya belanjakan untuk saham lain yang kondisinya menarik dan mungkin bisa saya uangkan dalam waktu tidak terlalu lama. 1 bulan holding period untuk dapat profit 10-20% bukan hal yang jelek untuk berinvestasi di saham perusahaan baik yang lagi ditekan di harga murah oleh market. Sehingga sebagian uang nganggur saya, lagi dititipkan di $TLKM ketika harga 3.000 dan $MNCN ketika harga 780.

Baik TBLA ataupun ITMG merupakan saham cylical yang digerakan oleh harga komoditasnya. Menjual di saat harga komoditas nya masih diberikan valuasi murah bukanlah pilihan yang menarik bagi saya untuk dua perusahaan yang rajin berikan dividen yang terbilang bagus.

Jadi kembali ke judul tulisan ini, menebak titik harga tertinggi suatu saham menurut saya TIDAK ADA. Tidak ada jaminan dari analisa teknikal bahwa ketika sudah breakout dari titik resistance maka saham akan bergerak ke titik resistance berikutnya. Kalau begitu bagaimana saham yang sudah mencapai rekor harga tertinggi baru, apakah dia tidak bisa naik lebih tinggi? Kalau begitu maka $BBCA tidak mungkin pernah mencapai diatas 30rb.

Lalu apakah jika harga saham sudah mencapai titik harga wajarnya secara valuasi apakah saham itu tidak akan bisa naik lebih tinggi lagi? Jika begitu bagaimana bisa saham memiliki PER hingga di nilai puluhan. Berapa peningkatan harga saham ketika saham tersebut naik hingga PER puluhan kali atau untuk kasus saham gorengan naik hingga ratusan atau ribuan untuk nilai PER nya. Justru saham tersebut ketika lagi market begitu optimis maka floating profit kita bisa naik dengan sangat pesat.

Menurut saya pribadi baik analisa teknikal ataupun fundamental adalah sebuah teknik untuk menentukan saham mana yang baik untuk dipilih sebagai transaksi berdasarkan karakteristik masing-masing investor. Tetapi untuk menebak sampai di harga berapa saham itu akan dinaikan satu-satunya cara adalah memahami kisah dibalik kenaikan harga saham tersebut.

MDKA dan ANTM sebagai saham cyclical gold naik karena harga gold melonjak naik hingga melewati 2000 USD per troy ounce. Jadi jika market sudah merasa gold terlalu mahal nantinya maka MDKA dan ANTM akan jatuh. Maka para investor berharaplah Trump bisa menang pilpres US lagi agar ekonomi global terus penuh ketidakpastian. Karena jika Biden yang menang maka market akan kembali optimis dan good bye dengan kenaikan harga emas. Emas akan naik kalau ada ketidakpastian kondisi perekonomian.

ITMG dan PTBA sebagai saham cylical batu bara naik tentu karena harga batu bara naik. Saat ini saya belum melihat ada yang wah dengan kenaikan harga batu bara, harga batu bara memang murah dan masih murah.Sentimen sekarang yang karena peningkatan demand dari China selaku konsumen batu bara terbesar membuat euforia bagi sektor mining ini. Tapi bagi saya pribadi selama coal belum naik diatas 80USD sektor coal belum menjadi hot topic yang akan membuat saham ini naik gila-gilaan seperti sektor gold saat ini. Jadi saya percaya harga coal akan ke 80USD? bahkan saya percaya coal bisa naik hingga 100USD kembali kelak. Saya tidak peduli dengan berbagai berita investor jepang ataupun eropa melakukan divestasi terhadap perusahaan sektor coal. Selama semua negara masih gunakan batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik mereka maka coal masih akan bisa naik ke harga puncaknya kelak.

INAF dan KAEF sebagai saham farmasi yang akan menjadi penyelamat Indonesia dengan vaksin COVID-19 nya. Buat saya pribadi sekarang ceritanya sudah bukan perusahaan ini yang akan menjual obat COVID-19 tapi sudah di titik masih banyak yang berani beli lebih mahal atau gak. Kita bisa lihat yang walau masih bisa naik, tapi kenaikannya mulai malu-malu. Tidak seganas ketika awal berita covid muncul. Alasannya tentu saja karena sudah naik TINGGI harga sahamnya.

Jadi apa kisah dibalik kenaikan saham yang anda beli? Apakah saat ini saham anda masih berjalan sesuai kisah yang terbentuk di market? Jika ya maka saham itu masih bisa naik. Tapi jika kisahnya sudah berkebalikan maka saham itu akan sulit untuk naik lagi yang berarti akan turun. Mungkin itulah kenapa saya bukan penebak yang baik untuk menebak apakah besok harga saham akan naik atau turun, karena saya tidak mengikuti kisah setiap saham secara detail. Tetapi saya bukan pemilih saham yang buruk, karena saya selalu mau memilih saham yang risiko investasinya kecil untuk saya. Itu kenapa jika ada 10 orang tanya ke saya, apakah trading/invest di saham ABC ini bagus? mungkin saya akan menjawab 8x bahwa saya belum tertarik untuk invest di saham yang ditanyakan tersebut. Karena baik kemampuan analisa teknikal or fundamental hanya tepat untuk memilah mana saham yang bagus dan jelek menurut logika yang kita mengerti. Tapi tidak bisa buat menebak apa yang akan terjadi esok hari.

Setiap kategori saham memiliki jenis kisah yang berbeda. Untuk lebih paham bisa baca di link https://bit.ly/30zpBX9

Jika anda bahkan tidak tahu kisah dibalik saham tersebut dan anda membelinya. Jangan - jangan anda malah membeli di waktu yang salah. Anda bisa saja bermaksud membeli saham kategori fast mover yang malah sudah berubah menjadi lambat. Anda bukan membeli mercy S class dengan performance keluaran terbaru tapi anda malah membeli S class classic yang sudah kalah ngebut dibandingkan toyota avanza.

Atau jangan-jangan anda malah membeli saham cylical yang harga komoditasnya sudah naik terlalu tinggi. Anda bukan membeli saham tersebut ketika harga komoditas akan naik tapi malah membeli ketika harga komoditas akan siklus turun.

Atau jangan-jangan anda membeli perusahaan slow mover yang tidak bisa tumbuh dengan cepat, anda beli di valuasi yang tinggi karena menganggap perusahaan slow mover ini perusahaan bluechip yang aman. Sialnya lagi perusahaan ini tidak membagi dividen apapun kepada anda. Maka ini anda masuk kondisi nyangkut walaupun anda seorang investor jangka panjang.

Atau jangan-jangan anda membeli perusahaan turnaround bukan yang kondisinya membaik sehingga anda akan untung besar tetapi malah membeli perusahaan turnaround yang kondisinya akan bangkrut.

Jadi mari cari tahu kategori saham anda, kisah dibaliknya. Cuma itu tampaknya cari paling logis untuk mengetahui titik puncak saham anda. Karena setiap saham untuk naik harus mengalami koreksi terlebih dahulu. Koreksi ini apakah koreksi sementara atau koreksi beneran tergantung kisah dari saham ini masih ada yang mau dibeli atau tidak oleh pelaku market. Karena pelaku market adalah orang yang suka dengan cerita yang masuk ke kuping mereka.

-THOWILZ-

Read more...