Bank Indonesia Kurangi Outstanding SRBI, Klarifikasi Bauran Kebijakan
• Direktur Eksekutif Senior sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Hutapea, mengatakan pada Jumat (23/10) bahwa pihaknya telah menyesuaikan total outstanding SRBI dari level Rp1.096 T pada Juli 2026 menjadi di bawah Rp950 T guna memastikan likuiditas yang memadai di pasar uang.
• Sejak awal tahun, Bank Indonesia telah melakukan pembelian SBN di pasar sekunder dengan nilai ~Rp135 T, di mana pembelian pada Oktober 2026 mencapai ~Rp13 T.
• Sementara itu, Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter Bank Indonesia, Firman Mochtar, mengatakan bahwa keputusan Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 25 bps ke level 5% dalam pengumuman Rapat Dewan Gubernur pada pekan ini ditujukan untuk mengembalikan selisih suku bunga deposit facility dan lending facility menjadi simetris 75 bps dari suku bunga acuan BI Rate.
• Firman menyebut langkah ini diharapkan membuat transmisi kebijakan moneter ke pasar uang dan perbankan berjalan lebih efektif, sembari menambahkan bahwa selisih 100 bps antara deposit facility dan BI Rate sebelumnya dikarenakan adanya penempatan dana pemerintah di himpunan bank milik negara (Himbara).
• Selain itu, Firman menjelaskan bahwa rencana Bank Indonesia untuk memangkas giro wajib minimum (GWM) di bank konvensional dan syariah hingga 2 percentage point didasarkan pada keperluan untuk menyeimbangkan likuiditas perbankan dengan kebutuhan pembiayaan yang terus meningkat.
• Reuters melaporkan bahwa pernyataan Firman muncul setelah ekonom Bank of America sempat menggambarkan bauran kebijakan terbaru Bank Indonesia sebagai kombinasi “hold, hike and cut all at once” yang terkesan membingungkan, meski kemudian mengonfirmasi bahwa langkah–langkah Bank Indonesia tersebut tidak saling bertentangan secara nyata.
[Sumber: Reuters, Media Indonesia, Bloomberg]
-----
Stockbit Group