KALKULATOR DCA vs BUY BACK DI AREA ARB: KAPAN BELI LAGI, KAPAN JANGAN, DAN KAPAN JUAL
Saham kena ARB itu menakutkan. Tapi ARB juga sering jadi momen orang mengambil keputusan paling emosional. Berikut kerangka sederhana supaya keputusanmu berbasis hitungan, bukan panik.
1) APA ITU DCA (AVERAGE DOWN)?
DCA (Dollar Cost Averaging) artinya membeli saham yang sama secara bertahap, bukan sekaligus. Di kalangan trader, istilah ini sering dipakai untuk average down: menambah posisi saat harga turun supaya harga rata-rata ikut turun.
Manfaatnya: titik impas turun. Harga tidak perlu kembali ke harga beli awal supaya kamu impas.
Risikonya: kalau sahamnya salah, kerugian ikut membesar. Inilah yang disebut "menangkap pisau jatuh".
2) APA ITU BUY BACK?
Buy back = membeli kembali saham yang sudah kamu jual, idealnya di harga lebih murah dari harga jualmu. (Ini beda dengan buyback oleh perusahaan emiten ya. Yang kita bahas transaksi pribadi.)
Syarat penting: harga beli kembali harus lebih rendah dari harga jual setelah dihitung fee dua kali. Kalau selisihnya tipis, habis dimakan fee.
Risikonya: kalau alasan kamu jual dulu adalah fundamental yang rusak, buy back sama dengan menambah risiko.
3) BEDANYA
DCA: kamu masih pegang saham, tujuannya menurunkan harga rata-rata.
Buy back: kamu sudah keluar, tujuannya masuk lagi lebih murah dari harga jual.
4) ATURAN ARB SAAT INI
Menurut Surat BEI No. S-13198/BEI.POP/10-2026 (19 Oktober 2026), ARB 7% untuk harga di atas Rp10 (Rp1-Rp10 batasnya Rp1). Berlaku sampai 31 Desember 2026 dan akan dievaluasi lagi. Jadi cek pengumuman terbaru ya.
5) CONTOH HITUNGAN
Saham X, avg Rp1.000, punya 100 lot (modal Rp10 juta). Kemarin ditutup Rp1.000, lalu ARB 3 hari berturut-turut:
Level 1: Rp930
Level 2: Rp865
Level 3: Rp805
Kamu beli 30 lot di tiap level (total Rp7,8 juta).
Hasil: avg baru sekitar Rp936,8 (turun 6,3%), total 190 lot, modal Rp17,8 juta.
Untuk impas setelah fee, harga perlu naik sekitar 17% dari Rp805. Tanpa DCA, harga harus naik sekitar 25%. Itulah manfaat DCA.
Perhatikan juga: dana DCA Rp7,8 juta itu hampir sebesar 78% dari modal awal. Posisi bisa membengkak cepat.
Kalau kasusnya buy back dari harga jual Rp1.000, rata-rata beli kembali sekitar Rp866,7. Itu 13% lebih murah. Tapi ingat, harga beli kembali harus di bawah sekitar Rp996 agar benar-benar hemat setelah fee.
6) SYARAT SEBELUM DCA / BUY BACK: SAHAM HARUS KUAT
Kalau sahamnya rusak, DCA dan buy back hanya memperbesar kerugian. Checklist cepat:
- Laba bersih positif dan konsisten minimal 3 tahun
- Dividen rutin
- Utang terkendali
- ROE sehat, arus kas operasi positif
- Likuid, mudah keluar
- Bukan saham gorengan (tidak UMA, notasi khusus, atau suspensi)
- Turun karena sentimen pasar, bukan kabar buruk fundamental (gagal bayar, fraud, rugi besar)
- Valuasi masuk akal
Poin ketujuh yang paling penting. Kalau penyebab turunnya belum jelas, jangan eksekusi dulu.
7) PAGAR PENGAMAN
Tentukan sebelum order masuk:
- Level batal: kalau ARB sampai level tertentu tanpa kabar jelas, berhenti dan evaluasi.
- Batas porsi: satu saham maksimal sekian persen dari portofolio.
- Dana: pakai uang yang memang siap. Antrean beli di ARB sering panjang, jadi tidak semua order terisi.
Ingat juga: satu level sama dengan satu hari. Level 2 baru dibeli kalau besok ARB lagi, bukan dibeli semuanya hari ini.
8) KAPAN MENJUAL?
Titik impas itu bukan target jual. Tentukan rencana keluar sebelum membeli:
- Target tercapai (misalnya bertahap di +5%, +10%, +15% dari harga rata-rata)
- Alasan beli sudah gugur (fundamental memburuk). Jual walau masih rugi.
- Batas kerugian atau batas waktu yang kamu tetapkan sendiri terlewati
- Porsi melewati batas atau ada peluang yang jelas lebih baik
Yang jangan: jual hanya karena hari ini ARB dan harga terlihat menakutkan.
Kalau tujuanmu dividen, ukurannya yield on cost: dividen per lembar dibagi harga rata-rata. Avg yang lebih rendah membuat yield on cost lebih tinggi.
9) KESALAHAN UMUM
- DCA di saham yang fundamentalnya rusak
- Tidak punya level batal
- Menaruh semua dana di level terdalam
- Mengejar harga saat order tidak terisi
- Lupa porsi terhadap portofolio
Biar tidak menghitung manual, aku buat kalkulatornya: ILLUSIX DCA & Buy Back. Isi posisi dan harga acuan, pilih FIX atau FIBO, langsung muncul harga rata-rata baru, total lot, dana, break even, target jual, plus panduan baca yang bisa dicetak ke PDF.
Disclaimer: konten ini edukasi dan alat hitung, bukan ajakan atau rekomendasi beli/jual. Keputusan dan risiko ada pada masing-masing. DYOR.
Link Kalkulator https://cutt.ly/XyRoGVlt