Kenapa IHSG Masih Sulit Bangkit?
Tekanan terhadap IHSG sebenarnya sudah berlangsung sejak awal tahun. Dimulai dari ancaman MSCI, perang Teluk, ketidakpastian kebijakan dalam negeri, hingga kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah.
Dampaknya terlihat dari keluarnya dana asing, terutama dari sektor finansial, serta pelemahan rupiah.
Sebagian besar sentimen negatif tersebut sebenarnya sudah priced in. IHSG bahkan sempat rebound ke 6.600, dan beberapa sekuritas sebelumnya cukup optimistis pasar akan bullish pada September–Oktober 2026.
Namun faktanya, IHSG kembali turun ke kisaran 6.000.
Masalahnya, ketika hampir semua berita buruk sudah keluar, belum ada berita baik yang cukup kuat untuk mengembalikan optimisme pasar.
Di sisi lain, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mencapai 5,24% membuat aset dolar semakin menarik bagi investor global.
Apalagi jika mempertimbangkan risiko pelemahan rupiah. Dengan asumsi depresiasi rupiah sekitar 7% setahun, investor berbasis rupiah yang menempatkan dana pada obligasi AS berpotensi memperoleh imbal hasil sekitar 12% dalam rupiah, sebelum biaya dan pajak.
Bahkan dana milik orang Indonesia yang ditempatkan di luar negeri melalui SPV juga berpotensi menikmati keuntungan selisih kurs tersebut.
Dan menurut saya, salah satu persoalan terpenting saat ini adalah pasar mulai meyakini bahwa pembekuan MSCI belum akan dicabut pada November.
————————————————
Jadi memang pasar masih kekurangan peluru untuk membangun optimisme baru.
Namun apakah IHSG akan kembali jatuh ke 5.400?
Menurut saya juga tidak mudah, kecuali muncul peristiwa besar baru yang mengguncang kepercayaan investor, misalnya kerusuhan atau eskalasi geopolitik yang lebih serius.
Artinya, risiko penurunan tetap ada, tetapi bukan berarti pasar harus terus jatuh.
Karena itu, saya pribadi lebih memilih stay invested, terutama pada perusahaan yang fundamentalnya dipahami, sedang memasuki fase pertumbuhan, memiliki katalis aksi korporasi, atau diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas.
Dalam kondisi pasar yang kekurangan sentimen positif, menurut saya jauh lebih menarik mencari perusahaan yang memiliki cerita pertumbuhannya sendiri daripada terus menebak kapan IHSG akan berbalik arah.
Random taq
$SINI $FORU $GRPM