FUNDAMENTAL BAGUS, SEROK TERUS? HATI-HATII, JANGAN MENDEWAKAN SATU METODE!
Kebanyakan orang sering bilang, “Kalau fundamentalnya bagus, hold aja terus. Kalau turun, serok lagi. Nanti juga balik!”
Apakah pernyataan itu salah?
Menurut saya, mungkin ada benarnya. Tapi akan berbahaya kalau ditelan mentah2 tanpa memahami risiko dan kondisi market.
Kenapa?
Karena perusahaan bagus tidak selalu berarti sahamnya bagus untuk dibeli di harga sekarang.
Saya kasih contoh berdasarkan hasil backtest yang saya lakukan dalam proses sertifikasi.
Saya banyak nyusun model analisis, mulai dari screening, filtering kondisi makro, sampai analisis emiten menggunakan pendekatan top down maupun bottom up.
Dari beberapa backtest yang saya lakukan, ada satu hasil yang menurut saya cukup menarik untuk dibahas.
Saya tarik data dari awal 2025 sampai akhir 2025. Perlu diingat, periode tersebut merupakan periode bullish, bahkan IHSG sempat mencetak ATH.
Emiten yang saya ambil juga bukan perusahaan sembarangan. Saya memilih emiten dengan fundamental bagus, punya daya tarik bagi investor ritel, dan cukup populer di kalangan pelaku pasar.
Nama emitennya saya samarkan supaya pembahasan ini tidak memicu bias terhadap saham tertentu.
Lalu, gimana hasilnya?
Ternyata, ketika saham2 tersebut dibeli dan dipertahankan hanya dengan berpegang pada narasi fundamental bagus, hasilnya tidak selalu hijau. Dari data yang saya uji, justru banyak yang berakhir merah.
Padahal, market sedang bullish!
Sekarang coba bayangkan kalau pendekatan yang sama diterapkan ketika market memasuki fase bearish, distribusi, atau panic selling. Risikonya bisa jauh lebih besar, meskipun hasil akhirnya tentu bergantung pada saham dan periode pengujiannya.
Nah, di sinilah letak masalahnya.
Fundamental bagus bukan berarti harga saham tidak bisa turun. Emiten berkualitas pun bisa mengalami koreksi panjang, overvalued, kehilangan momentum, atau membutuhkan waktu lama untuk kembali ke harga beli kita.
Dan yang paling berbahaya adalah ketika kita mulai membenarkan semua penurunan dengan kalimat, "Tenang, fundamentalnya bagus. Nanti juga balik!”
Tanpa sadar, keyakinan berubah menjadi bias. Tradeplan hilang, risk management diabaikan, dan posisi yang awalnya direncanakan sebagai swing trading malah berubah menjadi investasi paksa.
Padahal, sejak awal kita belum tentu punya thesis investasi yang kuat untuk menahan saham tersebut dalam jangka panjang.
Lalu, bagaimana dengan saham2 yang hasilnya hijau?
Kalau kita perhatikan, bukan sekadar karena fundamentalnya bagus. Ada faktor timing entry yang lebih tepat, kondisi trend yang mendukung, serta pertimbangan lain di luar fundamental.
Artinya, ada variabel lain yang perlu dianalisis. Kita tidak bisa mengatribusikan hasil trading hanya pada satu faktor, lalu menganggap faktor tersebut sebagai satu-satu2nya kunci keberhasilan.
Dari sini saya mengambil beberapa pelajaran.
1. Fundamental untuk memilih apa yang layak dibeli.
Fundamental membantu kita memahami kualitas bisnis, kinerja keuangan, prospek usaha, valuasi, utang, profitabilitas, dan risiko emiten.
Tujuannya bukan mencari saham yang pasti naik, melainkan memahami apa yang sebenarnya kita beli.
Kalaupun analisis kita meleset, setidaknya kita punya dasar untuk mengevaluasi thesis, bukan sekadar berharap harga kembali ke modal. Tapi ingat, fundamental bagus bukan tameng dari drawdown. Harga yang terlalu mahal tetap bisa menjadi masalah.
2. Teknikal untuk menentukan kapan harus entry dan exit.
Setelah menemukan emiten yang menarik, pertanyaan berikutnya adalah kapan waktu terbaik untuk entry?
Di sinilah analisis teknikal berperan.
Kita bisa mengevaluasi trend, support resistance, momentum, volume, struktur harga, serta area risk reward yang masuk akal.
Teknikal juga membantu menentukan invalidation level, stop loss, take profit, dan kapan sebaiknya tidak entry.
Tidak semua saham bagus harus langsung dibeli hari ini. Kadang emitennya bagus, tetapi harganya sudah terlalu tinggi. Kadang trend nya masih menarik, tetapi risk teward sudah tidak seimbang. Ingat, saham bagus belum tentu merupakan setup yang bagus.
3. Bandarmology untuk membaca aliran transaksi pelaku pasar.
Bandarmology membantu kita mengamati aktivitas broker, akumulasi distribusi, broker summary, net buy net sell, serta perubahan perilaku transaksi.
Tujuannya bukan menebak isi kepala bandar atau menganggap setiap net buy pasti akan membuat harga naik.
Kita tetap perlu membaca konteks, likuiditas, volume, pergerakan harga, dan kemungkinan distribusi.
Sebab, harga saham tidak bergerak hanya karena laporan keuangannya bagus. Dalam jangka pendek, supply demand dan perilaku pelaku pasar juga punya pengaruh besar.
4. Money management menentukan seberapa lama kita bisa bertahan.
Analisis bagus pun bisa salah.
Karena itu, position sizing, batas risiko, alokasi cash, dan risk reward ratio tetap harus diperhatikan.
Jangan sampai kita terlalu yakin dengan fundamental, lalu terus melakukan average down tanpa batas.
AVD seharusnya menjadi keputusan berdasarkan tradeplan dan thesis yang masih valid, bukan reaksi emosional karena tidak rela melihat floating loss.
Dan jangan lupa, cash juga punya fungsi strategis. Kita tidak harus selalu full invested untuk membuktikan bahwa kita seorang trader.
5. Sesuaikan metode dengan psikologis dan gaya trading masing2
Ada yang nyaman melakukan swing trading, ada yang lebih cocok scalping, ada yang fokus pada investasi jangka panjang.
Tidak ada gunanya memaksakan metode yang tidak sesuai dengan karakter, toleransi risiko, ketersediaan waktu, dan disiplin kita.
Kalau tidak nyaman menahan floating loss dalam waktu lama, jangan memaksakan diri menjadi investor hanya karena saham yang dibeli punya fundamental bagus.
Kalau tidak sanggup mengikuti volatilitas intraday, jangan memaksakan diri menjadi scalper.
Metode yang baik bukan sekadar metode yang terlihat hebat di atas kertas, tetapi metode yang bisa kita jalankan secara konsisten dengan risk management yang jelas.
Berdasarkan pengamatan dan backtest yang saya lakukan, membeli saham hanya karena fundamentalnya bagus, lalu menganggap hold dan average down sebagai solusi untuk semua kondisi, merupakan pendekatan yang berisiko.
Bukan berarti fundamental tidak penting. Bukan berarti teknikal selalu benar. Dan bukan berarti bandarmology bisa membaca semua pergerakan harga. Justru ketiganya punya fungsi yang berbeda dan bisa saling melengkapi.
- Fundamental: membantu kita memahami apa yang dibeli.
- Teknikal: membantu menentukan kapan masuk, kapan keluar, dan kapan sebaiknya tidak trading.
- Bandarmology: membantu mengamati aliran transaksi dan perilaku pelaku pasar.
- Money management: membantu membatasi risiko ketika analisis kita ternyata salah.
Jangan berdiri di atas satu metode, lalu menganggap metode lain tidak berguna.
Apalagi sampai saling sindir, merasa paling benar, dan sibuk membuktikan bahwa pendekatan sendiri paling superior.
“No single method guarantees success. The edge comes from combining evidence, managing risk, and adapting to the market.”
Random tag $GOTO $MDIA $DSSA
