🦅 Narasi Hawkish The Fed Semakin Menguat
Harga minyak Brent naik sekitar +2,5% ke kisaran US$105,5/barrel pada Kamis (24/9) sore, setelah sempat turun ke bawah level US$100/barrel pada Selasa (22/9). Kenaikan harga minyak tersebut didorong oleh pernyataan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, yang pada Rabu (23/9) menegaskan bahwa masih terdapat perbedaan besar antara AS dan Iran terkait upaya melanjutkan negosiasi untuk membuka kembali Selat Hormuz, serta menyatakan bahwa Iran tidak akan merespons ancaman dan menetapkan sejumlah syarat sebelum negosiasi dengan AS dilanjutkan.
Kenaikan harga minyak juga didorong oleh munculnya wacana dari pemerintah AS untuk membatasi ekspor diesel. Wacana ini muncul setelah Presiden Donald Trump pada Selasa (22/9) menyatakan dukungannya terhadap gagasan sejumlah politikus AS untuk melarang ekspor diesel, guna menekan lonjakan biaya energi. Menteri Energi AS, Chris Wright, mengatakan pada Rabu (23/9) bahwa pihaknya tengah bekerja sama dengan perusahaan penyulingan untuk secara sukarela mengurangi pengiriman diesel ke luar negeri, sebagai alternatif dari pelarangan ekspor.
Bertahannya harga minyak di level yang tinggi — ditambah dengan laporan dari S&P Global bahwa aktivitas sektor swasta AS pada Agustus 2026 mencetak laju tercepat dalam lebih dari 5 tahun — mendorong indeks dolar AS (DXY) naik sekitar +0,1% ke level ~101,2 pada Kamis (24/9) sore setelah naik sekitar +0,5% pada Rabu (23/9), menandai level tertinggi sejak akhir Juli 2026, seiring meningkatnya ekspektasi atas kenaikan suku bunga AS. Menurut analisis dari CME FedWatch Tool, probabilitas The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar +25 bps pada pertemuan Oktober 2026 naik menjadi 75,3%, dibandingkan level 55,4% pada sepekan sebelumnya.
Meningkatnya ekspektasi atas kenaikan suku bunga AS tersebut muncul setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di level 5,75% pada Rabu (23/9) dan lebih mengandalkan insentif hedging untuk menahan foreign outflow.
Menyusul dinamika ini, harga emas turun sekitar -1,7% ke level US$4.288/oz pada Rabu (23/9), sementara yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik +15 bps ke level 5,11%, tertinggi sejak Juli 2007. Pada Kamis (24/9), IHSG ditutup turun -1,2% ke level 6.298,6 pada Kamis (24/9), sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah sekitar -0,6% ke 17.901 dan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun sekitar -2 bps ke level 7,09%.
🔑 Key Takeaway
Menguatnya narasi hawkish The Fed — sehingga mendorong DXY — memberikan tekanan pada aset–aset emerging markets, termasuk Indonesia. Jika harga energi tidak kunjung turun, kami menilai tekanan pada nilai tukar rupiah akan berlanjut, sehingga membutuhkan respons yang lebih kuat dari Bank Indonesia. Per Kamis (24/9), konsensus Bloomberg masih mengekspektasikan BI Rate di level 6% pada akhir 2026, yang hanya mengimplikasikan kenaikan +25 bps dari level saat ini. Terdekat, investor perlu memantau rilis data inflasi PCE AS periode Agustus 2026 pada 30 September 2026 waktu setempat.
Stockbit Snips 24 September 2026
https://cutt.ly/hyvH5Lzo
