Berapa banyak saham yang sebaiknya dibeli?
Ini pertanyaan sederhana, tapi jawabannya menurut saya tidak boleh hanya berdasarkan:
«“Modal saya cukup berapa lot?”»
Karena kemampuan membeli bukan berarti kita harus membeli sebanyak itu.
Misalnya modal kita Rp10 juta.
Bukan berarti setiap transaksi harus menggunakan seluruh Rp10 juta.
Sebelum menentukan jumlah saham, saya justru lebih dulu menentukan:
Kalau analisis saya salah, berapa kerugian yang siap saya terima?
Setelah itu baru saya menentukan posisi.
Jadi bukan:
Modal → beli sebanyak mungkin → baru cari stop loss.
Tapi lebih seperti:
Modal → tentukan risiko → tentukan stop loss → hitung posisi.
Contoh sederhana:
Entry: Rp1.000
Stop loss: Rp950
Berarti risiko per saham adalah Rp50.
Kalau batas risiko yang sudah kita tentukan adalah Rp100.000, maka jumlah saham harus disesuaikan dengan risiko tersebut.
Dengan cara seperti ini, ukuran posisi tidak lagi ditentukan oleh rasa percaya diri.
Karena kadang kita merasa:
«“Chart-nya bagus banget. Gas besar.”»
Justru di kondisi seperti itu kita harus tetap mengikuti perhitungan.
Keyakinan terhadap analisis tidak boleh membuat ukuran risiko ikut membesar.
Karena seberapa yakin pun kita terhadap sebuah setup, kita tetap tidak tahu apa yang akan dilakukan harga setelah entry.
Jadi sebelum bertanya:
“Bisa profit berapa?”
Coba biasakan bertanya:
“Kalau saya salah, berapa yang hilang?”
Menurut saya, semakin jelas jawabannya sebelum entry, semakin tenang kita ketika posisi sudah berjalan.
Besok saya lanjutkan ke satu hal yang sering dianggap sepele, padahal sangat membantu melihat apakah cara trading kita benar-benar bekerja:
Trading journal.
— NanoTrade
$LAPD $DSSA $EMAS