Ada tiga cara perusahaan mengembalikan untung kepada shareholders:
1. Dividen, maka disebut dividend investing
2. Value, maka disebut value investing
3. Kebijakan, maka disebut activist investing. Di mana dalam jangka panjang, kebijakan ini bisa menciptakan untung dalam bentuk pertama maupun kedua tadi
Tanpa kehadiran setidaknya salah satu dari tiga return ini, keuntungan di saham hanya berasal dari supply vs demand saja
Trading berdasarkan supply vs demand saja bisa memberikan nilai ekonomi, bisa juga tidak
Contoh paling dekat dengan kehidupan kita semisal $ICBP jual mi instan ke AMRT, lalu $AMRT jual mi itu ke kita. Ada nilai ekonomi di sana. Pertama minya itu sendiri bisa kita makan, kedua AMRT memberikan convenience berupa akses yang dekat dari rumah, ber-AC, service yang ramah, dsb.
Bagaimana dengan komoditas non-konsumer? Misalnya sebuah perusahaan batu bara punya trading arms di Singapura? Memang ada friksi berupa transfer pricing, tapi selama batu baranya beneran nyampe ke customer, beneran dimanfaatkan misalnya buat PLTU di India, itu tetap punya nilai ekonomi
Bagaimana jika barang yang diperdagangkan supply vs demand-nya tidak berhilir pada aktivitas ekomomi riil? Itulah yang disebut sebagai greater fools theory. Greater fools theory, ketika pesertanya bukan lagi satu dengan satu, tetapi sekelompok peserta, inilah yang disebut skema ponzi
Dalam skema ponzi inilah yang disebut house always wins. Siapa itu house? Ada tiga, diurut dari yang marginnya terbesar:
1. Pihak yang memulai skema ponzinya
2. Pihak yang memanipulasi pesertanya
3. Pihak yang memungut fee dari transaksinya
Cara paling mendasar dan mudah bagi bandar judol untuk memanipulasi pemain adalah dibikin illusion of winning sampai dopamin meningkat, dibikin illusion mudah WD, sampai itu memberikan mereka kepercayaan diri, depo lebih besar, baru di-rug-pull, tapi karena mereka udah kadung yakin bahwa di permainan itu bisa "yang penting cuan", jadi mereka punya keyakinan mereka bisa menutup kerugian itu dari kemenangan permainan selanjutnya di masa depan
Sounds familiar?
Kembali ke tiga return yang berasal dari nilai ekonomi tadi, tentu saja return kedua punya ekspektasi potensi yang lebih besar daripada yang pertama, dan yang ketiga lebih besar daripada yang kedua
Otherwise BRK nggak akan mau akuisisi penuh Geico dan wonderful businesses lainnya, dan SRTG nggak akan mau jadi daftar pengendali di portfolionya
BRK dan SRTG, walaupun mereka cuan luber dari dividen tiap semester, tapi mereka nggak mikirin adu gede yield, karena mereka berekspektasi potensi yang lebih besar daripada yield
Tapi ekspektasi potensi superior =/= tepat buat kamu
Return ketiga butuh modal jauh lebih besar daripada yang kedua
Return kedua butuh riset jauh lebih dalam dan panjang daripada yang pertama
Kalau kamu nggak punya duit sebanyak Pak Uno, nggak punya waktu untuk belajar riset sebanyak Mohnish Pabrai dan Li Lu, maka kamu nggak cocok niruin strategi mereka yang emang passionate dan full time di sana
DDM itu lebih sederhana dan mudah daripada DCF
Kalaupun nggak bisa DDM, saya pernah ditanya gimana cara menentukan saham dividen mahal atau murah, valuasi apa yang dipakai
Saya sederhanakan, "yield itu sendiri adalah valuasi."
Selama kamu happy sama yield kamu, ya itu udah murah
Yield = DPS (TTM) / harga beli
Garisbawahi harga beli, bukan harga saat ini. Karena harga beli bisa naik dari harga saat ini kalau kamu haka, atau kalau kamu mau beli di bawah harga saat ini, belum tentu antreanmu keangkut
Orang mau bilang bagus ga bagus, kalo kamu hepi, ya buat apa dipikirin?
Langkah berikutnya tinggal gimana naikin yield di masa depan
Formulanya kan aljabar sederhana aja
Yield = DPS (TTM) / harga beli artinya naikin yield pilihannya cuma 2: naikin DPS, atau turunin denominator, yaitu harga beli
DPS bisa kita pecah lagi jadi EPS x payout ratio
Dari sini kita dapat tiga variabel:
EPS
payout ratio
harga
EPS bisa kita pecah lagi jadi net income / current share outstanding, di mana denominator current share outstanding bisa dikurangi dengan cancel treasury seperti $ADRO tapi ini udah melampaui dasar yang membuat dividend investing menjadi mudah
Jadi kita pakai tiga variabel itu tadi aja
Naikin yield =
naikin EPS
naikin payout ratio, atau
turunin harga
Ketiganya sama-sama works, tapi pertanyaannya mana yang paling sustainable untuk jangka panjang
naikin EPS paling sustainable untuk jangka panjang
naikin payout ratio hanya sustainable sampai 99,99%
turunin harga sangat bergantung sama market timing
Jadi basically analisis di dividend investing cuma tiga:
1. Apakah EPS bisa naik, apa yang bikin naik, dan apakah kenaikannya sustainable jangka panjang
2. Apakah payout ratio sekarang sustainable atau tidak
3. Apakah harga sekarang memberikan opportunity untuk naikin yield
Sisa waktunya bisa buat menghasilkan di dunia nyata dan investasi leher ke atas, baik berhubungan sama market ataupun enggak
