HAJI ISAM SEDANG MENAMPAR PASAR DENGAN TAWARANNYA TERHADAP SAHAM $BYAN JIKA RUMOR INI BENAR:
Ketika muncul pemberitaan Haji Isam menawar saham BYAN sekitar Rp2.700 per lembar untuk mengambil kepemilikan mayoritas, sebagian pasar mungkin TERTAWA.
“BYAN di bursa Rp12.000-an, kok ditawar Rp2.700 ?”
Tetapi justru di situlah tamparannya kepada MARKET.
Haji Isam seakan sedang mengatakan:
“Jangan tunjukkan kepada saya harga di layar. Tunjukkan kepada saya berapa nilai bisnisnya.”
Karena harga saham dan nilai perusahaan tidak selalu sama.
Rp. 2.700 PER LEMBAR BENARKAH TERLALU MURAH ?
Mari bicara angka.
Dengan EPS annualised BYAN sekitar Rp440, maka:
BYAN @ Rp12.350 → PER ± 28,1 kali
BYAN @ Rp2.700 → PER ± 6,1 kali
Dari sisi PBV:
BYAN @ Rp12.350 → PBV ± 9,3 kali
BYAN @ Rp2.700 → PBV ± 2 Kali
Sekarang bandingkan dengan dua perusahaan batu bara besar lainnya:
Emiten PER Annualised PBV
AADI ± 5,6 ± 1,5
ITMG ± 7,8 ± 0,9
BYAN ± 28,1 ± 9,3
Sekarang pertanyaannya terbalik.
Bukan lagi:
“Mengapa Haji Isam menawar BYAN hanya Rp2.700 ?”
Tetapi:
“MENGAPA MARKET BERANI MENGHARGAI BYAN Rp. 12.000-AN ?”
AADI dihargai sekitar 5 - 6 kali laba.
ITMG sekitar 8 kali laba.
BYAN pada harga penawaran Rp2.700 sekitar 6 kali laba.
Tetapi BYAN SEKARANG di bursa dihargai sekitar 28 KALI LABA.
BYAN memang perusahaan bagus. Tetapi untuk membayar laba BYAN beberapa kali lebih mahal dibandingkan $AADI dan $ITMG, investor harus mampu menjelaskan fundamental apa yang membenarkan premium sebesar itu.
MENURUT SAYA PRIBADI INI TAMPARAN SEBENARNYA: KONSENTRASI KEPEMILIKAN
Di sinilah persoalan BYAN menjadi jauh lebih menarik.
Ketika kepemilikan saham sangat terkonsentrasi dan saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan publik relatif terbatas, price discovery dapat menjadi sangat sensitif terhadap supply dan demand.
Semakin sedikit barang yang beredar, semakin mudah harga marginal bergerak tinggi ketika permintaan meningkat.
Itu tidak otomatis berarti MANIPULASI.
Tetapi investor harus memahami:
SCARCITY PRICE BUKAN SELALU INTRINSIC VALUE.
Harga BEBERAPA LOT terakhir di bursa dapat digunakan untuk menghitung kapitalisasi pasar seluruh perusahaan.
Tetapi bukan berarti seluruh saham perusahaan dapat benar-benar dijual pada harga tersebut.
Dan di sinilah tawaran Haji Isam menjadi sebuah TAMPARAN KERAS terhadap market.
Ketika seseorang hendak membeli kepemilikan mayoritas, ia tidak membeli beberapa lot saham.
Ia harus mengeluarkan uang riil dalam skala sangat besar.
Ia membeli:
aset, cadangan batu bara, laba, cash flow, infrastruktur, umur tambang dan kendali perusahaan.
Maka ia tidak bisa sekadar berkata:
“Harga di layar Rp12.350, berarti seluruh perusahaan memang bernilai Rp12.350 per saham.”
Pembeli strategis harus menghitung berapa return yang akan diperoleh dari uang yang benar-benar dikeluarkannya.
MARKET CAP BISA MENIPU CARA KITA BERPIKIR
Market capitalization hanyalah:
harga terakhir × seluruh saham beredar.
Rumusnya benar.
Tetapi interpretasinya bisa salah.
Jika supply saham yang tersedia sangat kecil, transaksi pada sebagian kecil saham tetap dapat menentukan harga referensi untuk 100% saham perusahaan.
PERTANYAAN SESUNGGUHNYA ADALAH:
Kalau puluhan persen saham BYAN benar-benar dilempar ke pasar, apakah seluruhnya bisa diserap pada Rp12.350 ?
😂😂😂😂😂
Karena ketika supply berubah drastis, keseimbangan harga juga dapat berubah.
Itulah perbedaan antara:
MARKET PRICE
dan
EXECUTABLE VALUE UNTUK TRANSAKSI MAYORITAS.
Rp. 2.700 JUSTRU MENJADI JANGKAR REALITAS
Lihat sekali lagi:
AADI → PER ± 5,6
BYAN @ Rp2.700 → PER ± 6,1
ITMG → PER ± 7,8
sementara:
BYAN @ Rp12.350 → PER ± 28,1
Maka Rp2.700 tidak terlihat seperti angka yang datang dari planet lain.
Ia justru berada di sekitar rentang valuasi earnings perusahaan batu bara besar lainnya.
Yang membutuhkan penjelasan lebih berat justru PER BYAN sekitar 28x dan PBV sekitar 9x di market.
Apakah BYAN pantas mendapatkan premium ?
Bisa saja.
Tetapi premium harus dibuktikan oleh pertumbuhan laba, cadangan, cost structure, free cash flow dan prospek bisnis.
Bukan hanya karena sahamnya diperdagangkan Rp12.000-an.
HAJI ISAM SEDANG MENAMPAR PASAR
Jadi, tawaran Rp2.700 jangan buru-buru ditertawakan.
Justru tawaran tersebut sedang memaksa market bercermin.
Seolah Haji Isam berkata:
“Saya tidak membeli chart. Saya membeli bisnis.”
“Saya tidak membeli market cap. Saya membeli cash flow.”
“Saya tidak membayar harga hanya karena sahamnya langka. Saya menghitung berapa return dari uang yang saya keluarkan.”
SEKALI LAGI JIKA RUMOR DIATAS BENAR ITU MERUPAKAN TAMPARAN KERAS TERHADAP PASAR…
Tetapi disparitas antara keduanya menunjukkan satu pelajaran penting:
KONSENTRASI KEPEMILIKAN DAPAT MEMBUAT HARGA PASAR DAN NILAI EKONOMI SEBUAH TRANSAKSI BESAR BERADA SANGAT JAUH.
Pada akhirnya:
PASAR MEMBERIKAN HARGA.
INVESTOR MENGHITUNG NILAI.
Dan sebaik apa pun sebuah perusahaan
FUNDAMENTAL TETAP MENJADI GRAVITASI HARGA SAHAM.
DISCLAIMER ON
Konten ini dibuat BUKAN AJAKAN, REKOMENDASI, atau SARAN KEUANGAN untuk membeli maupun menjual BYAN, ITMG, AADI, atau saham lainnya. RESIKO DITANGGUNG MASING-MASING INVESTOR