Turnaround itu bukan cuma soal angka laba berubah dari minus jadi plus.
Yang jauh lebih penting: apakah perbaikannya berkelanjutan? Apakah didorong oleh efisiensi internal yang beneran mengubah cara perusahaan beroperasi, atau cuma keberuntungan sesaat karena harga komoditas lagi naik?
Di tengah laporan keuangan semester I yang mulai berdatangan, ada beberapa emiten yang berhasil membalikkan keadaan dari rugi jadi untung. Tapi di antara mereka, ada yang turnaround-nya kuat dan struktural, ada yang masih rapuh, dan ada juga yang cuma akuntansi (laba di kertas tapi arus kasnya ambruk)
Mari kita bedah satu per satu
$GOTO
Ini turnaround yang paling ditunggu-tunggu pasar, dan akhirnya terjadi.
Pendapatan GOTO naik 28,45% jadi Rp10,99 triliun. Tapi yang lebih penting, laba usaha mereka berbalik drastis dari rugi Rp172 miliar jadi laba Rp782 miliar. Laba bersih ikut melesat dari rugi Rp580 miliar jadi laba Rp607,5 miliar.
Yang bikin ini spesial: GOTO berhasil mencetak laba dua kuartal berturut-turut—pertama kalinya sejak IPO 2022. Segmen fintech untuk pertama kalinya juga berkontribusi positif, bahkan performanya melampaui bisnis on-demand yang selama ini jadi andalan.
Ini turnaround yang paling kredibel di daftar ini. Didukung pertumbuhan pendapatan yang solid dan efisiensi operasional yang beneran berhasil.
$UCID
Kalau GOTO turnaround-nya didorong pertumbuhan, UCID punya cerita yang berbeda. Dan, ini justru lebih elegan.
Pendapatan UCID cuma naik 4,1% jadi Rp4,44 triliun. Tapi laba operasi mereka berbalik dari rugi Rp2,29 miliar jadi laba Rp116,36 miliar. Laba bersih? Dari rugi Rp6,15 miliar jadi laba Rp158,62 miliar.
Artinya apa? Perbaikan ini murni dari efisiensi internal, bukan karena faktor eksternal kayak harga komoditas atau keberuntungan sesaat. Perusahaan berhasil mengoptimalkan portofolio bisnis, terutama segmen Feminine Care, dan memperkuat saluran distribusi secara signifikan.
Ini contoh turnaround struktural terbaik: perusahaan berhasil mengubah cara mereka beroperasi, bukan cuma menunggu kondisi pasar membaik.
$KAEF
KAEF punya cerita comeback yang cukup berat. Bayangin, tiga tahun berturut-turut mereka terperosok dalam kerugian. Tapi semester I tahun ini, akhirnya ada titik balik.
Penjualan neto naik 7,6% jadi Rp4,70 triliun. Laba usaha melonjak 111,3% jadi Rp152,21 miliar. Dan yang paling penting: laba bersih berbalik dari rugi Rp135,61 miliar jadi laba Rp54,07 miliar.
Ada dua hal yang bikin ini menarik. Pertama, rasio beban usaha terhadap penjualan turun dari 34,2% jadi 33,2%, ini bukti efisiensi biaya mulai berdampak. Kedua, transformasi bisnis yang didukung Danantara mulai terlihat hasilnya, dengan enam fokus utama: ketahanan modal kerja, penguatan SDM, digitalisasi, efisiensi operasional, tata kelola, dan sinergi grup.
Meski laba masih kecil (Rp54 miliar), ini tetap titik balik yang signifikan setelah tiga tahun tertekan.
KRAS
Nah, ini yang paling perlu kamu perhatiin. KRAS berhasil membalikkan rugi US$105,38 juta jadi laba US$10,94 juta. Pendapatan naik 35,1% dan beban keuangan turun 32,7% berkat restrukturisasi utang dari Danantara. Secara akuntansi, ini turnaround.
Tapi tunggu dulu.
Di balik laba itu, ada masalah serius. Arus kas operasi KRAS memburuk drastis—dari negatif US$32,8 juta jadi negatif US$156,9 juta. Artinya, secara kas, bisnis inti mereka justru kehilangan uang lebih banyak dari sebelumnya.
Ini contoh klasik yang harus diingat: laba akuntansi bisa direkayasa, tapi arus kas adalah cerminan uang beneran yang masuk dan keluar. Selama arus kas operasi masih negatif, apalagi memburuk, turnaround ini belum bisa dibilang sehat.
BEST
BEST punya cerita turnaround yang paling cepat. Pendapatan mereka melonjak 303,35% jadi Rp380 miliar, didorong penjualan lahan industri yang mencapai Rp265 miliar.
Laba bersih berbalik dari rugi Rp58,25 miliar jadi laba Rp144 miliar.
Yang bikin ini menarik: BEST punya recurring income—pendapatan berulang dari kawasan industri yang terus tumbuh dari tahun ke tahun. Jadi turnaround-nya bukan cuma one-hit wonder dari penjualan aset, tapi ada fondasi bisnis yang lebih stabil.
WMPP
WMPP mencatat pendapatan naik 41,2% jadi Rp562,72 miliar, didorong lini peternakan unggas (poultry) yang nyumbang 87,26% dari total pendapatan.
Laba bersih melejit 194% jadi Rp123,5 miliar, berbalik dari rugi Rp131,52 miliar.
Katalis di balik ini: permintaan protein hewani yang terus meningkat, baik di pasar domestik maupun global. Industri pangan emang lagi punya tailwind yang kuat, dan WMPP berhasil memanfaatkannya dengan efisiensi operasional yang lebih baik.
SSIA
Pendapatan SSIA naik 58,4% jadi Rp3,35 triliun. Segmen properti mereka mencatat pertumbuhan laba lebih dari 10 kali lipat—ini yang bikin seluruh kinerja ikut terdongkrak.
Laba bersih berbalik dari rugi Rp32,34 miliar jadi laba Rp262,55 miliar.
Apa pendorong utamanya? Penjualan lahan industri 64,7 hektare dari proyek Subang Smartpolitan dan Suryacipta City of Industry. Kawasan industri Suryacipta emang lagi jadi motor utama pertumbuhan SSIA, dan ini terlihat jelas dari laporan keuangan mereka.
APLN
APLN mencatat penjualan dan pendapatan yang melonjak 117% jadi Rp3,66 triliun. Laba bruto naik 91%, dan yang paling penting: laba komprehensif berbalik dari rugi Rp71,8 miliar jadi laba Rp523,5 miliar.
Salah satu pendorong utamanya adalah monetisasi aset Mall Deli Park Medan senilai Rp2,2 triliun. Tapi gak cuma itu—APLN juga berhasil menekan total liabilitas dari Rp11,28 triliun jadi Rp10,37 triliun. Dalam 2,5 tahun terakhir, mereka sudah mengurangi utang sebesar Rp4,50 triliun.
Ini turnaround yang cukup solid di sektor properti, yang emang lagi susah-susahnya.
Dari 8 emiten di atas, turnaround paling kredibel ada di GOTO dan UCID, perbaikan fundamentalnya komprehensif dan didukung pertumbuhan pendapatan serta efisiensi.
Tapi ingat: KRAS adalah pengingat, laba akuntansi yang membaik belum tentu mencerminkan kesehatan bisnis. Selalu cek arus kas sebelum percaya dengan angka laba.
Turnaround yang asli itu yang didukung oleh perbaikan bisnis nyata, bukan sekadar rekayasa akuntansi.
1/10









