imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

APA YANG TERJADI DI MARKET SAAT MTO?

Untuk dipahami dulu, mudahnya MTO terjadi karena adanya pergantian pengendali.

Biasanya pengendali lama dan pengendali baru sudah lebih dahulu menyepakati harga jual beli sahamnya. Mereka nego, salaman, tanda tangan, lalu transaksi tersebut menyebabkan terjadinya perubahan pengendali.

Setelah itulah pengendali baru diwajibkan menawarkan MTO kepada pemegang saham publik.

Jadi, MTO bukan berarti pengendali baru pasti ingin menyerap saham publik. MTO pada dasarnya merupakan kewajiban untuk memberikan pintu keluar kepada publik setelah terjadi pergantian pengendali.

Lalu, apa yang terjadi pada harga saham di pasar reguler?

Menurut saya, umumnya ada dua pola, tergantung siapa owner barunya dan apa kepentingannya.

1️⃣ Harga pasar ditekan mendekati harga MTO

Pola ini bisa terjadi apabila pengendali baru memang ingin menyerap banyak saham publik, terutama jika porsi kepemilikan awalnya masih kecil dan mereka ingin memperbesar kendali.

Dalam kondisi seperti ini, biasanya harga saham tidak dijaga tetap tinggi. Tekanan jual muncul, market maker melepas barang, dan harga pasar turun mendekati, bahkan kadang berada di bawah, harga MTO.

Ketika harga di pasar lebih rendah daripada harga MTO, publik tentu lebih memilih menjual kepada pengendali baru melalui proses MTO.

Pola seperti ini cukup sering saya lihat pada saham-saham yang menjalani MTO oleh Grup Sinarmax.

2️⃣ Harga saham tetap mengikuti mekanisme pasar

Pola kedua terjadi ketika pengendali baru tidak memiliki kepentingan menyerap saham publik.

Untuk apa juga menyerap terlalu banyak barang publik jika akhirnya free float berkurang dan kena tegur BEI.

Dalam kondisi seperti ini, tidak ada tekanan khusus untuk membawa harga saham turun ke harga MTO. Harga akan tetap mengikuti mekanisme pasar serta ekspektasi terhadap prospek perusahaan.

Apalagi jika pengendali barunya memiliki nama besar, lebih dipercaya, kompeten, punya modal kuat, atau membawa potensi pengembangan bisnis baru. Optimisme tersebut justru dapat membuat harga saham naik jauh di atas harga MTO.

Contohnya adalah MTO PTRO.

Periode MTO PTRO berlangsung pada 30 April - 29 Mei 2024 dengan harga:

Rp3.543,23 per saham sebelum stock split, atau setara sekitar Rp354 setelah stock split 1:10.

Sementara itu, selama periode MTO, harga PTRO di pasar berada di kisaran Rp5.700 - Rp6.850.

Artinya, harga pasar berada sekitar 61% - 93% di atas harga MTO.

KJP, anak usaha CUAN, awalnya membeli 34% saham PTRO dari pengendali lama, PT Caraka Reksa Optima, dengan harga sekitar Rp2.741 per saham.

Menariknya, setelah periode MTO selesai, pada 7 Juni 2024 KJP kembali membeli 75.836.700 saham atau 7,52% langsung dari CRO dengan harga yang sama, yaitu sekitar Rp2.741 per saham.

Kepemilikan KJP kemudian naik dari 34% menjadi 41,52%.

Jadi barang yang diserap tambahan oleh Pak PP berasal dari pengendali lama sesuai harga kesepakatan mereka, bukan mengejar saham publik melalui MTO pada harga Rp3.543.

Kesimpulannya, harga MTO bukan target harga saham dan bukan magnet yang otomatis menarik harga pasar turun ke sana.

Kalau misalnya harga MTO Rp8.500 sementara harga saham di pasar sudah Rp14.700, jangan langsung berpikir:

“Wah, nanti harga pasti jatuh ke Rp8.500.”

Lalu panik dan ikut jualan.

Lihat dulu siapa pengendali barunya, apakah mereka masih berkepentingan menyerap saham publik, bagaimana posisi free float, dan apakah ada tekanan jual di market.

Karena pada akhirnya, angka MTO hanyalah harga pintu keluar yang wajib disediakan. Arah harga saham tetap ditentukan oleh kepentingan owner, suplai barang, dan seberapa besar pasar mempercayai cerita baru yang dibawa pengendali tersebut.

Random tag: $SINI

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy