Market Outlook 31 Agustus - 6 September 2026
Sedikit review dulu dari minggu lalu.
Forecast kita again cukup bagus. IHSG minggu lalu forecasted di 6.380-6.720 dan lownya ternyata sekitar 6.377. Jumat juga tutup di 6.518, masih cukup pas sama expected close kita.
Rupiah juga masih cukup kuat di sekitar 17.700 dan yield SBN 10Y bahkan masih bertahan di bawah 7%.
Jadi secara domestik sebenernya oke oke aja dan arahnya masih cukup membaik.
Kalau minggu lalu tema saya adalah:
"Macro Indonesia membaik lebih cepat dibanding kualitas equity flownya.”
Minggu ini agak berubah jadi:
“Domestic Indonesia masih cukup sehat, tapi external shock mulai datang barengan lagi.”
---
THE FED & KEVIN WARSH
Pidato Kevin Warsh di Jackson Hole Jumat kemarin ternyata jauh lebih hawkish dibanding harapan market.
Probability The Fed naik bunga di September yang sebelumnya sekitar 35% langsung naik ke sekitar 57-60%.
UST 10Y juga balik lagi ke sekitar 4,7%.
Artinya thesis US yield bisa terus turun untuk sementara harus kita tahan dulu.
Ini penting karena selama beberapa minggu terakhir emerging market termasuk Indonesia cukup terbantu oleh:
UST turun
→ USD turun
→ Capital flow cari yield ke emerging market
→ Rupiah dan SBN menguat.
Kalau arah ini mulai berbalik, kita bakal mulai diuji apakah penguatan Rupiah dan SBN kemarin memang sustainable atau cuma temporary flow.
---
EVENT TERBESAR MINGGU INI: US LABOR DATA
Fokus global terbesar minggu ini sekarang pindah ke data tenaga kerja US.
Ada JOLTS, ISM, ADP dan akhirnya Jumat Nonfarm Payroll Agustus.
Menurut saya scenario terbaik buat emerging market kyk Indonesia adalah NFP melemah, tapi jangan sampai terlalu lemah.
Misalnya payroll masih sekitar 0-50 ribu dan unemployment relatif stabil.
Market bisa mulai mikir:
“Berarti NFP Juli yang negatif kemarin bukan cuma anomali, dan The Fed mungkin nggak punya ruang sebesar itu buat kembali hawkish.”
Alurnya masih kurang lebih:
Fed hike expectation turun
→ UST turun
→ USD turun
→ Rupiah menguat
→ SBN rally
→ emerging market dapet relief.
Sebaliknya kalau NFP malah kembali kuat, ditambah wage growth masih tinggi, market bisa makin yakin The Fed punya ruang buat naik bunga.
UST naik → USD naik → EM pressure lagi.
Yang tricky justru kalau NFP negatif lagi dan unemployment mulai naik.
Awalnya bonds mungkin rally, tapi kalau datanya terlalu jelek market malah bisa mulai masuk ke growth scare.
Jadi intinya:
NFP jelek belum tentu otomatis bullish saham
---
DATA INDONESIA
Indonesia juga punya beberapa data penting:
Manufacturing PMI
Inflasi Agustus
Trade Balance.
Buat saya yang paling penting justru Trade Balance.
Kenapa?
Karena current account Indonesia Q2 ternyata defisitnya cukup dalam sampai sekitar -3,3% GDP.
Artinya Indonesia sekarang relatif lebih bergantung sama capital inflow buat nutup external deficit.
Selama foreign money masih masuk ke SBN, SRBI dan saham, everything looks fine.
Tapi kalau nanti malah terjadi capital outflow, oil naik, Fed hawkish pressure ke Rupiah bisa jauh lebih cepat.
Makanya menurut saya kurang afdol kalau sekarang kita bilang Rupiah di 17.700 berarti sudah benar-benar stabil.
Rupiah memang membaik. SBN juga getting better. Tapi external account Indonesia masih punya vulnerability.
---
UPDATE US-IRAN & HORMUZ
Sekarang keadaannya mulai panas lagi.
Sayangnya progress deskalasi yang mulai keliatan bagus minggu lalu mundur lagi.
Current US-Iran War Stability Score = 5/100. (Lihat post saya sebelumnya untuk guidance lengkap)
US nyerang launcher Iran di Pulau Larak setelah mengatakan Iran sedang mempersiapkan sistem buat deploy ranjau laut. Iran kemudian membalas dengan ballistic missile ke markas US di Jordan. Menurut saya ini belum sama kayak full scale war bulan Juli.
Belum ada bombing campaign berhari-hari dan belum ada major Gulf oil facilities yang hancur.
Tapi ya jelas ini step back dari deskalasi. Yang paling saya pantau sekarang justru berita soal ranjau di Hormuz.
Kalau Iran sampai beneran redeploy mines:
-Insurance coverage bisa mundur lagi
-Tanker makin takut masuk
-LNG/VLCC traffic turun
-Mine clearing harus mulai lagi
-Reopening Hormuz otomatis mundur.
Ini jauh lebih penting daripada sekadar jumlah missile yang ditembakkan hari itu Karena kalau jalur shipping terganggu lagi, efeknya langsung masuk ke oil.
---
OIL BALIK JADI PROBLEM
Brent sekarang balik ke sekitar $90.
Buat Indonesia menurut saya frameworknya masih sama:
Under $82 = sangat bullish macro
$82-88 = nyaman
$88-92 = masih manageable
$92-100 = mulai batuk batuk
Over $100 = macro shock lagi.
Jadi Brent sekarang udah balik ke area yang kurang nyaman.
Belum disaster. Tapi jelas sudah bukan kondisi yang ideal juga.
Ini salah satu alasan kenapa minggu ini saya lebih defensive dibanding beberapa minggu terakhir walaupun medium term saya masih bullish Indonesia.
---
RUPIAH & SBN
Buat Rupiah saya masih cukup constructive, tapi risk band-nya sekarang mulai melebar karena kombinasi US yield dan Middle East.
Selama Rupiah masih bertahan di area 17.700-an dan tidak kehilangan 18.000 secara agresif, menurut saya belum ada alasan buat terlalu panik.
Kalau US labor data lemah, oil turun lagi dan trade balance Indonesia cukup bagus, Rupiah masih punya peluang lanjut recovery.
Tapi kalau US yield naik, oil tembus jauh lebih tinggi dan foreign flow mulai keluar, ya ceritanya berubah.
SBN juga mirip. Yield 10Y sekarang masih sekitar 6,9%-an.
Selama SBN masih mampu bertahan sekitar area 7% walaupun UST tinggi, menurut saya itu justru cukup constructive karena berarti domestic demand masih ada.
Yang saya nggak mau lihat adalah yield mulai naik cepat barengan sama Rupiah melemah.
Kalau dua-duanya kejadian sekaligus, baru external pressure mulai beneran masuk.
---
IHSG & MSCI
IHSG minggu ini agak unik karena 31 Agustus adalah MSCI implementation close + month end. Singkatnya rebalancing day.
Jadi kalau pas closing ada gerakan aneh, jangan semua langsung dikaitin sama perang, Fed atau fundamental Indonesia. Menurut saya price discovery yang lebih normal baru akan keliatan setelah MSCI selesai.
Secara struktur, saya masih melihat IHSG medium term cukup constructive.
Tapi minggu ini risk-reward buat ngejar harga menurut saya nggak sebagus beberapa minggu lalu.
Area sekitar 6.400-an masih jadi area penting yang saya perhatikan.
Kalau IHSG bisa absorb external shock dan tetap bertahan di atas area tersebut, thesis recovery masih hidup.
Kalau mulai kehilangan area itu secara convincing, baru kita evaluasi ulang.
---
KESIMPULAN
Domestic Indonesia masih cukup bagus. Rupiah relatively strong. SBN masih aman. Banking juga masih oke. Teknikal IHSG belum rusak.
Tapi sekarang beberapa external risk datang barengan:
-Warsh lebih hawkish
-Fed hike probability naik
-UST naik lagi
-Brent balik sekitar $90
-US-Iran mulai saling serang lagi
-Hormuz risk naik lagi.
Jadi buat minggu ini saya lebih prefer jangan terlalu agresif ngejar market dan tetap punya liquidity
Medium term saya masih bullish Indonesia.
Tapi kalau market kasih pullback karena event risk, menurut saya justru itu lebih menarik dibanding maksa beli pas market udah menunjukan pelemahan.
Big banks masih menarik buat long term/dividend play dan untuk commodities, gold menurut saya masih jadi salah satu alpha yang paling menarik selama geopolitical risk dan policy uncertainty masih tinggi.
Intinya minggu ini bukan berarti fix bearish tapi lebih berhati-hati aja dan tetep punya cash.
$IHSG $BMRI $BUMI