Mindset Seorang Pemilik Bisnis
Banyak yang heran, mengapa ada sebagian orang yang bisa tahan memegang saham dalam jangka waktu yang lama. Salah satu jawabannya adalah: mereka memiliki mindset seorang ‘business owner’, bukan sebagai seorang ‘stock trader. Begitu juga saya, yang menganggap saham itu merupakan bukti kepemilikan saya terhadap suatu perusahaan. Apa yang mendasari suatu bisnis itulah yang menjadi perhatian saya, bukan pergerakan harga saham di bursa dan bukan pula gejolak ekonomi makro. Investor-investor hebat seperti Ben Graham, Phil Fisher, Warren Buffet, Charlie Munger, Li Lu, John Neff, Peter Lynch, Joel Greenblatt juga memiliki pemahaman yang seragam, yakni kepemilikan saham berarti menjadi bagian dalam bisnis suatu perusahaan. Dan Perusahaan tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk membuktikan kinerjanya.
Hadirnya Bursa Efek Indonesia memungkinkan perusahaan untuk menyerap modal dari publik. Kehadiran bursa juga memudahkan publik untuk memiliki suatu perusahaan dengan membeli sahamnya. Namun, kebanyakan publik justru menjadikan bursa efek sebagai tempat berjudi yang dilegalkan, dan kebanyakan mereka menganggap saham hanyalah sebuah kertas yang bisa diperdagangkan yang harganya bisa bergerak setiap menit. Hal ini diperparah oleh pelaku bursa dan broker yang lebih senang melayani para pedagang saham ini. Yaiyalah, kalo transaksi di bursa sepi, kantong mereka bisa kering hehe. Jika anda pernah nonton IDX Channel, maka jangan heran media tersebut lebih banyak berisikan berita, analisis, rekomendasi yang ditujukan untuk para pedagang saham. Jarang sekali mereka membahas kinerja fundamental perusahaan, kondisi bisnis, profil manajemen perusahaan, persaingan industri dll.
Ya memang begitulah faktanya. 90% pelaku pasar modal baik di bursa Indonesia maupun bursa luar negeri lebih happy atau senang bertransaksi saham secara jangka pendek. Tapi saya berpesan, jangan gundah dengan kehadiran para trader dan juga fund manager profesional ini. Justru kita berterima kasih kepada mereka yang mengakibatkan saham berpindah tangan pada jam-jam sibuk dan membuat pergerakan harga di bursa selalu berguncang setiap detik. Mereka mengambil keputusan berdasarkan pergerakan harga jangka pendek, berita kondisi makro, berita perang, berita virus dan tak jarang mereka menjadi murung dan sangat pesimis sehingga menyebabkan harga saham secara rata-rata mengalami penurunan tajam.
Hal ini sebagaimana yang terjadi akhir-akhir ini, dimana banyak pelaku pasar yang stres karena banyaknya sentimen negatif yang bertebaran, salah satunya isu virus corona. Hal ini juga mengingatkan saya pada tahun 2015, dimana saya masuk ke pasar untuk pertama kalinya. Saat itu laju pertumbuhan ekonomi tidak memenuhi ekspektasi para ekonom, lalu direspon dengan ambrolnya IHSG sebesar 25,4% dari titik tertingginya. Ketika hal-hal mengerikan seperti itu terjadi, sebagian investor berjiwa businessman melihat peluang untuk membeli perusahaan yang harganya bisa lebih rendah dari underlying-nya. Hal ini, tidak akan ditemukan saat anda ingin membeli perusahaan secara langsung dengan bernegoisasi dengan pemilik perusahaan sebelumnya. Anda akan menemukan deal2an yang alot. Di pasar saham, hal-hal gila bisa terjadi.
Ketika anda sudah memiliki saham sebuah perusahaan yang anda beli melalui pasar saham, maka selanjutnya berperilakulah selayaknya businessman. Abaikan pergerakan harga harian di layar hp anda. Anda tidak perlu mengecek harga sahamnya besok pagi, minggu berikutnya, bulan berikutnya untuk memastikan apakah keputusan anda benar atau salah. Jika anda sudah yakin akan riset yang anda lakukan untuk mengidentifikasi kualitas perusahaan dan anda membelinya pada valuasi yang wajar, maka tutup laptop anda dan berliburlah dengan keluarga tercinta. Anggap saja setelah pembelian hari ini besoknya bursa saham tutup sampai 5 tahun ke depan. Abaikan rekomendasi analis terkait support dan resistance atau target price untuk menjual. Fokuslah pada kondisi perusahaan anda. Baca setiap laporan yang diterbikan oleh manajamen; kunjungi pusat perbelanjaan tempat produk perusahaan anda dijual dan amati bagaimana perilaku konsumen; perhatikan siapa saja pesaing perusahaan anda; hadiri public expose dan RUPS yang diselanggarakan; dan gali informasi dari pihak manajemen terkait rencana ekspansi ke depan.
Sungguh aneh jika ada seorang pengusaha yang menjual bisnisnya karena panik dengan kondisi makro. Misalnya, anda seorang pengusaha kedai kopi, akankah anda menjual kedai kopi anda berdasarkan tweet Donald Trump, laporan BPS terkait pertumbuhan ekonomi melambat, atau adanya wabah virus mematikan? Tentu saja nggak kan? Apalagi dalam perjalanannya, bisnis kedai kopi anda berjalan dengan baik, penjualan terus tumbuh dan anda sudah memiliki basis pelanggan yang banyak. Anda yakin bahwa usaha anda akan terus going concern meskipun ekonomi makro selalu bergejolak. Mengapa anda yakin? Ya karena andalah pemilik bisnisnya, anda yang lebih tahu SWOT perusahaan anda. Lalu, anda ingin berekspansi tapi modalnya nggak cukup. Akhirnya anda memutuskan untuk membawa perusahaan anda melantai di bursa, dan anda menyerap tambahan modal saat IPO. Setelah saham perusahaan anda listing, maka ia diperdagangkan di pasar sekunder oleh jutaan orang. Setiap hari saham anda berpindah tangan dan harganya naik-turun. Pertanyannya, akankah anda bergeming melihat kenyataan ini bahwa di bursa harga saham perusahaan anda naik dan turun secara inefisien? Akankah kinerja bisnis anda akan ikut naik turun seiring naik turunnya harga saham di bursa? Jadi saudara2, PERSETAN dengan pergerakan IHSG, jika anda memiliki mindset sebagai pemilik bisnis.
Oke kita kembali ke pembahasan. Saat ini anda mungkin seorang pekerja atau mahasiswa atau yang memiliki sedikit waktu sehingga tidak memungkinkan bagi anda untuk mendirikan perusahaan seperti $SIDO $HMSP $INDF $ASII dll. “Bagaimana mau mulai mendirikan perusahaan seperti mereka? Lah modal kita saja tidak menyanggupi dan kita juga sibuk berkarir”. Okelah, kita gausah bicara yang besar-besar dulu. Untuk mendirikan usaha kecil atau menengah seperti kedai kopi saja belum tentu kita mampu dan berhasil. Meskipun modalnya ada, tapi kita membutuhkan waktu dan tenaga yang luar biasa untuk merintis suatu usaha. Namun, nyatanya kehadiran bursa efek itu memungkinkan kita untuk memiliki saham perusahaan besar dengan modal kita yang seadanya dan tanpa tenaga yang besar pula. Anda cukup membeli saham perusahaannya dan tidak perlu memikirkan gimana cara mengoperasikan bisnisnya, karena sidah ada pihak manajemen yang bekerja untuk anda para shareholder. Jadi dengan membeli saham $BBRI misalnya meskipun hanya 1 lot, anda berhak mendeklarasikan diri anda sebagai salah satu PEMILIK BANK BRI.
“Apa benar begitu? Apa bukti dan benefitnya kalo saya sudah menjadi salah satu pemilik perusahaan meskipun hanya memiliki 1 lot saham?” Memang anda bukanlah pemilik mayoritas dengan kepemilikan lebih dari 50%, sehingga keputusan anda tidak akan berarti apa-apa. Tapi, setiap perusahaan membagikan dividen, uang itu tetap ditransfer ke rekening anda kan meskipun anda hanya punya 1 lot? Lalu ketika ada RUPS, anda tetap boleh menghadirinya kan meskipun hanya punya 1 lot? Ketika perusahaan memiliki produk yang laku terjual, lalu perusahaan memperoleh laba, kemudian sebagian dari laba tersebut diinvestasikan kembali dan sebagian lagi disalurkan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen, maka terciptalah value creation bagi pemegang saham. Dalam jangka panjang, anda akan merasakan ini. Maka jangan berkecil hati karena modal anda terbatas dan anda hanya mampu beli selot selot, asalkan anda terus konsisten secara perlahan menambah kepemilikan anda.
“Kalo harga sahamnya turun gimana, berarti modal kita jadi minus dong, rugi dong kita?” Ya kan yang turun itu cuma harganya, bukan kinerja perusahaannya kan? Selama anda tidak jual saat harganya turun ya anda belum dikatakan rugi modal. Masa anda nggak happy kalo harga sahamnya turun? Bukankah ini adalah suatu kesempatan untuk menambah kepemilkan anda menjadi lebih banyak dengan jumlah modal yang sama dari transaksi sebelumnya? Apalagi anda masih yakin akan kualitas fundamental perusahaan yang masih baik, ya tidak perlu panik. “Tapi saya nggak yakin terhadap kualitas perusahaannya karena saya membeli berdasarkan rekomendasi orang lain dan tidak sempat melakukan riset sebelum membeli, kalo begini gimana paman?” Mati saja lah kau.
Sekali lagi, meskipun kepemilikan kita kecil atau di bawah 5%, kita tetaplah pemilik dari perusahaan tersebut. Tanamkan mindset tersebut di benak anda. Bagi saya, pemegang saham minoritas itu ibarat: THE SILENT PARTNER IN A PRIVATE BUSINESS WHOSE RESULTS WOULD BE ENTIRELY DEPENDENT ON THE PROFITS OF THE ENTERPRISE”. Meskipun saya shareholder minoritas, saya tetap happy dan bisa hidup tenang. Saya akan membiarkan perusahaan saya untuk terus meningkatkan kinerjanya dan melipatgandakan setiap keuntungan sehingga value saya sebagai shareholder akan terus tumbuh. Dalam perjalanan investasi, saya hanya fokus pada kualitas bisnis dan manajemen suatu perusahaan beserta dengan kondisi keuangannya tanpa mengkhawatirkan kondisi makro dan juga fluktuasi pasar saham. Saya lebih senang meluangkan waktu untuk memahami bagaimana bisnis mereka bekerja, bagaimana ia berinteraksi dalam ekosistemnya, siapa yang mengelolanya dan bagaimana corporate risk-nya.
Seorang Warren Buffet dulunya saat berusia antara 11 dan 19 tahun merupakan seorang “investor” yang gagal. Dan itu bukan karena ia malas dan kurang berusaha, tapi karena dia menganggap saham hanyalah selembaran kertas yang bisa diperdagangkan dan pengambilan keputusannya hanya berdasarkan analisis teknikal. Simak pernyataannya: "From 11 to 19, I was reading Garfield Drew, and Edwards and Magee, and all kinds of — I mean, I read every book — Gerald M. Loeb — I mean, I read every book there was on investments, and I didn’t do well at all. And I had no real investment philosophy. I had a lot of things I tried. I was having a lot of fun. I wasn’t making any money. And I read Ben’s book in 1949 when I was at University of Nebraska, and that actually just changed my whole view of investing. And it really did, basically, told me to think about a stock as a part of a business”.
Setelah membaca buku Ben Graham (The Intelligent Investor), Buffet merubah mindsetnya bahwa saham bukanlah sekedar kertas yang bisa diperdagangkan, ia merupakan bagian dari bisnis. Lalu, Buffet bertemu dengan Charlie Munger dan membaca buku dari Phil Fisher. Buffet mengembangkan pendekatan investasinya dengan tidak hanya menghabiskan waktu untuk membaca laporan keuangan, tapi ia juga mulai memperhatikan aspek kualitas dari suatu bisnis dan manajemen perusahaan. “One of the best books on investment was written in 1958. I think I read it in around 1960 by Phil Fisher called Common Stocks and Uncommon Profits. It talked about the importance or the usefulness of what he called the scuttlebutt method. And you know that was something I didn't learn from Graham but every now and then it's turned out to be very useful”. Berikut adalah kutipan lainnya dari seorang Warren Buffet berserta investor hebat lainnya mengenai “Business Owner’s Mindset”:
“In the academic world, there’s been a rejection of actually thinking about stocks as businesses - essntially because there’s been an enormous amount of data about price, volume, P/E ratios and dividend yields .. Everybody loves to run a million statistical comparisons of this variable versus that variable. They’re looking for answers in a bunch of chicken entrails and ignoring the fact that when you buy a stock you buy part of a business. It is extraordinary to me. It is also quite valuable from our standpoint. If you’re in the sailing business, you’d want to set up a flat earth scholarship. There’s no question about it. It reduces competition like you can hardly believe.” (Warren Buffett)
“The number one idea is to view stock as an ownership of the business and to judge the staying quality of the business in terms of its competitive advantage." (Charlie Munger)
“Stocks are ownership shares of businesses; they are not pieces of paper that bounce around on which you calculate Sharpe and Sortino ratios. They are ownership shares of businesses that we value, and either buy at a discount or short when they are overpriced.” (Joel Greenblatt)
“Although it’s easy to forget sometimes, a share of stock is not a lottery ticket. It’s part ownership of a business." (Peter Lynch)
“You have to think of yourself as an owner of a business, rather than an owner of a piece of paper. You own a small piece so therefore you really don’t control the business. So it’s almost self-defence to demand a large margin of safety because whatever value you perceive may not be there because you can’t control it.” (Li Lu)
“We are not speculators in the price movement of shares. We own businesses. The focus is on owning the most exceptional businesses we can find.” (John Neff)
Sekali lagi saya katakan bahwa memiliki saham berarti menjadi bagian dalam kepemilikan bisnis. Untuk bisa terus tahan memegang saham dalam jangka panjang sambil melewati fluktuasi pasar dengan nyaman, penting bagi anda untuk membutuhkan kesabaran, dan memiliki pola pikir sebagai seorang pemilik bisnis. Selain memiliki mindset yang benar, anda juga harus memiliki pemahaman yang baik tentang bisnis yang mendasarinya untuk memperkuat keyakinan dalam hold jangka panjang. Setelah anda memahami suatu bisnis, maka pastikan juga bahwa bisnis tersebut memiliki kualitas yang baik. Untuk mengidentifikasikan bisnis yang berkualitas, maka luangkan waktu untuk meneliti mengenai: Apa yang dikerjakan perusahaan dan bagaimana proses bisnisnya? Apakah high capital requirements? Produk apa yang mereka hasilkan? Apakah barang yang consumable, durable, atau comodity based? Apakah perusahaan bisa menentukan sendiri harga produknya? Apakah produknya rentan terhadap regulasi pemerintah? Apa keunggulan perusahaan dalam industrinya? Apakah perusahaan memiliki budaya organisasi yang etis? Apakah perusahaan lebih efisien dibanding kompetitor? Apakah perusahaan memiliki jaringan distribusi yang lebih luas? Mengapa pelanggan lebih memilih produk perusahaan dibandingkan kompetitor? Apakah perusahaan mampu memanfaatkan teknologi? Apakah perkembangan teknologi akan memengaruhi bisnis secara positif atau negatif? Apakah perusahaan terus berinovasi dan memiliki divisi RnD yang baik? Apakah bisnisnya membaik atau memburuk?
Saudara-saudari yang berbahagia, menutup tulisan ini saya ingin menyampaikan bahwa untuk berinvestasi saham dalam jangka panjang, maka jadikan diri anda sebagai analis bisnis, bukan analis makro maupun analis pasar. Setelah anda memiliki pemahaman yang cukup mengenai bisnis, maka selanjutnya tingkatkan pemahaman anda tentang cara kerja manajemen dan juga laporan keuangan perusahaan serta menghitung valuasi. Untuk meneliti kualitas bisnis dan manajemen, tentu saja anda membutuhkan teknik analisis kualitatif dimana sumber datanya tidak tertera dalam laporan keuangan. Bagaimana cara mudah untuk mempelajari elemen kualitatif suatu perusahaan? Akan saya ceritakan ditulisan selanjutnya. Sabar ya.
