⛏️ PTBA 1H26: Laba Bersih +218% YoY, Lampaui Ekspektasi
Stockbit’s take:
• Bukit Asam ($PTBA) mencatat laba bersih ~Rp1,8 T pada 2Q26 (+319% YoY, +130% QoQ), sehingga laba bersih selama 1H26 mencapai ~Rp2,6 T (+218% YoY) dan melampaui ekspektasi karena setara 66% estimasi 2026F konsensus.
• Kami menilai kinerja PTBA selama 2026 berpotensi melampaui ekspektasi 2026F konsensus, meski risiko utama datang dari kenaikan biaya bahan bakar.
• Lonjakan laba bersih secara kuartalan pada 2Q26 utamanya didorong oleh kenaikan harga jual rata–rata (ASP) dan volume penjualan.
• Informasi mengenai data operasional PTBA selama 1H26 dapat dibaca selengkapnya di sini: https://stockbit.com/post/34170293.
ASP Batu Bara Menguat seiring Kenaikan Harga Energi Global
PTBA membukukan kenaikan ASP batu bara menjadi ~Rp1,1 juta/ton pada 2Q26 (+20% YoY, +15% QoQ), sejalan dengan penguatan harga batu bara global akibat mengetatnya pasokan LNG dan kenaikan harga energi di tengah konflik Timur Tengah. Volume penjualan meningkat secara kuartalan menjadi 10,9 juta ton pada 2Q26 (-4% YoY, +7% QoQ). Ini membuat volume penjualan selama 1H26 menjadi 21,1 juta ton, setara 43% guidance 2026F dari manajemen. Kenaikan ASP dan volume penjualan pada 2Q26 mendorong ekspansi margin laba kotor menjadi 22,3% (vs. 2Q25: 11,4%, 1Q26: 15,5%).
Volume Produksi Naik ~2x setelah Inventory Drawdown pada 1Q26
Volume produksi PTBA meningkat hampir 2x menjadi 12,8 juta ton pada 2Q26 (vs. 1Q26: 6,6 juta ton), menyusul inventory drawdown yang signifikan pada 1Q26. Pemulihan produksi tersebut membawa volume produksi selama 1H26 menjadi 19,4 juta ton, setara 39% guidance 2026F dari manajemen.
Stockbit’s View: Positif, Didukung Harga & Permintaan yang Relatif Tinggi ke Depan
Secara keseluruhan, kami menilai kinerja PTBA pada 2Q26 menunjukkan hasil yang positif, didukung oleh kenaikan ASP dan volume penjualan secara kuartalan. Ke depan, kami memproyeksikan harga dan permintaan batu bara tetap berada di level yang relatif tinggi, didukung oleh krisis energi berkepanjangan akibat konflik Timur Tengah serta meningkatnya permintaan batu bara menjelang musim dingin pada akhir tahun.
Dengan asumsi harga batu bara tetap berada di level yang tinggi, laba bersih PTBA selama 2026 berpotensi melampaui estimasi konsensus. Namun, terdapat risiko dari sisi kenaikan biaya bahan bakar yang berpotensi meningkatkan biaya produksi.
______
Christian William Munaba (@chriswill97)
Investment Analyst Stockbit
