imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

🏦 BBRI 1H26: Laba Bersih +17% YoY, Siap Kembali Ekspansi Kredit Mikro

Bank Rakyat ($BBRI) mencatat laba bersih Rp15,4 T pada 2Q26 (+21% YoY, -1% QoQ). Hasil ini membuat laba bersih BBRI selama 1H26 mencapai Rp30,9 T (+17% YoY), setara 53% estimasi 2026F konsensus dan sedikit di atas tren semester 1 secara historis di level ~50% realisasi tahunan. Pertumbuhan laba bersih berakselerasi pada 2Q26 dibandingkan 1Q26 (+14% YoY), didorong oleh kenaikan Pre–Provision Operating Profit (PPOP) yang lebih tinggi di level +18% YoY dibandingkan 1Q26 (+8% YoY), utamanya akibat efisiensi opex yang lebih baik sehingga dapat mengkompensasi kenaikan beban provisi yang lebih tinggi.

Margin Turun Seiring Tekanan Biaya Pendanaan, tapi Kualitas Aset Terus Membaik

Meski pertumbuhan kredit terakselerasi per Juni 2026 (+16% YoY, +5% QoQ), pertumbuhan Net Interest Income (NII) melandai ke +8% YoY pada 2Q26 (vs. 1Q26: +12% YoY), utamanya akibat kenaikan Interest Expense. Dinamika ini menyebabkan Net Interest Margin (NIM) turun ke ~7,5% pada 2Q26 (vs. 1Q26: 7,9%; 2Q25: 7,8%). Selama 1H26, NIM mencapai 7,7% dan berada di kisaran atas guidance 2026F di kisaran 7,4–7,8%. Manajemen BBRI dalam earnings call 1H26 mempertahankan guidance NIM tersebut, yang didasarkan pada pertimbangan bahwa kondisi likuiditas perbankan mulai membaik dalam 1 bulan terakhir seiring dengan tren suku bunga SRBI yang telah melandai. Pada aspek kualitas aset, BBRI terus mencatatkan perbaikan. NPL dan LAR masing–masing berada di level 2,9% dan 9,1% per Juni 2026, lebih rendah baik secara kuartalan maupun secara tahunan. Oleh karena itu, manajemen juga mempertahankan guidance Cost of Credit (CoC) 2026F di kisaran 2,9–3,2%. Hanya guidance pertumbuhan kredit 2026F yang diubah, dengan naik dari kisaran +7–9% YoY menjadi +8–10% YoY.

Proyeksikan Penurunan Dividend Payout Ratio untuk Dukung Ekspansi Mikro

Manajemen BBRI mengatakan bahwa perseroan mulai percaya diri untuk menumbuhkan kembali segmen mikro seiring berbagai perbaikan pada proses bisnis — baik dari loan underwriting maupun collection — serta tren kualitas aset yang terus membaik. Meski demikian, manajemen tidak merinci atau memberikan indikasi target pertumbuhan kredit mikro dalam waktu dekat. Manajemen sendiri mengindikasikan bahwa pihaknya berencana untuk menurunkan dividend payout ratio ke level yang lebih normal setelah naik ke level 92% pada tahun buku 2025, yang ditujukan untuk mengimbangi aspek pengembalian (return) kepada investor dengan pertumbuhan (growth). Dengan target meningkatkan ROE kembali ke arah 20%, dividend payout ratio berpotensi dipangkas secara bertahap ke arah 60%.

🔑 Key Takeaway

Kami melihat bahwa kembali nyamannya manajemen untuk menumbuhkan segmen mikro dapat menjadi sentimen positif bagi saham BBRI, terutama dalam konteks investor positioning di antara 3 bank Himbara. Kami menilai absennya pertumbuhan segmen mikro sejak awal 2025 mengurangi keatraktifan BBRI di mata investor, sehingga BBRI mengalami de–rating valuasi yang signifikan. Dalam 1 tahun terakhir, P/BV BBRI turun dari level ~2x ke level ~1,5x per Senin (31/8), di mana harga saham BBRI turun paling dalam (-17%) dibandingkan Bank Negara Indonesia ($BBNI) dan Bank Mandiri ($BMRI) yang masing–masing turun -11% dan -8%. Kami meyakini keberhasilan BBRI dalam kembali menumbuhkan segmen mikro secara sustainable akan menentukan re–rating ke depan. Dengan prospek momentum kinerja yang relatif lebih positif, BBRI menjadi preferensi kami bersama dengan BBNI di antara bank Himbara.

Stockbit Snips 31 Agustus 2026
https://cutt.ly/9yh6ZtV8

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy