ADRO 1H26: Laba Bersih +77% YoY, Sejalan dengan Ekspektasi
Stockbit’s take:
▪️ Alamtri Resources Indonesia ($ADRO) mencatat laba bersih US$181 juta pada 2Q26 (+41% QoQ, +84% YoY), sehingga laba bersih selama 1H26 mencapai US$309 juta (+77% YoY) atau setara 50% estimasi 2026F konsensus. Kami menilai hasil ini sejalan dengan ekspektasi, mengingat segmen aluminium belum membukukan pendapatan sama sekali selama 1H26.
▪️ Secara kuartalan, kenaikan laba bersih pada 2Q26 ditopang oleh segmen mining services yang mencatatkan laba bersih US$63 juta (+111% QoQ, +140% YoY), didorong oleh penurunan biaya consumables menjadi US$18 juta (vs. 1Q26: US$32 juta) di saat volume overburden relatif stabil secara kuartalan di ~44 juta bcm.
▪️ Di sisi lain, beban keuangan bersih berbalik menjadi US$13 juta (vs. 1Q26: untung US$13 juta) akibat bunga sewa pembangkit listrik yang digunakan smelter aluminium PT Kalimantan Aluminium Industry senilai US$26 juta yang mulai dibebankan pada 2Q26. Selain itu, ADRO membukukan pendapatan dividen US$34 juta pada 2Q26 yang kami perkirakan berasal dari Adaro Andalan Indonesia ($AADI), setelah pada 1Q26 belum mencatatkan pendapatan dividen sama sekali.
▪️ Secara kumulatif, kenaikan laba bersih selama 1H26 ditopang oleh pendapatan dividen sebesar US$34 juta (vs. 1H25: tidak ada) dan laba JV sebesar US$34 juta (vs. 1H25: rugi US$4 juta). Berdasarkan segmennya, kedua segmen terbesar ADRO, yakni mining dan mining services, masing–masing mencatatkan kenaikan laba bersih +45% dan +54% YoY selama 1H26, di saat segmen aluminium masih mencatatkan rugi bersih US$45 juta.
▪️ Ke depan, manajemen ADRO menargetkan penjualan ingot aluminium hingga 350 ribu ton pada 2026, melampaui estimasi produksi kami di 300 ribu ton. Pada akhir 1H26, PT Kalimantan Aluminium Industry mencatat persediaan aluminium senilai US$320 juta, dengan 2 kargo pengiriman aluminium pertama telah berlayar pada 10 dan 29 Juni 2026.
Stockbit’s View: Kinerja 1H26 Terjaga Tanpa Aluminium; Konversi Persediaan Menjadi Katalis pada 3Q26
▪️ Kami mempertahankan pandangan positif kami untuk ADRO pada 2026, mengingat laba bersih selama 1H26 telah mencapai 50% estimasi 2026F konsensus di saat segmen aluminium masih menanggung rugi bersih US$45 juta tanpa pendapatan sama sekali.
▪️ Ke depan, konversi persediaan aluminium senilai US$320 juta menjadi penjualan pada 3Q26 berpotensi mengubah segmen aluminium — yang dimiliki melalui Alamtri Minerals Indonesia ($ADMR) — dari beban menjadi kontributor laba bagi ADRO.
▪️ Key upside: 1) konversi persediaan aluminium senilai US$320 juta menjadi penjualan pada 3Q26 dan ramp–up volume produksi aluminium berjalan sesuai ekspektasi manajemen; 2) pencatatan dividen AADI secara penuh pada 2026, dengan US$34 juta telah dibukukan pada 2Q26; dan 3) potensi kenaikan harga jual coking coal seiring berlanjutnya kenaikan harga coking coal China ke level US$258/ton, yang kini berada di atas indeks Australia di US$237/ton pada 31 Agustus 2026.
▪️ Faktor risiko: 1) margin smelter aluminium yang kurang baik, seiring penurunan harga aluminium LME ke level ~US$3.200/ton (vs. rata–rata 2Q26: US$3.559/ton), di saat harga alumina justru naik menjadi US$353/ton (vs. rata–rata 2Q26: US$307/ton); 2) berbaliknya biaya consumables segmen mining services ke level normal di kisaran ~US$30–38 juta dari level US$18 juta pada 2Q26; dan 3) dampak El Nino berkepanjangan yang berpotensi menurunkan debit air sungai, sehingga mengganggu logistik pengangkutan batu bara perseroan.
______
Theodorus Melvin (@TheodorusMelvin)
Investment Analyst Stockbit
1/2

