$ADMR ✅ Analisis Forensik Laporan Keuangan ADMR 1H26 (30 Juni 2026)
Berikut bongkaran mendalam berdasarkan laporan keuangan interim yang sudah direviu PwC.
1. Sumber Laba
Utama masih dari batubara metalurgi. Pendapatan naik 31,5% menjadi US$583,9 juta, laba bruto naik 54% (margin bruto naik ke 47,6% dari 40,6%).
Kontribusi aluminium (KAI) masih sangat terbatas dan bahkan merugi di level anak usaha. Terlihat dari kepentingan non-pengendali yang rugi US$11,6 juta. Artinya, laba induk US$174,2 juta justru lebih tinggi dari laba total US$162,6 juta karena “disubsidi” oleh NCI yang menanggung rugi smelter.
Laba usaha naik bagus, tapi biaya keuangan melonjak tajam (dari US$0,6 juta jadi US$27,1 juta) karena utang smelter.
Kesimpulan sumber laba: Masih batubara-driven. Aluminium belum menjadi mesin laba, bahkan masih menjadi beban di 1H26.
2. Kualitas Laba
Kualitas laba sedang-rendah di periode ini.
IndikatorAngkaPenilaianLaba IndukUS$174,2 jutaPositifArus kas operasi-US$173,7 jutaNegatif tajamPerubahan persediaan+US$389 jutaSangat besarBeban non-kas (depresiasi + amortisasi)TinggiBanyak
Laba akuntansi positif, tapi tidak didukung arus kas operasi. Ini klasik di fase ramp-up smelter (build-up inventory + working capital).
3. Arus Kas
Operating Cash Flow negatif US$173,7 juta.
Penerimaan dari pelanggan US$613 juta.
Pembayaran ke pemasok US$633 juta (lebih besar dari penerimaan).
Royalty dibayar US$82 juta.
Investasi: Capex relatif kecil di 1H26 (US$24 juta cash), karena sebagian besar sudah dikapitalisasi sebelumnya / via lease.
Pendanaan: Penerimaan utang bank US$453 juta → ini yang menopang cash.
Inti: Perusahaan “membeli” pertumbuhan dengan utang dan build-up inventory.
4. Utang
Item30 Jun 202631 Des 2025KenaikanUtang bank totalUS$1.158 jutaUS$713 juta+62%Liabilitas sewaUS$692 jutaUS$1,5 jutaEksplosifTotal liabilitasUS$2.345 jutaUS$1.174 juta+100%
Liabilitas sewa melonjak karena pengakuan Right-of-Use Assets sebesar US$664 juta (mesin, peralatan, tanah/bangunan untuk smelter).
Aset tetap tertentu milik KAI dijaminkan untuk utang bank.
Biaya pinjaman yang dikapitalisasi US$32,5 juta di 1H26 (cukup agresif).
Net debt naik tajam. Struktur modal menjadi jauh lebih leverage.
5. Transaksi Pihak Berelasi
Utang usaha ke pihak berelasi: US$38,7 juta (masih signifikan, 61% dari total utang usaha).
Beban yang masih harus dibayar ke pemasok & kontraktor sangat besar (US$291,6 juta) — kemungkinan besar termasuk jasa dari grup (SIS atau sejenis).
Pola klasik grup Adaro/Alamtri: mining services, transport, dan operasional banyak di-outsource ke pihak berelasi.
Belum ada indikasi transaksi yang mencurigakan secara material, tapi ketergantungan pada pihak berelasi tetap tinggi.
6. Perubahan Besar Akun (Red Flag Area)
AkunPerubahanInterpretasiPersediaan+US$389 juta (+435%)Sangat mencolok. Kemungkinan besar alumina + aluminium unfinished / finished goods dari smelterAset tetap+US$700 jutaSebagian besar dari Right-of-Use Assets + construction in progressLiabilitas sewa+US$690 jutaHampir seluruhnya baruUtang bank+US$445 jutaPendanaan smelterBiaya keuangan+US$26,5 jutaBeban bunga mulai terasa
7. Red Flags
Arus kas operasi negatif vs laba positif → kualitas laba lemah di 1H26.
Inventory spike ekstrem → perlu cek apakah ada risiko write-down atau slow-moving jika harga aluminium turun.
Leverage naik sangat cepat → risiko bunga dan covenant.
NCI rugi → smelter belum cash-flow positive.
Kapitalisasi bunga yang besar → laba “dibantu” oleh accounting treatment.
Depreciation allocated to inventory US$26 juta → sebagian biaya belum dibebankan ke laba rugi.
8. Hal yang Tidak Terlihat dari Laba Bersih
Smelter masih dalam fase “uang keluar”. Laba yang terlihat hampir sepenuhnya dari batubara.
Beban bunga yang sebenarnya lebih besar (sebagian dikapitalisasi).
Working capital yang sangat ketat (inventory + receivable vs payable).
Risiko eksekusi ramp-up smelter masih tinggi (jika delay, inventory dan bunga akan terus membebani).
Dividen tetap dibayar US$120 juta meskipun OCF negatif → mengandalkan utang baru.
Kesimpulan Forensik:
1H26 ADMR adalah laporan transisi.
Laba masih bagus karena batubara, tapi kualitas laba dan arus kas sedang tertekan oleh fase investasi/ramp-up aluminium.
Ini bukan red flag fraud, melainkan red flag operasional & financial leverage yang wajar di proyek greenfield smelter. Keberhasilan full year 2026 sangat bergantung pada seberapa cepat smelter mencapai utilisasi tinggi di 2H26.
Mau saya dalami lebih lanjut bagian tertentu (misalnya rincian inventory, Note 33 pihak berelasi, atau proyeksi sensitivitas bunga)?kenapa ada penjualan aluminium di bulan juni 2026 ke US dan korea belum masuk penjualan2 / 2Jawaban singkat:
Penjualan aluminium ke AS dan Korea Selatan pada Juni 2026 belum masuk pendapatan di laporan keuangan 1H26 karena masih dalam perjalanan (in transit) dan kontrol atas barang belum berpindah ke pembeli pada tanggal 30 Juni 2026.
Detail Fakta
Menurut data Export Genius (dikutip Reuters & berbagai media):
TujuanVolumeTanggal BerangkatStatus per 30 Juni 2026PembeliAmerika Serikat31.494 ton10 Juni 2026Masih en route ke Brownsville, TexasMercuriaKorea Selatan3.569 ton29 Juni 2026Masih en route ke IncheonVitolTotal±35.063 ton—Belum tiba—
Kenapa Belum Diakui sebagai Pendapatan?
Menurut standar akuntansi (PSAK 72 / IFRS 15):
Pendapatan diakui hanya ketika kontrol atas barang berpindah ke pembeli.
Untuk ekspor komoditas, pengakuan biasanya bergantung pada syarat pengiriman (Incoterms):
Jika FOB → biasanya diakui saat barang dimuat di pelabuhan asal.
Jika CIF / CFR atau ada syarat khusus → biasanya diakui saat barang tiba di pelabuhan tujuan atau saat dokumen diserahkan + risiko berpindah.
Dari fakta bahwa media masih menyebut “en route” / “sedang dalam perjalanan” bahkan sampai berita Juli, sangat mungkin:
Syarat penjualan masih menahan pengakuan pendapatan sampai barang tiba, atau
Perusahaan masih memperlakukan pengiriman perdana ini secara hati-hati (masih fase early commercial / commissioning).
Bukti di Laporan Keuangan 1H26
Persediaan naik sangat tajam (+US$389 juta / +435%).
Ini sangat konsisten dengan adanya finished goods aluminium in transit yang belum dijual secara akuntansi.
NCI (kepentingan non-pengendali) masih rugi US$11,6 juta → smelter KAI belum menghasilkan laba yang berarti di 1H26.
Pendapatan 1H26 masih didominasi batubara metalurgi.
Kesimpulan
Pengiriman Juni 2026 ke AS & Korea secara fisik sudah keluar, tapi secara akuntansi masih tercatat sebagai persediaan, bukan penjualan.
Pendapatan dari ±35.000 ton ini baru akan masuk di Q3 2026 (setelah kapal tiba dan kontrol berpindah).
Ini juga menjelaskan kenapa kontribusi aluminium di laba 1H26 masih sangat kecil / bahkan negatif di level KAI. $ADRO $ANTM
**Persediaan (Inventory) dihitung berdasarkan biaya perolehan (cost), bukan harga pasar.**
### Aturan Akuntansi (PSAK 14 / IAS 2)
Persediaan dinilai sebesar **yang lebih rendah** antara:
1. **Biaya perolehan (Cost)**, atau
2. **Nilai realisasi neto (Net Realizable Value / NRV)**
### Bagaimana Cost Dihitung untuk Aluminium di KAI?
Karena ini smelter (proses manufaktur), cost aluminium jadi terdiri dari:
| Komponen Biaya | Keterangan |
|----------------------------|--------------------------------------------------|
| Bahan baku (Alumina) | Harga beli alumina + ongkos angkut |
| Biaya konversi | Listrik + tenaga kerja langsung + overhead pabrik |
| Depresiasi | Sebagian depresiasi mesin/smelter dialokasikan ke inventory |
| Biaya lain yang dapat diatribusikan | Overhead produksi lainnya |
**Bukan** dihitung pakai harga LME saat itu (misalnya US$3.400–3.450).
### Contoh Sederhana
Misalnya total cost produksi aluminium KAI di 1H26 sekitar **US$2.200 – 2.600/ton** (tergantung harga alumina + listrik), maka:
- Inventory aluminium akan dicatat di sekitar angka cost tersebut.
- Baru kalau harga pasar (NRV) jatuh di bawah cost, baru dilakukan write-down (penurunan nilai).
### Kenapa Inventory ADMR Naik Tajam di 1H26?
Karena:
- Ada produksi aluminium yang sudah jadi (finished goods)
- Ada yang sudah dikirim ke AS & Korea tapi **belum diakui sebagai penjualan** (masih in transit) → tetap tercatat sebagai inventory
- Ada bahan baku alumina yang menumpuk
Jadi kenaikan inventory besar itu mencerminkan **biaya produksi yang sudah dikeluarkan**, bukan penilaian ulang ke harga pasar US$3.400-an.
---
**Ringkasnya:**
Persediaan aluminium dihitung di **harga pokok produksi (cost)**, bukan harga LME. Harga pasar hanya dipakai untuk uji penurunan nilai (kalau NRV < cost).