$FORU — TIGA KONSEN UTAMA MENJELANG RI
1️⃣ Valuasi BP sudah mengkapitalisasi sebagian besar potensinya
FORU akan menerima 49% saham PT Borneo Prima melalui inbreng senilai Rp20,817 triliun. Artinya, 100% ekuitas BP secara implisit dihargai sekitar Rp42,5 triliun.
Kalau memakai cadangan 87,7 juta ton dan harga semicoking coal BP sekitar US$200/ton, potensi pendapatan kotornya memang mencapai US$17,54 miliar atau sekitar Rp310 triliun sepanjang umur tambang.
Dengan asumsi margin bersih 20%, laba kumulatifnya secara sederhana bisa sekitar Rp62 triliun. Porsi 49% berarti sekitar Rp30 triliun.
Di atas kertas, angkanya bisa menjadi pembenaran valuasi inbreng Rp20,8 triliun.
Namun, realita tambang kadang bisa berbeda, bisa dibawah itu, sama atau diatas itu.
Karena erat hubungannya dengan waktu produksi, ramp-up, recovery, capex, biaya hauling dan barging, royalti, pajak, modal kerja, fluktuasi ASP, serta discount rate.
Memang dengan total sumber daya 206 juta ton dan luas IUP sekitar 15 ribu hektare, masih ada peluang angka-angka tersebut bergerak.
Selain itu aspek operasionalnya juga tidak sederhana. Pit BP berada di kawasan hulu Barito, lalu batu bara harus diangkut sekitar 140 km menuju jetty, jettynya BP dekat dengan jetty ADMR. Dari kawasan Muara Laung/Muara Tuhup, perjalanan tongkang menuju Taboneo masih sekitar 550–570 km.
Artinya, potensi BP memang besar, tetapi eksekusinya juga berat. Perbaikan jalur hauling, capex dan opex besar mengajar 5juta ton produksi 2030 jadi alasan RI cash 6T.
2️⃣ Siapa yang akan mengeksekusi porsi KCP dan menjadi pembeli siaga?
Nilai maksimal rights issue sekitar Rp27,1 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp20,817 triliun berasal dari inbreng IMR dan sekitar Rp6,285 triliun harus masuk dalam bentuk tunai dari pemegang saham non-IMR.
Dari perhitungan haknya, porsi KCP kira-kira Rp3,13 triliun dan porsi masyarakat sekitar Rp3,15 triliun.
Jadi, KCP sendiri mewakili hampir separuh kebutuhan dana tunai non-IMR dan sangat penting.
Namun, sampai sekarang belum ada informasi yang jelas apakah KCP akan mengeksekusi seluruh haknya, mengalihkan HMETD kepada pihak lain, atau sudah ada calon investor strategis dan pembeli siaga yang akan menyerap sisa saham.
Tidak adanya pembeli siaga bukan berarti rights issue pasti gagal. Inbreng IMR tetap bisa berjalan dan saham yang tidak terserap cukup tidak diterbitkan.
Bisa saja Rights issue dan inbreng BP dapat terlaksana, tetapi FORU gagal mendapatkan Rp6,285 triliun yang dibutuhkan untuk capek dan opex.
Sungguh sulit dipercaya manajemen menjalankan rights issue sebesar ini tanpa menyiapkan skenario untuk porsi KCP dan masyarakat. Apalagi beberapa pengurus FORU memiliki latar belakang finansial dan pasar modal.
Entahlah.
Bisa jadi masih terjadi proses tek-tokan dengan calon investor strategis.
Bisa juga komunikasi sengaja ditahan sampai struktur investornya benar-benar siap, agar proses distribusi HMETD dan momentum harga lebih mudah dikendalikan.
Atau memang rencana penyerapan dana publiknya belum matang.
Ketiga kemungkinan itu masih sebatas spekulasi. Namun, saya sulit percaya manajemen benar-benar sebodoh kemungkinan terakhir.
3️⃣ Nilai transaksinya sangat besar, tetapi komunikasinya justru sangat minim
Rights issue Rp27,1 triliun dengan kebutuhan dana tunai Rp6,285 triliun adalah angka yang SANGAT BESAR.
Anehnya, komunikasi proaktif manajemen masih sangat minim. Sebagian besar berita hanya mengulang keterbukaan informasi. Belum terlihat penjelasan operasional BP yang mendalam, strategi produksi, rencana penggunaan dana secara terperinci, mitigasi logistik, ataupun pihak yang akan mendukung penyerapan rights issue.
Di kalangan pelaku pasar pun FORU belum banyak dibahas. Beberapa teman sekuritas yang saya kenal bahkan belum terlalu memahami transaksinya atau memilih tidak tertarik karena valuasi dianggap mahal dan pembeli siaganya belum jelas.
Apakah manajemennya tidak mampu berkomunikasi, atau memang waktunya belum tiba untuk membuka semua kartu?
Saya belum tahu :)
Namun, saya juga kurang sepakat jika saat ini FORU langsung dituduh sedang menipu atau menjebak ritel.
Kalau tujuannya menarik ritel, pola komunikasinya justru harusnya sebaliknya. Promosi akan agresif , janji bombastis, influencer banyak yang bergerak.
Diamnya manajemen tentu bukan bukti bahwa semuanya aman. Tetapi kondisi ini juga tidak menyerupai pola klasik perusahaan yang sedang melakukan pump kepada ritel.
Justru pertanyaan terbesarnya berubah menjadi:
Kalau bukan ritel yang menjadi target utama penyerapan rights issue ini, lalu siapa?
______________________________________________________
Kesimpulan saya sementara:
BP adalah aset riil dengan potensi besar. Rights issue dan inbreng kemungkinan besar tetap berjalan. Namun, valuasinya agresif dan keberhasilan memperoleh dana tunai Rp6,285 triliun masih menjadi tanda tanya.
Jadi, pertanyaan utama saat ini bukan lagi apakah rights issue akan dilaksanakan.
Pertanyaannya adalah siapa yang akan membayar porsi tunainya dan mengapa sampai sekarang pihak tersebut belum dimunculkan.
?????