imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Cara Membaca Uang yang Beredar Lewat Indikator Ekonomi M0, M1, M2, M3

Kalau Lo mau ngerti ekonomi secara lebih dalam, jangan cuma lihat GDP, inflasi atau suku bunga. Lihat juga M0, M1, M2, M3 serta velocity of money. Disini akan kelihatan apakah uang benar-benar bertambah, masuk ke sistem perbankan, dipakai masyarakat, berputar dalam transaksi, lalu akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi.

● M0 adalah uang primer.

Isinya terutama uang kartal yang beredar dan cadangan bank di bank sentral. M0 paling dekat dengan kebijakan moneter. Ketika M0 naik maka likuiditas dasar sistem akan bertambah. Tapi ini belum berarti ekonomi bakal langsung tumbuh. M0 harus ditransmisikan melalui perbankan menjadi kredit dan transaksi.

● M1 lebih dekat dengan uang yang siap digunakan untuk transaksi.

Umumnya mencakup uang kartal dan simpanan yang sangat likuid seperti giro. M1 yang tumbuh secara sehat biasanya menunjukkan kemampuan transaksi ekonomi yang meningkat. Tapi kalau M1 tumbuh terlalu cepat sementara produksi barang dan jasa tidak mampu mengejar maka tekanan inflasi bisa muncul.

● M2 adalah ukuran yang jauh lebih penting untuk membaca likuiditas ekonomi secara luas.

M2 mencakup M1 ditambah simpanan yang kurang likuid seperti deposito dan bentuk uang kuasi lainnya. Ketika M2 tumbuh, maka potensi konsumsi, kredit dan investasi akan ikut membesar. Tapi sekali lagi, potensi bukan berarti otomatis menjadi pertumbuhan ekonomi.

● M3 merupakan ukuran uang beredar yang lebih luas daripada M2.

Masalahnya, definisi M3 berbeda antarnegara dan tidak semua bank sentral menjadikannya indikator utama. Jadi angka M3 harus dibaca berdasarkan definisi negara masing-masing.

Nah, bagian yang sering dilewatkan adalah velocity of money.

Velocity menunjukkan seberapa cepat uang berputar dalam aktivitas ekonomi. Rumus sederhananya:

V = GDP Nominal / Money Supply

Misalnya GDP nominal Rp20.000 triliun dan M2 Rp10.000 triliun:

V = 20.000 / 10.000 = 2

Artinya secara agregat, setiap Rp1 dalam M2 berkaitan dengan Rp2 aktivitas ekonomi nominal selama periode tersebut. Ini bukan berarti uang fisik benar-benar berpindah tangan dua kali, melainkan rasio antara aktivitas ekonomi nominal dan jumlah uang.

Disinilah pembacaan M2 menjadi jauh lebih tajam.

Kalau:

M2 ↑ + Velocity ↑ + GDP Riil ↑

Maka likuiditas akan bertambah, uang semakin aktif berputar dan output riil ikut naik. Ini lingkungan yang sehat untuk ekspansi ekonomi.

Tapi kalau:

M2 ↑ + Velocity ↓ + GDP lemah

berarti uang memang bertambah akan tetapi transmisinya ke ekonomi riil melemah. Masyarakat bisa menahan uang, perusahaan menunda investasi, bank memperketat kredit atau permintaan sedang lesu.

Contohnya, kalau M2 tumbuh 10% tetapi GDP nominal hanya tumbuh 5%, maka velocity cenderung turun. Sebaliknya, kalau M2 tumbuh 5% sementara GDP nominal tumbuh 10%, maka velocity meningkat.

Jadi jangan pernah membaca pertumbuhan M2 secara sendirian.

Rantai yang harus dilihat adalah:

M0 → Likuiditas Bank → Kredit → M1/M2 → Velocity → GDP Nominal → GDP Riil

Kalau rantai ini berjalan maka tambahan uang punya peluang besar menjadi pertumbuhan ekonomi.

Tapi kalau M0 dan M2 naik sementara kredit stagnan, velocity turun, investasi melemah dan GDP riil tetap rendah, berarti likuiditas sedang tertahan di sistem, bukan benar-benar bekerja di ekonomi.

Kriteria paling penting bukan mencari M0, M1, M2 atau M3 yang tumbuh paling tinggi. Yang harus dicari adalah pertumbuhan uang yang seimbang dengan kredit, velocity, produktivitas, inflasi dan pertumbuhan output riil.

Karena pada akhirnya, ekonomi itu bukan tumbuh hanya karena uang yang bertambah.

Ekonomi tumbuh ketika uang yang bertambah benar-benar berputar, membiayai aktivitas produktif, menciptakan permintaan, meningkatkan investasi, lalu menghasilkan output riil.

Itulah bedanya antara likuiditas yang besar dengan likuiditas yang benar-benar produktif.

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy