PERJALANAN $MGLV DARI MARMER MENUJU DATA CENTER AI
Singgungan pertama saya dengan MGLV terjadi pada 12 Februari 2026, ketika valuasinya masih sekitar Rp5,8 triliun.
Saat itu seorang teman baik bertanya, mengapa MGLV masuk ke dalam watchlist-nya. Saya tidak tahu jawabannya dan tidak cukup tergerak untuk menggali lebih jauh.
Padahal, sepanjang kami saling mengenal, AI dan data center adalah dua topik yang sangat sering kami diskusikan.
Hal tersebut tentu sangat saya sesali.
π 2012β2025: BISNIS LAMA
Perjalanan MGLV bermula dari bisnis kelompok Magran yang mengimpor marmer dan granit, kemudian berkembang ke furnitur, kitchen, sanitary, serta interior mewah.
Entitas ini didirikan pada 2012 dan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 8 Juni 2021 dengan harga IPO Rp135 per saham.
Selama bertahun-tahun, MGLV praktis dikenal sebagai perusahaan perdagangan perlengkapan rumah tangga dan interior premium. Tidak ada kaitannya dengan teknologi, apalagi AI dan data center.
π JUNI-DESEMBER 2025: HARGA MENDAHULUI INFORMASI
Sejak pertengahan 2025, harga saham MGLV mulai naik tajam tanpa penjelasan bisnis yang memadai.
Pada 18 Desember 2025, harga sahamnya telah mencapai Rp2.200 dan kembali disuspensi setelah naik lebih dari 200% hanya dalam satu bulan.
Bayangkan, perusahaan dengan aset sekitar Rp200 miliar telah dihargai pasar lebih dari Rp4 triliun, padahal belum ada informasi material yang menjelaskan perubahan tersebut.
Pada fase ini, harga bergerak jauh lebih dahulu daripada informasi.
π FEBRUARI 2026: PENGENDALI BARU MASUK
Pada 9 Februari 2026, PT Nextier Datamate Center atau Nex Datacenter mengambil alih sekitar 1,5 miliar saham MGLV, setara 78,74%, dari PT Trijaya Wisesa Makmur.
Transaksi dilakukan pada harga Rp92 per saham, dengan nilai sekitar Rp138 miliar.
Sehari setelahnya, RUPSLB mengubah susunan pengurus:
- Patrick Walujo masuk sebagai komisaris;
- Putra Harianto Bateβe diangkat sebagai direktur utama; dan
- Suriyanto menjadi komisaris utama.
Nama PT Trinugraha Thohir Harmoni juga kemudian muncul sebagai pemegang sekitar 4,86% saham MGLV.
Di sinilah petunjuk mulai terbentuk, Nex Datacenter sebagai pengendali, Patrick Walujo dari Northstar, serta masuknya entitas yang terkait keluarga Thohir.
Namun bisnis apa yang akan dimasukkan, masih belum dijelaskan secara utuh.
Pada 12 Februari 2026, ketika saya pertama kali melihatnya, valuasi MGLV sudah mencapai sekitar Rp5,8 triliun. Tidak lama kemudian, valuasinya bergerak menuju Rp7β8 triliun.
π JUNI-JULI 2026: INFORMASI MULAI TERBUKA
Dalam RUPS 24 Juni 2026, Patrick Walujo mengundurkan diri. Kursi komisaris kemudian diisi Glenn T. Sugita, co-founder Northstar.
RUPS juga mengangkat Ahmad Zulfikar Said, mantan Direktur dan Chief Strategy & Execution Officer $ISAT, sebagai direktur utama serta menyetujui perubahan nama perusahaan menjadi "PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk".
Nama baru tersebut akhirnya menjelaskan ke mana arah transformasi MGLV akan dibawa.
Pada 2 Juli 2026, MGLV dan NDC menandatangani PPJB untuk memasukkan dua perusahaan data center ke dalam MGLV:
- PT Nextier Askara Center atau NAC
- PT Nextier GenAI Center atau NGC.
Kemudian, pada 29 Juli 2026, MGLV secara resmi mengumumkan rencana perubahan kegiatan usaha menjadi penyedia data center high-density untuk cloud computing, AI, dan kebutuhan infrastruktur digital lainnya.
MGLV juga mengumumkan rencana rights issue untuk membiayai akuisisi, mempercepat pelunasan utang kepada NDC, serta mendukung modal kerja dan belanja modal data center.
Dua aset yang direncanakan masuk adalah:
- NAC di Jababeka, Cikarang, dengan kapasitas pengembangan hingga 36 MW
- NGC di Kawasan Industri Terpadu Batang, dengan kapasitas pengembangan hingga 60 MW.
Jika seluruhnya terealisasi, MGLV berpotensi memiliki total kapasitas 96 MW di 2027.
π AGUSTUS 2026: POTONGAN INFORMASI TERAKHIR MULAI TERHUBUNG
Pada 6 Agustus 2026, Indosat, Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA mengumumkan pembentukan Zankore by Indosat.
Zankore merupakan platform AI compute dan neocloud yang akan dibangun menggunakan NVIDIA GB300 NVL72 serta arsitektur NVIDIA DSX.
Target awalnya sekitar 200 MW kapasitas AI pada semester I-2027, dengan ambisi jangka panjang menuju skala 1 GW.
NAC dan NGC juga disebut telah memiliki perjanjian sewa dengan PT Indosat Tbk dan PT Megaspeed International Indonesia.
Belum dijelaskan berapa kapasitas yang disewa ISAT, berapa nilai sewanya, berapa lama kontraknya, serta apakah beban tersebut akan ditempatkan di NAC, NGC, atau keduanya.
Tetapi potongan-potongannya mulai saling terhubung:
- Ahmad Zulfikar berpindah dari direksi ISAT ke MGLV
- MGLV bertransformasi menjadi NexAI
- NAC dan NGC masuk sebagai aset data center
- ISAT menjadi salah satu penyewa
- kemudian lahir Zankore sebagai platform AI compute berskala besar.
Tentu seluruh rangkaian tersebut bukan kebetulan.
π LALU, APAKAH MGLV SUDAH TERLALU MAHAL?
Saat ini valuasi MGLV telah bergerak ke kisaran Rp21 triliun.
Sekilas terlihat mahal, saya juga merasa seperti itu, apalagi bisnis data centernya belum beroperasi penuh dan kebutuhan belanja modalnya masih sangat besar.
Namun sebagai perbandingan ekstrem, $DCII memiliki kapasitas sekitar 119 MW dengan valuasi pasar mendekati Rp485 triliun.
Tentu kapasitas MW tidak dapat dibandingkan secara mentah.
DCII telah mempunyai data center yang beroperasi, pelanggan hyperscaler, tingkat utilisasi, ekosistem interkoneksi, rekam jejak uptime, serta kemampuan menghasilkan arus kas. Sementara 96 MW milik MGLV masih harus diakuisisi, dibangun, didanai, dioperasikan, dan dibuktikan tingkat keterisiannya.
Data center untuk AI juga membutuhkan capex, densitas daya, sistem pendinginan, dan kemampuan operasional yang jauh lebih berat.
Jadi, saya tidak sedang mengatakan MGLV murah hanya karena valuasinya jauh di bawah DCII.
____________________________________________________________
Perjalanan MGLV kembali membuktikan bahwa investor sering kali harus berani bergerak di tengah ketidakpastian.
Sebab ketika seluruh informasi akhirnya menjadi jelas, valuasinya mungkin sudah tidak lagi membuat kita nyaman.
Namun keberanian bukan berarti membeli setiap ketidakpastian.
Keberanian adalah mengambil risiko secara terukur ketika petunjuknya mulai terlihat, meskipun gambarnya belum sepenuhnya terbentuk.