Selama ini limbah produksi menjadi beban bagi $SBMA karena harus dikirim ke Jakarta dengan biaya sekitar Rp2 miliar per tahun. Kini perusahaan mencoba membalik situasi tersebut: limbah akan diolah menjadi paving block dan dijual sebagai produk baru.
Mesinnya ditargetkan mulai berproduksi menjelang akhir 2026 dengan kapasitas hingga 1.000 meter persegi per hari. Selain mengurangi biaya pengelolaan limbah, lini ini membuka peluang dari kebutuhan material konstruksi di Kalimantan, termasuk kawasan IKN. SBMA juga mulai memperluas pasar gas medis melalui kontrak dengan rumah sakit.
Sayangnya, bisnis inti masih dalam tekanan. Pendapatan semester I turun 4,1% menjadi Rp64,39 miliar dan laba bersih anjlok 71,2% menjadi Rp1,88 miliar. Kuartal II memang membaik dibanding kuartal pertama, tetapi belum cukup untuk disebut scale-up.
Cerita SBMA saat ini bukan tentang pertumbuhan yang sudah matang, melainkan percobaan mengubah biaya menjadi pendapatan. Pabrik paving block bisa menjadi pembeda, tetapi hasil sebenarnya baru terlihat setelah mesin beroperasi dan penjualan komersial dimulai.
