$FUTR semester I 2026 memang belum kuat. Pendapatan turun 69% menjadi sekitar Rp6,7 miliar dan perusahaan mencatat rugi bersih Rp6,9 miliar. Jadi untuk sekarang, cerita utamanya bukan pertumbuhan laba, melainkan transformasi bisnis.
Scale-up terbesar datang dari energi terbarukan. FUTR sedang mengembangkan PLTS Bali 130 MW dan membidik proyek tambahan di geothermal, PLTS, serta minihidro. Ada juga potensi aset geothermal 220 MW milik pengendali yang sebelumnya direncanakan masuk ke FUTR.
Kalau proyek-proyek itu naik dari tahap MoU dan tender menuju pendanaan, konstruksi, lalu COD, skala bisnis FUTR bisa berubah jauh dibanding kondisi sekarang. Model pendapatannya juga berpotensi bergeser dari jasa proyek menjadi recurring income dari aset energi.
Yang paling penting dipantau bukan banyaknya rencana, tapi realisasinya: asset injection geothermal, progres PLTS Bali, kontrak proyek baru, dan munculnya kontribusi pendapatan EBT yang material.
