Dalam beberapa minggu ke depan, ada dua agenda penting yang cukup menarik untuk diperhatikan investor saham Indonesia, yaitu MSCI dan FTSE Russell.
Untuk MSCI, pengumuman konstituen baru dijadwalkan pada 13 Agustus. Setelah itu, akan ada periode penyesuaian portofolio pada 13-28 Agustus, dengan 31 Agustus sebagai effective date.
Sementara itu, FTSE Russell akan mengumumkan hasil Semi-Annual Index Review pada 21 Agustus. Periode penyesuaian portofolionya berlangsung pada 24 Agustus-17 September, dengan effective date pada 18 September.
Lalu, kenapa agenda seperti ini penting?
Setiap ada perubahan komposisi indeks, investor institusi dan passive funds yang menjadikan indeks tersebut sebagai benchmark bisa ikut menyesuaikan portofolionya. Karena itu, perubahan indeks berpotensi memengaruhi foreign flow, volume transaksi, likuiditas, pergerakan harga, sampai volatilitas saham-saham yang terdampak.
Sederhananya, kalau sebuah saham masuk ke indeks yang banyak diikuti investor global, bisa muncul tambahan permintaan karena ada dana yang perlu menyesuaikan kepemilikannya. Sebaliknya, saham yang keluar dari indeks bisa menghadapi potensi tekanan jual dari dana yang mengikuti indeks tersebut.
Tapi perlu dipahami juga, MSCI dan FTSE Russell bukan fund manager yang secara langsung membeli atau menjual saham. Mereka adalah penyedia indeks global yang membuat benchmark berdasarkan metodologi tertentu. Dalam menentukan saham yang masuk atau keluar indeks, mereka mempertimbangkan berbagai faktor seperti market capitalization, likuiditas, free float, aksesibilitas pasar, dan kriteria lainnya sesuai metodologi masing-masing.
Nah, ini juga berbeda dengan lembaga pemeringkat seperti S&P, Moody’s, dan Pefindo. Kalau index provider fokus pada penyusunan dan representasi indeks pasar, lembaga rating lebih fokus menilai kualitas kredit dan kemampuan perusahaan membayar utang atau obligasi.
Jadi jangan sampai tertukar. MSCI dan FTSE Russell bukan lembaga rating utang.
Bagi investor, yang menarik dari agenda ini bukan sekadar siapa yang masuk atau keluar indeks, tetapi juga bagaimana pasar merespons perubahan tersebut. Bisa saja muncul peningkatan volume, perubahan foreign flow, atau volatilitas yang lebih tinggi pada saham-saham tertentu. Namun, masuk indeks juga bukan jaminan harga saham akan naik, begitu pula keluar indeks tidak otomatis berarti fundamental perusahaan memburuk.
Karena itu, agenda MSCI dan FTSE Russell sebaiknya dianggap sebagai salah satu faktor yang perlu diperhatikan, terutama untuk membaca potensi aliran dana dan pergerakan pasar dalam beberapa minggu ke depan.
$IHSG kemana arahnya?
Disclaimer on bukan ajakan jual/ beli
randkm tag $TPIA $DSSA
1/2

