Wah, IHSG kemarin sangat merona. Pasti banyak dari kita yang portonya lagi floating loss. 😂

Nah, saya pribadi ingin mengingatkan kembali bahwa ketika kita masuk ke dunia saham, sebenarnya kita pasti berhadapan dengan potensi rugi.

Kok bisa?

Misalnya kita beli saham di harga 100, kemudian kita jual lagi di harga 100. Secara kasat mata memang terlihat tidak rugi karena harga beli dan harga jualnya sama.

Tapi kenyataannya, kita tetap terkena fee transaksi dan pajak. Artinya, uang yang kita keluarkan di awal tidak akan sama dengan uang yang kita terima ketika menjualnya.

Dari sini saya belajar bahwa modal harus dijaga agar kita tetap survive di market.

Lalu, bagaimana cara menjaga modal?

Salah satunya adalah dengan menerapkan SL (Stop Loss). Ketika harga saham bergerak turun dan skenario kita ternyata tidak berjalan sesuai harapan, kita bisa segera keluar untuk mencegah modal semakin tergerus, selain itu jika sangkut maka kita akan rugi waktu dan kehilangan kesempatan cuan di emiten lain.

Nah, bagaimana menentukan titik SL?

Saya pribadi memiliki 5 cara. Saya coba urutkan dari yang paling sederhana menurut saya, sampai yang paling sulit.

1. Berdasarkan harga top buyer

Ini metode yang menurut saya paling simpel karena kita cukup melihat broksum dan mengecek siapa top buyer serta berapa harga rata-ratanya.

Misalnya broker MG menjadi top buyer dengan harga rata-rata 100.

Ketika kita entry keesokan harinya di harga 105, kita bisa menjadikan area 100 sebagai salah satu acuan SL.

Mengapa?

Logika sederhananya, jika harga sudah turun kembali ke 100, ada kemungkinan posisi top buyer sebelumnya sudah selesai melakukan transaksi atau bahkan mulai melakukan penjualan.

Kalau dia beli di 100 kemudian jual lagi di 100, tentu secara sederhana dia akan tetap terbebani fee transaksi.

Catatan: ini tentu bukan sebuah kepastian, melainkan hanya salah satu cara membaca aktivitas broker.

2. Berdasarkan persentase kerugian yang siap kita terima

Cara kedua adalah menentukan terlebih dahulu berapa persen kerugian yang siap kita terima.

Misalnya kita menetapkan batas risiko sebesar 5%.

Jika kita membeli di harga 100, maka area 95 bisa dijadikan salah satu titik acuan SL.

Besarnya persentase tentu berbeda-beda untuk setiap orang karena disesuaikan dengan strategi, toleransi risiko, dan karakter masing-masing.

Yang terpenting, tentukan batasnya sebelum emosi mengambil alih.

3. Berdasarkan harga psikologis

Yang ketiga adalah memahami angka psikologis.

Contoh angka psikologis adalah angka-angka bulat seperti 60, 100, 200, 500, atau 5.000.

Adanya angka psikologis inilah yang terkadang membuat kita melihat bid atau offer yang cukup tebal di area tersebut.

Angka psikologis juga berkaitan dengan perubahan fraksi harga. Misalnya di area 200, 500, dan 5.000 terdapat perubahan fraksi harga.

Silakan dipelajari lebih lanjut mengenai fraksi harga karena menurut saya ini cukup penting untuk dipahami.

Angka psikologis tersebut juga bisa kita jadikan salah satu acuan SL, misalnya dengan menempatkan batas di sekitar satu tick di bawahnya.

Contoh:

Harga psikologis 500 → SL di sekitar 498
Harga psikologis 200 → SL di sekitar 199

Tentu angka tersebut kembali harus disesuaikan dengan fraksi harga yang berlaku.

4. Berdasarkan harga transaksi besar atau Corporate Action (CA)

Cara keempat ini menurut saya mulai lebih tricky karena kita harus melakukan sedikit “bedah” terhadap transaksi atau corporate action yang terjadi.

Misalnya ada transaksi nego, harga teoritis setelah Rights Issue (RI), dan berbagai angka lain yang bisa menjadi acuan.

Angka-angka tersebut bisa kita jadikan salah satu referensi untuk menentukan area SL.

Contohnya, terdapat transaksi nego di harga 450. Kemudian kita melakukan entry di harga 470.

Kita bisa menjadikan area 450 sebagai salah satu acuan untuk menentukan batas risiko.

Logika sederhananya, apabila harga kemudian turun dan menembus area tersebut, kita bisa menganggap bahwa skenario yang kita harapkan mulai tidak berjalan sesuai rencana.

Karena kita sebagai ritel juga tidak selalu memiliki informasi sedetail pihak-pihak tertentu, menurut saya tidak ada salahnya untuk memilih keluar terlebih dahulu ketika batas risiko kita tersentuh.

Lebih baik kehilangan kesempatan daripada kehilangan modal terlalu dalam.

5. Berdasarkan Technical Analysis (TA)

Nah, ini adalah cara yang menurut saya paling sulit.

Kita harus memahami berbagai macam chart, candle, support, resistance, trend, dan indikator lainnya untuk menentukan area yang menurut kita valid sebagai titik SL.

Salah satu pendekatan yang umum digunakan adalah menentukan SL berdasarkan area support.

Misalnya kita sudah mengidentifikasi sebuah support yang menurut kita penting. Jika harga kemudian menembus support tersebut, area itu bisa menjadi acuan untuk keluar.

Untuk bagian ini mungkin bisa dipelajari lebih lanjut mengenai bagaimana cara menentukan support dan membaca price action.

Lima cara di atas tentu bukan sebuah kepastian.

Bahkan menurut saya, kelimanya bisa dikombinasikan satu sama lain, termasuk dengan memperhatikan susunan bid-offer dan kondisi market secara keseluruhan.

Tidak ada metode yang menjamin kita selalu benar.

Yang saya rasakan, kelima cara tersebut telah membantu saya untuk lebih disiplin dalam menjaga modal dan bertahan di pasar modal.

Karena pada akhirnya, menurut saya tujuan utama kita bukan selalu benar dalam setiap transaksi.

Tujuan utamanya adalah tetap punya modal untuk bisa bermain di market dalam jangka panjang.

Dan satu hal yang sering kali lebih sulit daripada menentukan SL adalah...

Menjalankannya.

Setelah kita menentukan SL, kita harus disiplin.

Kalau ternyata setelah kena SL harga malah rebound?

Ya, ikhlaskan. 😂

Jangan sampai karena melihat harga rebound setelah kita cut loss, akhirnya kita menjadi tidak disiplin pada transaksi berikutnya.

Kita tidak pernah tahu harga akan bergerak ke mana.

Yang bisa kita kendalikan adalah berapa besar risiko yang bersedia kita tanggung.

Jadi, daripada sibuk mencari saham yang pasti naik, mungkin sesekali kita perlu bertanya:

“Kalau ternyata saya salah, berapa besar uang yang siap saya korbankan?”

Karena menjaga modal bukan berarti takut rugi.

Menjaga modal adalah cara supaya kita tetap bisa berjuang ketika kesempatan berikutnya datang.

Semoga tulisan sederhana ini bisa membantu teman-teman untuk lebih memahami pentingnya menjaga modal dan disiplin dalam trading/investasi saham.

notes : banyak orang baik di stream SB, jgn ragu untuk bertanya dan belajar

tag contoh orang baik : @GeRcepGeRCep @argountuksaham @HendraSetiawan08 @NursaArshaka @rifkyaristyo @SuryaWinur

random tag $DSSA $MDIA $CUAN

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy