Bagaimana Cara Membangun Passive Income Dari Saham?
Ini merupakan lanjutan dari pembahasan sebelumnya, setelah kita memahami bahwa tujuan akhirnya adalah pensiun berkualitas yang memiliki aset untuk bisa passive income, pertanyaan berikutnya adalah “Kalau begitu, sebenarnya berapa aset yang harus kita miliki?”
Cara menghitungnya sebenarnya sederhana. Pertama, kita harus tahu dulu berapa kebutuhan hidup kita. Jangan menghitung kebutuhan hanya per bulan, hitung kebutuhan selama satu tahun penuh. Misalnya kebutuhan hidup kita Rp15 juta per bulan. Berarti dalam satu tahun membutuhkan Rp180 juta.
Tetapi tentu saja kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana, akan ada kebutuhan tidak terduga. Karena itu, kita juga perlu memberikan ruang untuk kebutuhan tersebut, misalnya kebutuhan tersebut secara total kita naikkan menjadi Rp250 juta per tahun.
Angka Rp250 juta inilah yang kemudian menjadi target passive income kita. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya mendapatkan Rp250 juta per tahun tanpa harus aktif bekerja, di sinilah kita mulai menghitung hubungan antara besar aset yang kita miliki dengan return atau yield yang kita dapatkan.
Misalnya kita memiliki aset Rp1 miliar. Untuk menghasilkan Rp250 juta per tahun, kita membutuhkan return sekitar 25% - 30% per tahun, yang kalau ada sisanya bisa dimasukkan saham lagi. Masalahnya, return 25% – 30% per tahun tentu bukan sesuatu yang mudah dicapai secara konsisten.
Kalau begitu, salah satu cara yang bisa dilakukan bukan hanya mengejar return lebih tinggi, tetapi memperbesar jumlah aset yang kita kelola. Misalnya aset kita naik menjadi Rp2 miliar. Dengan aset Rp2 miliar, kita hanya membutuhkan return sekitar 15% - 20% untuk memperoleh Rp250 juta per tahun, bahkan sebenarnya untuk hasilnya lebih tinggi yang bisa kita masukkan saham lagi.
Artinya, semakin besar aset yang kita miliki, semakin kecil return yang harus kita kejar untuk mendapatkan passive income yang sama. Bahkan kalau aset kita sudah Rp10 miliar, kebutuhan return untuk menghasilkan Rp250 juta per tahun menjadi jauh lebih kecil.
Jadi, jangan sampai kita hanya berpikir bagaimana caranya mendapatkan return setinggi-tingginya. Kita juga harus berpikir bagaimana caranya memperbesar aset yang kita miliki. Karena itu, salah satu target yang cukup masuk akal di awal adalah membangun kelolaan hingga Rp2 miliar.
Pertanyaannya, apakah Rp2 miliar bisa dicapai, jawabannya bisa tetapi tentu membutuhkan waktu dan konsistensi. Misalnya kita mampu mendapatkan return rata-rata 10% per tahun dan rutin menabung Rp2 juta per bulan, maka dibutuhkan sekitar 23 tahun untuk mencapai Rp2 miliar.
Kalau tabungan dinaikkan menjadi Rp3 juta per bulan, waktunya menjadi sekitar 19 tahun. Kalau Rp5 juta per bulan, sekitar 15 tahun. Dan kalau return yang diperoleh lebih tinggi, misalnya 20% per tahun, waktu yang dibutuhkan juga menjadi lebih pendek.
Tetapi perlu diingat, return investasi tidak akan selalu sama setiap tahun. Ada tahun ketika pasar bagus dan return bisa tinggi. Ada juga tahun ketika pasar kurang baik dan return jauh lebih rendah. Jadi jangan menganggap bahwa kita pasti mendapatkan return 20% setiap tahun.
Yang jauh lebih penting adalah konsisten menabung, memilih perusahaan yang baik, membeli pada harga yang masuk akal, lalu memberikan waktu agar investasi tersebut berkembang. Inilah mengapa investasi jangka panjang pada saham membutuhkan kesabaran.
Ada yang sudah nyiapin passive income di sini?
👉 Join ke channel Telegram buat dapetin insight lainnya! Klik link di bio.
Disclaimer: Konten ini dibuat dengan tujuan informasi dan edukasi, bukan merupakan rekomendasi untuk jual, beli, atau hold suatu saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.
$IHSG $BBRI $BBCA
1/4



