đź“° TPIA 1H26 Earnings Call: Outlook Ditopang Margin Refinery & Tambahan Kapasitas Kilang pada 4Q26
Chandra Asri Pacific ($TPIA) pada Selasa (4/8) mengadakan earnings call untuk membahas kinerja 1H26. Berikut catatan penting kami:
Segmen Energi (62% dari Total Pendapatan 1H26): Margin Refinery Diproyeksikan Tetap di Atas Level Normal hingga 2027
▪️ Laba segmen energi mencapai US$898 juta selama 1H26 (vs. 1H25: US$137 juta) seiring konsolidasi penuh Aster dan masuknya jaringan ritel Esso sejak Januari 2026. Secara kuartalan, laba segmen ini turun dari US$556 juta pada 1Q26 menjadi US$341 juta pada 2Q26.
▪️ Margin kilang tetap tinggi, meski melandai — Manajemen TPIA memperkirakan gross refining margin masih akan berada di level yang tinggi hingga 2027, meski levelnya menurun dari kisaran US$30–40/barrel pada 1H26 menjadi US$20–30/barrel pada 2H26. Sebagai konteks, rentang margin sekitar US$20–30/barrel tetap masih jauh di atas level normal sebelum eskalasi geopolitik Timur Tengah, yakni di level single–digit. Manajemen menilai dibutuhkan waktu setidaknya beberapa kuartal untuk normalisasi margin seiring pemulihan persediaan dan penataan ulang rute perdagangan akibat konflik geopolitik, dengan dinamika jalur pelayaran di Bab el–Mandeb sebagai faktor penting yang perlu dicermati.
▪️ Tambahan EBITDA pada 4Q26: rejuvenasi kilang bukom — Penyelesaian condensate splitter unit (CSU) berkapasitas 300 ribu barrel per hari dan single buoy mooring (SBM) yang memungkinkan kapal tanker raksasa melakukan bongkar minyak mentah langsung ke kilang melalui pipa bawah laut pada 4Q26 diperkirakan dapat menambah EBITDA ~US$20 juta per bulan. Manajemen juga menargetkan ~60 jaringan SPBU Esso existing dapat membukukan EBITDA “ratusan juta dolar AS” pada 2026, target yang dinilai achievable setelah melihat run–rate 1H26.
Kimia (37% dari Total Pendapatan 1H26): Kerugian Menyusut, CA–EDC jadi Mesin Berikutnya
▪️ Kerugian segmen kimia menyusut tajam menjadi US$21 juta pada 2Q26 (vs. 1Q26: rugi US$148 juta), sehingga kerugian segmen tersebut selama 1H26 berkurang ke level US$169 juta (vs. 1H25: rugi US$210 juta). Kami memperkirakan perbaikan ini berasal dari penurunan harga nafta yang mengikuti harga minyak mentah, bukan dari permintaan, mengingat manajemen menyebut bahwa pemulihan industri baru terjadi pada 2027–2028 seiring konsolidasi kapasitas di China.
▪️ Mesin pertumbuhan baru: beroperasinya pabrik CA–EDC pada awal 2027 — Pabrik klor–alkali dan etilen diklorida (CA–EDC) senilai US$800 juta yang progresnya kini telah mencapai 72% rampung ditargetkan beroperasi pada 2027, dengan soda kaustik untuk permintaan domestik (terutama sektor pertambangan) dan etilen diklorida untuk ekspor. Manajemen TPIA juga telah mengambil final investment decision (FID) senilai US$80 juta untuk menaikkan kapasitas ekspor etilena dari kilang Bukom sebesar ~75% menjadi ~35 ribu ton per bulan, guna menambah fleksibilitas produksi.
Infrastruktur (1% dari Total Pendapatan 1H26): Minim Kontribusi seiring Besarnya Segmen Energi & Kimia
▪️ Laba segmen infrastruktur tercatat sebesar US$2 juta selama 1H26 (vs. 1H25: US$11 juta), dengan pendapatan eksternal naik +14% YoY menjadi US$65 juta atau setara 1% pendapatan grup.
▪️ Peran jangka panjang: pendapatan berulang untuk meredam volatilitas — Manajemen TPIA memposisikan segmen ini sebagai penyeimbang volatilitas laba segmen energi dan kimia melalui pendapatan berulang dengan kontribusi yang diharapkan naik seiring utilisasi, rampungnya proyek, dan tumbuhnya pendapatan pihak ketiga. Aster Ports & Terminals dan Aster Power dipisahkan menjadi entitas tersendiri agar dapat tumbuh lebih cepat. Hal ini terlihat dari rencana masuknya Sembcorp sebagai investor yang membawa pasokan gas dan keahlian teknis, sementara keterlibatan Chandra Daya Investasi ($CDIA) dalam jajaran pemegang saham Aster Power akan membawa keahlian eksekusi pengembangan infrastruktur.
Free Float & Ekspansi: Free Float Naik ke 25,7%, Penuhi Ketentuan BEI
▪️ Free float TPIA telah naik dari 10,9% menjadi 25,7% seiring rebalancing kepemilikan SCG Chemicals (SCGC), sehingga menuntaskan isu kepatuhan minimum free float 15%.
▪️ Dari sisi ekspansi, manajemen TPIA menyebut telah mengidentifikasi lebih dari US$1 miliar peluang investasi strategis untuk 5 tahun ke depan dan akan melanjutkan aksi merger dan akuisisi (M&A) secara terprogram, ditopang oleh likuiditas perseroan senilai US$3,87 miliar pada 1H26.
Stockbit’s View: Akuisisi Aster Sukses Berbuah Cepat, tapi Ekspektasi Laba Bersih Sudah Terlalu Tinggi
▪️ Hanya dalam setahun setelah akuisisi Aster rampung pada April 2025, TPIA berbalik dari rugi usaha US$167 juta pada 1H25 menjadi laba usaha US$596 juta pada 1H26, seiring siklus margin refinery yang menguat tepat setelahnya. Meski demikian, kami menilai bahwa pasar memberikan ekspektasi terlalu tinggi pada laba bersih TPIA selama 2026F, terbawa cerita margin refinery dan kurang memperhitungkan struktur beban di bawah laba usaha.
▪️ Beban bunga bersifat tetap dan tidak ikut mengecil saat margin membaik, sementara porsi laba untuk pemegang saham minoritas justru ikut membesar seiring naiknya laba, mengingat entitas kilang Aster hanya dimiliki 80% oleh TPIA dengan 20% sisanya dipegang Glencore.
▪️ Oleh karena itu, kami menilai estimasi laba bersih konsensus akan sulit dicapai oleh TPIA, kecuali margin refinery kembali menguat dari level saat ini. Berdasarkan proyeksi kami, laba bersih TPIA selama 2026F hanya akan mencapai ~US$622 juta atau lebih rendah ~11% di bawah estimasi konsensus, meski laba usaha 2026F mencapai estimasi konsensus.
▪️ Key upside: 1) margin kilang dapat bertahan di kisaran tinggi saat ini lebih lama dari guidance manajemen; 2) segmen kimia yang berbalik untung seiring redanya kondisi oversupply; dan 3) eksekusi M&A yang menambah basis laba, dengan lebih dari US$1 miliar peluang investasi yang telah diidentifikasi dan likuiditas US$3,87 miliar.
▪️ Faktor risiko: 1) penurunan margin refinery yang berjalan lebih cepat dari ekspektasi manajemen; 2) bertambahnya kerugian segmen kimia, baik akibat kenaikan harga nafta maupun berlanjutnya kondisi oversupply; dan 3) keterlambatan penyelesaian proyek–proyek yang sedang berjalan, sehingga mengurangi tambahan EBITDA dan laba bersih pada tahun ini.
_______
Theodorus Melvin (@TheodorusMelvin)
Investment Analyst Stockbit