imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Selama enam bulan pertama 2026, $CMRY membukukan pendapatan Rp6,46 triliun, naik 25,5% dibandingkan Rp5,15 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Laba kotor naik 21,1% menjadi Rp2,80 triliun. Laba usaha tumbuh lebih lambat, sekitar 9,3% menjadi Rp1,24 triliun. Sementara laba yang menjadi hak pemegang saham induk mencapai Rp1,17 triliun, naik 17,9%.

EPS meningkat dari Rp125,24 menjadi Rp147,65 per saham.

Namun, beban pokok penjualan naik 29,1%, lebih cepat daripada pendapatan. Akibatnya, margin kotor turun dari 44,9% menjadi 43,3%. Margin usaha turun dari 22,1% menjadi 19,2%, sedangkan margin laba bersih pemilik turun dari 19,3% menjadi 18,1%.

Artinya, CMRY menjual jauh lebih banyak produk, tetapi keuntungan dari setiap rupiah penjualan sedikit mengecil.

Dari catatan segmen, mesin pertumbuhan utama CMRY saat ini adalah produk olahan susu. Penjualan segmen susu melonjak 54,3%, dari Rp1,80 triliun menjadi Rp2,77 triliun. Laba segmennya juga meningkat sekitar 69%.

Sebaliknya, penjualan makanan konsumsi hanya tumbuh sekitar 10% menjadi Rp3,69 triliun, sedangkan laba segmennya relatif stagnan. Ini menunjukkan diversifikasi CMRY mulai bekerja: susu menjadi mesin pertumbuhan baru ketika bisnis makanan konsumsi sedang menghadapi tekanan margin.

Catatan paling mencolok berada pada persediaan. Pada 6 dan 14 Juni 2026 terjadi kebakaran di gudang Pati dan Cikupa. CMRY kemudian membentuk penyisihan persediaan rusak dan usang sebesar Rp99,4 miliar.

Perusahaan telah mengajukan klaim asuransi, tetapi nilainya masih dievaluasi. Karena itu, kemungkinan penggantian dari asuransi belum boleh langsung dianggap sebagai pendapatan atau pemulihan laba.

Kabar baiknya, persediaan CMRY diasuransikan dengan nilai pertanggungan gabungan sekitar Rp1,26 triliun. Ini mengurangi risiko kerugian permanen. Namun, dua kebakaran dalam satu bulan tetap perlu diperhatikan dari sisi pengendalian operasional.

Jika provisi kebakaran Rp99,4 miliar dikeluarkan, laba usaha normal CMRY diperkirakan sekitar Rp1,34 triliun atau tumbuh kurang lebih 18%. Jadi, perlambatan laba usaha yang terlihat bukan sepenuhnya berasal dari melemahnya bisnis utama.

Di sisi lain, laba CMRY juga dibantu oleh laba kurs yang belum direalisasi sekitar Rp134 miliar. CMRY memiliki aset moneter bersih dalam valuta asing sekitar Rp2,43 triliun, terutama berupa obligasi dolar AS.

Ini berarti pelemahan rupiah dapat menghasilkan laba kurs, sedangkan penguatan rupiah bisa berbalik menjadi rugi. Berdasarkan analisis sensitivitas perusahaan, perubahan kurs 5% dapat memengaruhi laba sebelum pajak sekitar Rp121,6 miliar. CMRY juga belum memiliki kebijakan lindung nilai formal.

Menariknya, setelah beban kebakaran ditambahkan kembali dan laba kurs belum direalisasi serta laba nilai wajar dikeluarkan, laba normalisasi Semester I tetap tumbuh sekitar 14–15%. Jadi, pertumbuhan labanya tidak hanya berasal dari faktor nonoperasional.

Dari sisi neraca, CMRY sangat kuat. Kas dan surat berharga mencapai sekitar Rp3,66 triliun. Perusahaan tidak menggunakan pinjaman bank, sedangkan total liabilitas hanya sekitar 0,29 kali ekuitas. Aset lancarnya juga lebih dari dua kali liabilitas jangka pendek.

Namun, kualitas arus kas perlu diperhatikan. Arus kas operasi hanya naik 1,2% menjadi Rp915,7 miliar, jauh di bawah pertumbuhan laba bersih 17,9%. Arus kas operasi hanya menutup sekitar 78% laba bersih periode ini.

Setelah dikurangi pembelian aset tetap dan uang muka aset, free cash flow sederhana sekitar Rp521 miliar, lebih rendah daripada pembayaran dividen Rp793,5 miliar. Jadi, dividen periode ini belum sepenuhnya ditopang free cash flow.

Piutang usaha masih relatif sehat. Kenaikannya lebih lambat daripada penjualan dan sebagian besar belum jatuh tempo. Namun, persediaan bersih naik menjadi Rp1,36 triliun dan umur persediaan sedikit meningkat menjadi sekitar 64 hari. Setelah insiden kebakaran, perkembangan persediaan layak diperiksa kembali pada Q3.

Transaksi pihak berelasi juga tidak terlihat material. Penjualan kepada pihak berelasi hanya sekitar 0,47% dari total penjualan, sedangkan pembelian sekitar 1,02%. Saya belum melihat yellow flag tata kelola yang cukup besar dari bagian ini.

Kesimpulannya, laporan CMRY Semester I 2026 masih menunjukkan fundamental yang berkualitas. Pertumbuhan penjualan dan laba tetap kuat, segmen susu berkembang pesat, dan neracanya sangat sehat.

Namun, investor tetap perlu mengawasi penurunan margin, ketertinggalan arus kas operasi, perkembangan klaim asuransi, serta risiko kurs dari kepemilikan aset dolar.

Menurut saya, CMRY bukan perusahaan yang fundamentalnya sedang rusak. Ia lebih menyerupai perusahaan bagus yang sedang melewati gangguan operasional. Karena itu, sahamnya lebih cocok dikumpulkan bertahap pada valuasi murah, bukan dibeli sekaligus.

Disclaimer: tulisan ini merupakan analisis pribadi, bukan ajakan membeli atau menjual saham.

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy