Analisis Kwik Kian Gie
(Ekonom Senior, Menteri pada era Presiden Gus Dur dan Megawati)
Mengapa Rupiah Terus Melemah?
Pada 27 Desember 2018, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah berdasarkan acuan JISDOR berada di Rp14.563 per US$1.
Menurut Kwik Kian Gie, pelemahan rupiah bukanlah fenomena sementara. Ia berpendapat bahwa rupiah akan terus merosot tanpa batas, kecuali Indonesia memiliki pemimpin nasional yang sangat kuat dan benar benar memahami persoalan ekonomi dan berani mengubah arah kebijakan secara mendasar.
Perbandingan dengan Negara Tetangga:
Kwik membandingkan nilai tukar mata uang beberapa negara sejak 31 Desember 1970 hingga sekitar tahun 2018.
- Singapura: dari SGD 3 menjadi SGD 1,3 per US$ → mata uang menguat (apresiasi) sekitar 57%.
- Malaysia: dari MYR 3 menjadi MYR 3,93 → melemah sekitar 31%.
- Thailand: dari THB 21 menjadi THB 31,86 → melemah sekitar 52%.
- Filipina: dari PHP 6 menjadi PHP 51,9 → melemah sekitar 756%.
- Indonesia: dari Rp363 menjadi sekitar Rp14.000 per US$ → melemah sekitar 3.757%.
Dari perbandingan tersebut, Kwik mempertanyakan mengapa rupiah mengalami pelemahan yang jauh lebih besar dibanding negara-negara lain.
Penyebabnya Bukan Sekadar Ekonomi:
Menurutnya, persoalan rupiah bukan hanya disebabkan oleh faktor ekonomi seperti ekspor, impor, atau neraca perdagangan.
Ia berpendapat bahwa terdapat persoalan yang lebih mendasar, yaitu arah kebijakan nasional serta pengelolaan sumber daya dan utang negara. Ia bahkan menyatakan bahwa Indonesia sejak lama diarahkan agar bergantung pada pihak luar.
Dugaan Campur Tangan Asing:
Kwik mengutip berbagai dokumen dan buku yang membahas hubungan Indonesia dengan kekuatan ekonomi internasional setelah tahun 1967.
Menurut penjelasannya, Konferensi Jenewa November 1967 dihadiri oleh delegasi Indonesia bersama lembaga internasional seperti Bank Dunia, IMF, Bank Pembangunan Asia, serta perusahaan-perusahaan multinasional.
Dalam pandangannya, sejak periode tersebut Indonesia mulai membuka akses yang sangat besar kepada investasi dan pengelolaan sumber daya alam oleh perusahaan asing.
Ia juga mengutip buku Confessions of an Economic Hit Man, yang menggambarkan dugaan praktik mendorong negara berkembang mengambil utang besar untuk membiayai proyek-proyek berskala besar. Menurut narasi dalam buku tersebut, jika utang terus bertambah, negara akan semakin bergantung kepada negara kreditur dan lebih mudah dipengaruhi secara politik maupun ekonomi.
Kwik melihat pola tersebut memiliki kemiripan dengan pengalaman Indonesia.
Utang Sebagai Ketergantungan:
Menurut Kwik, sejak akhir 1960-an, utang luar negeri diposisikan sebagai "bantuan pembangunan", sehingga masyarakat tidak melihatnya sebagai beban jangka panjang.
Akibatnya, Indonesia terus melakukan pinjaman baru untuk menutup pinjaman lama (gali lubang tutup lubang), sehingga ketergantungan terhadap utang semakin besar.
Penguasaan Sumber Daya Alam:
Kwik juga menyoroti bahwa setelah Konferensi Jenewa 1967, berbagai konsesi sumber daya alam Indonesia diberikan kepada perusahaan asing, seperti:
- Freeport memperoleh konsesi tambang di Papua.
- Konsorsium Eropa memperoleh konsesi nikel.
- Perusahaan Amerika, Jepang, dan Prancis memperoleh akses terhadap hutan tropis di Sumatra, Kalimantan, dan Papua.
Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia lebih banyak dinikmati pihak luar.
Solusi Menurut Kwik Kian Gie:
Kwik menawarkan beberapa langkah yang menurutnya perlu dilakukan.
1. Berani bernegosiasi secara tegas dengan negara-negara kreditur mengenai utang luar negeri.
2. Tidak otomatis memperpanjang kontrak pengelolaan sumber daya alam yang telah habis masa berlakunya.
3. Mengelola sendiri mineral, minyak, gas, dan sumber daya lainnya agar menghasilkan nilai tambah melalui industrialisasi di dalam negeri.
4. Membangun infrastruktur yang benar-benar produktif dan memiliki manfaat ekonomi yang jelas.
5. Melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kelemahan daya saing nasional.
6. Tidak terlalu bergantung pada penilaian Media asing.
7. Meningkatkan transparansi mengenai biaya energi, termasuk harga pokok BBM.
8. Menggunakan indikator ekonomi yang konsisten agar kinerja pemerintah dapat diukur secara objektif.
Kesimpulan:
Menurut Kwik Kian Gie, pelemahan rupiah merupakan akibat dari persoalan struktural yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Ia menilai bahwa ketergantungan terhadap utang luar negeri, penguasaan sumber daya alam oleh pihak asing, serta lemahnya daya saing nasional menjadi faktor utama yang menyebabkan rupiah terus tertekan.
Dalam pandangannya, solusi jangka panjang bukan hanya menjaga stabilitas moneter, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi melalui pengelolaan sumber daya alam, penguatan industri nasional, dan kepemimpinan yang berani mengambil kebijakan strategis.
https://cutt.ly/lyij2zez
RT $IHSG $BBCA $BBRI