š¦ Laba Bersih BMRI 1H26 (+24% YoY) Lampaui Ekspektasi, Didorong Fee Income & Efisiensi Opex
Bank Mandiri ($BMRI) mencatat laba bersih Rp15 T pada 2Q26 (+33% YoY, -2% QoQ). Realisasi ini membuat laba bersih selama 1H26 mencapai Rp30,4 T (+24% YoY), melampaui ekspektasi karena setara 53% estimasi 2026F konsensus (vs. rataārata 3 tahun terakhir: 46% realisasi tahunan). Kinerja laba bersih yang solid ini utamanya didorong oleh: 1) NonāInterest Income (NonāII) yang kuat; 2) biaya operasional (opex) yang efisien; dan 3) penurunan beban provisi.
NonāII Kuat, Mengkompensasi Pelemahan Net Interest Income (NII) ā Total pendapatan operasional BMRI (NII + NonāII) tumbuh +13% YoY pada 2Q26 dan +11% YoY selama 1H26. NonāII menjadi pendorong utama pendapatan BMRI khususnya pada 2Q26 ā ketika NII melemah ā dengan kenaikan +33% YoY seiring pendapatan fee yang solid dari seluruh subābagian, recurring maupun nonārecurring (treasury income). Sementara itu, pertumbuhan NII melemah menjadi +5% YoY pada 2Q26 (vs. 1Q26: +11% YoY) akibat penurunan loan yield dan kenaikan Cost of Fund (CoF). Dinamika tersebut menyebabkan NIM BMRI turun ke level ~4,4% pada 2Q26, berdasarkan estimasi kami. Selama 1H26, Net Interest Margin (NIM) berada di level 4,6% (vs. 1H25: 4,8%). Dalam earnings call, manajemen BMRI memproyeksikan bahwa tekanan NIM masih akan berlanjut pada 3Q26 sebelum stabil pada 4Q26, didorong oleh ekspektasi lanjut naiknya CoF akibat kondisi likuiditas yang ketat. Oleh karena itu, manajemen menurunkan guidance NIM 2026F sebesar 20 bps ke kisaran 4,3ā4,5%.
Penurunan Opex & Beban Provisi Berikan Dorongan pada Laba Bersih ā BMRI mencatat penurunan opex -9% YoY pada 2Q26 dan -1% selama 1H26, lebih baik dibandingkan guidance manajemen yang menargetkan flat hingga naik lowāsingle digit selama 2026. Sementara itu, beban provisi juga turun -2% YoY pada 2Q26 dan -12% YoY selama 1H26, sehingga Cost of Credit (CoC) per Juni 2026 berada di level 0,6% ā lebih rendah dari 1H25 (0,7%) serta berada di range bawah guidance manajemen di 0,6ā0,8% ā seiring dengan kualitas aset (NPL dan LAR) yang stabil. Manajemen pun mempertahankan guidance opex dan CoC untuk 2026.
š Key Takeaway
Dengan prospek NIM yang menantang, opex yang lebih ternormalisasi (mendekati guidance), dan efek highābase pada 2H25, kami menilai bahwa pertumbuhan laba bersih BMRI selama 2H26 akan lebih landai dibanding 1H26, meski kami memperkirakan akan tetap terdapat revisi naik estimasi laba bersih 2026F oleh konsensus. Dinamika penting yang perlu dimonitor oleh investor pada 2H26 antara lain: 1) kondisi likuiditas perbankan dengan nilai tukar rupiah yang kembali dalam tekanan seiring kembali naiknya harga minyak mendekati level ~US$100/barrel; 2) kemungkinan dipangkasnya pinjaman ke PT Agrinas Pangan Nusantara ā akibat pemangkasan target program Koperasi Desa Merah Putih ā yang akan berpengaruh terhadap realisasi loan growth; dan 3) berlanjut atau tidaknya tandaātanda pemulihan di sektor swasta setelah kredit ke sektor swasta tumbuh +3% QoQ pada 2Q26, yang memiliki dampak positif terhadap NIM karena memiliki loan yield lebih tinggi dibandingkan kredit ke ārelated partiesā seperti BUMN lain beserta anak usahanya.
Mengingat sulitnya menebak kapan kembalinya foreign inflow secara signifikan, BMRI setidaknya dapat menawarkan potensi dividend yield ~10% per Kamis (23/7). Perhitungan tersebut mengasumsikan BMRI membukukan laba bersih Rp60 T selama 2026F dengan payout ratio sebesar ~70%, yang menurut manajemen termasuk range payout yang ditargetkan untuk dipertahankan.
Stockbit Snips 23 Juli 2026
https://cutt.ly/3yt0cn75
