💸 APBN: Defisit 0,76% PDB per 1H26, Outlook Defisit 2026 di 2,85% PDB
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan dalam rapat bersama DPR pada Selasa (7/7) bahwa defisit APBN hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp196,5 T atau setara 0,76% terhadap PDB (vs. 1H25: defisit 0,84% terhadap PDB). Sementara itu, keseimbangan primer APBN hingga akhir Juni 2026 tercatat surplus Rp85,1 T (vs. 1H25: surplus Rp52,8 T). Berikut rinciannya:
• Penerimaan Negara Naik +21,4% YoY, Ditopang Penerimaan Pajak
Realisasi penerimaan negara selama 1H26 berbanding terbalik dengan realisasi 1H25 yang mencetak kontraksi -9% YoY. Adapun kenaikan penerimaan negara selama 1H26 didorong oleh penerimaan pajak neto yang tumbuh +24,6% YoY, ditopang oleh seluruh kelompok penerimaan — yang disebut Purbaya mengindikasikan perbaikan ekonomi — termasuk PPN/PPnBM (+42,2% YoY) dan PPh Badan (+28,6% YoY) seiring peningkatan aktivitas ekonomi dan implementasi Coretax. Sementara itu, PNBP tumbuh +21,6% YoY seiring kenaikan Indonesian Crude Price, harga komoditas mineral, dan pelemahan nilai tukar rupiah. Pemerintah melihat adanya risiko dari ketidakpastian perdagangan global dan volatilitas harga komoditas yang berpotensi memengaruhi penerimaan negara selama 2H26.
• Belanja Negara Terakselerasi, Naik +17,8% YoY
Akselerasi belanja utamanya terjadi pada belanja pemerintah pusat yang tumbuh +29,4% YoY, didorong pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), penyaluran bantuan sosial, THR/gaji ke–13, serta pembayaran kurang bayar kompensasi energi 2025. Realisasi belanja negara selama 1H26 telah mencapai 43,1% dari pagu APBN 2026, terakselerasi dibandingkan realisasi 1H25 yang baru mencapai 38,8% pagu APBN 2025. Purbaya menyebut bahwa percepatan belanja ini merupakan upaya untuk memastikan belanja merata sepanjang tahun.
• Outlook 2026: Defisit APBN Melebar ke 2,85% PDB, Pertumbuhan Ekonomi Direvisi Naik ke +5,6–6% YoY
Pemerintah merevisi outlook postur APBN 2026 dengan defisit diperkirakan mencapai Rp734,3 T atau 2,85% terhadap PDB, melebar dibandingkan target defisit APBN 2026 di level 2,68% terhadap PDB maupun realisasi defisit APBN 2025 yang telah diaudit di level 2,81% terhadap PDB. Pelebaran outlook defisit ini utamanya didorong oleh tambahan belanja sebesar Rp132 T untuk subsidi dan kompensasi energi, mengingat pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun. Selain merevisi naik outlook defisit, pemerintah juga meng–upgrade outlook pertumbuhan ekonomi selama 2026 di kisaran +5,6–6% YoY, lebih tinggi dibandingkan target APBN 2026 di level +5,4% YoY.
🔑 Key Takeaway
Purbaya menyebut bahwa outlook defisit APBN 2026 masih bisa ditekan lebih rendah. Kami menilai bahwa upaya pemerintah untuk menekan defisit APBN 2026 dapat didukung oleh penurunan harga minyak Brent ke kisaran ~US$72/barrel saat ini — yang berpotensi meringankan tekanan subsidi energi selama 2H26 — serta potensi pemangkasan lanjutan anggaran MBG.
Selain permasalahan fiskal, investor ke depannya perlu memantau data inflasi AS yang dijadwalkan rilis pada 14 Juli 2026 waktu setempat — di mana data tersebut dapat memengaruhi arah suku bunga AS — serta S&P sovereign rating review untuk Indonesia yang kemungkinan diumumkan pada Juli 2026.
Stockbit Snips 7 Juli 2026
https://cutt.ly/UyqQCvRT
