Krisis atau Takut Krisis ?

Pelemahan ekonomi sektor riil memang terjadi, pemburukan terjadi.
Saat ini juga bukan kondisi normal, melainkan dalam kondisi 'perang'.
Tapi apakah sudah sebegitu buruknya hingga pantas disebut 'krisis' ?

Aktivitas ekonomi melambat, tapi masih tumbuh.

Permintaan turun, pembelian ditahan, penjualan berkurang.
Tapi secara umum masih resilien, masih mampu bertahan.

Inflasi memang naik, bahkan beberapa barang mengalami lonjakan harga.
Tapi inflasi masih sesuai sasaran, di bawah batas atas 3,5%, dan tidak semua barang merata mengalami lonjakan harga.

PHK terjadi, serapan tenaga kerja berkurang.
Tapi tingkat pengangguran masih terjaga, lapangan kerja baru masih tersedia.

Datanya mana ?
Akun Stockbit mana yang sering update data ekonomi.

Kalo gua gak percaya data gimana ?
Ya turun ke lapangan, jangan cuma modal hape, jangan pake perasaan, jangan pake tendensi, belajar statistik, kumpulin data, olah dan hitung sendiri, lamar jadi petugas BPS juga bisa 馃ぃ

Yang paling mudah adalah lihat fundamental emiten di IHSG juga masih banyak yang bagus, masih banyak yang profit, masih banyak yang bagi dividen rutin.
Tidak seburuk penurunan harga saham yang terjadi.

Ingat sekarang ini kondisi 'perang', bukan normal.
Gak bisa harap semua indikator bagus, pasti ada pelemahan dan pemburukan.

Namun kalau mau pada jujur, keadaan sekarang tidak seburuk yang ditakutkan.

Kondisi $IHSG junam dan Rupiah lemah bukan terjadi karena 'krisis' betulan seperti 1998 (krismon) dan 2020 (covid), sektor riil terkapar.

Bahkan tahun 2008 (subprime mortgage) pun ekonomi Indonesia masih tumbuh, hanya tumbuhnya melemah, kalau pakai istilah non formal ya 'setengah krisis'.

2026 ini gimana ?
Sejauh ini masih lebih baik dari 1998, 2008, dan 2020.

Namun era sosmed, banyaknya kanal media massa, dan keterbukaan informasi menyebabkan efek parah bagi IHSG dan Rupiah.

Keduanya bergerak reaktif lebih dulu didorong sentimen bertubi-tubi, walaupun sektor riil tidak sebegitu parahnya.

Yang nyata terjadi adalah 'Takut Krisis'.

Sentimen sulit dilawan, dan bebas mau diarahkan ke siapa saja yang dituduh jadi penyebab, isu bisa dilempar, rumor bisa seliweran, mudah sekali.

Tapi lagi-lagi mau siapapun yang disalahkan, pemerintah paling sering jadi sasaran.
Walaupun faktanya sektor riil tidak seburuk itu, masih dijagain.

Lalu kenapa fenomena 'Takut Krisis' bisa sebegini masifnya :

1. Kalangan masyarakat banyak yang kurang paham, jadi ada sedikit hal negatif saja di era sekarang ini, sangat mungkin reaksinya berlebihan.

2. Pihak yang sudah lebih paham, kadang sok tau, sok ngerti, padahal cuma tau di satu sisinya saja, tidak peduli bahkan tidak tau dari sudut pandang lain.

Memang boleh kritik, tapi tentu di kondisi sekarang ini akan memperbesar efek negatif. Niat positif sih bilangnya kritik, tapi efeknya jadi negatif. Apalagi banyak audiens yang termasuk nomor 1.

Di nomor 2 ini celakanya juga banyak isinya pengamat dan influencer dengan banyak followers. Mudah sekali dapat engagement. Mereka akan manfaatkan ini untuk konten yang menghasilkan keuntungan pribadi.

Hal negatif yang secara sengaja atau tidak sengaja terbentuk dari konten mereka, ya tinggal dilempar salahnya ke pihak lain.

3. Ada kesengajaan, rencana terstruktur untuk menciptakan 'self fulfilling prophecy' ke arah negatif.

Memang sekarang ini tidak krisis, tapi sengaja dibentuk kondisi supaya makin banyak orang dan makin tinggi intensitas ketakutan yang tersebar. Yang kalangan nomor 2 dan nomor 1 jadi makin punya alasan untuk terus memperbesar ketakutan yang ada.

Sampai akhirnya jadi krisis betulan karena mayoritas orang meyakini demikian (ketika orang di luar kelompok 1 sampai 3, akhirnya masuk juga ke geng ini).

Tentu ini melibatkan uang besar yang membuat pasar modal dan Rupiah jatuh.

.......................
Ada yang kritik Menkeu Purbaya selalu bilang ekonomi bagus, omongan gak bisa dipercaya, akhirnya bohong terus, dll.

Padahal di berbagai kesempatan, para pejabat justru ditodong terus-terusan pertanyaan atas berbagai isu negatif, bukan mereka sendiri yang mau ngomong.

Isu itu dihembuskan dan dibesar-besarkan sendiri oleh media lewat berbagai headline berita bombastis. Begitu heboh kemana-mana, pejabatnya baru ditanya 馃ぃ

Mau jawab salah, gak jawab juga salah.
Mau jawab optimis salah, jawab pesimis lebih salah lagi.

Menkeu hanya berusaha menciptakan 'self fulfilling prophecy' ke arah yang positif, walaupun di kondisi sekarang sulit melawan upaya dari pihak-pihak yang memakai teori ini ke arah sebaliknya.

Definisi 'bagus' di kondisi 'perang' saat ini, juga harus dimaknai berbeda dengan kondisi normal.

Kalau kondisi normal, definisi bagus itu ya kalau ekonomi tumbuh makin cepat, aktivitas ekonomi makin ekspansif, yang baik jadi semakin baik.

Tapi kalau kondisi yang bukan normal, ekonomi bisa bertahan resilien tidak menjadi seburuk yang ditakutkan, itu sudah boleh dikatakan bagus.

Jadi biarkan waktu yang membuktikan.

Setahun terakhir IHSG sudah membuktikan teori 'self fulfilling prophecy' ke dua arah yang kontras berbeda.

Ke arah positif, IHSG kepala 9, walaupun waktu itu pertumbuhan sektor riil belum sempat menyamai kenaikan harga saham yang masif.

Saat ini, ke arah negatif, IHSG junam sampai ada di kepala 5, takut krisis, di saat sektor riil tidak seburuk itu.

Kalau saya sih patokannya sektor riil aja, kalau masih bergerak positif, atau setidaknya resilien, tidak seburuk yang ditakutkan.

Ya apa salahnya dukung self fulfilling prophecy ke arah yang positif, ngapain negatif terus.

Merah itu ilusi, cut loss itu pasti 馃ぃ

$BBCA $DSSA

Read more...
2013-2026 Stockbit 路AboutContactHelpHouse RulesTermsPrivacy