imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Apakah Antek Aseng Serang Kita Sehingga Rupiah Kita Lemah dan IHSG Anjlok dan Dadan Cs Diduga Korupsi MBG?

Banyak yang bilang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok dan rupiah lemah itu karena Indonesia diserang antek aseng. Pertanyaannya adalah itu yang bikin Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kita defisit siapa? Apakah antek aseng atau pejabat Indonesia? Itu yang diduga korupsi Makan Bergizi Gratis (MBG) 1 Milyar per hari siapa, apakah itu Soros atau Dadan cs? Yang ambil utang besar untuk kemudian bocor siapa? Apakah antek aseng atau pejabat Indonesia? Yang bikin aturan pajak ribet itu siapa? Apakah Soros atau pejabat Indonesia?

Narasi serangan asing memang selalu enak dijual saat rupiah melemah. Tinggal sebut Soros, Singapura, spekulan, atau antek aseng, selesai. Publik marahnya diarahkan keluar. Tapi kalau data dibuka, masalahnya tidak sesederhana itu. Dollar naik dari sekitar Rp15.481 saat awal pemerintahan Prabowo menjadi sekitar Rp18.008. Artinya dollar naik Rp2.527, atau sekitar 16,32% hanya dalam sekitar 19 bulan. Kalau dirata-ratakan, dollar naik sekitar Rp129,92 per bulan atau Rp1.559 per tahun. Secara annualized, kenaikan dollar sekitar 9,78% per tahun. Itu jauh lebih cepat dibanding era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang sekitar 2,90% per tahun dan era Joko Widodo (Jokowi) yang sekitar 2,54% per tahun.

Masalahnya bukan cuma dollar. Harga minyak Brent juga naik dari sekitar US$72,75 ke US$98,06 per barel. Kenaikannya sekitar 34,79%. Jadi Indonesia kena dua pukulan sekaligus. Dollar naik membuat semua impor lebih mahal dalam rupiah, sedangkan minyak naik membuat tagihan energi membengkak dalam dollar. Kalau negara masih kuat produksi minyak, mungkin bebannya tidak terlalu berat. Sayangnya produksi minyak Indonesia justru turun. Tahun 2016, sebelum gross split, produksi minyak dan kondensat sekitar 831.058 barel per hari. Tahun 2025, lifting minyak tinggal sekitar 605.300 barel per hari. Produksi turun sekitar 27,17%.

Di sisi lain, konsumsi minyak tidak ikut turun. Tahun 2016 konsumsi minyak sekitar 1,6 juta barel per hari. Tahun 2025 naik menjadi sekitar 1,7 juta barel per hari. Konsumsi naik 6,25%. Akibatnya gap kebutuhan minyak melebar dari sekitar 768.942 barel per hari menjadi sekitar 1,09 juta barel per hari. Gap ini naik sekitar 42,36%. Rasio produksi terhadap konsumsi juga turun dari 51,9% menjadi 35,6%. Ini artinya Indonesia makin tergantung impor energi. Jadi ketika dollar dan minyak naik bersamaan, rupiah tidak perlu diserang siapa-siapa pun sudah punya titik lemah sendiri.

Efeknya ke APBN besar sekali. Proyeksi impor bensin 2026 sekitar 19 juta kiloliter, setara 119,51 juta barel. Dalam skenario awal, saat Brent US$72,75 dan kurs Rp15.481, beban impor bensin sekitar Rp134,60 triliun. Dalam skenario sekarang, saat Brent US$98,06 dan kurs Rp18.008, beban itu naik menjadi sekitar Rp211,04 triliun. Tambahan bebannya sekitar Rp76,44 triliun. Dari angka itu, efek kenaikan minyak sekitar Rp46,83 triliun, sedangkan efek pelemahan rupiah sekitar Rp29,61 triliun. Angka Rp76,44 triliun ini hampir setara realisasi MBG sampai April 2026 yang sekitar Rp75 triliun.

Jadi saat ada yang bilang semua ini gara-gara asing, pertanyaannya sederhana. Apakah asing yang membuat produksi minyak turun? Apakah asing yang membuat konsumsi minyak naik? Apakah asing yang membuat APBN menanggung program jumbo tanpa tata kelola yang steril? Apakah asing yang membuat yayasan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diduga terafiliasi dengan pejabat Badan Gizi Nasional (BGN)? Apakah asing yang mengatur verifikasi yayasan agar yang tidak memenuhi syarat tetap lolos? Kalau masalahnya ada di dalam rumah sendiri, menyalahkan orang luar hanya membuat rumah itu tidak pernah dibersihkan.

Bandingkan dengan era sebelumnya. Era SBY mencatat IHSG naik sekitar 489,29%, dollar naik 33,04% dalam 10 tahun, Brent naik 71,55%, Produk Domestik Bruto (PDB) rata-rata sekitar 5,7% per tahun, dan inflasi turun dari 6,22% ke 4,83%. Era Jokowi mencatat IHSG naik 53,96%, dollar naik 28,57% dalam 10 tahun, Brent turun 13,82%, PDB rata-rata sekitar 4,2% per tahun, dan inflasi turun dari 4,83% ke 1,71%. Era Prabowo sejauh ini masih pendek, tetapi tekanannya paling berat. IHSG turun 24,64%, dollar naik 16,32%, Brent naik 34,79%, inflasi naik dari 1,71% ke 3,08%, sementara PDB 2025 masih tumbuh 5,11% dan kuartal I 2026 tumbuh 5,61%.

Dari sini kelihatan bahwa PDB yang bagus tidak otomatis membuat pasar tenang. Investor tidak cuma membaca pertumbuhan ekonomi. Investor membaca kualitas kebijakan, kurs, harga minyak, inflasi, APBN, utang, subsidi, arus modal, dan trust. IHSG bisa dipakai sebagai termometer kepercayaan pasar terhadap laba emiten dan arah ekonomi. USD/IDR bisa dipakai sebagai termometer tekanan eksternal, kebutuhan dollar, impor energi, cadangan devisa, inflasi, dan risiko fiskal. Kalau IHSG turun dalam sambil dollar naik cepat, itu tanda pasar sedang melihat risiko besar.

Di tengah tekanan seperti ini, kasus MBG membuat luka fiskal jadi luka moral. Prabowo pernah membawa narasi bahwa daripada uang APBN dikorupsi, lebih baik dipakai untuk makan rakyat lewat MBG. Secara ide, itu bagus. Stunting memang masalah serius. Anak sekolah, ibu hamil, dan kelompok rentan memang perlu gizi. Tapi ketika Dadan Hindayana, Sony Sonjaya, dan Lodewyk Pusung ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi tata kelola MBG 2025-2026, narasi itu langsung berubah menjadi ironi besar. Statusnya masih dugaan dan belum vonis, tapi rasa dikhianati publik wajar muncul.

Dugaan modusnya juga mengarah ke pusat aliran uang. MBG seharusnya dikelola yayasan pada setiap sekolah. Namun yayasan mitra SPPG diduga terafiliasi dengan pejabat atau pegawai BGN. Proses verifikasi di portal mitra BGN diduga diatur agar yayasan yang tidak memenuhi syarat tetap lolos karena ada atensi dari tersangka. Setelah lolos, yayasan terafiliasi disebut menerima insentif miliaran rupiah setiap hari. Kalau Rp1 Milyar per hari, sebulan menjadi sekitar Rp30 Milyar dan setahun Rp365 Milyar. Kalau Rp2 Milyar per hari, setahun Rp730 Milyar. Kalau Rp3 Milyar per hari, setahun Rp1,095 triliun.

Di sinilah masalahnya. Ini bukan cuma soal uang hilang. Ini soal orang yang diberi amanah mengurus makan anak, tetapi diduga justru membuka pintu rente. Dadan punya karier akademik sekitar 34-36 tahun. Sony punya karier Polri sekitar 35 tahun. Lodewyk punya karier militer sekitar 41 tahun. Semua reputasi puluhan tahun itu bisa hancur hanya dalam 1,5 tahun sampai 2 tahun di MBG. Secara akal sehat tidak sebanding. Tapi kalau orang sudah melihat aliran uang harian, sering kali reputasi 30-40 tahun kalah oleh cashflow hari ini.

Maka kalau rupiah lemah, IHSG jatuh, APBN berat, dan rakyat makin tertekan, jangan buru-buru mencari kambing hitam di luar negeri. Bisa saja spekulan memperparah tekanan. Bisa saja asing keluar dari pasar. Tapi spekulan biasanya hanya berani menekan mata uang yang memang punya celah. Celah Indonesia sekarang terlihat jelas, impor energi besar, produksi minyak turun, konsumsi naik, dollar kuat, minyak naik, APBN berat, program jumbo rawan bocor, aturan pajak makin sensitif, dan trust publik terganggu oleh dugaan korupsi MBG.

Karena rakyat kecil tidak peduli apakah yang disalahkan Soros, Singapura, antek aseng, atau pasar global. Mereka merasakan harga tahu-tempe kalau kedelai impor naik. Mereka merasakan ongkos transportasi kalau BBM mahal. Mereka merasakan pupuk, sparepart, obat, dan barang pabrikan kalau dollar naik. Mereka juga merasakan marah kalau uang makan anak diduga jadi lahan rente. Orang desa tidak butuh pejabat kaya dari uang APBN. Mereka cuma ingin anaknya makan aman, sehat, tidak keracunan, dan hidup layak. 馃椏

It's not your financial advisor. Ini bukan rekomendasi penasihat investasi untuk jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
$ELTY $WMUU $GTSI

Read more...
2013-2026 Stockbit 路AboutContactHelpHouse RulesTermsPrivacy