📰 S&P: Pemulihan Penerimaan Negara Dapat Batasi Risiko Penurunan Rating Indonesia
▪️ Sovereign analyst S&P Global Ratings, Rain Yin, mengatakan pada Kamis (30/4) bahwa peningkatan penerimaan negara dari sektor sumber daya dan penurunan restitusi pajak dapat membantu pemulihan fiskal Indonesia pada tahun ini dan mengurangi tekanan pada belanja negara akibat melonjaknya harga minyak.
▪️ Yin menyebut bahwa pihaknya melihat penerimaan negara Indonesia meningkat pada 1Q26, meski terbantu oleh low–base effect.
▪️ Yin menjelaskan bahwa jika tren tersebut dapat berlanjut, hal ini dapat membantu interest payment–to–revenue ratio Indonesia turun ke bawah ambang batas 15%.
▪️ Yin mengatakan bahwa alasan S&P belum merevisi turun baik outlook maupun rating sovereign credit Indonesia adalah karena pihaknya percaya “ada beberapa faktor mitigasi yang dapat membatasi kerusakan pada metrik,” sembari menambahkan bahwa masih belum jelas apakah terdapat risiko penurunan struktural pada metrik Indonesia.
▪️ Ke depan, S&P memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di level +5% selama 2026, didukung permintaan domestik yang solid dan belanja pemerintah. Selain itu, S&P memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan menguat ke level 16.850 pada akhir 2026 dan Bank Indonesia kemungkinan akan menaikkan suku bunga BI Rate sebesar 50 bps pada tahun ini.
▪️ Sebelumnya, Kementerian Keuangan mencatat bahwa realisasi APBN 2026 selama 1Q26 defisit Rp240,1 T atau 0,93% terhadap PDB (vs. 3M25: defisit 0,43% terhadap PDB), dipengaruhi oleh penerimaan negara yang tumbuh +10,5% YoY seiring kenaikan penerimaan pajak sebesar +20,7% YoY, sementara belanja negara melonjak +31,4% YoY [https://stockbit.com/post/29977874].
[Sumber: Bloomberg]
_________
Stockbit Sekuritas